Melindungi Kehidupan Pribadi Narasumber

Posted in Atma Menjawab

 

 

Gubernur Aceh doyan perempuan

 

TIM WASPADA ONLINE BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, pernah mengeluarkan pernyataan fenomenal yang mencengangkan rakyat Aceh. Ungkapan itu adalah “Rakyat Aceh boleh minta apa saja dari saya, tapi saya harap rakyat Aceh jangan pernah gugat saya kalau saya senang terhadap perempuan cantik”.

Sumber Waspada Online yang minta namanya dirahasiakan, pagi ini, menjelaskan memang dulu sebelum Irwandi menjabat sebagai gubernur, dia sempat dipergoki warga sedang berdua-duaan dengan wanita di Desa Jeulingke. Wanita itu kini menjadi istrinya.

Karena tertarik dengan wanita muda dan cantik itu, dia tega meninggalkan dan menceraikan istri pertamanya. Padahal telah dikaruniai dua orang anak.

Hasil penelusuran Waspada Online, istri pertama Irwandi saat ini tinggal di Kota Bireuen, dan merupakan seorang guru di salah satu SMA di kota tersebut.

Sumber lain kepada Waspada Online menyebutkan, saat ini ketika Irwandi telah menjadi gubernur, ada indikasi kegemaran Irwandi terhadap perempuan bukan menurun, justru semakin parah.

Bahkan menurut sumber itu, kedekatan Irwandi dengan oknum R, yang merupakan mantan suami seorang artis diduga merupakan kedekatannya karena kebutuhan “arus bawah” Irwandi terhadap perempuan.

R disinyalir merupakan penghubung Irwandi untuk mendapatkan perempuan cantik yang ada di Jakarta. “Dan sebagai imbalannya, R banyak mendapatkan proyek-proyek dari Irwandi di Aceh,” ujar sumber.

Sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=156083%3Agubernur-aceh-doyan-perempuan&catid=77%3Afokusutama&Itemid=131

 

 

 

JAWABAN:

Kalimat berikut ini dalam bahasa jurnalistik Inggris biasa disebut sebagai “haunting” (“menghantui”). Artinya, laporan ini masih saja mengungkit-ungkit masa lampau kehidupan subjek berita—yang tidak selamanya perlu diberitakan terus. Lebih-lebih karena ini adalah masalah kehidupan pribadi (privasi, privacy), walaupun ia seorang pemimpin politik yang, memang, kehidupan pribadinya kurang dapat dilindungi dalam pemberitaan pers dibandingkan dengan warga biasa.

Kebenarannya pun belum tentu sebagaimana digambarkan dalam kalimat ini:

“Karena tertarik dengan wanita muda dan cantik itu, dia tega meninggalkan dan menceraikan istri pertamanya. Padahal telah dikaruniai dua orang anak.

Hasil penelusuran Waspada Online, istri pertama Irwandi saat ini tinggal di Kota Bireuen, dan merupakan seorang guru di salah satu SMA di kota tersebut.”

Kalimat “Karena tertarik dengan wanita muda dan cantik itu, dia tega meninggalkan dan menceraikan istri pertamanya” adalah pendapat atau opini penulis berita ini yang bersifat “menghakimi”.

“Opini yang menghakimi” dilarang oleh Kode Etik Jurnalistik Tahun 2006. Yang dibolehkan oleh KEJ 2006 hanyalah interpretasi terhadap fakta, bukan opini penulis berita itu sendiri. Tetapi, di dalam berita ini tidak ada fakta yang memungkinkan penulis berita ini dapat memberikan interpretasi seperti ditulis dalam kalimat tersebut.

Benar, sebagaimana dikatakan oleh para komentator yang mengirimkan pendapatnya ke LPDS, kalimat berikut adalah insinuatif jika akurasinya diragukan karena tidak ada klarifikasi dari subjek berita untuk menyeimbangkan berita ini—sesuai dengan persyaratan standar jurnalistik profesional dan Kode Etik Jurnalistik.

Publikasi informasi seperti ini dapat diproses melalui jalur hukum sebagai pencemaran nama baik atau merugikan subjek berita. Kalimat berikut juga mengandung vulgaritas—dalam bagian yang menyatakan ‘kebutuhan “arus bawah” Irwandi terhadap perempuan’:

‘Bahkan menurut sumber itu, kedekatan Irwandi dengan oknum R, yang merupakan mantan suami seorang artis diduga merupakan kedekatannya karena kebutuhan “arus bawah” Irwandi terhadap perempuan.

R disinyalir merupakan penghubung Irwandi untuk mendapatkan perempuan cantik yang ada di Jakarta. “Dan sebagai imbalannya, R banyak mendapatkan proyek-proyek dari Irwandi di Aceh,” ujar sumber.’

Salam,

Atmakusumah Astraatmadja