ClimateReporter

BOS harapan orangutan Kalimantan

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Laporan Sumarlin, Zonasultra, Kendari, Sulawesi Tenggara
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

“Anok pulang nok, Anok turun nok”, teriak Misna berulang-ulang. Sesekali pengasuh orang utan ini menjulurkan susu yang disimpan dalam wadah air mineral berkuran besar sebagai imbalan jika anak didiknya kembali. Namun upaya itu tak tak mendapat tanggapan. Dengan sabar Misna kembali merayu Anok, orangutan muda, kali ini menjulurkan pisang.

Meski dengan beberapa iming-iming hadiah, Anok tetap saja mengacuhkan baby sitternya dan terus bergelayutan pindah dari dahan pohon yang satu kedahan pohon yang lain. Tak kenal menyerah Misna kembali memanggil Anok.  Teriakan Misna kini mendapat respon dari Anok, namun bukannya turun, Anok malah berpindah ke dahan pohon sambil meraih dahan lapuk kemudian melempari Misna yang terus memanggilnya.

Untung saja Misna sigap sehingga bisa menghindar dahan lapuk yang dilempar Anok. Sikap cuek Anok tidak menyurutkan niat Misna mengajak Anok kembali ke kandangnya bersama teman-temannya yang sudah kembali lebih awal.

Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (1): Agar Gambut Tak Lagi Cemberut

Ditulis oleh Veby Rikiyanto. Posted in ClimateReporter

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya wartawan Merliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Februari 2016. Lokakarya  diadakan Lembaga Pers Dr Soetomo dengan kerjasama Kedutaan Norwegia di Palangka Raya 20-24 Feb 2016


Dimuat Valoranews  Kamis, 14-04-2016 | 10:38 WIB


Manager proyek lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS  Warief Djajanto Basorie menyerahkan ransel atas partisipasi dalam lokakarya pada Carolyn Thompson asal Inggris, seorang peneliti di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah 21 Feb 2016. Foto Veby Rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Wanita-wanita cantik berhidung mancung khas bule itu, tampak gelisah .Tiap sebentar mereka mondar-mandir sembari melihat keluar pondok. Hujan yang turun dengan derasnya sejak pagi telah menghambat aktivitas mereka.

Wanita-wanita tersebut adalah peneliti dari Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Kereng Bangkirai-Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Tidak seperti laboratorium pada umumnya. Namanya juga laboratorium alam, tidak ada gelas-gelas maupun botol yang berisi cairan kimia, pun tidak ada para petugas berseragam putih-putih. Yang ada adalah pondok-pondok kayu dikelilingi pepohonan lebat dan ratusan bahkan ribuan bibit pohon berbagai jenis. Petugasnya pun berpakaian seperti penduduk pada umumnya.

Puluhan ton limbah B3 terdampar di pantai Pasir Panjang

Ditulis oleh Yashinta. Posted in ClimateReporter

Laporan Yashinta, Harian Batam Pos, Batam
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Batam Jan 2013. Karya ini dimuat Batampos.co.id 11 Agustus 2016


BATAM (BP) - Masyarakat Pasir Panjang Kelurahan Rempang Cate, Galang mulai khawatir. Sebab, puluhan ton limbah B3 (bahan bahaya dan beracun) mengendap di sepanjang bibir pantai daerah tersebut. Mirisnya, hal itu telah berlangsung sejak bertahun tahun lalu.

Ketua RW 03 Pasir Panjang Sarwik mengatakan setiap tahunnya bibir pantai Pasir Panjang selalu mendapat kiriman limbah B3. Kiriman limbah dari bagian utara Batam itu terus berlangsung mulai bulan November hingga Januari dan terjadi setiap tahunnya.

"Bulan dua, limbah itu mengendap di pasir. Kemudian masuk ke dalam pasir dan mengendap disana sampai air pasang. Bahkan limbah itu dibuang ke dalam karung" kata Sarwik kepada wartawan,  Rabu (10/8)

Menurut dia, masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan mulai merasakan dampak dari limbah B3. Karena jaring dan kelong mereka kerap terkena limbah tersebut. Bahkan banyak ikan di daerah sana yang mati.

Kumpulan karya nonfiksi & esai terbaik: El Nino Sampai Titik Nol

Ditulis oleh Jogi Sirait. Posted in ClimateReporter

Karya Jogi Sirait, koresponden majalah berita mingguan Gatra di Jambi

Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kota Jambi Oktober 2012. Kumpulan karya ini dimuat dalam newsletter Bacaan Malam Maret 2016

 


 

Foto: Wikipedia

Oleh Jogi Sirait
Seorang jurnalis yang bertahan dari kepungan kabut asap di Jambi, mencari tahu kenapa pemerintah langsam menangani bencana ini.

Pada awalnya,
kuping saya masa bodoh terhadap kabar berita dari istri saya, Riana (33) pada sebuah sore, Juli 2015. Dia cerita bahwa badai El Nino, mulai akhir Juli sampai Desember 2015, siap mengancam Sumatra, terutama Jambi dan Bengkulu. Bahasa sederhananya, kemarau panjang.

Nada suara Riana datar. Dia ngomong sambil berselonjor kaki di pojok ruang tengah rumah kami di pinggiran Kota Jambi. Perutnya mulai bertian dua bulan, mengandung calon anak kami yang ketiga. Dokter kandungan langganan kami selalu mengingatkan agar Riana menaikkan bobot badan.

Saya kira kemarau paling banter hanya sebulan.