ClimateReporter

Menyambut Tembakan dengan Senyuman

Ditulis oleh Mursalin. Posted in ClimateReporter

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Sabangau, Kalimantan Tengah, Feb 2016


LAHG, Sabangau, Kalteng (Republika/ClimateReporter) -  “Ktookkk.. ktookkkk.. ktokkk.. ktokkkk....,” suara mesin klotok (perahu) bergema di Dermaga Kereng Bangkirai, Sabangau, Kalimantan Tengah.  Krisyoyo menimba air di dalam perahu yang tampak penuh. Panas terik dan atau hujan deras pun tak melunturkan keinginannya patroli ke pelosok hutan gambut memantau titik api.

Lelaki berusia 36 tahun tersebut saat bekerja mengandalkan klotok setiap hari. Perahu sepanjang lima meter berdiameter selebar orang dewasa, menjadi sahabatnya hilir mudik ke posko Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) di kawasan Hutan Taman Nasional Sabangau.  Letak taman nasional di pinggir baratdaya

Menuju posko tersebut membutuhkan waktu tiga perempat jam di musim hujan. Ini karena rawa lahan gambut tergenang air memudahkan klotok masuk areal hutan. Bila kemarau, klotok tidak bisa menuju hutan lebih dalam. Pengunjung terpaksa berjalan kaki masuk ke dalam hutan gambut.

Belajar padam api dari Jumpun Pambelom

Ditulis oleh Sumarlin. Posted in ClimateReporter

Laporan Sumarlin, Zonasultra, Kendari, Sulawesi Tenggara
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016



Tak kala kebanyakan remaja seusianya masih terlelap tidur di keheningan malam, pemuda 16 tahun itu justru bertaruh nyawa di hutan.

“Saya merasakan sedikit was-was,” ujarnya.

Sejak jam tiga dini hari, Daniel bersama 4 rekannya telah siaga di salah satu lokasi dalam hutan, karena sudah mendapat informasi awal. Itulah sepenggal pengalaman Daniel, tamatan SMA, saat api mulai menjilat pepohonan di Jumpun Pambelom akhir 2015. Jini kawasan hutan gambut milik perorangan di Km 30,5 arah ke selatan dari Palangka Raya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Letaknya di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulangpisau.

Berbekal sebuah mesin pompa air lengkap dengan selang yang sudah siap di pinggir sumur, Daniel bersama empat rekannya bersiaga menyambut kedatangan kobaran api yang semakin besar karena melahap pepohonan kering yang dilewatinya dan semakin mendekat kawasan hutan milik pribadi Jumpun Pambelom. Kawasan seluas 10 hektare ini milik  Januminro Bunsal dan dikelola bersama 15 warga sekitar.

Rehab Gambut, Rehab Orangutan

Ditulis oleh Ahmad Sidik. Posted in ClimateReporter

Laporan Ahmad Sidik, Tribun Kaltim
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016

Anok berada di pohon di kawasan BOS Nyaru Menteng. Orangutan berusia 8 tahun ini membolos dari kelas 22 Feb 2016.  Fotografer: Nico Pattipawae.

“Nok... Nok... turun yuk... Ini minum dulu”, kata Misna merayu Anok untuk turun.

Misna tampak lelah. Ia duduk dan menunjukkan sesisir pisang. Wajahnya menunduk kemudian menghadap ke atas berharap Anok, orang utan usia muda, kembali pulang. Misna, pengasuh orang utan di pusat rehab orangutan Nyaru Menteng,  tak menyerah. Ia kembali berdiri dan mengejar Anok yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Anok nampaknya tidak mau turun dari pohon.

Anok sore itu tampak marah. Rambut di seluruh tubuh berdiri dan memandang tajam ke bawah sesekali. Misna tampak menggendong tas anyaman rotan sambil meneriaki untuk yang kesekian kali. Sesekali botol mineral berisi cairan warna orange digoyang goyangkan sambil berteriak, pandangan menghadap ke atas.

Namun orang utan usia delapan tahun ini malah mematahkan ranting, menggenggamnya.

Asal-Usul Nama Tambun Bungai

Ditulis oleh Nico Pattipawae. Posted in ClimateReporter

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Kalimantan Tengah disebut sebagai bumi Tambun Bungai. Apa artinya?
Tambun Bungai adalah nama dwitunggal pahlawan yang sangat terkenal dalam sejarah suku Dayak Kalimantan, yaitu, si Tambun dan Bungai. Sejarah di tanah Dayak yang bernama Tetek Tatum (ratap tangis sejati) selalu menuturkan cerita kepahlawanan Tambun dan Bungai.

Pada jaman dahulu kala, ada tiga pahlawan Kalimantan. Mereka  bernama Lambung  atau Maharaja Bunu, Lanting atau Maharaja  Sangen, dan Karangkang Amban  Penyang atau Maharaja Sangiang.

Mereka bertiga tinggal dan mendiami lembah sungai Kahayan di tengah-tengah pulau Kalimantan. Hidup mereka dari memungut hasil hutan dan bertani. Adapun si Lambung alias Maharaja Bunu mempunyai 5 anak. Dua diantaranya bernama Tumenggung Sampung dan Tumenggung Saropoi.