Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro, Cetak Mimpi Besar Anak Bantaran Bengawan Solo"

Ditulis oleh Super User. Posted in Uncategorised

Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro, Cetak Mimpi Besar Anak Bantaran Bengawan Solo

Jumat, 24 November 2017 | https://www.bangsaonline.com/berita/39491/yayasan-kampung-ilmu-bojonegoro-cetak-mimpi-besar-anak-bantaran-bengawan-solo

Mimpi adalah Kunci

Untuk Kita Menaklukkan Dunia

Berlarilah, Tanpa Lelah Sampai Engkau Meraihnya

INI penggalan syair sound track film fenomenal Lasykar Pelangi disutradarai Riri Riza, yang dinyanyikan Nidji. Bukan sekadar syair, tapi menjadi ruh dari semangat anak bangsa yang hidup dalam serba keterbatasan, untuk bisa berprestasi.

Mimpi!

Yah, semangat ini pula yang melatarbelakangi Muhammad Roqib untuk membangun komunitas Kampung Sinau, tahun 2011, atau 6 tahun setelah terbitnya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, dan 3 tahun setelah film dengan judul serupa dirilis.

“Saya dan beberapa teman mendirikan Kampung Sinau tahun 2011, secara mandiri. Kami ingin membangun mimpi bagi generasi bangsa. Dan kami pun mempunyai mimpi, untuk membesarkan komunitas kami,” kata Roqib, di sela mengajar anak-anak.

Tempat belajar anak-anak adalah di rumah Roqib, di mana lokasinya di tengah permukiman, juga berada di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo. Jarak dengan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu hanya sekitar 300 meter. Yaitu di Dusun Korgan RT 03 RW 05, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.

Dia mendirikan perpustkaan dan menyediakan buku bacaan bagi anak-anak dan masyarakat di tepi sungai itu. Untuk pengadaan buku misalnya, ia dan teman-temannya urunan. Begitu pula untuk perpustakaan dan tempat belajar, dia sediakan sukarela. Seiring berjalannya waktu, kata dia, komunitas dilembagakan dalam bentuk Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro (YKIB).

"Kami berusaha mandiri. Kami tidak mau meminta-minta untuk mendidik anak-anak ini. Kami selalu mengajarkan kepada anak-anak agar supaya punya mental mandiri, jangan tergantung kepada orang lain. Kami membangun mimpi, dan harus meraihnya," ujarnya.

"Awalnya dulu hanya ada beberapa siswa yang belajar di sini. Kami terus membangun mimpi untuk membesarkan lembaga ini. Hingga akhirnya, kini ada 180 siswa yang belajar. Kalau ditotal sudah ada 400-an anak yang belajar di Rumah Belajar Kampung Ilmu ini," urai dia. "Rumah Belajar ini ada untuk mendidik anak-anak agar mereka berani menghadirkan mimpi. Meski mereka dari keluarga kurang mampu, tinggal di desa, tetapi mereka harus berani meraih cita-cita. Saya yakin dengan pendidikan yang baik, mereka kelak akan bisa keluar dari jerat kemiskinan. Pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan," ujar Roqib yakin.

Ini adalah mimpi besar, dan perlahan namun pasti, dilaksanakan dengan kesungguhan hati, dan dukungan. Apalagi, sebagian besar siswa yang belajar di tempat ini merupakan anak-anak dari keluarga miskin yang tinggal di daerah bantaran Sungai Bengawan Solo, tinggal di kawasan industri migas Banyu Urip Blok Cepu, Kecamatan Gayam, serta anak yatim dan yatim piatu lainnya di Kecamatan Purwosari.

Dengan jumlah sebesar 400 siswa itu, anak-anak yang terdiri dari tingkat pendidikan SD hingga SMA ini, belajar di berbagai lokasi. Selain belajra di berbagai ruang di ‘markas’ Rumah Belajar yang sederhana, siswa juga belajar di teras-teras warga. Ini membuktikan, dukungan warga kepada aktivitas Rumah Belajar sangat besar. Yah! Seakan semua sepakat untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Mimpi mulai menapaki tangga kenyataan, di saat lembaga ini dilirik dan diajak kerjasama oleh sejumlah perusahaan, di antaranya adalah ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Perusahaan ini mengajak kerja sama dalam bidang pendidikan.

Maklum, karena Purwosari merupakan ring 2 wilayah operasi ExxonMobil Cepu di Bojonegoro. Sehingga perusahaan asal Amerika Serikat itu melakukan kerja sama dengan YKIB, misalnya program belajar energi migas, program peningkatan kualitas pendidikan, dan program cerdas cermat untuk anak sekolah.

"Kerja sama itu selain memberi kontribusi positif untuk dunia pendidikan di sekitar wilayah Blok Cepu, juga secara tidak langsung meningkatkan kapasitas penggerak di Kampung Ilmu. Ya kami saling membutuhkan," ujarnya.

Kini, kata dia, orang tua yang mempercayakan dan menitipkan anaknya untuk belajar di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro terus bertambah. Bukan hanya dari wilayah Purwosari saja melainkan juga dari Kecamatan Gayam, Padangan, Tambakrejo. "Apa yang kami perjuangkan disambut positif oleh warga. Dukungan dari warga ini semakin membuat kita semangat untuk mendidik anak-anak agar mereka kelak bisa mandiri dan meraih cita-citanya," ucapnya.

Tentunya, siswa yang kian bertambah, menjadikan kebutuhan tenaga pengajar pun meningkat tajam. Awalnya hanya ada tiga pengajar yakni Frensi Agustina, Muhammad Roqib, dan Min Qurin Amalia. Namun kini pengajarnya bertambah menjadi 12 orang.

Mereka semua lulusan sarjana dan bahkan ada yang lulusan pasca sarjana Unibraw Malang, Unesa Surabaya, ITS Surabaya, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. "Jadi pengajar di sini mereka mengabdi, mendidik anak-anak di daerah pinggiran ini agar cerdas dan meraih mimpinya. Itulah cita-cita kami bersama, dan mimpi kami bersama," tandasnya.

Anak-anak yang belajar di Rumah Belajar YKIB ini juga merasa nyaman dan terasa belajar di rumah sendiri. Putri Aulia, siswa kelas 6 dari Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, misalnya setiap hari belajar di sini. Meski dengan keterbatasan sebagai anak yatim, dia justeru semangat menuntut ilmu di kampung ilmu YKIB. "Belajar di sini sangat nyaman dan menyenangkan. Guru-gurunya sangat bersahabat dan materi yang diajarkan sangat sesuai dengan kebutuhan saya. Meski terkadang sangat ramai, tapi saya bisa menikmati belajar di tempat ini," ujar Putri Aulia.

Setiap hari, Putri sapaan karibnya, diantarkan ibunya untuk belajar di Rumah Belajar YKIB ini. Meski terkadang hujan deras, ia tetap meminta diantarkan untuk belajar di tempat ini.

Maklum, karena proses belajar-mengajar di YKIB ini pada sore hari. Tepatnya mulai pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 19.00 WIB. Ratusan murid YKIB ini selain mendapat ilmu pengetahuan umum juga mendapat ilmu pengetahuan agama, mulai Alquran, kitab hingga salat jamaah Magrib dan Isya secara bersama.

Dengan semangat yang sejalan dengan slogan ExxonMobil, "Taking on the world's toughest energy challenges."Adalah sebuah mimpi besar, dengan berani mengambil tantangan terberat di dunia. Pun demikian dengan Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. Awalnya hanya kegiatan belajar di satu dusun bantaran kali, Kecamatan Purwosari, kini dipercaya warga di Kecamatan Gayam, Padangan, Tambakrejo, untuk menitipkan anaknya belajar di YKIB.

Bukan tak mungkin, YKIB dipercaya warga se-Bojonegoro.

Ambil tantangan terbesarmu!

Kejar Mimpimu! (EN)

Kontak

Ditulis oleh Super User. Posted in Uncategorised

Gedung Dewan Pers Lt. 3


Jalan Kebon Sirih No. 34
Jakarta Pusat 10110
Telp. (021)3459838, 3840835
Fax. (021) 3840835
email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Hubungi : Ibu Detta dan Ibu Lucia (Bagian Pendidikan)

Tantangan BRG: Hidrologi, Regulasi, Pemberdayaan Masyarakat

Ditulis oleh Admin LPDS. Posted in Uncategorised

 

 

Palangka Raya, ClimateReporter, 20 Feb - “Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar yang merupakan megaproyek Presiden Soeharto, pada kenyataannya menjadi lahan sejuta masalah,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Sipeth Hermanto, mengutip mantan Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang.

Batas Waktu Lomba LPDS: 28 Feb

Ditulis oleh Super User. Posted in Uncategorised

Lembaga Pers Dr. Soetomo mengubah batas waktu lomba jurnalistik dari 31 Januari menjadi 28 Februari 2014. LPDS, sekolah wartawan di Jakarta, mengadakan lomba Meliput Perubahan Iklim (MPI). Hadiah lomba ialah Liputan ke Daerah Ketiga (travel fellowship) dan Kunjungan Kawasan (field trip) di sebuah daerah berhutan di dalam negeri pada awal 2014.

Uji Kompetensi Wartawan

Posted in Uncategorised

Standar Kompetensi Wartawan mengatur pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan dengan menyediakan beberapa ketentuan dan contoh perangkat uji. Di buku pedoman kompetensi sebelumnya yang diterbitkan Dewan Pers tahun 2005, bagian tentang uji kompetensi ini belum diatur. Standar Kompetensi Wartawan perlu mengatur pelaksanaan uji kompetensi agar Standar Kompetensi ini mudah diterapkan dan terukur.

Bagian I huruf “G” Standar Kompetensi Wartawan menjabarkan 11 ketentuan pokok tentang uji kompetensi, yaitu menyangkut peserta, pengulangan ujian, sengketa antarlembaga penguji, jangka waktu untuk dapat mengikuti ujian kembali, masa berlaku sertifikat, ketentuan berlakunya sertifikat, perangkat uji yang wajib digunakan, soal ujian, dan skala penilaian. Sedangkan di Bagian III dibahas tentang perangkat uji yang bersifat terbuka dan terukur berdasar tingkatan atau jenjang kompetensi. Di bagian ini, misalnya, diatur kewajiban penguji untuk menyampaikan kepada peserta tentang kriteria unjuk kerja, metode penilaian dan perangkat uji yang digunakan.

bersambung....