In Memoriam: DH Assegaf, Wartawan dan Pejuang

Posted in Kajian Media

Lelaki kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 12 Desember 1932 itu dikenal tegas dalam bicara dan bersikap, terutama bila bicara pendidikan pers, politik, diplomasi, militer, dan tata negara.

"Aku ini lari dari Lampung, Sumatera, ke tanah Jawa untuk belajar semua hal. Aku selalu ingin maju. Juga ingin semua orang mencapai kemajuan," ujar suami dari Siffa Assegaf itu suatu ketika di LPDS, Jalan Kebon Sirih 34 Jakarta.

Ia pun senang berbagi pengalaman, terutama kepada wartawan di sejumlah perusahaan pers maupun para muridnya di kampus. Ayah dari empat anak tersebut menjadi wartawan sejak 1953 di harian Indonesia Raya, kemudian ke harian Abadi, Suara Karya, Kantor Berita Antara, Warta Ekonomi, televisi RCTI, dan hingga akhir hayatnya di harian Media Indonesia sekaligus Metro TV.

Karir jurnalismenya seiring dengan hasratnya menjadi pendidik, terutama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (Fisip UI) dan LPDS.

Intelijen Rakyat

Cara mengajarnya pun menggunakan pendekatan diskusi dan sesekali berbagi pengalaman yang disebutnya sebagai wartawan sekaligus pelobi serta agen pembaru bagi publik.

"Aku punya rahasia bila mengingat zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yaitu ikut jadi intel militer Indonesia. Intel kecil-kecilan. Tapi, di kemudian hari banyak teman sebaya aku saat itu malah menjadi intel besar di negeri ini," kenang DH Assegaf satu ketika.

Ilmu intelijen ini pula yang diakui Assegaf berperan besar mengasah kepekaan jurnalismenya.

"Prinsip kerja wartawan sama dengan intel. Bedanya, bos para intel ya komandan dan hanya institusinya. Kalau wartawan ya rakyat banyaklah bosnya," tukas dia.

Kepada para wartawan, ia juga sering menekankan mekanisme kerja jurnalisme harus cerdas (intelligent) yang paham kaidah kerja intel (intelligence).

"Jika tidak 'intelligent' dan 'intelligence', maka matilah karir wartawan kalian." Ini salah satu wasiat jurnalisme Assegaf.

Dalam karir jurnalisme, Assegaf juga pernah aktif menjadi pengurus pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Dewan Pers. Adapun dalam karir politik dan diplomasi ia menjadi anggota MPR RI (1978-1988) dan Duta Besar Berkuasa Penuh RI untuk Vietnam periode 1993-1997.

Ketika sejumlah sahabat dan muridnya sempat terkejut lantaran memasuki usianya 80 tahun kembali terjun ke dunia politik praktis selaku Ketua Dewan Pembina Partai Nasional Demokrat (Nasdem), maka Assegaf punya jawabannya sendiri.

"Aku diminta Pak Surya Paloh untuk ikut menjaga semangat anak-anak muda. Sebenarnya mereka pula yang menjaga saya tetap semangat," ujar dia.

Semangat itu pula yang tetap diperlihatkannya saat dirawat di rumah sakit. Sekitar dua minggu lalu, Assegaf tetap semangat menonton berita di televisi rumah sakit, walau selang infus di tangan dan selang nutrisi di hidungnya. Tatkala ada berita terorisme, ia pun meminta Gazy (putranya) untuk memperkeras volume suara televisi.

Salah seorang putra dari empat anaknya, Hasan, sempat menjadi wartawan harian Kompas. Namun, sang putra tersebut meninggal dunia di usia muda saat masih menjadi wartawan. Assegaf sekeluarga tentu saja sangat berduka atas hal ini.

Namun, di kemudian hari Assegaf pernah berujar, "Siapa pun akan berduka kehilangan anak, sahabat, atau kerabat. Duka akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku juga menyadari satu hari akan pergi menemui Hasan menghadap Illahi dan kami pun akan reportase bersama tentang indahnya surga."

Penulis: /BER

Sumber:Antara