ClimateReporter

Menghalau Api di Bumi Tambun Bungai

Ditulis oleh Nico Pattipawae. Posted in ClimateReporter

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah (SCTV/ClimateReporter) - “Saya hadir ketika banyak orang tidak tertarik. Di situlah saya berpikir,kalau mau membangun  dan berbuat sesuatu yang baik kita harus mulai dari tempat yang paling sulit,dan saya bertekad untuk memulihkan kembali ekonomi masyarakat yang telah hancur pasca kebakaran hutan,” kata Pak Janu.

Kalimat ini dilontarkan Januminro Bunsal ketika kami duduk dan berbincang-bincang di sebuah tenda kecil di hutan gambut di Desa Tumbangnusa, Kabupaten Pulang Pisau. Desa di Kecamatan Jabiren Raya ini 30 km selatan Palangka Raya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Percakapan mencakup kebakaran hutan gambut dan kabut asap yang menyelimuti Pulang Pisau  Agustus – Nov  2015.

Obrolan berlangsung di hutan gambut 10 hektare Jumpun Pambelom (Hutan Sumber Kehidupan) milik Pak Janu. Jumpun Pambelom dengan mudah dicapai  dalam  40 menit berada di pinggir jalan utama trans Kalimantan ke arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kehadiran kami di Jumpun Pambelom untuk meliput perubahan iklim pascakebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah berakibat  sebagian masyarakat harus mengungsi.

Lahan Sejuta Masalah

Ditulis oleh Mursalin. Posted in ClimateReporter

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


Palangka Raya, Republika/ClimateReporter -  Bumi Tambun Bungai, julukan Provinsi Kalteng, kian merana. Dua bocah menjadi korban kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya, tahun 2015. Ironisnya saat itu, menurut ketua Dewan Redaksi Harian Kalteng Post, Heronika, Dinas Kesehatan setempat malah membantahnya. Kematian dua bocah tersebut bukan karena kabut asap.

Heronika mengatakan kejadian terparah kebakaran hutan di Kalteng pernah ada tahun 2007. Kemudian berturut-turut kebakaran hutan terus terjadi pada 2008, 2010, dan terakhir 2015.

“Tahun 2007, kejadian serupa lebih parah. Saya tidak bisa jalan (saking tebalnya kabut asap),” kata Heron yang tahun 2015 berakhir menjabat Pemimpin Redaksi Kalteng Post.

“Kalteng terkepung api dan asap,” kata Kepala Dinas Kehutanan  Kalteng, Sipet Hermanto.

Berkunjung ke LAHG Sebangau Kalimantan Tengah: Tiga Bidadari Hutan Gambut Berjuang Selamatkan Primata Langka

Ditulis oleh Veby Rikiyanto. Posted in ClimateReporter

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Februari 2016


Dimuat Valoranews Kamis, 31-03-2016 | 11:56 WIB | Berita Ranah

Manager proyek MPI  Lembaga Pers Dr Soetomo Warief Djajanto Basorie menerangkan maksud  kedatangan rombongan kunjungan kawasan  meliput perubahan iklim pada tiga peneliti internasional di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah 21 Feb 2016. Duduk dari kiri ke kanan: Cara Wilcox, Jenn Brousseau, dan Carolyn Thompson. Foto Veby Rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Perempuan bule berambut merah itu tampak kesal. Tiap sebentar dia melirik jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WIT. Menghilangkan gelisah, dia melongok keluar jendela camp. Sejenak dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan pintu, sembari tangannya menampung air hujan.

Hujan yang turun sejak pagi, tampak membuat jadwalnya hari itu terganggu. Karena, disaat jam seperti sekarang ini, dia biasanya sudah mengumpulkan banyak data untuk penelitiannya. Namanya Carolyn Thompson. Dia seorang peneliti di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah. Objek penelitiannya adalah gibbons (hylobates albibarbis sp) atau bagi masyarakat setempat disebut owa-owa.

Awalnya dia sedikit keberatan ketika rombongan wartawan peserta lokakarya LPDS ingin berbincang-bincang. "Saya harus kerja," jawabnya pendek.

Lokakarya tentang perubahan iklim ini, diselenggarakan oleh Lembaga Pers Dr Soetomo bekerjasama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia pada 20-24 Februari 2016. Pesertanya, utusan dari 10 media terpilih dari seluruh Indonesia. 

Bertarung dalam Kepungan Api dan Asap

Ditulis oleh Mursalin. Posted in ClimateReporter

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


LAHG, Sabangau, Republika/ClimateReporter - Langit sudah menguning. Masker tak mampu lagi membendung asap masuk hidung. Jarak pandang hanya tiga sampai lima meter. Sejumlah penduduk Kota Palangka Raya terpaksa mengungsi. Nyaris semua hutan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah berada dalam kepungan titik api akhir 2015.

“ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sudah 400, tapi herannya pemerintah belum tanggap darurat (di Kalteng),” kata Darmae Nasir, ahli lingkungan Universitas Palangka Raya di lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim di ibu kota Kalteng Feb 2016.
Alat pengukur ISPU milik Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Kalteng tak berdaya. Pegiat lingkungan mendatangkan alat pengukur dari Jepang. “Ternyata ISPU sudah mencapai 2.000,” tutur Darmae mengisahkan kejadian kebakaran hebat hutan gambut di Kalteng periode Juni – Oktober 2015.

Esoknya, hujan deras pagi itu tak menyurutkan lima wartawan berbagai media di Tanah Air, termasuk Republika, menempuh perjalanan menuju posko Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), Ahad 21 Feb 2016. Lab dikelola Universitas Palangka Raya. Lahan seluar 50 ribu hektare   kawasan LAHG yang bagian dari Hutan Taman Nasional Sabangau, pun terkena imbas kebakaran hutan gambut 2015.