Inside Mining

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Mengubah Perilaku Konsumtif Menjadi Produktif"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Petani Blok Cepu Mandiri dengan Pertanian Organik

Mengubah Perilaku Konsumtif Menjadi Produktif

Sabtu, 25 November 2017 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/mengubah-perilaku-konsumtif-menjadi-produktif

Konsep pertanian organik mulai ditekuni petani di wilayah sekitar Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu. Selain produksinya lebih sehat, kegiatan pertanian yang dilakukan juga ramah lingkungan.

PARMIN, (41), tidak lagi merasa risau dengan kelangkaan pupuk yang biasa terjadi pada saat musim tanam seperti sekarang ini. Petani Dusun Bringan, Desa Ngraho, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu tidak lagi tergantung pada pupuk dan obatan-obatan kimia dari pabrikan.

Karena sekarang ini Parmin mulai menerapkan pertanian semi organik. Sehingga dia mulai mengurangi pupuk dan obatan-obatan kimia, dan lebih mengutamakan pemakaian pupuk kompos baik berbentuk padat maupun cair. Begitu juga dengan obatan-obatan pertanian yang dia pakai juga menggunakan agen hayati.

"Dulu pupuk langka bingung, pupuk ada tapi nggak punya uang juga bingung. Tapi sekarang nggak lagi," ucap Parmin kepada suarabanyuurip.com Jumat (24/11/2017).

Parmin masih ingat betul empat tahun lalu saat masih menggunakan cara pertanian konvensional. Setiap musim tanam dia membutuhkan pupuk kimia sebanyak 5 kwintal untuk lahannya seluas 5.500 meter persegi (m2). Baik itu jenis phonska, urea maupun TS.

Namun setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan program pengembangan mata pencaharian masyarakat di bidang pertanian dan hortikultura dari Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) Bina Swadaya, mitra operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Parmin mulai beralih.

Dalam program itu ada pembuatan demplot (percontohan) pertanian organik dan Sekolah Lapangan yang menambah keyakinannya untuk memilih ke pertanian organik. Sekolah Lapang menjadi pembelajaran non-formal bagi masyarakat guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan, mengidentifikasi, dan menerapkan teknologi sesuai sumber daya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan.

“Awalnya ya nggak percaya. Karena sudah terbiasa memakai pupuk kimia,” ucapnya.

Dengan memakai pupuk organik ini, Parmin mengaku dapat menekan biaya produksi setiap musim tanam. Jika menggunakan cara konvensional, dirinya menghabiskan 5 kwintal pupuk kimia, namun dengan semi organik ini hanya 2 kwintal pupuk kimia. Sedangkan sisanya menggunakan pupuk kompos padat dan cair maupun obat-obatan dari agen hayati.

“Walaupun produksinya di bawah cara pemakaian pupuk kimia, namun biaya pengeluaran lebih rendah. Karena kita tidak lagi membeli banyak pupuk kimia maupun obata-obatan kimia yang mahal harganya,” ungkap Parmin.

Untuk setiap satu hektar lahan pertanian, jika menggunakan cara konvensional bisa menghasilkan antara 8-9 ton. Namun jika menggunakan semi organik dapat menghasilkan produksi 6 ton dengan luas lahan yang sama.

“Tapi kwalitas produksinya lebih bagus dan sehat dengan semi organik. Karena tidak banyak memakai zat kimia,” ucap Parmin.

Cara pertanian semi organik ini dinilai dapat meningkatkan ekonomi petani. Karena pola pikir petani yang sebelumnya konsumtif, berubah menjadi produktif.

“Peningkatan ekonomi petani tidak harus meningkatkan hasil produksi, namun pengurangan biaya produksi juga merupakan peningkatan ekonomi,” sambung Fatkhur Rohman, petani lainnya asal Desa Begadon, Kecamatan Gayam.

 Biaya Produksi Lebih Murah

Ketergantungan pupuk kimia yang menimpa petani sekarang ini menjadi ancaman terhadap kesuburan tanah. Dampaknya, produksi pertanian bisa turun dan berpotensi memunculkan serangan hama yang sulit dikendalikan.

“Unsur hara akan berkurang, tanah jadi tidak subur,” kata Dwi Prayitno, Ahli Pertanian dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) Mojokerto, dihubungi suarabanyuurip.com, Sabtu (25/11/2017) malam.

Dengan berkurangnya unsur hara ini, jelas Dwi Prayitno, tanaman akan tumbuh up normal. Meskipun pada satu dua atau tahun produksi padi meningkat, namun pemakaian pupuk kimia akan menjadikan tanaman ketergantungan terhadap zat kimia. Artinya, dosis pemakaian pupuk kimia akan terus bertambah setiap musim tanam.

“Karena itu dari hasil penelitian tanah yang pernah kami lakukan selama setahun dan uji laboratorium di Fakultas Pertanian Brawijaya dulu, kita rekomendasikan untuk menambah pupuk organik,” ungkap Dwi Prayitno, yang pernah menjadi tenaga ahli budidaya di Lembaga Bina Swadaya mendampingi petani.

Idealnya, untuk setiap satu hektar lahan pertanian membutuhkan 4 sampai 5 ton pupuk organik. Pemakaian pupuk organik ini setiap musim tanam akan terus berkurang hingga mencapai 1 ton per hektarnya.

“Kalau pupuk kimia tiap musim tanam terus bertambah. Inilah bedanya antara pemakaian pupuk organik dengan kimia,” jelas Dwi.  

Senada dengan Parmin maupun Fatkhur Rohman, dengan pertanian organik ini, menurut Dwi, biaya produksi petani setiap musim tanam bisa berkurang. Dari estimasi yang dia lakukan, petani bisa menghemat lebih dari 50 persen biaya produksi jika menggunakan pertanian organik.

“Semisal kebutuhan tanam jika menggunakan cara konvensional habis Rp 6 juta, kalau memakai pertanian organik hanya Rp3juta,” ucapnya.

Selain itu pemakaian pupuk kimia yang berlebih pada tanaman dalam jangka panjang juga mengancam kesehatan. Semisal mudah lupa, dan pegal-pegal pada tubuh.

Hal itu berbeda jika tanaman menggunakan pupuk organik. Hasil produksinya jauh lebih sehat dan aman dikonsumsi. Namun butuh pasar khusus organik untuk dapat memasarkan hasil pertanian organik.

“Petani masih enggan untuk mamakai cara ini. Padahal harganya di atas produksi pertanian konvensional,” ungkap Dwi.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab petani di wilayah Lapangan Minyak Banyuurip masih enggan menerapkan pertanian organik ini. Di antaranya belum ada pasar untuk hasil pertanian organik, dan sistim tebas yang dilakukan tengkulak terhadap hasil pertanian organik.

Akibatnya, harga antara produksi pertanian organik akan disamakan dengan produksi padi cara konvensional. Sehingga menjadikan petani lebih cenderung memilih melakukan tanaman padi dengan cara konvensional untuk mengejar peningkatan produksi ketimbang kwalitasnya.

“Apalagi banyak tengkulak yang menakut-nakuti petani, jika padi organik produksi padinya jelek,” ungkap Dwi.

Cara pertanian organik ini mendapat dukungan Dinas Pertanian Bojonegoro karena dapat mengurangi ketergantungan pupuk kimia. Jumlah kebutuhan pupuk pada musim tanam setiap tahunnya terus meningkat.Untuk tahun 2015, alokasi pupuk bersubsidi mencapai 53.928 ton dengan rincian jenis ZA 18.837 ton, SP36 14.640 ton, NPK 38.152 ton, Petroganik 25.481 ton.

Jumlah tersebut meningkat pada tahun  2016 menjadi 54. 922 ton dengan rincian jenis ZA 20.838 ton, SP36 15.317, NPK 37.432 ton, dan Petroganik 25.511 ton. Kemudian alokasi pupuk meningkat lagi pada tahun 2017 yang mencapai 64.784 ton dengan rincian jenis ZA sebanyak 23.985 ton, SP36 16.064 ton, NPK (Phonska) 41.835 ton, dan organik 38.378 ton.

“Ini menandakan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia cukup tinggi,” kata Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Achmad Jupari di temui di kantornya pekan ke dua September lalu.

Karena itu pihaknya terus mendorong kepada petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk mengkampanyekan pertanian organik di kalangan petani agar provitas tinggi. Karena jika menggunakan pupuk kimia berlebih akan merusak kesuburan tanah.

“Lahan pertanian juga merupakan warisan kepada anak cucu yang harus dijaga dan dipelihara dengan baik agar nantinya bisa tetap bisa produksi,” pesan Jupari.

 Petani Bikin Pupuk Kompos Sendiri

Pertanian organik yang mulai diterapkan petani di wilayah Gayam menjadikan petani semkin produktif. Mereka memanfaatkan limbah kotoran sapi maupun penghijauan menjadi pupuk organik padat dan cair, maupun obat-obatan agen hayati.

Untuk pupuk organic yang diproduksi di antaranya PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri), POC (pupuk organic caor), ZPT (zat perangsang tumbuhan), MOL (mikro organisme local). Sedangkan jenis obat-obatan hayati yang diproduksi diantaranya adalah beauveria, trichoderma, corynebacterium.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lestari Dusun Sumur Pandan, Desa Gayam, Sukoco mengungkapkan, keinginannya membuat pupuk organik ini dikarenakan melihat adanya potensi peternakan di wilayah Gayam. Hampir tiap warga memiliki sapi yang kotorannya dapat diolah menjadi pupuk organik yang dapat digunakan pupuk bagi tanaman pertanian maupun hortikultura.

“Untuk kotoran ternak kita beli dari warga sekitar. Setiap satu truk basah seharga 700 ribu rupiah. Itu termasuk ongkos tenaga bongkar muat,” kata Sukoco kepada suarabanyuurip, Sabtu (25/11/2017).

Sukoco menjelaskan untuk mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik ada beberapa langkah dilakukan. Pertama mencampur kotoran sapi dengan bahan pengurai, kapur, dan tetes tebu. Campuran itu kemudian didiamkan beberapa hari untuk proses penguraian.

Untuk penguraian tergantung cuaca. Untuk cuaca kering biasanya membutuhkan waktu tiga pekan, sedangkan saat musim hujan lebih lama lagi, yaitu selama enam pekan. Karena itu selama proses penguraian harus dibolak-balik, yaitu satu kali seminggu pada musim kering dan saat musim hujan sekali dalam dua minggu.

Setelah penguraian, kotoran sapi itu selanjutnya digiling menggunakan chopper sebelum dikemas dilakukan pengakayakan agar teksturnya halus. Satu alat yang digunakan membuat pupuk tersebut merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Bojonegoro.

“Kalau dari limbah biogas tidak usah di fermentasi. Untuk membuat kompos ini tidak boleh langsung terkena sinar matahari atau air hujan. Jadi semua bahan yang sudah diolah kita tamping di rumah kompos,” ungkap Sukoco.

Dalam membuat kompos ini Sukoco dibantu lima orang anggota KSM Lestari. Mereka memiliki bagian sendiri-sendiri, karena tugas membuat pupuk kompos berlipat-lipat. Untuk setiap satu kilo gramnya pupuk tersebut dijual seharga Rp500.

Produksi Kompos KSM Lestari ini dijual petani di wilayah Gayam seperti Desa Manukan, Ngraho, Katur, Begadon, dan Gayam. Dari target produksi 100 ton, KSM Lestari baru bisa memproduksi paling banyak 30 ton.

“Karena di sini petani belum percaya sepenuhnya dengan kompos. Jadi kita produksi sesuai pesanan,” ucap bapak tiga anak yang tinggal di RT 25 RW 05 Dusun Dawung, Desa Gayam itu. 

Sedangkan untuk pupuk organik cair dan obat-obatan agen hayati sebagian petani sudah dapat membuatnya. Selain memanfaatkan kotoran sapi, mereka juga memanfaatkan hijauan yang ada sekitar lingkungan.

“Hampir semua anggota kita sudah bisa membuat sendiri,” sambung Ketua II Koperasi Pengembangan Agrobisnis (KPA) Makmur Sejahtera Bersama Desa Katur, Kecamatan Gayam, Fatkhur Rohman.

 Diminati Toko Modern Hingga Hotel

Konsep pertanian organik yang digeluti petani sekitar Lapangan Banyuurip mulai dirasakan hasilnya. Beras hasil pertanian organik mereka semakin banyak diminati pasar lokal maupun regional. Setelah masuk toko modern milik Koperasi Karyawan Redreying Bojonegoro (KAREB), beras organik itu sekarang masuk Hotel Roemah YWI di Malang, Jatim.

Beras organik itu disalurkan melalui Koperasi Pengembangan Agrobisnis (KPA) Makmur Sejahtera Bersama Desa Katur, Kecamatan Gayam. Koperasi ini merupakan binaan Operator Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), melalui program pengembangan mata pencaharian masyarakat.

Koperasi ini menampung hasil pertanian organik 256 petani yang menjadi anggotanya yang tersebar di wilayah Gayam, dan dua desa di Kecamatan Kalitidu yakni Sumengko dan Talok.

Jumlah pengiriman beras perdana yang dikirim KPA Makmur Sejahetera Bersama ke Hotel Moerah YWI sebanyak 1 ton dengan jenis non mentik wangi. Harga per kilogramnya Rp9.900.00 jika diambil sendiri di koperasi, dan Rp10.000/kg bila diantarkan.

"Karena ini pengiriman perdana, perwakilan hotel datang mengambil sendiri ke sini," ucap Ketua II KPA Makmur Sejahtera Bersama, Fatkhur Rohman di sela-sela persiapan pengiriman beras di kantor koperasi, Selasa (31/10/2017).

Sesuai perjanjian, setiap satu bulan KPA Makmur Sejahtera Bersama akan mengirimkan satu ton beras ke Hotel Moerah YWI. Jumlah ini dimungkinkan akan bertambah karena untuk kebutuhan beras karyawan Hotel Moerah juga akan dipasok oleh KPA Makmur Sejahtera.

Ada beberapa keunggulan beras organik produksi petani anggota KPA Makmur Sejahtera Bersama ini. Salah satunya penanamnya menggunakan pupuk organik yang diproduksi sendiri oleh anggota.

“Ini merupakan beras sehat. Karena kita tidak memakai pupuk kimia mulai dari tanam, hingga proses penggilingan," tegas Fatkhur.

Ada beberapa jenis padi yang ditanam petani anggota KPA Makmur Sejahtera Bersama. Yakni mentik wangi, dan non mentik wangi seperti cierang yang semuanya ditanam tanpa memakai pupuk kimia. Beras Mentik Wangi ini merupakan satu-satunya di Bojonegoro. Beras ini memiliki aroma harum. 

Untuk harga beras jenis mentik wangi per kilogramnya Rp10.000 jika diambil sendiri di koperasi, dan Rp11.000 jika diantarkan. Selain melayani Hotel Moerah YWI, KPA Makmur Sejahtera Bersama sejak 2016 lalu hingga sekarang ini juga melayani kebutuhan pasar modern KAREB Bojonegoro sebanyak  1,5 ton.

“Kita juga melayani kebutuhan pasar lokal di sini, dan karyawan EMCL," ungkap Fatkhur.

Menurut dia, pengiriman beras ke Hotel Moerah YWI ini dipastikan tidak akan menganggu kebutuhan pasar lokal, termasuk pasokan ke pasar moderen milik KAREB. Karena jumlah produksi dari anggota KPA Makmur Sejahtera Bersama setiap kali panen mencapai 420 ton lebih dengan total lahan pertanian yang dikerjasamakan seluas 60 hektar.

"Kita terus berupaya mencari pasar untuk memasarkannya. Dengan begitu diharapkan kedepan bisa berkembang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, anggota dan lembaga," pungkas Fatkhur.

Sementara itu, Bagian Prosesing Hotel Moerah YWI, Toni Hariadi mengakui jika kwalitas beras organik produksi KPA Makmur Sejahtera Bersama lebih bagus dibanding beras di pasaran. Yakni selain berasnya tidak patah-patah, juga rasanya lebih enak sehingga sangat tepat untuk disajikan kepada tamu hotel.

“Berasnya tidak lembek dan kaku. Dimakan dingin juga tetap enak," tuturnya saat mengambil beras di KPA Makmur Sejahtera.

Disamping itu, tambah Toni, harga beras organik KPA Makmur Sejahtera Bersama lebih murah dibanding harga beras di Pasar Besar Malang yang selama ini dibelunya. Di sana harganya mencapai Rp11.100 per kilogramnya, dengan kualitas sama.

“Karena itu pak direktur telah menyarankan ke depan agar beras untuk karyawan hotel juga diambilkan dari sini juga," pungkasnya.

Juru Bicara EMCL, Rexy Mawardijaya menyampaikan kerjasama KPA ini merupakan bagian dari program Pengembangan Mata Pencaharian Masyarakat di sekitar wilayah operasi EMCL. Program yang didampingi Yayasan Bina Swadaya ini,  sudah membentuk beberapa kelompok petani dalam wadah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

“Kita juga membentuk dua koperasi sebagai wadah pemasaran dan permodalan," kata Rexy dalam satu kesempatan.

Rexy berharap, melalui program pengembangan ekonomi ini, bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar wilayah operasi EMCL. Saat ini, kata dia, EMCL melakukan berbagai program kemasyarakatan di bidang pendidikan, kesehatan dan pengembangan ekonomi.

"Ini komitmen kami, sebagai tetangga yang baik, kami terus bersinergi dengan pemerintah," pungkasnya.(d suko nugroho)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Hitam Putih Blok Cepu"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Hitam Putih Blok Cepu

Minggu, 22 Januari 2017 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/hitam-putih-blok-cepu

Sebuah industri di manapun pasti memberikan dampak positif dan negatif. Tak terkecuali industri Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyuurip, Blok Cepu.

Winto masih ingat betul kondisi Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, 27 tahun silam. Kala itu dia sudah remaja. Masa kecilnya hingga sekarang dihabiskan di desa yang dulunya ikut Kecamatan Ngasem tersebut.

Kondisi infrastruktur, terutama jalan di desanya sangat memprihatinkan. Jalan Gayam hingga Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, masih berbentuk makadam. Setiap kali turun hujan, dipastikan kendaraan bermotor ataupun mobil tidak bisa melintas. Kalaupun bisa hanya sepeda pancal, itupun masih jarang.

Buruknya infrastruktur jalan sangat dirasakan Winto. Saat itu dia menginjak bangku SMA pada tahun 1992. Dirinya harus jalan kaki dari rumahnya yang berada di dekat kantor kecamatan hingga sejauh 7 kilo meter (Km) sambil menenteng sepatu untuk sampai ke perempatan Dusun Clangkap agar bisa sekolah. Itu dia rasakan hingga lulus SMA pada 1995.

"Kebetulan waktu itu satu kampung yang meneruskan ke SMA hanya saya," kenang Winto saat menceritakan kondisi Desa Gayam kepada sebelas perwakilan negara saat melakukan sinau bareng bersama masyarakat di balai desa setempat beberapa waktu lalu.

Namun kondisi tersebut perlahan mulai berubah setelah ExxonMobil Cepu Limited (EMCL)  menggarap Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, medio 2000-2001. Beragam program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) digulirkan Anak perusahaan ExxonMobil, raksasa migas asal Amerika Serikat tersebut.

Ada tiga bidang CSR yang menjadi andalan EMCL. Yakni bidang kesehatan, pendidikan, dan pengembangan ekonomi. Program itu dikucurkan setiap tahun.

"Alhamdulillah sejak adanya proyek ini, meskipun jalan masih berlobang, namun kami merasa bersyukur. Infrastruktur di wilayah ini banyak terbantu," ucap Kepala Desa Gayam itu.

Selain infrastruktur jalan, bidang pendidikan di Desa Gayam juga sudah sangat maju. Pun kesehatan, perusahan juga banyak membantu sarana dan prasarana.

"Bisa dikatakan sekarang perubahannya 180 derajat dibanding tahun 1990 an," ucap Winto.

Perubahan lain yang kentara adalah pola pikir warga terhadap pendidikan. Sebelum adanya proyek Banyuurip para orang tua acuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Namun saat ini kepedulian mereka sangat tinggi.

"Sekarang ini bagi mereka menyekolahkan anaknya sangat penting. Karena untuk mendaftarkan pekerjaan yang dibutuhkan adalah lulusan SLTA," kata Winto, mengungkapkan.

"Ada juga lulusan SMP yang bisa masuk kerja, tapi lebih cepat yang SMA. Ini yang membuat orang tua semakin peduli dengan pendidikan anaknya," lanjut bapak satu anak itu.

Namun di lain sisi keberadaan proyek migas juga mengakibatkan masyarakat kehilangan mata pencaharian. Ada sekira 600 - 700 hektar (Ha) lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber pendapatan mereka tergerus proyek negara.

Sedangkan hasil penjualan lahan sebagian besar telah digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Seperti membeli motor, mobil dan membangun rumah. Padahal para pemilik lahan tidak memiliki keahlihan lain, selain bertani.

"Ini sangat memprihatinkan, dan ini pekerjaan rumah bagi kita bersama," tutur Winto.

Karena itu dirinya menyarankan kedepan yang paling penting adalah memberdayakan sumber daya manusia (SDM). Baik pemberdayaan bidang ekonomi, pertanian maupun lainnya.

Berbeda dengan Winto. Menurut Camat Gayam, Hartono perkembangan yang paling menonjol adalah semakin kritisnya masyarakat terhadap pemerintah kecamatan maupun desa. Artinya kontrol masyarakat terhadap pemerintah sangat tinggi.

"Ini dikarenakan pengaruh-pengaruh orang pintar luar biasa. Ini menjadikan fungsi pemerintah semakin terkontrol," sambung Hartono.

Selain itu ketaatan masyarakat kepada hukum juga semakin tinggi. Semisal untuk kepemilikan administrasi kependudukan. Begitu kecamatan mengumumkan bisa memproses Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK), masyarakat langsung berduyun-duyun mengurusnya. Termasuk kepemilikan tanah atau sertifikat.

"Ini luar biasa. Ini yang saya rasakan," ujar Hartono yang mengaku mulai menjadi Camat Gayam 2013 lalu.

Pemerhati pendidikan Kecamatan Gayam, Fandil membenarkan hal tersebut. Ia mengungkapkan, sebelum dimulainya kegiatan di Lapangan Banyuurip, masyarakat Gayam yang tamat SLTA sedikit sekali.

"Jangankan kuliah, waktu itu yang lulus sampai SMA jarang sekali," kata Fandil.

Karena itulah pada 2006, melalui sebuah yayasan dirinya mendirikan SMA swasta untuk membantu masyarakat agar mudah memperoleh pelayanan pendidikan. Karena pada waktu itu untuk bisa sekolah sampai tingkat SLTA pemuda Gayam harus ke wilayah Kecamatan Kalitidu atau Purwosari.

"Selain itu agar anak yang tidak mampu bisa tertampung di sekolah ini," kata Kepala SMA Islam Gayam itu.

Keberadaan industri migas ini juga membawa perubahan gaya hidup pemuda Gayam. Menurut dia, kalau dulu mereka ngopinya di warung-warung dekat rumah, tapi sekarang di cafe-cafe.

"Ini juga dampak perubahan. Jadi dengan adanya proyek ini ada dampak postifnya, juga negatifnya," tegasnya.

Dampak eksplorasi dan eksploitasi migas Banyuurip juga berdampak pada peternak. Menyusutnya lahan pertanian ini mengakibatkan berkurangnya jumlah ternak di wilayah Gayam. Karena ladang penggembalaan maupun rumput yang menjadi pakan ternak telah beralih fungsi.

Sedangkan di sisi lain program peternakan yang digulirkan operator belum mampu mengubah kultur masyarakat tentang peternakan. Warga masih berternak secara tradisional.

"Sehingga orientasi ke bisnis masih jauh dari harapan," sergah praktisi peternakan Gayam, Mohamad Ja'i.

"Pola ini sangat kontradiktif dengan menyusutnya lahan. Karena hanya mengandalkan pada rumput," lanjut pengelola Kandang Belajar Sapi Rakyat (KBSR) itu.

Semakin sempitnya lahan ini, menurut Ja'i, perlu ada intervensi teknologi terkait tata kelola peternakan terutama teknologi pakan dengan memanfaatkan limbah-limbah pertanian untuk diolah menjadi produk pakan ternak bergizi guna meningkatkan produktifitas ternaknya.

"Cara itu sudah dilakukan oleh peternak lokal, tapi belum dikembangkan secara masif. Untuk itu diperlukan dorongan dari semua pihak mulai pemerintah kabupaten hingga desa, corporate dan masyarakat untuk saling sinergi," pungkas Ja'i. (d suko nugroho)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Seberkas Harapan dari Pantai Labuhan"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Seberkas Harapan dari Pantai Labuhan

Rabu, 21 September 2016 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/seberkas-harapan-dari-pantai-labuhan

Integrasi antara lingkungan, perikanan, peternakan, dan perkebunan menjadi konsep program taman pendidikan mangrov yang digulirkan PHE WMO. Program itu pun menjadi harapan baru bagi masyarakat Labuhan.

TIGA tahun silam, warga Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, begitu acuh terhadap kondisi lingkungan pantai di wilayah setempat. Mereka membiarkan begitu saja sampah-sampah berserakan di sepanjang bibir pantai. Pun ancaman abrasi (pengikisan tanah) akibat gerusan ombak.

Dalam benak mereka kala itu yang utama adalah mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari. Melestarikan lingkungan dan menjaga ekosistem pantai begitu jauh dari angan-angan warga.

Mayoritas warga Labuhan setiap harinya bekerja sebagai nelayan. Sisanya pergi ke luar desa untuk merantau mengadu nasib.

Namun pola pikir warga pesisir itu perlahan berubah ketika Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) mulai menggulirkan program Taman Pendidikan Mangrov (TPM). Program sebagai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) tersebut digulirkan mulai tahun 2014.

"Awalnya masyarakat sulit menerima. Mereka menganggap program ini tidak penting dan tidak menghasilkan," kata pendamping program TPM Labuhan, Agus Satriono membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com usai tanam pohon di wilayah setempat dalam rangkaian acara Lokakarya Media SKK Migas dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Jabanusa, Selasa (20/9/2016).

Kondisi inilah yang menjadi tantangan PHE WMO dan pendamping program. Mereka melakukan pendekatan dan memberikan pencerahan kepada warga agar bisa terketuk hatinya. Sedikit demi sedkit pola pikir mereka mulai terbuka dan mau menerima program ini.

Sebuah kelompok pun akhirnya dibentuk. Yakni Kelompok Mangrov Petani Cemara sejahtera. Kelompok ini beranggotakan sepuluh orang.

Mereka kemudian diberikan serangkaian pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan TPM. Mulai dari membudidaya mangrov, menjaga ekosistem dan lingkungan pantai di Labuhan.

"Mereka ini merupakan agen-agen perubahan yang akan menularkan ilmunya kepada warga lainnya untuk mengembangkan TPM ini," tegas pria Kelahiran Tuban itu.

Kesadaran warga labuhan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan pantai semakin tinggi. Melalui program TPM ini sedikitnya 17 hektar (Ha) tanah negara di desa setempat ditanami mangrov dan cemara laut.

Ada 13 ribu tanaman yang ditanam di sepanjang pantai. Jenis mangrov yang ditanam sebanyak 17 tanaman. Dua di antaranya adalah jenis mangrov yang terancam punah yakni cheriop decandra dan igicyras Cornikulat.

"Kami baru menyadari betapa pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Ini bukan soal pendapatan semata, tapi keberlanjutan untuk generasi kita yang akan datang," sambung Sekretaris Kelompok Petani Mangrov Cemara Sejahtera, Muhamad Sahril.

Program TPM yang digulirkan PHE WMO ini tidak sekadar pada budidaya mangrov dan cemara laut. Namun diintegrasikan dengan peternakan, perikanan dan perkebunan yang saling berkaitan.

"Jadi tidak hanya lingkungan, tapi ada nilai ekonomi yang didapat warga," timpal Agus Satriono kembali.

Budidaya ikan misalnya, dilakukan di bawah pohon mangrov. Kemudian peternakan kambing yang memanfaatkan daun mangrov sebagai pakannya. Sedangkan di bidang perkebunan dilakukan budidaya pepaya.

Budidaya pepaya, mangrov dan cemara laut ini memanfaatkan kotoran ayam dan kambing sebagai pupuknya. Sedangkan mangrov berfungsi untuk mencegah air laut yang terbawa angin agar tidak mempengaruhi pertumbuhan pepaya.

Saat ini ada 500 pohon pepaya yang dibudidaya mulai Januari 2016 lalu. Setiap satu pohon bisa menghasilkan 20 - 25 buah. Berat per buahnya bisa mencapai 1,2 kilo gram (Kg) dengan harga jual Rp7 ribu/Kg.

Sedangkan masa panen pepaya ini adalah delapan bulan dihitung mulai dari persemaian.

"Sementara ini kita jual di sekitaran sini sambil promosi," kata Sahril kembali.

Budidaya pepaya ini memiliki prospek cerah sehingga Kelompok Petani Mangrov Cemara Sejahtera akan mengembangkannya di lahan seluas dua hektar. Dengan jumlah pohon yang ditanam sebanyak seribu bibit.

"Harapan kita kedepan pepaya Labuhan ini menjadi identitas desa sini," tegas Sahril.

Dikembangkan Jadi Wisata Edukasi

Program TPM Labuhan ini mulai membuahkan hasil. Banyak mahasiswa dari perguruan tinggi ternama di Indonesia melakukan penelitian seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institute Teknologi Surabaya (ITS), Unesa dan LIPPI. Mereka melakukan penelitian tentang ekosistem lingkungan di TPM.

Impian menjadikannya sebagai wisata edukasi pun terbuka lebar. Di tempat ini para pengunjung dapat belajar tentang ekosistem mangrov dan cemara laut. Mulai dari cara menanam, merawat hingga manfaatnya.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat keindahan burung yang bermigrasi di wilayah ini. Burung itu bertengger di pucuk-pucuk mangrov di antaranya burung Gajahan, dan trinil.

"Bulan ini hingga Oktober burung itu akan transit di sini. Kemudian nanti pada bulan Maret," ucap Agus.

Beragam fasilitas juga sudah mulai dilengkapi. Seperti camping dan plantion. Sejumlah komunitas pun juga sudah banyak berdatangan ke lokasi ini.

"Sementara ini tidak kita buka untuk umum, namun khusus. Takutnya kalau dibuka untuk umum bisa tidak terkendali sehingga bisa merusak ekosistem mangrov," tandas Agus.

Namun dengan adanya sejumlah fasilitas pendukung tidak menutup kemungkinan TPM ini akan dijadikan wisata umum. Karena ditempat ini memiliki pemandangan yang indah, pulau ajaib yang muncul di tengah-tengah laut.

"Harapan kita kedepan ini bisa menjadi wisata Setigi Beach," sergah HR of Ops. Comdev PHE WMO, Ulika Triyoga Putra Wardana.

Dengan dijadikan TPM ini sebagai destinasi wisata akan memunculkan multiplier effect (efek berantai) bagi warga. Baik peluang usaha dan kerja.

"Apalagi di sini ada budidaya pepaya sehingga pungunjung bisa melakukan petik pepaya sendiri di kebun," tegas Ulika.

Apa yang dilakukan PHE WMO ini adalah sebagai bentuk memberdayakan masyarakat untuk mewujudukan kemandirian ekonomi.

"Saya harapkan ini menjadi inspirasi bagi KKKS lainnya dalam melaksanakan program CSR nya," pungkas Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Masyar saat memetik buah pepaya yang dibudidaya kelompok petani mangrov Labuhan.

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Warga Sedahkidul Bojonegoro Deklarasi Anti "Hoax"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Warga Sedahkidul Bojonegoro Deklarasi Anti "Hoax"

Minggu, 3 September 2017 | http://www.antarajatim.com/lihat/berita/204622/warga-sedahkidul-bojonegoro-deklarasi-anti-hoax

Bojonegoro (Antara Jatim) - Warga Desa Sedahkidul, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menggelar deklarasi  anti  "hoax" dengan membuat pernyataan sikap yang dibaca secara bersama juga menggelar tanda tangan di atas banner, Minggu.

Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sedangpotro, Desa Sedahkidul, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro Rasidin dalam deklarasi anti "hoax" menyatakan pemuda dan pemudi di desa setempat akan santun berkomunikasi di internet dan media sosial.

Selain itu, juga menolak "hoax" atau berita bohong, fitnah, dan ujaran kebencian termasuk sara dan tidak akan menyebarkan berita "hoax".

"Sekarang pembuat berita ujaran kebencian juga berita bohong di media sosial bisa dikenai hukuman penjara," kata dia didampingi Kepala Desa Sedahkidul, Choirul Huda dan Ketua Karangtaruna Desa Sedangkidul, Didik. 

Camat Purwosari, Bojonegoro Bayu Dono, dan Sekretaris Dinas Kominfo Ngasiadji dan Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Kominfo Djoko Suhermanto secara  bersama menyatakan mendukung kegiatan warga Sedangkidul, yang mendeklarasikan anti "hoax".

Pada kesempatan itu, Bayu Dono meminta warga di daerahnya bisa menguasai teknologi dan informasi karena sudah menjadi kebutuhan.

Namun, kata dia, warga harus berhati-hati dalam memanfaatkan media sosial juga internet agar tidak masuk dalam ranah hukum. 

Ia mencontohkan salah seorang warga di Kecamatan Gayam, yang bertetangga dengan Kecamatan Purwosari, ditangkap polisi dari Sukabumi, Jawa Barat, karena menulis di media sosial tanpa menggunakan etika.

"Kami minta warga dalam memanfaatkan media sosial jangan seenaknya. Manfaatkan untuk yang bermanfaat, seperti memasarkan produk industri," kata dia menjelaskan.

Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bojonegoro Djoko Suhermanto, menambahkan KIM juga relawan teknologi dan informatika (RTIK) dan karang taruna diajak bersama-sama melawan "hoax" sejak tiga bulan lalu.

Secara rutin, menurut dia, kominfo menggelar diskusi melawan "hoax" dengan acara "njungok bareng" (duduk bersama) dengan mengundang nara sumber dari tokoh KIM, RTIK dan jajaran karang taruna.

"Acara "njungok bareng" dengan mengambil lokasi di kecamatan berpindah-pindah akan terus berlanjut," ucapnya menegaskan. (*)