Inside Mining

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Belajar Metode "Engklek" Bisa di PBG Bojonegoro"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Belajar Metode "Engklek" Bisa di PBG Bojonegoro

Rabu, 29 November 2017 0:57 WIB | https://jatim.antaranews.com/lihat/berita/244843/belajar-metode-engklek-bisa-di-pbg-bojonegoro

Para guru di ruangan ini bergantian memperagakan cara belajar mengajar dengan metode alat peraga hasil pengembangan para guru dalam mendidik siswa.

Bojonegoro (Antara Jatim)  - "Anak-anak saya akan memperagakan belajar mengenal kota dengan metode 'engklek' (berjingkat)," kata seorang guru SDN Wotangare, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Nunik, Selasa (28/11).

Nunik yang menjadi guru di ruangan pelatihan  ber-AC di Pusat Belajar Guru (PBG) di Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jawa Timur, tetap memangil anak-anak kepada puluhan guru yang menjadi peserta "Pelatihan Media Pembelajaran Bagi Guru PAUD/TK dan SD/MI".

Ia pun kemudian memanggil peserta pelatihan untuk memperagakan metode belajar "engklek" (berjingkat) di atas kertas yang diberi tanda nama-nama kota yang diletakkan di lantai. Sesekali para guru peserta pelatihan tertawa berderai  ketika lompatan peserta salah di posisi kota.

"Para guru di ruangan ini bergantian memperagakan cara belajar mengajar dengan metode alat peraga hasil pengembangan para guru dalam mendidik siswa," ucap seorang  guru SDN Katur, Kecamatan Gayam, Bojonegoro Wisnu Tri Prasetyo yang juga peserta pelatihan.

Menurut dia, sebanyak 25 guru yang mengikuti pelatihan itu antara lain, dari Ngraho, Kota,  termasuk Kecamatan Gayam, yang masuk kawasan minyak Blok Cepu.

"Kegiatan pelatihan yang sekarang berjalan merupakan program PBG," kata  Sekretaris PBG Bojonegoro Anam Syarifuddin, dalam perbicangan dengan Antara.

Sebagaimana dijelaskan Anam, di PBG memiliki sejumlah ruangan untuk kegiatan mulai ruangan pelatihan, perpustakaan, laboratorium komputer, juga berbagai fasilitas lainnya.

Ruangan yang dimanfaatkan latihan para guru itu di atas pintu masuk tertulis ruangan Banyuurip. Nama itu mengambil lapangan minyak Banyuurip Blok Cepu di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, dengan operator ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Di ruangan sebelah utaranya  mengambil nama ruangan Gagak Rimang, yaitu mengadopsi nama kapal tangker penampung produksi minyak Blok Cepu "Floating Storage and Offloading"/FSO Gagak Rimang yang berkapasitas 1,7 juta barel di tengah laut  23 kilometer lepas pantai Tuban.

"Ruangan Banyuurip dan Gagak Rimang bisa menyatu untuk kegiatan pelatihan kalau pesertanya banyak," ucap karyawan di PBG Vita Rachim menambahkan.

Mengenai keberadaan PBG itu, menurut "Vice President, Public and Government Affairs" EMCL Erwin Maryoto, merupakan kelanjutan dari program-program peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah yang sudah dirintis  bersama Yayasan Putera Sampoerna dan Dinas Pendidikan Bojonegoro sejak 2008.

"Adapun kegiatan dalam program ini meliputi perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana gedung PBG serta pelatihan-pelatihan bagi para guru mulai tingkat PAUD hingga SMA," kata dia menjelaskan.

Sebagaimana disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto, bahwa masalah pendidikan di Bojonegoro membutuhkan perhatian serius dalam tata kelola menyangkut visi, misi, "branding" dan juga implementasinya.

"Jujur harus diakui saat ini masalah pendidikan begitu dinamis dan kompleks," katanya.

Masalahnya, menurut dia,  kurangnya peran serta orang tua terhadap pendidikan sangat tercermin terhadap mutu pendidikan. Selain itu juga sarana dan prasana pendidikan di sekolah yang kurang memadai membuat proses belajar mengajar siswa menjadi terhambat.

Ia mengutip sebuah puisi, " Maka berjuta pengetahuan terus bertambah. Meski Bagai misteri baru semakin bermunculan. Dan murid-murid itu terus menyeruak menyibak kabutnya. Terus menyeruak menyibak kabutnya".

"Keberadaan lembaga pendidikan akan sangat bermakna manakala bisa memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat," ucapnya.

Dikelola Guru
Sebagaimana dijelaskan Anam, PBG yang dulunya merupakan gedung lembaga pendidikan SMPN 2 mulai dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan bagi guru yang dirintis EMCL bekerja sama dengan Putera Sampoerna "Foundation" sejak 14 Juli 2014.

Dalam perkembangannya, lanjut dia, pengelolaan PBG kemudian diserahkan kepada Pemkab Bojonegoro sejak 28 November 2016.

"Tujuannya agar dalam pelaksanaannya bisa mandiri dikelola langsung para guru," ucap Anam yang juga guru di SMA Negeri Terpadu itu.

Dengan demikian, lanjut dia, biaya operasional untuk keperluan sehari-hari, antara lain, listrik, air, juga yang lainnya masuk dalam anggaran dinas pendidikan.

Meski demikian, seperti dijelaskan Anam, PBG memiliki delapan program kegiatan pelatihan yang didukung EMCL terkait pendanaan dengan alokasi  anggaran sekitar Rp200 juta.

"Delapan program PBG itu selama setahun, tetapi berbagai program lainnya juga jalan dengan melibatkan berbagai pihak yang juga menyangkut pelatihan bagi para guru untuk meningkatkan kemampuannya," ucapnya menjelaskan.

Menurut dia,  PBG pernah menggelar pelatihan bagi guru di bidang mata pelajaran matematika metode "Gasing" (gampang, asyik dan menyenangkan) bekerja sama dengan Surya Institut.

Selain itu  juga berbagai lembaga lainnya terkait pelatihan bagi guru, bahkan PBG juga dimanfaatkan guru untuk meluncurkan karya bukunya.

Tidak hanya itu, katanya,  PBG juga didirikan  di Kecamatan Kedungadem, Sumberrejo, Ngraho, Malo dan Temayang, sejak 2016.

"Ya untuk memudahkan para guru di kecamatan lainnya tidak harus datang kesini, tapi bisa memanfaatkan PBG di kecamatan untuk kegiatan pelatihan. Tapi tenaga pengajar yang ada di PBG siap datang ke PBG di kecamatan," katanya menegaskan.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan Jr, yang pernah berkunjung di PBG, pada 15 September mengatakan, investasi Amerika Serikat di Indonesia sebagaimana ditunjukkan EMCL bisa mendukung dan membantu Indonesia.

"Kerja sama antara EMCL dengan Bojonegoro bisa menjadi model yang baik sekali. Yang menunjukkan investasi Amerika Serikat bisa mendukung dan membantu Indonesia," kata dia.

Menurut dia yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan Hanafi, keberadaan PBG bisa menjadi contoh yang nyata kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat yang sudah berlangsung.

"Saya senang berkesempatan bertemu dengan para guru-guru. Bagaimana mereka mencari cara untuk pembelajaran bagi siswa di Indonesia," kata dia seraya menambahkan bahwa kerja keras yang dilakukan para guru di daerah setempat bisa menjadi inspirasi di negaranya.

Selain meninjau sejumlah ruangan PBG, Donavan Jr berdialog dengan sejumlah guru termasuk pengelolanya, Wiwik Widowati, yang menjelaskan kegiatan di PBG.

Pada kesempatan itu Donavan Jr  menulis kesan dan pesan pada  sebuah kanvas putih  dalam bahasa Inggris yang kemudian dipajang di ruangan kantor kurang lebih terjemahannya yaitu,

"Ini menginspirasi pembelajaran tentang semua pekerjaan yang besar di sini di PBG. Anda sedang menciptakan masa depan yang cerah bagi Indonesia menjadi besar". (*)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Minyak Makin Habis, Kini Jadi Objek Wisata"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Minyak Makin Habis, Kini Jadi Objek Wisata

KAMIS, 30 NOV 2017 18:56 | https://www.jawapos.com/radarbromo/read/2017/11/30/30609/minyak-makin-habis-kini-jadi-objek-wisata

Ratusan tahun masyarakat Desa Wonocolo, Kabupaten Bojonegoro mengandalkan hidup dari menambang minyak secara tradisional. Kini, kawasan teresebut ditetapkan sebagai geohritage pertama di Indonesia.

BUTUH waktu sekitar 1,5 jam perjalanan dari Kota Bojonegoro untuk menuju ke Wonocolo, Kecamatan Kedewan. Lokasinya yang berada di kawasan pegunungan Kendeng, membuat perjalanan terasa jauh. Lepas dari jalur protokol, tampak kawasan hutan jati di kanan-kiri jalan.

Sebuah gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Desa Wisata Migas’ seolah menyambut pengunjung yang datang. Bau solar yang mulai terasa menyengat menjadi penanda lokasi tersebut sudah dekat. Kendaraan pengangkut BBM hasil penyulingan tradisional itu mulai tampak berlalu-lalang.

Dari kejauhan, area dengan luas sekitar 300 hektare itu tak ubahnya daerah bekas perang. Kayu-kayu pancang pengeboran dengan warnanya yang kehitam-hitaman terlihat seperti puing-puing bekas bangunan. Belum lagi bak-bak besar serta tong yang semuanya berwarna hitam akibat terlalu lama terkena minyak mentah.

Bagi warga desa setempat, sumber minyak menjadi salah satu penghasilan utama mereka. Seratus tahun lebih, kegiatan itu mereka lakoni secara turun temurun. “Dari dulu ya sudah ada. Saya masih kecil, orang tua saya juga sudah kerja cari minyak di sini,” kata Jumadi, salah satu warga setempat di lokasi, akhir pekan lalu (19/11).

Karena eksploitasi yang begitu lama, Jumadi pun memaklumi bila cadangan minyak di Wonocolo akan habis. Sebagian sumur yang ada saat ini bahkan tak lagi berproduksi alias menjadi sumur mati. Atau lebih banyak kandungan airnya daripada minyak mentahnya. Kalau sudah begitu, tidak cukup untuk menutupi biaya produksinya.

Pemerintah sendiri telah melarang pengeboran sumur baru di kawasan yang masuk wilayah Pertamina IV (Aset) itu. Jika pun masih ada aktivitas pengambilan minyak mentah, semata hanya meneruskan sampai lubang sumur benar-benar tak produktif. “Sudah dari awal 2017 lalu tidak boleh ada pengeboran baru lagi,” kata Camat Kedewan, Arifin.

Menurut Arifin, alasan ini pula yang melatarbelakangi Pemkab Bojonegoro menjadikan Desa Wonocolo sebagai desa wisata migas. Kian habisnya cadangan minyak di sana, berarti ancaman pengangguran bagi sebagian warga yang menggantungkan pendapatannya dari produksi minyak tradisional itu.

Harapannya, warga tetap mendapat pemasukan pengganti dari terobosan itu. “Paling tidak, meski produksi minyaknya mulai turun, warga tetap bisa mendapat penghasilan dengan menjadi guide atau penyedia jasa yang lain untuk wisatawan,” jelas Arifin.

Gagasan untuk menjadikan Wonocolo sebagia desa wisata pun bersambut. Melalui Cepu Petroleum, pihak Pertamina IV yang membidangi sektor aset mendukung gagasan itu. Hingga pada Juni tahun lalu, lokasi dengan topografi naik turun itu diresmikan dengan nama Petroleum Geooheritage Wonocolo.

Arifin menyebutkan, penetapan Wonocolo sebagai desa wisata itu sekaligus sebagai upaya menjaga keunikan desa tersebut. Sebab, diantara ribuan desa di Jawa Timur, bahkan Indoensia, hanya Wonocolo yang masyarakatnya banyak melakukan penambangan minyak secara tradisional. Dan itu sudah berlangsung turun temurun sejak zaman penjajahan Belanda silam.

Dijelaskannya, saat ini, Wonoocolo memiliki 720 titik sumur tua. Sebagian di antaranya masih berproduksi dengan melibatkan sekitar 366 orang. Dalam sehari, rata-rata produksi bisa mencapai 50 ribu liter. “Semuanya dijual ke Pertamina,” ujar Arifin.

Musthofa, perangkat desa setempat menuturkan, seiring dengan penetapannya sebagai desa wisata, berbagai persiapan pun dilakukan. Salah satunya adalah dengan membentuk BUM-Des (Badan Usaha Milik Desa). BUMDes inilah yang ke depan akan mengelola destinasi wisata itu lebih profesional dan menarik untuk dikunjungi.

Dengan potensi dan segala keunikan yang dimilikinya, Muthofa yakin, desa yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Rembang dan Blora itu akan menjadi destinasi wisata baru. Bukan saja di Jawa Timur, tapi juga nasional. Hal itu diyakini akan membawa impact positif terhadap perekonomian warga sekitar. Karena itu, masyarakat cukup antusias menyambut gagasan tersebut.

Di sisi lain, berada di kawasan yang oleh warga setempat dinamai Teksas (plesetan dari Texas, Amerika Serikat, Red) Wonocolo ini memang memberikan pengalaman baru bagi pengunjung. Selain bisa menyaksikan secara langsung bagaimana produksi BBM secara tradisional, juga panormanya yang menawan.

Bagi pengunjung luar kota yang khawatir kemalaman juga tak masalah. Sebab, Pemdes setempat juga menyiapkan rumah-rumah warga yang disulap menjadi home stay. Selain itu, juga ada rumah singgah yang sengaja dibangun sebagia media edukasi tentang proses penambangan minyak bumi. Lengkap dengan miniatur Wonocolo, serta dokumentasi sejarah hingga fosil-fosil hewan pada zaman lampau. (*)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Mengentas Belenggu Kekeringan Warga Pinggiran Hutan"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Warga Sekitar J-TB Mandiri dari Pengelolaan Air Bersih

Mengentas Belenggu Kekeringan Warga Pinggiran Hutan

Selasa, 28 November 2017 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/mengentas-belenggu-kekeringan-warga-pinggiran-hutan

Siapa sangka warga Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mampu keluar dari derita panjang kekeringan yang selama ini menjeratnya. Bahkan BUMDes setempat mampu mengelola saluran air ke rumah warga dengan baik hingga menjadikan mandiri tak menggantungkan droping air dari Pemkab Bojonegoro.

SENJA mulai beranjak ke rembang petang di sekitar proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB). Guratan sinar sang surya mulai kemerahan di ufuk barat. Segumpal awan tipis berarak perlahan digendong angin, seakan mengiringi Sang Bagaskara pejamkan mata beranjak ke peraduhan.

Sementara lalu-lalang mobil proyek melintas melalui jalan masuk lokasi proyek sipil J-TB yang masuk di tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ngasem, Purwosari dan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, silih berganti. Aktivitas proyek benar-benar tak mengenal jeda.

Tak begitu jauh dari lokasi proyek yang di operatori Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) tersebut ke arah barat terdapat permukiman penduduk yang sedang menikmati kebahagian karena terlepas dari belenggu kekeringan air bersih bertahun tahun mereka rasakan setiap musim kemarau panjang. Permukiman tersebut adalah Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo.

Desa yang terletak dipinggiran hutan dan terdapat tiga dusun, yaitu Dusun Kramanan, Kalongan, dan Nglambangan tersebut terlapas dari cengkeraman kekeringan pada Tahun 2014 setelah mendapatkan bantuan dari PEPC berupa pembangunan dua titik sumur, dua torn (tandon air), dan penyambungan pipa saluran rumah warga.

"Sejak dulu saya masih kecil setiap musim kemarau panjang warga selalu susah mencukupi air bersih untuk kebutuhan sehari hari seperti kebutuhan memasak, minum dan mandi. Baru pada akhir tahun 2014 bisa terlepas setelah mendapat bantuan dari PEPC," kata Parmin, kepada suarabanyuurip.com.

Menurut Parmin, kala itu kekeringan air bersih selalu menjadi momok bagi warga Jatimulyo. Jika pun bisa mendapatkan air bersih harus menempuh perjalanan cukup jauh sekira lima kilo untuk sampai sendang yang ada di desa tetangga.

"Itupun masih ngantre berjam jam bahkan hingga larut malam untuk mendapatkan air hanya dua jerigen isi 30 literan," ujarnya mengisahkan.

Penantian panjang warga berkecukupan air bersih kini telah terwujud. Sehingga membuat beban warga terkurangi. "Alhamdulillah sekarang kebutuhan air bersih sudah terpenuhi," tutur pria yang berdomisili di Dusun Kramanan ini.

Sementara Kepala Desa (Kades) Jatimulyo, Teguh Widarto, mengatakan, total penduduk Desa Jatimulyo yang berdomisili di tiga dusun, yaitu Dusun Kramanan, Kalongan, dan Nglambangan, kurang lebih sejumlah 3.665 jiwa, 1095 Kepala Keluarga (KK). Dengan mayoritas bekerja sebagai petani tadah hujan, buruh tani, peternak Sapi, dan Kambing.

Teguh bercerita, banyak upaya dilakukan bersama perangkatnya agar warga tercukupi air bersih. Mulai dari minta penambahan droping air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dari 30 mobil tangki air menjadi 40 mobil tangki air bersih.

"Penambahan pengiriman air kala itu belum mampu mencukupi keseluruhan warga," kata Teguh.

Meski dirasa berat tak lantas membuat Teguh Widarto berkecil hati. Upaya untuk meringankan beban warganya terus dilakukan. Hingga pada akhirnya pada Tahun 2014 mengajukan proposal bantuan kepada PEPC.

"Alhamdulillah disetujui. Bersama tim PEPC mencari sumber air, dan ditemukan dua titik sumber mata air yang bagus lantas dibagunkan. Termasuk juga dibangunkan dua torn (tandon air), dan penyambungan pipa saluran rumah warga," ujarnya.

Pertama kali sebagai pemanfaatnya adalah warga di empat Rukun Tetangga (RT), yaitu Dusun Kalongan, RT 9 dan RT 10 sebanyak 143 KK, 370 Jiwa, Dusun Kramanan, RT 11 dan RT 12 sejumlah 164 KK, 580 Jiwa, dan sebagian warga Dusun Nglambangan, yaitu di RT 06 Puthuk sebanyak 27 KK, 75 Jiwa.

"Bulan Mei 2014 mulai dibangun, bulan Juli 2014 diserah terimakan PEPC kepada Pemdes Jatimulyo. Waktu itu, baru 10 titik jaringan saluran rumah. Lima titik di Kramanan dan lima titiknya lagi di Kalongan," tuturnya.

Untuk bisa menambah pemanfaat, kata Teguh, memberikan kepercayaan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Daya Karya Mulia untuk mengelolanya. Cara itu dilakukan agar BUMDes mampu mandiri melalui pengelolaan air.

"Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi minta dropping air dari Pemkab Bojonegoro. Bahkan sekarang sudah berkembang menjadi 350 titik jaringan saluran rumah dan satu sumur pengembangan," jelasnya.

Saat ini saluran air bersih yang dikelola BUMDes Daya Karya Mulia tidak hanya dinikmati warga Desa Jatimulyo saja, namun juga sudah mampu berkembang ke desa  tetangga. Sebanyak 30 rumah tangga yang ada di Dukuh Pepe, Desa Nganti, Kecamatan Ngraho, sekarang bisa ikut menikmati mudahnya mendapatkan air yang menjadi kebutuhan pokok hidupnya. Upaya pengembangan akan terus dilakukan agar bisa menambah banyak pemanfaat.

Diharapkan kedepan program program PEPC juga terus ditingkatkan. Seehingga warga sekitar proyek J-TB semakin meningkat perekonomiannya.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada PEPC, dan Pemerintah. Berkat uluran tangannya warga kami sudah tidak lagi kesulitan air bersih. Sehingga, sedikit demi sedikit perekonomian warga juga mulai meningkat, karena sudah tidak mengantre air bersih seperti beberapa tahun silam," ungkapnya.

PGA & Relations Manager PEPC, Kunadi, mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemdes Jatimulyo terus mengembangan saluran air bersih ke warga tanpa lelah. Pada dasarnya pemberian bantuan yang dilakukan PEPC sebagai suport, untuk bisa terus dikembangkan bagi warga sekitar yang membutuhkan air bersih. Selain itu juga sebagai bentuk kepedulian kepada warga sekitar operasi.

Dia menambahkan, semua pihak harus ikut menjaga, merawat agar tidak mudah rusak. Sehingga, kedepan saluran air yang sudah ada berjalan baik, dan dapat terus dimanfaatkan secara lancar sesuai harapan.

"Semoga apa yang diberikan PEPC dapat berguna, dan bermanfaat untuk selamanya bagi warga Jatimulyo khususnya, juga warga desa tetangga lain umumnya. Kedepan semakin baik, dan berkembang luas," tutupnya. (Samian Sasongko)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Mantan Pekerja Migas Berdayakan Warga Kurang Mampu"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Pemuda Blok Cepu Mandiri dengan Membuka Jasa Potong Rambut

Mantan Pekerja Migas Berdayakan Warga Kurang Mampu

Senin, 27 November 2017 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/mantan-pekerja-migas-berdayakan-warga-kurang-mampu-1

Meski melalui proses yang cukup panjang dan susah. Mantan pekerja proyek Banyuurip sukses mendirikan usaha jasa potong rambut. Bahkan dia mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak yatim dan warga kurang mampu.

Habisnya pengerjaan proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, Procurement and Constructions/EPC) Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, tak membuat sebagian mantan pekerjanya dari desa ring satu Banyuurip berkecil hati untuk mencari sumber penghasilan. Tak sedikit mereka yang beralih ke sektor wirausaha. Sebagaimana dilakukan Rubianto (26), warga Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Mantan pekerja proyek di salah satu sub kontraktor EPC ini nekat mendirikan usaha jasa potong rambut sejak tahun 2013 lalu, dan hasilnya cukup lancar.

"Saya mulai buka usaha potong rambut sejak Bulan Juni, Tahun 2013 lalu," ujarnya, kepada suarabanyuurip.com, Minggu (26/11/2017).‎

Saat ini, Turiz, sapaan akrab Rubianto, telah memiliki dua cabang tempat potong rambut, yaitu di Desa Mojodelik dan Gayam.

Warga RT/RW 15/04, Desa Mojodelik ini juga sudah memiliki karyawan sendiri. Di panggilnya Turiz oleh pelanggan dan teman-temannya, lantaran semasa kecil warna rambut Rubianto berwarna agak kemerah merahan.

"Rambut saya dulu itu warnanya kemerah merahan. Jadi teman-teman manggil saya turiz gitu sampai sekarang," ujarnya.

Turiz, hanya bertamatan Sekolah Dasar (SD). Namun semangatnya dalam mengarungi perjalanan hidup terbilang luar biasa. Karena mampu bertahan di tengah himpitan ekonomi.

Betapa tidak, perjalanan panjang ia lalui mulai jadi penjual aksesoris dan kaset namun selalu gagal. Hingga disuatu ketika menjadi tenaga kerja proyek Banyuurip.

Dia menyadari bahwa multiplier effect (efek berantai) proyek Banyuurip tak bisa terus berkelanjutan tapi hanya bersifat sementara.

"Saya dulu pernah menjadi tenaga kerja di proyek Banyuurip sebagai helper pada Tahun 2013,” katanya.

Di tempatnya bekerja, Turiz sempat dipromosikan menjadi safety officer hingga tahun 2015. Namun sayang, karena tak bisa melanjutkan pekerjaannya lantaran pengurangan tenaga kerja besar- besaran dilakukan oleh pihak perusahaan menjelang proyek konstruksi EPC rampung. Turiz pun harus berhenti bekerja di proyek.

"Waktu itu pengurangan tenaga kerja besar-besaran termasuk saya. Sehingga membuat saya dan teman - teman sempat bingung," ungkapnya.

Beruntung, sebelum ikut bekerja di proyek, dia sudah merintis usaha potong rambut. "Saat masih kerja di proyek, saya hanya buka potong rambut malam saja. Karena siang harinya bekerja di proyek," ujarnya.

Untuk meningkatkan usahanya potong rambut lantas ikut pelatihan yang diberikan operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang mengarah kebidang kewirausahaan termasuk potong rambut. Dari pelatihan itulah banyak ilmu yang didapat yang kemudian dikembangkannya.

"Sejak SD sudah bisa potong rambut, jadi bisa saya otodidak. Kemudian ikut pelatihan yang diberikan EMCL pada Tahun 2015. Banyak ilmu yang saya dapat diantaranya dibidang marketing atau pemasaran," tandasnya.

Di pilihnya usaha potong rambut, sesuai keahliannya juga tidak membutuhkan banyak modal. Selain itu juga bisa menjadi usaha berkelanjutan yang tak ada putusnya dan dianggapnya lebih menjanjikan.

"Gaji saya sebagai tenaga kerja proyek setiap bulan saya tabung sebagai modal usaha potong rambut ini," ucapnya.

Meski berawal hanya kecil, usahanya sekarang terus berkembang. Bahkan Turiz kini mampu manciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar dari kalangan keluarga tidak mampu.

"Lima karyawan saya dari kalangan warga tidak mampu. Semua berasal dari desa ring satu Banyuurip, yaitu dari Desa Gayam, Ngraho, Brabowan, Kecamatan Gayam. Dua sudah lulus sekolah, dua masih menempuh pendidikan SMA, dan yang satunya lagi masih kuliah," kata pria yang baru menikah beberapa bulan ini.

Dia mengaku, dalam sehari hingga malam jam 20:00 WIB dua tempat potong rambut di Gayam dan Mojodilik mampu melayani pelanggan potong rambut sebanyak 50 orang hingga 70 orang.‎ Dengan ongkos satu orangnya Rp6000.

“Untuk karyawan saya anak yatim piatu sekarang sudah buka potong rambut sendiri. Saya bangga dengan usaha yang tak tekuni sekarang ini, karena selain dapat penghasilan juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga yang kurang mampu,” ucapnya.

Warga desa ring satu Banyuurip ini berharap, EMCL terus meningkatkan programnya dibidang kewirausahaan bagi warga sekitar operasinya. Karena dibidang kewirausahaan inilah warga dapat meningkatkan ekonomi melalui usaha sesuai bidangnya masing-masing.

"Alhamdulillah banyak ilmu yang saya dapat dari pelatihan yang diberikan EMCL selama ini. Semoga kedepan bisa ditingkatkan dan di ikuti lagi para pegiat usaha dari kalangan pemuda sekitar," imbuhnya.

Juru Bicara dan Humas EMCL, Rexy Mawardijaya, mengaku, bersyukur berbagai program dari EMCL baik infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat yang digulirkan selama ini dapat meningkatkan perekonomian warga sekitar.

"Semoga apa yang dilakukan EMCL mulai pemberian pelatihan kewirausahaan dan lainnya dapat bermanfaat bagi warga sekitar operasinya," katanya.

Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar, mengungkapkan, pemuda adalah salah satu faktor penting untuk perkembangan di Indonesia. Karena itu sinergi dengan pemuda dan energi untuk pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan oleh semua pihak.

Dengan tujuan untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Khususnya warga desa di wilayah Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

Karena itu sumber daya alam energi migas Blok Cepu adalah berkah dari Allah SWT agar di kelola dengan sebaik-baiknya. Jika tidak maka akan menjadi petaka bagi manusia. Disisi lain keberadaan migas harus mampu memberikan pemberdayaan kepada masyarakat sekitar, dan untuk membangum masyarakat yang berkelanjutan.

"Alhamdulillah program yang digulirkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) diantaranya EMCL dapat dirasakan masyarakat sekitar operasinya. Semoga dengan sumber energi migas di Bojonegoro ini menjadi keberkahan bagi kita semua,” kata Ali Masyhar saat berada di Kecamatan Gayam beberapa waktu lalu.

Terpisah Camat Gayam, Hartono, mengapresiasi apa yang dilakukan EMCL melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digulirkan selama ini kepada desa di wilayahnya. Baik program infrastruktur maupun program pemberdayaan masyarakat.

Contonhnya pembangunan infrastruktur jalan paving, gedung sekolah, pelatihan baik dibidang pertanian maupun bidang kewirausahaan bagi warga sekitar dan lain sebagainya.

"Kedepan program yang sudah bagus ini dapat ditingkatkan kembali agar semakin baik lagi. Selain itu warga juga dapat menjaga dan memeliharanya dengan baik agar apa yang sudah ada tidak mudah rusak," pungkasnya. (Samian Sasongko)