Video

Berita LPDS

Bangga Menjadi Wartawan

article thumbnail

Jakarta (Berita LPDS) – Wartawan senior, Parni Hadi, mendorong wartawan untuk bangga terhadap p [ ... ]

Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Baner

Foto

Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Baner
Suara Warga Dusun Setelah Kebakaran
Ditulis oleh Zuli Laili Isnaini   
Selasa, 02 Desember 2014 19:10

Oleh Zuli Laili Isnaini, dosen Antropologi, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


Catatan penulis: Lokakarya ini menarik bagi saya, apalagi melihat korban kebijakan yang tidak populis bagi mereka. Masyarakat yang terpinggirkan dan dimiskinkan oleh kebijakan akibat kalahnya perebutan akses sumberdaya dari korporasi dan pemilik modal. Namun, sempitnya waktu di lapangan menyebabkan sedikitnya informasi yang mampu digali. Akan lebih baiknya bila waktu di lapangan jauh lebih lama dengan metode live-in, observasi, observasi-partisipatoris, dan wawancara mendalam.

“Kebakaran bukan karma, 99 % karena ulah manusia,” demikian pakar gambut yang juga Sekretaris Satuan Tugas Solusi Tuntas Bencana Asap, (STBA), Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan di setiap kesempatan memberikan seminar maupun sebagai narasumber mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau.

Presiden (waktu itu) Soesilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kebakaran di Riau Feb-Maret 2014 menelan kerugian 15 miliar rupiah. Ongkos penanganan bencana mencapai Rp150 miliar dalam waktu tiga minggu. Haris menambahkan jumlah tersebut pada kisaran matematika semata. Selebihnya yang tidak mampu dideteksi melalui mata telanjang tak dapat terkira, seperti berapa banyak organisme, baik flora maupun fauna mati karena kabut asap yang secara ekonomi merupakan kerugian yang besar.

Selanjutnya...
 
Perjuangan Sunyi, Seorang Doktor Selamatkan Gambut Riau
Ditulis oleh Firmansyah   
Selasa, 02 Desember 2014 19:04

Oleh Firmansyah, Koresponden Kompas.com, Kota Bengkulu,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Pria ini jika dilihat dari perawakan cukup lemah dan seperti tak berdaya dan berwajah lemah lembut. Namun kesan itu akan berubah saat ia mulai berbicara soal lahan rawa gambut, terlebih rawa gambut yang rusak terbakar.

Ia akan berapi-api jika diberi kesempatan untuk berorasi soal gambut. Ia adalah Dr. Haris Gunawan, Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Solusi Tuntas Bencana Asap (STBA), Universitas Riau, ahli gambut yang mendedikasikan tidak kurang 11 tahun waktunya hanya untuk gambut.

“Selama ini saya mensunyikan diri berusaha berbuat bersama masyarakat untuk merehabilitasi kawasan gambut yang telah terbakar ditanami dengan pohon dan asri kembali,” katanya.

Menurut dia, gambut di Riau sangat berpotensi menyimpan karbon dunia karena ada 4 juta hektare luas gambut di provinsi ini. Hampir separuh luas Riau adalah gambut.

“Bayangkan jika gambut tetap dibiarkan baik berapa banyak karbon yang mampu disimpan dan dapat mengurangi laju pemanasan global yang terus terjadi saat ini,” kata dia pelan.

Selanjutnya...
 
Mengusir Jerebu Demi Balita Batuk
Ditulis oleh Dian Emsaci   
Selasa, 02 Desember 2014 18:58

Oleh Dian Emsaci, Wartawan Mingguan Kabar Aceh, Kota Bandaaceh,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014



Burhanuddin tenang-tenang saja, meski di sebelah kiri pos menara pantau kebakaran hutan dan lahan menyembul jerebu tipis. “Sebentar lagi hujan bakal turun. Lihat itu awan hitam sudah tebal. Kalau hujan, api pun akan padam dan asap menghilang,” kata pria berusia 41 tahun, ketua Regu 2, Masyarakat Peduli Api (MPA), Desa Sepahat dan Tanjungleban.

Tenang bukan berarti tidak khawatir. Hanya saja asap mengepul lebih besar sudah disaksikannya. Makanya anggota regunya tidak dikerahkan ke titik kebakaran. Seandainya tidak hujan—begitu  melihat jerebu atau asap kecil saja—pihaknya  langsung menuju lokasi untuk memadamkan api. Namun, hari ini tidak dilakukannya dengan alasan sebentar lagi api bakalan padam diguyur air dari langit.

Ayah empat anak ini mengungkapkan menjelang siang anggota regunya sudah memantau kebakaran dan asap dari menara pemantau yang tingginya 32 meter. Laporan anggota regu bahwa hanya terlihat satu titik asap dan sejauh mata memandang tidak tampak kebakaran gambut atau hutan. Ia dan anggota regu yang merupakan swadaya bentukan masyarakat enam tahun lalu bisa bernapas lega dan tenang.

Selanjutnya...
 

Atma Menjawab

Penerima Anugerah Magsaysay (2000)
Ketua Dewan Pers (2000 - 2003)
Direktur Eksekutif LPDS (1992 - 2002), dan hingga kini menjadi pengajar senior LPDS

Kirimkan pertanyaan Anda mengenai hukum dan etika pers disini, atau ke email : atmamenjawab@lpds.or.id

Bahasa Media

Kajian Media

Obor Rakyat Mengusik Kebangsaan

article thumbnail

Oleh ATMAKUSUMAH

Ketika Rancangan Undang-Undang Pers yang berlaku sekarang dibahas di Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat pada awal masa Reformasi, seorang anggota DPR mengatakan bahwa hak hukum warga tidak dapat dibatasi. Artinya, setia [ ... ]

Jajak Pendapat

Dewan Pers telah mengesahkan Standar Kompetensi Wartawan yang memuat aturan tentang Uji Kompetensi Wartawan sebagai bentuk sertifikasi untuk wartawan. Apakah saudara MENDUKUNG atau TIDAK MENDUKUNG sertifikasi untuk wartawan?
 

Buku

Panduan Hubungan Masyarakat (dua jilid)

Judul: Panduan Hubungan Masyarakat (dua jilid) Penyusun: Priyambodo RH, Atmakusumah, Ridwan Nyak [ ... ]

Beasiswa