Petrus Suryadi Sutrisno

Share this post

Namanya sulit dilepaskan dengan Timor Timur (kini Timor Leste atau Timor Lorosae) dan Portugal. Di kedua wilayah itulah ia pernah membuat laporan perjalanan jurnalistik. Ia masuk Timor Timur di kala masih rawan keamanannya, dan menyusup ke Portugal pasca-putusnya hubungan diplomatik dengan Republik Indonesia lantaran konflik Timor Timur. Karir jurnalistiknya dikenal publik saat di harian sore Sinar Harapan, dan ia termasuk salah seorang pendiri harian sore Suara Pembaruan setelah Sinar Harapan dibredel pemerintahan Orde Baru. Di harian sore itu pula ia sempat bertugas di negeri Belanda untuk mengadakan serangkaian liputan di benua Eropa, sekaligus menuntaskan pendidikan masternya. Kini ia menjadi praktisi komunikasi media dan kolumnis di sejumlah media massa, selain sebagai konsultan media intelijen --terutama analisa isi media-- maupun kehumasan. Untuk dapat dihubungi melalui surat elektronik (e-mail) Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya (*)