Wartawan Berijatim.com Ikut Standar Kompetensi

Posted in Info Kompetensi

Dua wartawan beritajatim.com yang mengikuti adalah Teddy Ardianto Hendrawan untuk ikut kelas utama dan Reni Susilawati mengikuti uji wartawan muda.

Tidak tanggung-tanggung uji kompetensi ini benar-benar seperti ujian skripsi atau tesis. Nilai 70-100 wartawan yang mengikuti ujian ini dinyatakan kompeten. Materi ujian adalah rekontruksi kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh wartawan muda atau Reporter dengan penguji Warief Djajanto.

Warief Djajanto meniti karir jurnalistiknya dimulai dari Kantorberita Nasional Indonesia (KNI), Jakarta (1971-1991), kemudian menjadi koresponden DEPTHnews Asia yang bermarkas di Manila (1974-1991).

Tahun 1978 ia mengikuti Professional Journalism Fellow di Stanford. Pada tahun yang sama, selama empat bulan, ia menjadi peserta Associated Press attachment program di New York.

Penguji kedua adalah Maria Dian Andriana wartawan sekaligus mantan Kepala Biro Antara di Tokyo untuk menguji wartawan di tingkat Redaktur.

Penguji ketiga adalah Petrus Suryadi namanya sulit dilepaskan dengan Timor Timur (kini Timor Leste atau Timor Lorosae) dan Portugal.

Di kedua wilayah itulah ia pernah membuat laporan perjalanan jurnalistik. Ia masuk Timor Timur di kala masih rawan keamanannya, dan menyusup ke Portugal pasca-putusnya hubungan diplomatik dengan Republik Indonesia lantaran konflik Timor Timur.

Karir jurnalistiknya dikenal publik saat di harian sore Sinar Harapan, dan ia termasuk salah seorang pendiri harian sore Suara Pembaruan setelah Sinar Harapan dibredel pemerintahan Orde Baru.

Di harian sore itu pula ia sempat bertugas di negeri Belanda untuk mengadakan serangkaian liputan di benua Eropa, sekaligus menuntaskan pendidikan masternya.

Acara dibuka dengan paparan angota Dewan Pers Wina Armada tentang kemerdekaan pers adalah milik masyarakat, bukan milik pers saja, sehingga harus memberi manfaat untuk masyarakat. Itulah landasan filosofis penyusunan Standar Kompetensi Wartawan.

Wina bercerita tentang perilaku pers dan organisanisianya. "Di Medan ada sopir taksi yang diberi kartu pers agar lolos dari hukuman polisi, ini bahaya," ungkap Wina Armada Sukardi.

Menurutnya, dengan penerapan Standar Kompetensi Wartawan akan dapat dipisahkan antara wartawan profesional yang memiliki kompetensi dan wartawan tidak profesional yang hanya sekadar memanfaatkan profesi wartawan. Dalam jangka panjang, mereka yang bekerja sebagai wartawan diharapkan hanya yang memiliki kompetensi.

“Standar Kompetensi Wartawan tidak diterapkan secara paksa. Karena itu, masyarakat mengambil peran penting untuk efektifitas pelaksanaannya,” kata Wina.

Ia mencontohkan, masyarakat nantinya bisa saja menolak diwawancara oleh wartawan yang belum memegang sertifikat kompetensi yang didapat dari mengikuti Uji Kompetensi. Dengan demikian, secara alami wartawan yang belum kompeten akan terpojok (lpds.or id).

Selama dua hari kami diuji dengan ketrampilan, pengetahuan yang kami memiliki maupun tentang etika dan standar hukum bagi jurnalis.

Dalam ujian ini ada 3 wartawan yang mundur dengan alasan sedang menjaga istri melahirkan dan satu lagi mendapat tugas mendesak dari kantor.

Sebanyak 19 wartawan yang ikut acara ini hingga selesai mengakui soal ujiannya sebenarnya mudah tapi juga sulit . "Asyik acaranya saya senang," ungkap Ibnu Yunianto Kepala Biro Harian Jawa Pos Jakarta.

Hal senada juga diungkapkan oleh Iman Dwi Hartanto dari Radio Suara Surabaya yang mengaku adrenalinnya terus terpacu mengikuti ujian demi ujian yang digelar dua hari penuh mulai pukul 09.00 WIB hingga 20.00 WIB. [ted] Reporter : Teddy Ardianto Hendrawan

Sumber: http://www.beritajatim.com/kabarredaksi.php?newsid=840

06 Maret 2011 10:34:03 WIB