Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Diversifikasi Produk Pertanian Ditampilkan Petani Blora"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Diversifikasi Produk Pertanian Ditampilkan Petani Blora

Rabu, 27 September 2017 – Suara Merdeka, Fokus Jateng

HARI Tani Nasional (HTN) diperingati 24 September. Peringatan HTN menjadi momentum tepat untuk mengekspresikan jati diri para petani. Jerih payah yang mereka lakukan untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional patut mendapatkan apresiasi. Pemkab Blora pun tidak ketinggalan mengekspose hasil karya petani melalui pameran Gelar Potensi Pertanian 2017. Pameran tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani melalui jalinan kerjasama dengan semua pihak.

Pameran secara resmi dibuka Bupati Djoko Nugroho, Jumat (15/9), di kawasan Blok T Blora. Pameran berlangsung hingga Minggu (17/9). Menurut bupati, selama ini yang terjadi di lapangan justru petani banyak dirugikan oleh pasar. Harga yang dibeli para tengkulak dari petani sangat rendah, sedangkan di pasar harganya sangat mahal. Sehingga keuntungan yang besar justru ada di tangan tengkulak. Petaninya hanya bisa menikmati keuntungan yang sedikit. ‘’Paribasane petanine mung iso nutup biaya produksi wae, sedangkan tengkulak dengan bebasnya menentukan harga jual yang keuntungannya tinggi. Ini yang harus dicegah. Saya mengharapkan pameran ini bisa menjadi salah satu jalan tengahnya. Dari petani bisa menjual langsung di pameran dengan harga di atas harga beli tengkulak dan di bawah harga pasar. Sehingga petani bisa lebih untung,’’ ujar Bupati Djoko Nugroho dalam sambutan pembukaan pameran.

Pameran diikuti 33 stan yang berasal dari UPT Pertanian tingkat kecamatan, gabungan kelompok tani, dinas terkait, perbankan, produsen Alsintan, GMM, formulatur pupuk dan pestisida serta pelaku UMKM.

Saat mengujungi stan UPT Kecamatan Todanan, bupati pun menanyakan harga bawang merah yang dipamerkan. Ternyata bawang merah yang biasanya dibeli tengkulak Rp 15 ribu per kilogram dari petani dan dijual di pasar Rp 20 ribu per kg, di pameran ini dijual langsung oleh petani dengan harga Rp 18 ribu per kg. ‘’Nah kalau seperti ini petani bisa memperoleh keuntungan lebih banyak. Di sisi lain pembeli bisa memperoleh barang dengan harga yang lebih murah dari pasar,’’ kata bupati.

Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho pun mengapresiasi pameran Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 yang sudah kali kedua dilaksanakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sejak 2016 lalu. Bahkan tahun depan bupati meminta pameran seperti ini bisa dilaksanakan multi dinas. Sehingga dinas atau OPD mengetahui perannya masing masing dalam memajukan Kabupaten Blora. ‘’Momentum pameran seperti inilah yang saya anggap sebagai puncak hasil kegiatan pembinaan kepada petani dalam satu tahun terakhir. Ini menandakan bahwa Blora kini sudah berubah. Blora yang dulu dikenal kering dan hanya menghasilkan jagung. Sekarang buktinya mempunyai banyak komoditas pertanian dan hortikultura yang luar biasa,’’ tegas Djoko Nugroho.

Dalam pameran tersebut setiap stan menampilkan produk-produk unggulan sesuai ciri khas kewilayahan. UPT Pertanian Kecamatan Jiken menampilkan produk beras organik dan brambang krispy, UPT Pertanian Kecamatan Todanan dengan olahan jambu mente, UPT Pertanian Kecamatan Kradenan dengan produk unggulan bawang merah, UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan dengan aneka buah-buahan seperti durian dan benih tanaman lainnya. Kecamatan Jati menampilkan tanaman unggulan jagung dan holtikultura lainnya serta jeruk oleh Pertanian Randublatung. Adapun UPT Pertanian Kecamatan Jepon menyuguhkan cabai berkualitas dan UPT Pertanian Kecamatan Sambong dengan budidaya tanaman hidroponik.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti, mengemukakan, Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 bertemakan “Diversifikasi Produk Pertanian dan Pelestarian Kearifan Lokal Menuju Blora Berdaulat Pangan”. Menurutnya, tema tersebut sangat tepat bagi masyarakat Blora yang saat ini sedang bergeliat mengembangkan potensi pangan lokal di tengah berbagai keterbatasan yang ada. “Gelar Potensi Pertanian ini kami laksanakan juga dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia ke 37 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober nanti serta Hari Tani dan HUT KTNA ke 46 pada 24 September,’’ tandasnya.

Dalam kesempatan pameran itu diserahkan pula bantuan alat mesin pertanian (alsintan) secara simbolis kepada sejumlah kelompok tani. Turut hadir dalam pembukaan pameran, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Nuswantoro Setyadi Pradono, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora Hj.Umi Kulsum Djoko Nugroho, Sekda Drs. Bondan Sukarno MM, jajaran Forkopimda dan seluruh Kepala OPD se Kabupaten Blora. Selama pameran berlangsung, dimeriahkan dengan lomba mewarnai tingkat PAUD/TK tentang tema pertanian, lomba gerak dan lagu Modernisasi Desa, lomba merangkai produk pertanian dan malam hiburan berupa cokekan dan musik band. (Abdul Muiz)

Petani Ditantang Hasilkan Produk Lokal

PELAKSANAAN pameran pertanian yang dikemas dalam kegiatan Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 di Blok T Kota Blora menyedot ribuan pengunjung. Omset pameran pun  mencapai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari panitia, total omset penjualan produk pertanian selama tiga hari mencapai Rp 216.632.750,-. Omset terbesar diperoleh oleh stan UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan yang menjual paket hidroponik, aneka bibit tanaman buah, durian, jambu kristal dan lainnya. ‘’Yang paling besar omsetnya Kecamatan Tunjungan sebesar Rp 26.198.000,-. Oleh karena itu diberikan penghargaan sekaligus sebagai pemenang juara pertama stan terbaik,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti.

Bupati Djoko Nugroho dalam sambutan pembukaan pameran sebelumnya memang menekankan agar stan yang ramai dikunjungi warga ditetapkan menjadi stan terbaik. ‘’Bukan malah barang-barang yang dipamerkan tidak boleh dibeli karena khawatir mengurangi keindahan stan. Stan yang produknya laris dibeli pengunjung itulah yang seharusnya menjadi stan terbaik,’’ kata Bupati Djoko Nugroho.

Bupati mengharapkan, tahun depan bisa dilaksanakan kembali pameran serupa. Karena dengan pameran, bisa meningkatkan pendapatan petani dari segi harga yang lebih menguntungkan. Daripada melepas produk pertanian ke tengkulak. ‘’Harus ada yang berbeda dengan pameran sebelumnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Coba kebangkan produk pertanian yang berkualitas dan berbeda dengan yang lain,’’ kata bupati.

Selama pameran berlangsung juga dimeriahkan oleh berbagai perlombaan seperti lomba mewarnai tingkat PAUD/TK, lomba merangkai produk pertanian tingkat SMA/SMK, lomba gerak dan lagu Modernisasi Desa tingkat SMA/SMK, lomba kreasi oleh-oleh khas Blora dan lomba stan terbaik.

Lomba mewarnai tingkat TK/PAUD dengan tema pertanian, juara 1 Anzilina dari TK Pelangi Ceria Blora, juara 2 Azzahra dari TK Pertiwi 2 Purwosari dan juara 3 Kamania dari TK Islam Baitunnur Blora. Lomba merangkai produk pertanian tingkat SMA/SMK juara 1 SMA Negeri 1 Tunjungan, juara 2 SMA Katholik Wijaya Kusuma Blora dan juara 3 SMA Muhammadiyah 1 Blora.

Adapun lomba gerak dan lagu modernisasi desa tingkat SMA/SMK; juara 1 SMA Negeri 2 Blora, juara 2 SMA Negeri 1 Cepu, juara 3 SMA Negeri 1 Tunjungan. Lomba kreasi oleh-oleh Tingkat UPT Pertanian; juara 1 UPT Pertanian Kecamatan Todanan dengan karya sari buah jambu mete, juara 2 UPT Pertanian Kecamatan Jiken dengan karya jagung instan, juara 3 UPT Pertanian Kecamatan Banjarejo dengan karya permen tape.

Sedangkan lomba stan pameran terbaik; juara 1 UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan, juara 2 UPT Pertanian Kecamatan Banjarejo, juara 3 UPT Pertanian Kecamatan Kedungtuban, juara harapan 1 UPT Pertanian Kecamatan Jati, juara harapan 2 UPT Pertanian Kecamatan Jiken dan juara harapan 3 UPT Pertanian Kecamatan Bogorejo. “Alhamdulillah ini berkat kerja keras teman teman petani, kelompok tani dan para penyuluh. Semoga ini bisa menjadi penyemangat kami dalam memajukan pertanian, khususnya di Tunjungan dan umumnya di Kabupaten Blora,” ujar Kepala UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan, Saefudin. (Abdul Muiz)

Dari Industri Migas, Indra Karyanto Geluti Pertanian Hidroponik

TIDAK Banyak pekerja yang memilih menggeluti bidang lain setelah keluar dari pekerjaannya. Apalagi bidang yang digelutinya itu berbeda jauh dengan latar belakang pendidikan. Namun tidak demikian dengan Indra Karyanto. Setelah tak lagi bekerja di industri minyak dan gas (migas), dia memilih bercocok tanam dengan sistem hidroponik.

Dua tahun lalu Indra Karyanto masih bekerja di salah satu KSO Pertamina. Setelah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di tahun 2016, sarjana teknik geodesi UGM Yogyakarta itu menggunakan uang pesangon yang diperolehnya untuk modal merintis usaha baru budidaya tanaman hidroponik. Usaha tersebut dimulainya di Desa Gadu, Kecamatan Sambong, Blora. Sebuah greenhouse hidroponik dibangunnya. ‘’Sayur-sayur ini sudah siap panen, sudah siap dipasarkan,’’ ujarnya.

Di greenhouse berukuran seperti rumah besar itu setidaknya terdapat 7.000 titik tanam. Beraneka ragam sayuran dibudidayakan di tempat tersebut. Mulai dari sawi hijau, sawi sendok, selada dan kangkung. Sayuran hijau nan segar itu dibudidayakan dengan sistem deep flow technique (DFT) yakni mengunakan genangan air di dalam paralon sebagai tempat penanamannya. Paralonnya pun disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan tanaman. ‘’Untuk airnya sendiri itu selalu mengalir.  Daya tampung airnya di tandon 1800 liter dan pastinya itu juga sudah diberi nutrisi dan suhu air juga diperhatikan,’’ tandas pria kelahiran Sukoharjo, 12 Mei 1982.

Usaha Baru

Indra Karyanto mengaku banyak tawaran untuk bekerja di dunia migas lagi setelah dia berhenti bekerja di salah satu KSO Pertamina, awal 2016. Namun dia lebih memilih menggeluti budidaya tanaman hidroponik.

Awalnya dia budidaya tanaman hidroponik di 100 titik tanam. Kemudian sejak Maret 2016, pemuda ini mulai membangun greenhouse berukuran besar. Uang pesangon yang diperolehnya dari perusahaan migas itu dipakainya untuk membuat greenhouse di Desa Gadu.

Selain itu, dia juga merelakan menjual alat ukur Total Station yang merupakan alat ukur utama seorang geodesi untuk pekerjaan survei dan pemetaan. Uang hasil penjualan digunakan untuk pengembangan hidroponik. ‘’Saking niat yang kuat menjadi petani saya jual alat ukur Total Station,’’ tandasnya.

Indra Karyanto beralasan, untuk mencapai hasil maksimal diperlukan perjuangan. Yakni perjuangan menciptakan sayuran yang baik dan layak konsumsi dan perjuangan menciptakan pasar.  ‘’Secara keekonomian penghasilan belum mengimbangi dari hasil bekerja di dunia minyak, namun ada kepuasan dan berkah sendiri dari menjadi petani. Saya yakin kebun saya akan berkembang dan mampu melebihi pendapatan dari bekerja di dunia minyak,’’ kata Indra.

Meskipun budidaya hidroponik tidaklah semudah yang dia bayangkan tetapi dia mengaku sangat senang. Indra berkeinginan greenhouse tersebut kedepanya bisa menjadi destinasi wisata edukasi bagi siapapun yang ingin belajar hidroponik. ‘’Yang pasti saya ingin dengan adanya hidroponik ini bisa memberdayakan masyarakat sekitar,’’ ujarnya.

Tidak lupa dia juga meluangkan sebagian waktunya untuk memberikan pelatihan hidroponik kepada warga. Menurutnya, pelatihan itu dalam rangka mengenalkan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik dengan harapan bisa berbagi pengetahuan tentang penting dan manfaatnya konsumsi sayuran sehat. Selain itu, hasil dari tanam sendiri bisa untuk konsumsi keluarga.  (SM/Abdul Muiz)

Biodata

Nama                                  : Indra Karyanto, ST

Tempat Tanggal Lahir           : Sukoharjo, 12 Mei 1982

Pendidikan                          : Sarjana Teknik Geodesi UGM Yogyakarta

Alamat rumah sekarang        : Perumahan Cepu Asri,  Desa Pojok Watu,  Kecamatan Sambong, Blora.