Inside Mining

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Bojonegoro dan Label Tujuh Situs Warisan Geologi"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Bojonegoro dan Label Tujuh Situs Warisan Geologi

Sabtu, 25 November 2017 | https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/bojonegoro-dan-label-tujuh-situs-warisan-geologi

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berharap peningkatan PAD melalui pemanfaatan situs warisan geologi sebagai kawasan destinasi wisatawan.

Kobaran api menyembul dari tumpukan batu berwarna putih. Tak pernah sekalipun padam walau terguyur hujan deras. Warga setempat menyebutnya Kayangan Api atau Api Abadi.

Secara ilmiah, Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas dari dalam tanah yang tersulut api sehingga terbakar.

Menurut cerita yang berkembang, Kayangan Api konon jadi tempat Empu Supagati alias Mbah Pandhe membuat keris pusaka Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo. Majapahit kemudian mengangkatnya jadi empu kerajaan dengan gelar Ki Kriya Kusuma.

"Di sini dahulu petilasan Mpu Supagati," ujar Mbah Djuli, juru kunci Kayangan Api, saat ditemui Beritagar.id, dua pekan silam.

Api Abadi terletak di tengah hutan, tepatnya di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur. Empat candi kelir berpengawal patung Dwarapala tersebar di sekitar sumber api.

Sekitar 80 meter ke arah barat sumber api, ada kolam bernama Sumber Air Blekutuk yang mengeluarkan bau belerang yang menyengat hidung.

Walau terlihat bergelembung ibarat air mendidih, air di dalam kolam ini justru tidak panas.

Perpaduan antara fenomena alam yang unik dan folklor tadi membuat Kayangan Api jadi primadona wisatawan.

Tambah lagi kawasan yang berjarak sekitar 23 kilometer arah barat daya Kota Bojonegoro itu kerap menjadi tempat acara penting. Misalnya pengambilan api untuk Pekan Olah Raga Nasional ke XV tahun 2000 di Jawa Timur.

Selain itu, hampir setiap penyelenggaraan Hari Jadi Bojonegoro (20 Oktober) selalu ada arak-arakan dari Kayangan Api menuju Pendopo Kabupaten.

Menyitir wisatabojonegoro.com, jumlah wisatawan domestik (wisdom) yang berkunjung ke Kayangan Api pada 2016 mencapai 56.915 orang.

Angka tersebut meningkat dari 22.588 wisatawan (2014) dan 34.729 (2015). Saat libur Lebaran 2017, kurun 26 Juni-2 Juli, Kayangan Api dikunjungi 12.601 wisdom.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro lantas berupaya menjadikan Kayangan Api sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) tingkat nasional.

Ikut pula diusulkan sumur tua Wonocolo. Disebut sumur tua karena di area ini terdapat lebih dari 700 sumur minyak mentah peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Sumur tua Wonocolo menempati dataran setinggi 400 meter dari permukaan air laut di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.

Ada tulisan "Teksas Wonocolo" berukuran raksasa yang membuat lokasi ini gampang diketahui wisatawan. Teksas merupakan akronim dari tekat selalu aman dan sejahtera.

Sepanjang kiri-kanan perbukitan hutan di Desa Wonocolo, jamak dijumpai aktivitas penduduk sekitar yang menambang minyak dengan cara tradisional dan semi modern.

Cara tradisional, misalnya sumur minyak dengan kedalaman rata-rata di bawah 1500 meter, diambil dengan menggunakan pipa besi panjang. Pipa lantas dimasukkan ke sumur dengan kawat seling dan ditarik secara manual oleh lebih dari 20 orang.

Ada juga yang menggunakan mesin truk tak terpakai yang dihidupkan untuk menarik kawat seling di kumparan pelek ban mobil bekas.

"Pemandangan seperti itu bisa dinikmati pengunjung," ujar Camat Kedewan Moh. Arifin dalam acara diskusi soal sumur tua di Kantor Pemkab Bojonegoro, Selasa (21/11/2017).

Di Desa Wonocolo juga telah dibangun rumah singgah yang berfungsi sebagai edukasi wisata pelbagai hal tentang minyak.

Rumah singgah yang resmi dibuka sejak pertengahan 2016 ini berisi aneka informasi dalam bentuk dokumentasi foto, maket, dan fosil-fosil.

Selain itu disediakan juga kamar bagi wisatawan yang ingin menginap dengan tarif 100 ribu rupiah per malam.

Sumur tua Wonocolo berada di kawasan hutan milik Kesatuan Pemangkuan Hutan Cepu. Kendali pengelolaannya berada di bawah PT Pertamina EP Asset 4 Cepu.

Dr. Djatmiko Setiawan, peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, menyebut sumur tua Wonocolo banyak mengundang keunikan.

Secara teori, kata Dr. Djatmiko, seharusnya cadangan minyak di tempat tersebut sudah sangat menipis atau ludes karena Belanda telah mengekploitasinya sejak 1926. Tetapi kenyataannya minyak di perut bumi Wonocolo masih terus ada. "Minyaknya enggak habis-habis," ujar peneliti bidang ahli gempa tektonik ini.

Mengantongi sertifikat Geopark Nasional

Sepanjang proses pengusulan sebagai KCAG tingkat nasional, Pemkab Bojonegoro dan Pemprov Jawa Timur menggandeng para ahli dari berbagai bidang.

Ada tim Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPNV) Yogyakarta yang bekerja mendampingi selama dua tahun, juga dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta. Para peneliti sebagian besar sarjana geologi, minyak, dan antropologi.

Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo telah mengirim surat usulan penetapan KCAG ke Menteri ESDM Ignasius Jonan, tertanggal 13 Oktober 2017.

Surat itu mengacu lampiran usulan Bupati Bojonegoro Drs. Suyoto M.Si yang berisi usulan penetapan KCAG di daerahnya pada 27 April 2017.

"Sudah kita usulkan beberapa bulan lalu," ujar Kang Yoto, sapaan akrab Suyoto, saat acara Diskusi Kelompok Terarah di Gedung Angling Dharma, Pemkab Bojonegoro, Selasa (22/11).

Surat yang sama juga ditembuskan ke Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Dalam Negeri, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Agar lolos verifikasi, Pemkab Bojonegoro bersama UPNV Yogyakarta dan Badan Geologi Kementerian ESDM melakukan kajian bersama tentang KCAG.

Survei awal di lapangan menemukan 21 situs. Namun hasil verifikasi memutuskan hanya tujuh yang lolos dan layak masuk kategori KCAG tingkat nasional.

Tujuh situs tersebut, selain Kayangan Api dan sumur tua Wonocolo, adalah struktur lipatan lapisan batuan sedimen (antiklin) Kawengan bagian puncak, bagian sayap kanan, dan sebagian sayap kiri --semuanya berada di Kecamatan Kedewan, situs Dung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, dan lokasi penemuan fosil gigi hiu purba di Desa Jono, Kecamatan Temayang.

Lalu bagaimana dengan 14 situs lain yang tidak lolos verifikasi? Pemkab Bojonegoro tetap mengupayakannya sebagai kawasan wisata yang layak dikunjungi dengan menerbitkan Surat Keputusan Bupati Bojonegoro.

Isinya menetapkan 14 situs itu sebagai kawasan geologi yang memendam banyak sejarah. "Warisan geologi itu sumbangan termahal ilmu pengetahuan," tandas Kang Yoto.

Dilansir Antara Jatim (24/11), tujuh situs warisan geologi di Bojonegoro yang lolos verifikasi telah menerima sertifikat sebagai Geopark Nasional hamparan minyak bumi.

Ini persis yang diprediksikan Ketua Tim Verifikasi Geopark Petroleum di Bojonegoro dari Badan Geologi Bandung, Ir. Andiani, dalam acara diskusi warisan geologi di Kantor Pemkab Bojonegoro (22/11).

Selain Bojonegoro, daerah lain yang menerima sertifikat geopark nasional adalah Gunung Tambora (di Nusa Tenggara Barat), Raja Ampat (Papua Barat), Karst Maros (Sulawesi Selatan), dan Pulau Belitung (Kepulauan Bangka Belitung).

Pemberian sertifikat tersebut membuat Pemkab Bojonegoro harus mampu melakukan evaluasi terhadap tata ruang dan wilayah dalam jangka waktu 15-20 tahun lamanya.

Harapan Andiani, kawasan cagar alam di Bojonegoro diusulkan ke tingkat dunia melalui UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai situs geologi internasional. "Jika diakui, ini prestasi membanggakan," imbuhnya.

Penetapan tujuh situs sebagai KCAG bisa menjadi pintu masuk berkembangnya pariwisata di Kabupaten Bojonegoro. Nilai jualnya bukan semata kabupaten penghasil minyak dan gas, tetapi juga sejarah yang melatarbelakanginya.

Misalnya berbagai temuan yang mengindikasikan bahwa 30 juta tahun silam daratan Bojonegoro adalah laut.

Faktor penguatnya adalah penemuan geosite gigi hiu di Desa Jono, juga fosil kuda laut di sekitar Desa Wotan Ngare, Kalitidu.

Ada juga tulang paus purba ditemukan di sungai kecil di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, pada bulan Agustus 2012 silam.

Dengan warisan geologi yang potensial tadi, bukan tidak mungkin mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bojonegoro.

Data di Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyebutkan, jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tahun 2015 sebesar Rp378 juta. Angka itu meningkat jadi Rp1,5 miliar setahun kemudian.

Kawasan wisata yang jadi langganan kunjungan, seperti obyek Kayangan Api, menyumbang pemasukan Rp408 juta, Wahana Wisata Dander Park memberikan Rp815 juta.

Sementara kunjungan wisatawan ke Tirtawana Dander menghasilkan lebih dari Rp105 juta. Sisanya berasal dari obyek-obyek wisata lain yang belum dikelola optimal.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro berjanji akan melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga dan instansi, semisal dengan pemerintah daerah penerima sertifikat geoheritage.

Tujuannya untuk meningkatkan sarana dan prasarana di kawasan tersebut agar wisatawan semakin betah dan sering datang berkunjung.

Juga sedang dirancang kelompok pemandu wisata yang paham tentang minyak, gas, dan peninggalan geologi khusus untuk mendampingi para wisatawan.

Lembaga Masyarakat Desa Hutan --sebuah lembaga mitra Perhutani-- serta beberapa perusahaan minyak dan gas juga turut dirangkul. Seperti kontraktor yang mengelola Blok Cepu.

"Kita berharap PAD meningkat dari sektor pariwisata geoheritage," ujar Kepala Bidang Kelembagaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro Dyah Enggarini Mukti (22/11).

Ir. Hanang Samudra, Ketua Tim Verifikasi Geoheritage dari Badan Geologi Bandung, menyebut Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta patut jadi contoh soal pengelolaan kawasan peninggalan geologi.

Pemprov Yogyakarta yang menerima sertifikat KCAG pada 2014 menganggarkan tiap situs dari sembilan yang terpilih biaya operasional minimal sebesar Rp1,5 miliar. Hasilnya PAD dari sektor pariwisata melonjak lebih dari Rp30 miliar.

Jika Bojonegoro berhasil mengoptimalisasi bidang pariwisata, khususnya bidang warisan geologi, bisa jadi kabupaten ini tidak lagi hanya mengandalkan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas.

Selama ini pendapatan dari migas menjadi tulang punggung Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang mencapai Rp3,7 triliun. Sekitar Rp1,4 triliun berasal dari DBH Migas.

Maka, lanjut Hanang Samudra, potensi minyak dan gas harus dikelola dengan baik. Tidak hanya mengeksploitasi migas, tetapi juga mandiri dengan mengoptimalkan warisan geologi ke generasi selanjutnya. "Bojonegoro harus mandiri," pungkasnya.

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Kampung Ilmu Mendidik Anak-anak Pinggiran Bengawan Solo"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Kampung Ilmu Mendidik Anak-anak Pinggiran Bengawan Solo

Jumat, November 24, 2017 | http://www.literasi.co.id/2017/11/kampung-ilmu-mendidik-anak-anak.html

Literasi.co.id - Keterbatasan ekonomi tidak menjadi halangan bagi anak-anak untuk meraih pendidikan. Mungkin kalimat itulah yang memotifasi sejumlah pemuda di Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, dalam mendirikan lembaga pendidikan bernama Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB). Lembaga ini diperuntukan bagi anak-anak di daerah pinggiran Sungai Bengawan Solo, atau lebih tepatnya di wilayah Bojonegoro bagian barat.

Saat kami berkunjung ke lokasi lembaga pendidikan tersebut pada Rabu (22/11/2017), hujan sedang mengguyur tapi tidak begitu deras. Namun hal tersebut tidak menyurutkan langkah sejumlah pelajar untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar (bimbel) di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. Kegiatan bimbel berlangsung setiap hari Senin sampai Jumat, mulai pukul 15.00 – 19.00WIB.

Salah satu pelajar tersebut adalah Fitri (12), anak yatim warga Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam ini sudah sejak tiga bulan terakhir mengikuti bimbingan belajar lembaga tersebut. “Saya mengikuti bimbel setelah diajak teman, belajar disini menyenangkan,” terang pelajar yang duduk di bangku SMP kelas satu ini.

Salah satu pengagas berdirinya YKIB, Muhamad Roqib (35), bercerita jika lembaga pendidikan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2011 yang lalu, namun masih sebagai komunitas yang waktu itu bernama “kampung sinau”. Kemudian pada tanggal 20 November tahun 2015, komunitas tersebut disahkan sebagai Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro.

Awalnya, YKIB hanya diikuti oleh 5 orang pelajar, itupun berasal dari anak para tetangga dan teman sendiri. Namun, kini tercatat sudah ada 180 pelajar, baik tingkat SD/MI, SMP/MTs, SLTA/MA, yang mengikuti bimbingan belajar di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro ini. Para pelajar juga tidak hanya berasal dari Desa atau Kecamatan di Purwosari saja, namun juga berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Gayam dan Kalitidu.

“ Lembaga pendidikan ini kami fokuskan untuk anak-anak di kawasan pedesaan, terutama di wilayah pinggiran Sungai Bengawan Solo, yang mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu,”terang pria yang kerap disapa Rokib ini.

Untuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar di lembaga ini, para pelajar cukup memberi infaq setiap pertemuan. Untuk pelajar SD/MI Rp 2.500, pelajar SMP/MTS Rp 5.000,  sedangkan untuk SLTA/MA Rp 7.500. Sementara, untuk anak dari keluarga miskin atau kurang mampu, serta anak yatim tidak diwajibkan membayar infaq alias gratis.

Rokib menambahkan, meski tidak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah setempat, namun lembaga yang dirintisnya terus berkembang. Selain bimbingan belajar, saat ini juga tersedia Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), serta sebuah perpustakaan, yang berisi berbagai macam buku yang sesuai dengan kebutuhan para pelajar.

 Lantaran belum memiliki gedung sendiri, selama ini proses kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah pribadinya,  serta sejumlah rumah warga yang berdekatan. Untuk tenaga pengajar juga sudah tidak diragukan lagi, yakni sebanyak 12 tenaga pengajar, yang semuanya lulusan sarjana S1 bahkan ada yang sudah S2 dari berbagai perguruan tinggi ternama. Seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Brawijaya Malang, serta dari sejumlah perguruan tinggi di Bojonegoro.

 “Karena konsepnya Kampung Ilmu, kita ingin anak didik merasa nyaman seperti belajar di rumah sendiri. Disini cukup sederhana, tidak ada kursi hanya memakai tikar dan meja belajar," terang pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis ini.

Kedepanya, YKIB berencana akan membuat gedung sendiri sebagai tempat belajar mengajar, tanpa mengharap bantuan dari pemerintah. Selama ini biaya operasional untuk menggaji tenaga pengajar dan biaya lain, diambilkan dari iuran infaq peserta didik. Namun jumlah tersebut tentu masih belum layak dikatakan sebagai gaji pada umumnya.

 “Pada prinsipnya para guru atau tenaga pengajar disini hanya ingin mengabdi. Tenaga pendidik ini semuanya juga berasal dari kecamatan purwosari dan sekitarnya,” terang pria lulusan Unibraw Malang ini.

 Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan operasional YKIB, sejak setahun terahir lembaga ini mempunyai program tentang pendidikan eneri minyak dan gas bumi (migas). Program tersebut bekerja sama dengan salah satu operator lapangan migas Banyu Urip blok Cepu, Exxonmobil Cepu Limited (EMCL).

 “Kita tidak meminta bantuan kepada perusahaan, tapi murni kerja sama. Sisa dari program tersebut bisa buat mencukupi operasional lembaga, termasuk menggaji para guru," pungkasnya.

 Program belajar energi migas difokuskan untuk para pelajar di sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Gayam. Tujuanya untuk memberi pendidikan energi pagi anak-anak. Selain belajar tentang energi, YKIB juga memberikan materi tentang jurnalistik kepada para pelajar di kawasan migas Blok Cepu tersebut.(ATP)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Eksploitasi Migas dan Ekonomi Kerakyatan Bersanding Secara Pas"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Eksploitasi Migas dan Ekonomi Kerakyatan Bersanding Secara Pas

Minggu, 26 Nopember 2017 http://beritajatim.com/berita_migas/314473/eksploitasi_migas_dan_ekonomi_kerakyatan_bersanding_secara_pas.html 3/5

Bojonegoro (beritajatim.com)--Letaknya berada dekat dengan lapangan pengeboran minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Sebuah bangunan dari bambu berbentuk rumah panggung, memanjang di tanah kosong dekat persawahan. Bangunan tersebut merupakan bibit ekonomi bagi warga yang ada di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. 

Ya, sebanyak 200 ekor kambing di kandang berbentuk bangunan panggung itu terdapat bibit ternak yang akan dibagikan kepada warga setempat. Sebanyak 200 ekor kambing itu merupakan bantuan dari operator migas lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) asal Amerika Serikat yang melakukan eksplorasi di wilayah setempat. Kambing yang dipilih itu kambing untuk indukan dan pejantan. Hewan ternak itu kini dikelola sebuah lembaga masyarakat. 

Setelah beranak pinak, baru kemudian secara bertahap anakannya dibagikan kepada warga. Sebanyak kurang lebih 520 kepala keluarga (KK) di Desa Bonorejo itu nanti akan mendapat satu ekor kambing dari hasil pengembangan.

"Dari 200 ekor kambing itu, diprediksi bisa mencukupi untuk semua kebutuhan warga (520 KK) di Bonorejo sekitar 1,5 tahun," ujar Direktur Yayasan Bimantari, Muhammad Jai, yang mengelola ternak kambing ini, Minggu (26/11/2017).

Setelah semua kebutuhan masyarakat itu terpenuhi, maka 200 ekor kambing indukan tersebut akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Sehingga usaha peternakan tak berhenti dan menjadi sumber pemasukan bagi pendapatan asli desa.

Aktifitas menjalankan peternakan ini tidak sulit bagi warga sekitar. Di samping masih banyak lahan yang bisa digunakan untuk mencari rumput sebagai pakan ternak, EMCL dalam memberikan bantuan juga sudah menyediakan lahan untuk pengelolaan pakan. "Karena karakter masyarakat tidak semua peternak, maka kambing tersebut nantinya juga bisa dikelola secara kelompok," jelasnya.

Bantuan kambing ini baru berjalan di tahun ini (2017). Kontrak kerja sama dalam pengelolaan ternak kambing ini sampai dua tahun ke depan. Selain kambing, masyarakat sekitar juga bisa mengelola pakan untuk ternak. Jai, yang memiliki keahlian di bidang peternakan menilai bahwa pengeluaran terbesar beternak adalah pakan. 

Sehingga, selain hanya mendapat bantuan hewan ternak, warga yang tertarik di bidang ini juga mendapat pelatihan pengelolaan pakan ternak. Ladang pakan ternak ini nanti akan ditanam di lahan milik EMCL. "Hampir 70 sampai 80 persen terbesar dari segi pengelolaan ternak dialokasikan untuk kebutuhan pakan ternak," terangnya. 

Pusat Belajar Ternak Untuk Rakyat

Jauh hari sebelum memberikan bantuan berupa ternak kambing dan sapi, EMCL sudah membuat terobosan berupa belajar ternak. Adalah Kandang Belajar Sapi Rakyat (KBSR) di Desa Brabohan, Kecamatan Gayam yang jadi tempat belajar bagi peternak. Kandang belajar itu bisa dimanfaatkan siapa saja. Program pendukung operasi dari operator yang kini berproduksi sekitar 208 ribu barel minyak per hari itu, diberikan sejak 31 Desember 2009. KBSR awalnya menjadi kandang belajar untuk masyarakat di 15 desa di dua kecamatan: Kecamatan Ngasem dan Kalitidu. 

Seiring berjalannya waktu, karena ada pemekaran wilayah, sehingga kandang yang juga mengembangkan 60 ekor sapi itu hanya digunakan masyarakat di Kecamatan Gayam. 

Di Kandang Belajar Sapi Rakyat itu, warga bisa belajar mulai dari proses usaha pengelolaan limbah, produksi pakan, pelayanan kesehatan ternak, jual beli kebutuhan ternak, obat-obatan ternak, jual-beli sapi, dan pemanfaatan biogas. 

Awalnya, program KBSR tersebut bukan hanya dari peternakan, tapi juga pertanian singkong. Sebab, karakteristik geografis wilayah sekitar merupakan tegalan dan sawah tadah hujan, yang hanya bisa panen padi sekali setahun saat musim hujan. "Dalam perjalanannya pertanian ini tidak jalan, yang sampai sekarang masih jalan ternaknya," jelasnya.

KBSR merupakan sentra belajar ternak. Tujuannya, tidak untuk profit. Dari modal 60 ekor diharapkan jadi pengembangan bagi ekonomi masyarakat. Namun, harapan belum tentu sesuai kenyataan. Berjalannya waktu biaya perawatan yang tinggi, tidak bisa menyokong pusat belajar ternak itu tetap tumbuh. Dari segi resiko ternak mati dan ketersediaan pasar aman, namun beban operasional terlalu tinggi. Seperti, gaji harian lepas dan operasional kantor. Akhirnya pusat belajar ternak tersebut harus dihentikan sementara. 

Meski dibekukan, namun warga yang belajar dari pengelolaan limbah kotoran ternak itu masih berjalan. Karena sebagian besar warga sekitar merupakan petani. Kotoran ternak tersebut dikelola menjadi pupuk kompos dan biogas. Pupuk kompos dijual dengan harga Rp2.200. "Dua bulan lalu, KBSR dibekukan. Sebanyak 40 sapi yang ada di KBSR dijual dan uangnya dibekukan di yayasan sampai menunggu proses penataan manajemen selesai. Sekarang yang masih jalan pengelolaan pakan ternak, namun menggunakan sistem manajemen berbeda," ujar Jai.

Dalam menjalankan program pendukung operasi industri hulu migas, operator migas Blok Cepu, EMCL, selalu mempertimbangkan aspek kemandirian masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Menurut juru bicara dan Humas ExxonMobil Cepu Limited, Rexi Mawardijaya, ada tiga aspek yang diperhatikan perusahaan sebelum memberikan program kepada masyarakat. 

Apa saja ketiga aspek itu? Pertama, segi kebutuhan masyarakat. Harapannya program yang diberikan nantinya sesuai dengan kebutuhan, bukan sekadar keinginan masyarakat. Kedua, program pendukung operasi itu diberikan atas koordinasi dengan pemerintah setempat. Artinya, lanjut Rexi, program yang diberikan oleh perusahaan tidak berbenturan dengan program pemerintah, tapi justru saling melengkapi dengan program yang dijalankan pemerintah untuk peningkatan taraf hidup masyarakat. 

"Jadi kami tidak menggantikan program tanggung jawab pemerintah kepada masyarakat. Kami lebih pada melengkapi program pemerintah melalui Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Terakhir dari segi aspirasi masyarakat selaras, bisa saja aspirasi itu dari tokoh masyarakat, kepala desa, warga, dan lainnya," jelas Rexi. 

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Ardiono dalam launching bantuan kandang ternak kepada masyarakat Desa Bonorejo, berharap kepada masyarakat sekitar agar bisa memanfaatkan fasilitas yang ada dengan sebaik mungkin. "Seharusnya masyarakat sini (Bonorejo) bersyukur mendapat fasilitas peternakan sebagus ini. Mesti dimanfaatkan dengan baik," ingatnya. 

Dilirik Sebagai Objek Wisata

Pengelolaan ternak sapi dan kambing sebagai wujud ekonomi kerakyatan seperti rantai tak terputus. Misalnya, dari ternak kambing, sebagai mata pencahaian warga, kotoran ternak yang ada bisa digunakan sebagai pupuk pertanian. Selain itu, ada hal lain yang jadi peluang bisnis ekonomi kreatif bagi masyarakat, yakni sebagai kawasan wisata edukasi. Mengenalkan sejarah masyarakat dulu kepada anak-anak. Sudah barang tentu generasi anak-anak saat ini ada yang masih belum tahu bahwa sejarah terbentuknya masyarakat sekitar merupakan petani. 

Apalagi, mungkin ada warga di mana dia dibesarkan kini sudah jarang yang jadi petani, karena ladangnya menjadi lapangan produksi migas di Blok Cepu. Dari kawasan ini dihasilkan minyak yang besaran volumennya mencapai sekitar 25% dari lifting minyak nasional. Gito Citrapati, misalnya, salah seorang warga sekitar lapangan Banyu Urip mulai melirik bisnis yang ada hubungannya sektor pariwisata. Kini dia mulai merintis dari segi transportasi umum berupa kereta odong-odong. Kereta itu mengantarkan warga untuk berkeliling di kawasan wisata Bojonegoro.

Ke depan, lanjut Gito, dengan sarana kereta odong-odong itu warga akan diajak berkeliling di kawasan Kecamatan Gayam untuk melihat potensi wilayahnya sendiri. Mulai poteni sektor pertanian, peternakan, dan proses produksi migas di Banyu Urip. "Sehingga anak-anak ini tidak mengalami kepaten obor (kehilangan sejarah) kotanya sendiri," jelasnya. [lus/air]

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Agrowisata Kebun Blimbing Ngringinrejo, Dulu Desa Miskin Kini Berdaya"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Agrowisata Kebun Blimbing Ngringinrejo, Dulu Desa Miskin Kini Berdaya

Minggu, November 26, 2017 | http://www.literasi.co.id/2017/11/agrowisata-kebun-blimbing-ngringinrejo.html

Literasi.co.id - Kabupaten Bojonegoro Jawa-Timur tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas),namun daerah tersebut juga memiliki sejumlah potensi alam lain yang bisa dikembangkan,seperti di Desa Ngringinrejo Kecamatan Kalitidu,disini terdapat Agrowisata kebun blimbing

Mayoritas warga di desa tersebut bekerja sebagai petani buah yang rasanya asam manis ini,salah satunya adalah Khusnul Khotimah (50),perempuan tersebut sudah sejak lima tahun terahir menekuni usaha kebun blimbing,tidak hanya menanam,namun buah yang dihasilkan juga ia jual sendiri di areal Agrowisata kebun blimbing

"Alhamdulilah,sejak dijadikan agrowisata kita lebih mudah menjual blimbing hasil panen" teranya,kamis (23/11/2017)

Khotimah mengatakan,jika rata-rata setiap hari ia bisa menjual blimbing antara 15 sampai 25 kilo gram,itu untuk hari biasa,namun jika waktu libur ahir pekan atau libur hari besar bisa meningkat dua kali lipat

"Satu kilo gram blimbing harganya 8000 rupiah,hasilnya lumayan buat kebutuhan keluarga" ungkap perempuan berjilbab ini

Tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari,namun hasil dari usaha kebun blimbing ini juga mampu mengantarkan anaknya hingga ke bangku kuliah,bukan hanya khotimah sebagian besar warga desa ini juga mendapat manfaat adanya Agrowisata kebun blimbing

Sementara itu,Kepala Desa Ngringinrejo,Mohamad Syafi'i mengatakan,saat ini tercatat ada 104 petani,yang menanam buah belimbing di areal perkebunan seluas 21,4 hektar.kebun blimbing tersebut dikelola oleh kelompok Sadar Wisata Agro Jaya,yang merupakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

 "Kebun blimbing desa ngringinrejo menjadi agrowisata sejak tahun 2014 lalu" terangnya

 Syafi'i menceritakan,jika ngringinrejo dulu merupakan desa yang mayoritas warganya miskin,salah satu penyebabnya adalah lahan warga yang tidak produktif,karena daerah tersebut rawan terendam banjir luapan sungai Bengawan Solo

"Dulu warga sering gagal panen,saat lahanya ditanami palawija maupun jagung,sebelum ditanami buah belimbing seperti sekarang" ungkap pria berkaca mata ini

Menurut Syafi'i,adanya Agrowisata juga mendongkrak harga blimbing,karena sebelumnya harga buah tersebut hanya 3000 rupiah,sekarang menjadi 8000 rupiah perkilo gramnya,satu pohon blimbing rata-rata bisa menghasilkan 50 sampai 70 kilo gram buah pertahun,itu berarti jika harga blimbing 8000 rupiah,maka kebun seluas 21,4 hektar bisa menghasilkan 5 milyar rupiah

"Itu belum termasuk usaha yang berkembang selain kebun blimbing,seperti banyaknya warung dan usaha kuliner yang tumbuh,setelah adanya agrowisata ini" jelas pak kades

Tidak hanya perekonomian warga yang terdongkrak,Pendapatan Asli Daerah (PAD) Desa Ngeringinrejo juga ikut meningkat,PAD tersebut diperoleh dari tiket masuk di lokasi agrowisata kebun blimbing,satu tiket seharga 2000 rupiah

Jumlah pengunjung di lokasi Agrowisata kebun blimbing terus meningkat dari tahun ke tahun,pada tahun 2014 jumlah pengunjung mencapai 98.000 orang,tahun 2015 sebanyak 113.000 orang,terahir tahun 2016 sebanyak 120.000 orang atau wisatawan,tidak hanya dari lokal Bojonegoro,para pengunjung juga datang dari sejumlah daerah,seperti Tuban,Lamongan, Surabaya, hingga Jakarta. (DMA)