Pertanian Organik dan Mitigasi Perubahan Iklim PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Rindra Devita   
Kamis, 18 Mei 2017 18:41

Share this post

Laporan Rindra Devita, Harian Bali Post, Denpasar
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kuta Desember 2016. Karya ini dimuat di BaliPost.com 12 Jan 2017


Ilustrasi petani sedang menanam padi di sawah. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kipas angin berputar kencang, menebar udara segar di Sekretariat Walhi Bali, Rabu (11/1). Di dalam ruangan berukuran 3,5 x 3 meter, sudah ada Direktur Eksekutif Walhi Bali, Suriadi Darmoko dan Divisi Program Walhi Bali, Gilang Pratama. Walhi adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, sebuah organisasi advokasi besar lingkungan hidup.

Dua pemuda ini biasanya kerap terlihat dalam berbagai aksi tolak reklamasi Teluk Benoa. Mungkin tak ada yang menduga kalau mereka juga turun langsung menggugah kesadaran petani untuk kembali menekuni pertanian organik. “Kita nggak mau pakai kata organik, karena kan kadang-kadang stigmanya itu seperti hal yang baru atau mahal. Bahkan kalau ke petani pun dikasih pertanian organik, susah connect-nya dia. Padahal sebenarnya itu secara praktek sudah pernah dilakukan oleh petani,” ujar Gilang membuka perbincangan.

Menurut Gilang, Walhi Bali sejak akhir 2013 lalu memang mendampingi salah satu kelompok tani di Penebel, Tabanan khusus untuk petani beras merah. Ternyata lebih gampang mengingatkan petani tentang sistem pertanian yang dulu pernah mereka lakukan sebelum beralih ke pertanian konvensional.

Istilah organik lalu diganti menjadi pertanian sehat atau alami yang mudah diterima. “Karena juga soal organik kan nanti dikejar, ditanyain sertifikat organiknya. Padahal organik itu juga proses kan. Misalnya kita 100% penerapannya organik belum tentu juga hasilnya organik karena sisa-sisa kimia pada masa-masa tanam sebelumnya kan masih ada disana,” jelasnya.

Suriadi atau Moko menimpali, ketika bicara organik, petani justru membayangkan harus membeli pupuk organik sehingga sama saja dengan pertanian konvensional. Yakni, sama-sama mengeluarkan biaya untuk pupuk. Terlebih, pupuk organik diproduksi juga oleh produsen-produsen pupuk kimia.

Padahal konsep organik seharusnya adalah pertanian yang mengurangi biaya produksi petani.

“Ketika kita bicara soal pertanian alami, memanfaatkan apa yang ada di sekitar situ maka bayangannya juga berbeda. O… ini bisa pakai pupuk kandang, bisa menggunakan kencing sapi, kemudian menggunakan bibit lokal, sehingga secara modal mereka lebih sedikit. Saat sudah mencapai O… inilah kita jadi enak ngobrol dengan petani,” paparnya mengenang.

Baca juga:  Cuaca Cenderung Lembab, Petani Keringkan Kopi ke Buleleng

Di sisi lain, lanjut Moko, petani sebetulnya sudah memiliki kesadaran penuh memahami rantai makanan di sawah. Ini penting untuk mengatasi hama, agar tidak lagi bergantung dengan pestisida atau obat hama lainnya.

Misalnya untuk mengusir tikus, petani cukup mengurangi air di sawah. Sebab, obat kimia bisa saja turut membunuh organisme baik sampai mencemari air dan tanah.
Mitigasi

Moko melihat pertanian konvensional yang menggunakan bibit buatan pabrik (hibrida, red) memiliki rantai tersendiri. Pabrik apapun sudah mengatur dan memprediksi, ketika petani membeli bibit dari mereka maka dipastikan membeli pula pupuk dan obat hama dari pabrik itu.

Berbeda saat petani menekuni pertanian alami menggunakan bibit lokal atau bibit padi Bali.

“Ketika menanam bibit padi lokal, secara umur dia memang lebih panjang tapi dia tidak punya ketergantungan terhadap obat itu sehingga ketika bibit hibrida yang GMO ini dia punya ketergantungan, semua proses ini kan pabrik semua. Ketika menggunakan pertanian alami, pabrik-pabrik ini tidak bekerja,” ujarnya.

GMO (genetically modified organism) adalah organisme seperti bibit tanaman yang materi genetiknya diubah dengan teknik rekayasa. Walau produksi tanaman GMO bisa berlipat, kontroversinya ialah dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Itu sebabnya, lanjut Moko, pertanian alami memiliki dampak dalam konteks menekan perubahan iklim. Pasalnya, jejak karbon yang dihasilkan hampir tidak ada akibat tidak bekerjanya pabrik.

“Kalau yang buatan itu, belum ditanam saja sudah menghasilkan karbon,” celetuk Gilang menambahkan.

Dari segi proses, lanjut Gilang, masyarakat secara luas sudah mengetahui bila iklim telah berubah. Salah satu solusinya, tidak lain memperkuat alam ini secara baik lewat proses-proses yang alami.

“Kalau pertanian yang alami ini dia berusaha mengurangi pencemaran tanah, pencemaran air, kalau ditarik prospek secara lebih jauhnya dia kan pasti perlahan akan memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Mau nggak mau dia juga memperkuat alam kita dalam menghadapi perubahan iklim ini,” jelasnya.

Baca juga:  Pesatnya Pariwisata Buat Petani Ubud Makin Terhimpit

Diwawancara terpisah, Dosen Pertanian dan Klimatologi, Universitas Udayana, Dr. Ni Luh Kartini, bahkan menyebut pertanian organik sebagai bagian dari mitigasi bencana akibat perubahan iklim. Pupuk organik dari bahan-bahan alami dikatakan dapat meningkatkan daya pegang air di dalam tanah.

Keanekaragaman hayati juga tetap terjaga karena konsep pertanian organik bukan membunuh hama yang dapat memutus rantai makanan. “Lalu kaidah-kaidah bagaimana menanam yang baik, mempertahankan alam, bagaimana agar kualitas tanah supaya tetap bagus. Itu keuntungannya dibandingkan sistem pertanian konvensional,” ujarnya.

Kartini menambahkan, pertanian organik memungkinkan ada lebih banyak cacing yang bisa hidup. Sebab, hewan ini mengandung mikroorganisme yang menguntungkan bagi tanah.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memaksa petani agar kembali menekuni pertanian organik. “Di sini tidak ada keberanian untuk berubah, padahal kita sudah ada di ambang batas kehancuran. Semua menutup mata dan telinga, termasuk ahli-ahli tidak mau ikut mendorong,” keluhnya.