Menghalau Api di Bumi Tambun Bungai PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nico Pattipawae   
Kamis, 18 Mei 2017 17:46

Share this post

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah (SCTV/ClimateReporter) - “Saya hadir ketika banyak orang tidak tertarik. Di situlah saya berpikir,kalau mau membangun  dan berbuat sesuatu yang baik kita harus mulai dari tempat yang paling sulit,dan saya bertekad untuk memulihkan kembali ekonomi masyarakat yang telah hancur pasca kebakaran hutan,” kata Pak Janu.

Kalimat ini dilontarkan Januminro Bunsal ketika kami duduk dan berbincang-bincang di sebuah tenda kecil di hutan gambut di Desa Tumbangnusa, Kabupaten Pulang Pisau. Desa di Kecamatan Jabiren Raya ini 30 km selatan Palangka Raya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Percakapan mencakup kebakaran hutan gambut dan kabut asap yang menyelimuti Pulang Pisau  Agustus – Nov  2015.

Obrolan berlangsung di hutan gambut 10 hektare Jumpun Pambelom (Hutan Sumber Kehidupan) milik Pak Janu. Jumpun Pambelom dengan mudah dicapai  dalam  40 menit berada di pinggir jalan utama trans Kalimantan ke arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kehadiran kami di Jumpun Pambelom untuk meliput perubahan iklim pascakebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah berakibat  sebagian masyarakat harus mengungsi. Pada 1997 Pak Janu membeli 10 hektare lahan  dari masyarakat. Ia  bingung,apa yang harus ia lakukan di lahan seluas itu.berbekal pengetahuan tentang hutan. Pak Janu akhirnya bertekad untuk menjadikan lahan tersebut menjadi hutan kota terluas di Indonesia.

Impiannya kandas ketika ia dimutasi dari dinas kehutanan dan menduduki jabatan baru sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa,dan Politik Masyarakat, Kota Palangka Raya.

Upaya Pak Janu tak berhenti sampai di situ, bersama 30 warga setempat, Ia terus melakukan upaya untuk memperbaiki keadaan ekonomi warga   dengan cara membuat sekat kanal drainase lahan gambut berbasis masyarakat.

Pada 1995 Presiden Soeharto mau Indonesia berswasembada beras dengan menjadikan Kalimantan Tengah lumbung padi. Untuk itu, 1,4 juta hektare lahan gambut Kalimantan Tengah dialihgunakan  menjadi sawah.  Rawa gambut  mengandung air banyak. Rawa dikeringkan dengan pembangunan jejaring kanal drainase  total sepanjang 4.000 km.

Proyek Lahan Gambut (PLG) ini tidak berhasil. Lahan gambut kering mudah terbakar. Sejak 1997 Kalimantan Tengah mengalami kebakaran tahunan pada musim kemarau. Dua titik puncak kebakaran ialah pada 1997 dan 2015.

Sekat kanal berbasis masyarkat adalah.sebuah sekat berbentuk parit. Panjangnya dapat dibuat sesuai dengan keinginan warga. Sekat kanal berbasis masyarakat berfungsi sebagai tempat pembibitan ikan air tawar jenis lele .Selain itu sekat kanal juga dapat berfungsi untuk melokalisir api jika terjadi kebakaran.

Sumur Bor

Untuk mejaga air tetap bersih, saat ini kebanyakan masyarakat memilih   menggantikan sumur galian dengan membuat sumur bor. Hal tersebut dinilai sangat praktis karena pembuatan sumur bor tidak membutuhkan lahan luas.

Hanya berbekal mesin pompa air serta beberapa batang pipa besi dengan diameter 0,5 inci atau satu inci,mereka sudah dapat membuat sumur bor dengan mudah bersumber mata air dalam tanah.

Sejak tahun 2000 Jumpun Pambelom sudah menggunakan sumur bor. Saat itu penggunaan sumur bor sebatas menyiram bibit tanaman.

Tidak disangka,sumur bor menjadi primadona saat terjadinya kebakaran hutan yang menghanguskan ribuan hektar lahan gambut di Kalimantan.

Sumur bor tersebut dibuat di areal hutan dengan jarak 200 meter dengan kedalaman bor 18-20 meter. Jarak antarsumur menyesuaikan panjang maksimal selang, yaitu 50 meter per selang. Jarak tembak air sumur bor dapat mencapai 100 meter bahkan lebih,tergantung merek mesin dan panjangnya selang yang digunakan.

Cara menggunakan sumur bor pun tergolong mudah. Tim serbu api (TSA) Jumpun Pambelom berjumlah 30 orang hanya perlu sedikit waktu untuk memasang selang pada pipa sumur bor. Tinggi sumur bor kurang lebih 50 sentimeter dari permukaan tanah. Setelah selang terpasang, tim menghidupkan mesin. Tembakan air memadamkan api.

Pak Janu pun berharap masyarakat Kalimantan Tengah yang dengan sengaja membakar lahan gambut agar menjaga dan mengawasi sehingga api tidak merembet dan membakar hutan.

Donor Bersimpatik
Ketika menjadi Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pulang Pisau   2000-2004, Pak Janu mendorong sedikitnya 200 warga setempat untuk membibitkan aneka tanaman. Selama dua tahun warga telah menghasilkan enam juta bibit pohon atas dorongan Pak Janu,

Kini di sekitar hutan itu warga mulai secara mandiri membuka usaha pembibitan serta mengadopsi beberapa tanaman yang didatangkan dari luar Kalimantan.
Supaya aman, bibit yang tumbuh di lahan gambut yang rawan banjir minimal tingginya sudah 1 meter dengan diameter batang 1 sentimeter. Bibit seperti ini lebih kuat menghadapi genangan air setinggi 50 sentimeter di rawa gambut saat musim hujan, kata Pak Janu.

Perjuangan Pak Janu dan warga di sekitar Jumpun Pambelom tentunya membutuhkan biaya.  Kementerian Kehutanan, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), bahkan perorangan dari berbagai penjuru  tanah air telah menjadi donor.

Selain itu, Bank Negara Indonesia (BNI) membantu dengan bermitra dalam program adopsi pohon. Program  tanggung jawab sosial perusahaan itu dilakukan dengan memberikan donasi Rp 100.000 per batang. Bibit yang disediakan antara lain ulin, jelutung, gaharu, ramin, blangiran, dan pasak bumi.

Bersama rekan-rekan akademisi dari Dinas Kehutanan, Pak Janu juga membentuk  Lembaga Tane Ranu Dayak pada 2012. Lembaga itu menyediakan fasilitas penyuluhan  pertanian, kehutanan, dan riset lahan gambut. Hal itu diwujudkan dengan terbukanya akses bagi siapa saja yang ingin berkunjung untuk belajar di hutan tersebut.

Anak Muda
Pak Janu bukanlah merupakan satu-satunya sosok yang berperan dalam pelestarian Hutan Kota di Kabupaten Pulang Pisau. Kurang Lebih 30 warga di sekitar Jumpun Pambelom yang selama lebih sepuluh tahun ikut terlibat dalam memadamkan api saat terjadi kebakaran hutan dan lahan gambut akhir 2015 lalu.

Salah satu warga yang turut terlibat dalam upaya pemadaman api di Jumpun Pambelom adalah Hendra. Hendara merupakan warga asli Kalimantan Tengah yang sejak setahun terakhir sangat aktif membantu Pak Janu.

Walau masih berusia 17 tahun, Hendra sudah beberapa kali ikut memadamkan api   kebakaran hutan dan lahan gambut.

“Saya sekarang kelas tiga SMA. Tahun ini akan menyelesaikan pendidikan terakhir. Saya ingin jadi tentara agar tetap dapat membantu Pak Janu dan teman-teman,” tutur Hendra.

Hendra bercerita ketika dirinya bersama warga berusaha memadamkan dan melokalisir api.

“Saat itu saya dengan beberapa warga sedang istirahat. Tiba-tiba kami mendengar teriakan agar segera bergerak masuk ke hutan. Saya pun bergegas masuk ke hutan dan disuruh menyambung selang pada pipa yang merupakan sumur bor dan kemudian menghidupkan mesin lalu menyemprot api yang semakin dekat ke perbatasan hutan Jumpun Pambelom,” papar Hendra dengan sedikit terbata-bata.

Hendra menuturkan,apa yang dilakukan selama ini hanyalah bentuk keprihatinan melihat kondisi generasi muda yang seakan-akan tidak peduli terhadap lingkungan.
“Saya tidak akan menyesal menghabiskan masa muda untuk membantu Pak Janu dan warga  karena merupakan pekerjaan yang mulia,” tutupnya.

Atas upayanya merestorasi hutan gambut  serta mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan pembibitan pohon, Janu menerima beberapa penghargaan yakni Kehati Award 2014, Kalpataru 2015, dan Satya Lencana Wira Karya 2015.