Perkembangan Tata Kelola dan Tantangan serta Strategi Eksplorasi di Indonesia PDF Cetak E-mail
Inside Mining
Kamis, 26 Februari 2015 21:08

Share this post

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur , 3 Desember 2011

 

Perkembangan Tata Kelola dan
Tantangan serta Strategi Eksplorasi di Indonesia

Oleh : Rovicky Dwi Putrohari
Ketua Umum/Presiden

IAGI — Ikatan Ahli Geologi Indonesia (2011-2014)

 

Sejarah Eksplorasi Migas di Indonesia

Perminyakan Sebelum Kemerdekaan.

 

Uraian dibawah ini dikumpulkan dari berbagai sumber terutama di internet yang sumber asalnya tidak diketahui serta beberapa buku bacaan dan diskusi di mailist IAGI-net. Untuk perkembangan yuridis telah disusun oleh BPK terlampir sebagai addendum tulisan ini.

Pemanfaatan dan penggunaan minyak bumi dimulai oleh bangsa Indonesia sejak abad pertengahan. Menurut sejarah, orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola api saat memerangi armada Portugis.

Selama ini yang lebih dikenal sebagai awal eksplorasi atau pencarian migas dilakukan adalah pengeboran sumur Telaga tunggal oleh Zijker, namun penelitian yang dilakukan oleh salah satu anggota IAGI (Awang HS) menemukan bahwa usaha pengeboran pertama kali dilakukan olej Jan Reerink.

Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima bahwa ada rembesan minyak keluar dari

 

 

 

 

 

lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas, Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.

Awal sejarah perkembangan eksplorasi dan eksploitas migas secara modern di Indonesia ditandai saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871 ini, yaitu sumur Madja-1 di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink diatas. Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan akhirnya sumur pengeborannya ditutup.

Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama "pasaran" orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah

Penemuan sumber minyak dengan pengeboran moderen yang pertama di Indonesia ini yang akhirnya lebih dikenal sebagai awal eksplorasi yang terjadi pada tahun 1883 yaitu diketemukannya lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan oleh seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker.

Penemuan-penemuan selanjutnya juga dilakukan dengan pengeboran sumur ini kemudian disusul oleh penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Penemuan lapangan Telaga Said oleh Zeijlker menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini dikenal sebagai Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa Tengah, Minyak Hitam di dekat Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah Sanga­Sanga, Kalimantan.

Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang kemudian dengan Shell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

2

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3 Desember 2011

Company. Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group yang terdiri atas B.P.M., yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun kemudian diambil alih oleh B.P.M.

Awal masuknya Amerika dalam industri Migas di Indonesia.

Pada tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia. Pertama kali dibentuk perusahaan N.V. Standard Vacuum Petroleum Maatschappij atau disingkat SVPM. Perusahaan ini mempunyai cabang di Sumatera Selatan dengan nama N.V.N.K.P.M (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) yang sesudah perang kemerdekaan berubah menjadi P.T. Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan Pendopo pada tahun 1921 yang merupakan lapangan terbesar di Indonesia pada jaman itu.

Untuk menandingi perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dengan B.P.M. yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij. Dalam perkembangan berikutnya setelah perang dunia ke-2, perusahaan ini berubah menjadi P.T. Permindo dan pada tahun 1968 menjadi P.T. Pertamina.

Pada awalnya Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan pembedaan antara Shell dengan perusahaan lain. Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika baru yaitu Standard Oil of California dan Texaco. Pada tahun 1920 ini di Amerika diundangkan "General Lisencing Act" yang mengusulkan untuk non discriminasi

Kemudian, pada tahun 1930 dua perusahaan ini membentuk N.V.N.P.P.M (Nederlandsche Pasific Petroleum Mij) dan menjelma menjadi P.T. Caltex Pasific Indonesia, sekarang P.T. Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi besar-besaran di Sumatera bagian tengah dan pada tahun 1940 menemukan lapangan Sebangga disusul pada tahun berikutnya 1941 menemukan lapangan Duri. Di daerah konsesi perusahaan ini, pada tahun 1944 tentara Jepang

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

3

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3 Desember 2011

menemukan lapangan raksasa Minas yang kemudian dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950.

Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian Jaya dibentuk perusahaan gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij) dengan hak eksplorasi selama 25 tahun. Hasilnya pada tahun 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele. Namun, karena hasilnya dianggap tidak berarti akhirnya diseraterimakan kepada perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Pertamina tahun 1965.

Setelah perang kemerdekaan di era revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadi pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1945 didirikan P.T. Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 menjadi perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara. Pada tahun 1957 didirikan P.T. Permina oleh Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi P.N. Permina pada tahun 1960. Pada tahun 1959, N.I.A.M. menjelma menjadi P.T. Permindo yang kemudian pada tahun 1961 berubah lagi menjadi P.N. Pertamin. Pada waktu itu juga telah berdiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur P.T.M.R.I (Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia) yang menjadi P.N. Permigan dan setelah tahun1965 diambil alih oleh P.N. Permina.

Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan diganti dengan sistem kontrak karya. Tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.M. Permina. Tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan B.P.M. - Shell Indonesia oleh P.N. Permina. Pada tahun itu diterapkan kontrak bagi hasil (production sharing) yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi P.N. Permina dan P.N. Pertamin. Perusahaan asing hanya bisa bergerak sebagai kontraktor dengan hasil produksi minyak dibagikan bukan lagi membayar royalty.

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

4

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3 Desember 2011

Sejak tahun 1967 eksplorasi besar-besaran dilakukan baik di darat maupun di laut oleh P.N. Pertamin dan P.N. Permina bersama dengan kontraktor asing. Tahun 1968 P.N. Pertamin dan P.N. Permina digabung menjadi P.N. Pertamina dan menjadi satu­satunya perusahaan minyak nasional. Di tahun 1969 ditemukan lapangan minyak lepas pantai yang diberi nama lapangan Arjuna di dekat Pemanukan, Jabar. Tidak lama setelah itu ditemukan lapangan minyak Jatibarang oleh Pertamina. Kini perusahaan minyak PERTAMINA ini tengah berbenah diri menuju perusahaan bertaraf internasional.

Pertumbuhan dan pengembangan lapangan migas di Indonesia mencapai puncaknya ketika produksi minyak Indonesia mencapai diatas satu setengah juta barel perhari yang dicapai pada tahun 1977.

Arun LNG sebagai awal pemicu produksi Gas di Indonesia.

Produksi gas mulai menggeliat ketika gas mulai diperdagangkan dan mulai dipergunakan sebagai energi. Pada tahun 1972 ditemukan sumber gas alam lepas pantai di ladang North Sumatra Offshore (NSO) yang terletak di Selat Malaka pada jarak sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di Blang Lancang. Selanjutnya pada tahun 1998 dilakukan pembangunan proyek NSO "A" yang diliputi unit pengolahan gas untuk fasilitas lepas pantai (offshore) dan di PT Arun. Fasilitas ini dibangun untuk mengolah 450 MMSCFD gas alam dari lepas pantai sebagai tambahan bahan baku gas alam dari ladang arun di Lhoksukon yang semakin berkurang.

Tanggal 16 Maret 1974, PT Arun didirikan sebagai perusahaan operator. Perusahaan ini baru diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977).

Produksi gas Indonesia terus meningkat hingga tahun 2000 ini dan masih menunjukkan produksi yang terus meningkat setelah gas dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri dengan pemipaan (pipe gas).

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

5

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3 Desember 2011

Penemuan lapangan gas terbesar di Indonesia diketemukan di Laut Natuna di Lapangan D-Alpha. Lapangan ini memiliki kandungan gas lebih dari 200 TCF, namun hampir 70% merupakan CO2. Total hydrocarbon (combustible) gas sekitar 40 TCF. Karena banyaknya porsi kandungan CO2 ini menjadikan pengembangan lapangan ini terus tertunda hingga saat ini.

Penemuan lapangan-lapangan minyak semakin sulit dan gas di Indonesia ini membuat pengelolaan migas dengan PSC (Production Sharing Contract).

PSC pertamakali diintroduce tahun 1965. Hingga saat ini PSC di Indonesia sudah melewati 3 generasi.

v Generasi pertama (1965 - 1978) dimana cost recovery dibatasi sebesar 40%, bagian kontraktor adalah 35% bersih dan DMO tanpa grace period.

v Generasi kedua (1978 - 1988) dimana cost recovery tidak ada pembatasan, bagian kontraktor 15% bersih, investment credit sebesar 20% dan DMO dengan harga pasar untuk 5 tahun.

v Generasi ketiga (1988 - sekarang) dimana mulai dikenalkan adanya FTP (First Tranche Petroleum) yang besarnya 20% dari produksi gross serta DMO yang bervariasi antara harga ekspor.

Perubahan Pengelolaan Migas Pasca Reformasi

Setelah Reformasi politik terjadi di Indonesia tahun 1998, perubahan pengelolaan migas berubah menjadi sangat berbeda

Pada tanggal 23 Nopember 2001 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dimana yang menjadi dasar pertimbangan diundangkannya Undang-Undang tersebut adalah sudah tidak sesuainya lagi UU No. 44 Prp. Tahun 1960 dengan perkembangan usaha pertambangan migas baik dalam taraf nasional maupun internasional.

Perubahan yang terjadi pada UU Migas 22/2001 ini dapat disarikan sepeti dibawah ini.

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

6

Lokakarya]urna|istiktentang MigasuntukVVartaxxandi]axxaTinnur 3Oesennber2011

Yang pa|ing utanna da|ann pennbaharuan penge|o|aan nnigas ini ada|ah penga|ihan penge|o|aan nnigas da|ann Kuasa Pertannbangan dari Perusahaan Negara PE~TAMINA kepadapennerintah.

Sa|ah satu ha| utanna sebagai konsekuensi pengesahan UU 22/2001 ini ada|ah per|u

dibentuknya BPMIGAS, BHMIGASsertaperubahan

PE~TAMINA nnen jadi

persero. PE~TAMINA

bukan |agi sebagai perusahaan penge|o|a dan

pennegang kuasa

pertannbangan. Oa|ann

kegiatan hu|u PE~TAMINA akan nnen jadi perusahaan yang diber|akukan seperti

perusahaan-perusahaan kontraktor. ~an akhirnya PE~TAMINA juga nnendandatangani KKKSdengan MIGASpadatangga| 17 Septennber 2005.

Oa|ann ha| produksi nasiona|, BPMIGAS nnen jadi badan negara yang nnenge|o|a produksi atasbagihasi| di |apangan-|apanganyang dike|o|a o|eh kontraktor(KKKS).

~~~~~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~ ~~~~ ~~~ ~~~~ ~~~~~~~~~~~~ ~~~~ ~~~

Penennuan-penennuan gas sete|ah tahun 1990 banyakdi junnpai di Indonesia Tinnur. Tentusa ja daerah ini su|it untuk dikennbangkan dengan ~epat. ]uga sete|ah

~ise|enggarakano|eh LPOS Beker jasannadengan KKKS C|uster Bo jonegoro& BPMIGAS]apa|u.

7

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3 Desember 2011

diundangkan UU Migas 22/2001 ini penemuan migas sangat menurun. Hanya penemuan lapangan-lapangan kecil yg dijumpai.

Didalam pengusahaan migas usaha eksplorasi merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi. Permasalahan yang sering dijumpai dalam usaha penemuan minyak (eksplorasi) ini terutama tumpang tindih lahan, tumpang tindih aturan ( ESDM - KEHUTANAN - PERIKANAN - KELAUTAN­PERHUBUNGAN), keterbatasan data, serta sulitnya akses dan minimnya infra stru ktu r.

Lemahnya niat pemerintah dalam usaha peningkatan produksi dengan usaha eksplorasi ini tercermin pada minimnya dana Plow Back. Dari enerimaan Negara Dari Sektor Migas Sebesar 28% hanya diberikan Plow Back Migas 0,07% Dari Penerimaan Sektor ESDM Tahun 2011. Rata-rata perusahaan migas akan mengeluarkan 10-20% anggarannya untuk usaha eksplorasi (pencarian lapangan baru). Dengan cara investasi seperti inilah perusahaan dapat bertahan. Semestinya negara (pemerintah) juga melakukan usaha eksplorasi dengan memberikan belanja untuk penyediaan dan akuisisi data baru untuk melakukan penelitian serta perbaikan infrastruktur eksplorasi.

Dalam dunia migas data untuk kegiatan eksplorasi merupakan "soft infrastrcuture". Pengambilan data baru yang diambil dari dana APBN perlu ditambah untuk menjamin ketersediaan energi migas dimasa mendatang.

Referensi :

- Teuku H. Moehammad Hasan (1985), "Sejarah Perjuangan Perminyakan Nasional. Penerbit : Yayasan Sari Pinang Sakti Jakarta.

- Adendum "Tinjauan Historis Yuridis Pengusahaan Pertambangan Migas di Indonesia", oleh BPK. Diambil dari :

(http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/HisYuridis_usahamigas.pdf) - Berbagai sumber lain di Internet.

 

Penulis:

Rovicky Dwi Putrohari, Presiden IAGI (2001-2014) telah berpengalaman lebih dari 24 tahun didunia eksplorasi dan produksi migas. Telah bekerja di banyak perusahaan diantaranya : HUDBAY, LASMO, KONDUR, SHELL-Brunei, TOTAL, MURPHY-Kuala Lumpur serta saat ini bekerja di HESS Ltd sebagai Geological Advisor. Bepengalaman dalam usaha eksplorasi migas di darat maupun di laut. Juga berpengalaman dalam usaha awal eksplorasi (New Venture), hingga pengembangan lapangan. Penulis juga pengelola Blog yang bernama "Dongeng Geologi" (http://www.rovicky.com dan http://rovicky.wordpress.com) membahas fenomena geologi dalam bidang pemanfaatan sumberdaya alam, mitigasi kebencanaan dan pelestarian lingkungan.

 

 

Diselenggarakan oleh LPDS Bekerja sama dengan KKKS Cluster Bojonegoro & BPMIGAS Japalu.

 

LAST_UPDATED2