Orang Utan Jadi Anggota Keluarga Bagi Sri PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ahmad Sidik   
Kamis, 18 Mei 2017 18:03

Share this post

Laporan Ahmad Sidik, Tribun Kaltim
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke pusat rehab orang utan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Feb 2016



Koordinator Baby Sitter BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Sri Rahayu.

Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (Tribun Kaltim/ClimateReporter) - Semua ibu pasti pernah merasa kesal kepada anaknya saat anak melakukan kenakalannya. Begitu pula dengan Sri Rahayu.

Koordinator baby sitter Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng Kalimantan Tengah, Sri Rahayu, 40, pernah mencubit anak orang utan asuhannya. Karena kesal is mencubit anak orang utan dan memarahinya.

“Orang utan biasa suka usil dan membuat saya kesal. Dia tahu kalau kita marah. Saya juga pernah marah saat merawat,  mencubit orang utan dan memarahinya. Orang utan mengerti saat orang yang berada di dekatnya sedang emosi,” ungkap Sri.

Wanita asal Barito Selatan ini  sudah enam tahun menekuni pekerjaan sebagai baby sitter. Baginya merawat dan menjaga orang utan merupakan hal yang menyenangkan. Awalnya Sri, sapaan akrab Sri Rahayu, merasa takut dengan orang utan. Banyak yang bilang  orang utan Kalimantan atau yang bernama latin Pongo Pygmaueus agresif dan galak. Namun saat ia beberapa hari bersama orang utan, ia merasakan orang utan seperti anaknya sendiri.

“Orangutan liar, ganas? itu tidak benar, kecuali musim kawin atau merasa terganggu mereka lebih agresif,” ungkap Sri.

Sri mempunyai orang utan yang ia asuh sejak bayi hingga dilepasliarkan. Orang utan tersebut bernama  Jeki. Pernah waktu pertama menemani Jeki di Nyaru Menteng, Sri dua hari tiga malam tidak pulang. Sri harus menjaga Jeki yang terkena luka bakar. Jeki ditemukan di sebuah kebun sawit yang terbakar dalam keadaan luka bakar di sekujur tubuhnya.

“Dua hari tiga malam tidak pulang untuk  Jeki. Dia kena luka bakar dari sawit,” ujarnya.

Sri dan Jeki sudah terpisah sejak satu tahun lalu, meski begitu masih ada kenangan yang tersimpan selama ia merawat Jeki. Sewaktu kesal Sri pernah mencubit dan memarahi Jeki. Seperti ikatan batin antara anak dan ibu, Sri terkadang masih teringat dengan Jeki.

“Sudah lebih lima tahun saya merawat Jeki, tentu ada ikatan batin tersendiri. Orang utan juga memiliki sifat seperti manusia. Saat saya marah karena kenakalannya, saya pernah berkata kasar dan mencubit tangannya. Jeki mengerti kalau saya sedang marah,” jelas Sri.

Setiap hari baby sitter memberi makan lima kilogram sampai enam kilogram buah dan sayur untuk satu orang utan. Dia mengamati setiap progres yang terjadi selama perkembangan orang utan yang dijaganya.

Di sekolah orang utan, Sri dan 57 baby sitter lainnya mengajarkan orang utan agar bisa kembali kepada sifat dasarnya. Orang utan diajari untuk mencari makan sendiri, memanjat pohon, berayun, bahkan menghadapi trauma yang mungkin pernah dialami selama bersama manusia maupun selama berada di alam liar.

Sri pernah menjumpai orang utan yang mengalami trauma akan api. Orang utan tersebut merupakan orang utan yang didapat di sebuah hutan yang terbakar. Akibat peristiwa kebakaran tersebut, para baby sitter juga mengajarkan orang utan untuk menghadapi api ketika disekitarnya terjadi kebakaran.

Orang utan memiliki siklus yang sama dengan manusia. Orang utan betina bisa mengalami menstruasi meski rentan waktu yang lebih singkat. Ada jenis makanan tertentu dan hormon yang berbeda yang menyebabkan orang utan mengalami menstruasi lebih singkat dari manusia. Selain itu orang utan mengandung janinnya selama sembilan bulan hingga bayi orang utan terlahir.

Induk orang utan dan bayi orang utan tidak terpisahkan selama tujuh tahun. Selama satu sampai tiga tahun bayi orang utan akan berada dalam gendongan induknya. Ketika lebih dari empat tahun, induk orang utan akan membiarkan bayinya bermain dan masih dalam pengawasan. Jika sewaktu waktu induk mendeteksi adanya ancaman baik dari predator maupun bahaya lainnya, bayi orang utan segera dibawa untuk diamankan.

Selama kurun waktu tujuh tahun, induk akan mengajarkan berbagai macam hal tentang kehidupan orang utan. Umumnya setelah lebih dari tujuh tahun, bayi orang utan akan dilepas dan berpisah dari induknya.

“Induk orang utan  melatih anaknya selama tujuh tahun. Biasanya saat induk orang utan dilepasliarkan dan memiliki bayi yang masih dalam gendongan, orang utan tersebut akan dilepaskan bersama anaknya,” kata Sri.

Tugas berikutnya akan lebih besar untuk Sri Rahayu dan teman temannya. Ancaman kebakaran yang setiap tahunnya melanda Kalimantan Tengah bisa jadi menghilangkan semua habitat orang utan. Bila tidak ada habitat untuk kembali bagi orang utan setelah keluar dari rehabilitasi, orang utan pun tidak akan kembali kehabitatnya.

Jiwa kepedulian Sri sudah melekat bagai dua besi yang dilekatkan dengan las. Orang utan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Merawat dan mengantarkan primata asli Kalimantan ke habitat aslinya merupakan sebuah kebahagiaan.

“Saya senang dengan yang saya lakukan saat ini. Orang utan sudah seperti keluarga bagi saya,” ujarnya.