Separuh Hidupnya Teliti Fauna Kalteng

Ditulis oleh Yani Basaroni. Posted in ClimateReporter

Laporan Yani Basaroni, Koran Babel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

LAHG, Palangka Raya, Koran Babel/ClimateReporter — Ekosistem alam terus terjaga di Bumi Tambun Bungai antara lain berkat Ari Purwanto. Pria 44 tahun ini   peneliti fauna di Pusat Kerja Sama Internasional dalam Tata Kelola Berkelanjutan Lahan Gambut Tropis, CIMTROP, Universitas Palangka Raya.

Warga Kalteng khususnya Kota Palangka Raya bisa berbangga hati karena Ari warga pribumi dengan ikhlas memberikan separuh hidupnya untuk meneliti satwa di Kalteng.

Di lahan hutan gambut seluas 50.000 hektare tersebut. Pria berkulit sawo matang ini mengaku telah berja di CIMTROP sejak 1997. Namun, saat itu ia belum terikat kontrak kerja, karena lebih memilih sebagai pekerja harian yang tidak terikat kontrak.

“Baru empat tahun belakangan ini, saya melakukan kontrak kerja sama menjadi peneliti fauna di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), CIMTROP,” kata Ari kepada peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang bertandang ke LAHG di tepi barat daya Palangka Raya.

Ia mengungkapkan profesi peneliti fauna ini dipilih, lantaran setiap tahunnya habitat fauna di Kalteng terus berkurang. Tidak lain penyebabnya karena kebakaran hutan dan lahan gambut setiap musim kemarau. “Sangat disayangkan. Kami melakukan investigasi ke lapangan bersama pihak terkait. Ternyata, kebakaran terjadi karena ulah manusia yang ingin menguasai lahan, untuk bercocok tanam hingga kepentingan perusahaan kelapa sawit,” jelas Ari, sarjana pertanian lulusan Universitas Palangka Raya tahun 2000.

Salah satu siklus pengembangbiakan fauna terganggu paskakebakaran, yakni binatang jenis kupu-kupu. Di LAHG sendiri tidak ditemukan satupun kupu-kupu yang berterbangan saat terjadinya kebakaran. Mereka terindikasi mati karena pengaruh asap.

“Paskakebakaran hutan di Kalteng satu bulan belakangan (akhir 2015), sekarang kupu-kupu kembali bermunculan,” pria beranak dua tersebut sambil tersenyum.

Setelah terjadinya kebakaran ini pula, Ari mengaku menemukan hal yang menarik untuk diteliti. Ia mendapati warna fisik kupu-kupu bermunculan saat ini buram atau gelap disertai bintik-bintik kotor. Sebelumnya, meskipun gelap, warnanya tetap indah karena terdapat lapisan warna metalik menyelimuti warna buram kupu-kupu.
“Saat ini sedang saya teliti penyebabnya apa. Entah apakah pengaruh dari kabut asap atau memang faktor genetika dari kupu-kupu itu sendiri,”ceritanya.

Jumlah spesies kupu-kupu di LAHG ini sendiri lebih dari 50. Angka itu sendiri ia yakini terus bertambah karena paskakebakaran banyak bermuncul kupu-kupu dengan warna berbeda dari biasanya tersebut.

“Selama ini kupu-kupu yang sering kita jumpai di LAHG, CIMTROP, antara lain jenis troides andromache, pachliopta aristolochiae, papilio nephelus dan papilio memnon,” kata Ari.

Sebelum melakukan penelitian kupu-kupu, Ari mengaku sempat meneliti pertumbuhan kura-kura dan tupai. Ia beralih ke kupu-kupu alasannya karena habitat kupu-kupu secara ekologi sangat penting terhadap ekosistem alam di pulau Kalimantan.

“Secara alamiah usai mengambil sari bunga tumbuhan, kupu-kupu akan menebarkan serbuk bunga yang diambil sarinya tersebut ke tanaman lain. Sebaran serbuk itu sendiri akan berpengaruh terhadap regenerasi tumbuhan di sekitaran hutan sehingga pada akhirnya ekosistem alam di Taman Nasional Sebangaupun terus terjaga kelestariannya,” ulas Ari.

Di samping itu, kupu-kupu sangat peka akan perubahan lingkungan, baik kondisi vegetasi maupun tingkat pencemarannya. Karena keragaman jenis kupu-kupu yang tinggi hanya dapat dijumpai pada lingkungan yang asri.

“Keberadaan kupu-kupu juga kami jadikan indikator kesehatan lingkungan setempat,” katanya seraya mengatakan lama hidup kupu-kupu hanya tiga bulan setelah melalui masa telur hingga kepompong. Kupu-kupu bermunculan pada pagi hari sekitar pukul 09.00 hingga pukul 14.00, kata Ari, memiliki daya tarik tersendiri, terutama aktifitas kupu-kupu bermain antara satu dengan yang lainnya.

“Jika pemerintah jeli, keberadaan kupu-kupu bisa mendorong program ekowisata pemerintah setempat,” ungkapnya.

Dengan optimisnya, ia berjanji akan terus melakukan penelitian kupu-kupu endemik pulau Kalimantan seperti kupu-kupu sayap burung. Ia akan terus mencari formulasi-formulasi ilmiah agar habitat kupu-kupu di Kalimantan terus terjaga keasriannya.

Salah satu  formulasi ampuh yang ia dapati, yakni menanam pohon yang menjadi sumber makanan kupu-kupu dengan jumlah banyak di hutan.

“Selagi sehat, saya akan terus melakukan penelitian hingga hasilnya bermanfaat bagi roda kehidupan mahluk hidup di bumi khususnya Kalteng,”ungkapnya.

Saat melakukan penelitian, Ari bisa menginap di hutan hingga 1 minggu lamanya. Jarak dari camp pusat LAHG mencapai 20 km dengan kondisi jalan berair disertai lumpur dan semak belukar.

“Kalau mau mendapatkan data yang lebih detail terhadap objek yang sedang kita teliti, ya harus menginap di lokasi sekitar objek penelitian,” kata Ari.

Mengenai risiko profesi. menurut Ari, semua profesi tetap ada risikonya. Bagi mereka, risiko yang sering ditemui, berhadapan dengan hewan buas seperti beruang, harimau, ular hingga buaya saat melakukan penelitian ke hutan. Tidak sungkan ia memberitahukan pengalamannya pernah di gigit ular, tersengat lebah hingga luka terkena tebasan parang saat membuka jalan menuju lokasi tujuan.

“Meskipun upah yang diperoleh lebih dari Rp.4 juta dianggap masih belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, namun hati saya akan selalu semangat menjaga kelestarian lingkungan hidup,” ulasnya.

“Sayapun telah menyerahkan setengah hidup ini untuk menjaga keberlangsungan ekosistem alam Kalteng melalui kegiatan penelitian,” tambahnya.

Ari mengajak seluruh elemen masyarakat di Indonesia khususnya Kalteng untuk melestarikan lingkungan sekitar.

“Oksigen sumbernya Tumbuhan di Hutan. kalau kita ingin berumur panjang, jagalah lingkungan sekitar,” tutupnya.