ClimateReporter
Wartawan Sumatra dan Kalimantan liput pascabencana api di Riau PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 09 Juni 2014 21:38

lpds-at-riauPekanbaru (LPDS News) - Nenas itu jalan keluar jangka pendek. Tanaman hutan seperti jelutung dan pelawan itu solusi jangka panjang. Bencana api melanda lima kabupaten dan satu kota Riau Februari – Maret 2014.

Sebanyak 1.234 titik api dideteksi awal Maret. Seluas 21.900 hektare gambut kering hangus. Nilai kerugian ditaksir Rp 15 triliun. Rp 150 miliar dihabiskan untuk tindak penanggulangan dipimpin Presiden RI sendiri di lanud TNI–AU Rusmin Nurjadin di Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Hutan Hilang Bencana Datang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 21 Mei 2014 17:21

Oleh Timoteus Marten, Redaktur, Tabloid Jubi, Jayapura, dengan penugasan ke Kalimantan Selatan

(Catatan penulis: "Saya sangat berterimakasih kepada LPDS yang memilih saya sebagai salah satu peserta lokakarya liputan daerah ketiga selama sepuluh hari.Bagi saya ini adalah kesempatan yang sangat berharga, karena selain mendapat ilmu, mengasah profesionalisme, dan ‘ditantang’ di daerah baru, persaudaraan dan keakraban sangat terasa. Bahkan sepuluh hari terasa sangat singkat untuk sebuah proses belajar yang disebut ‘belajar sambil bekerja’ dan bekerja sambil belajar, serta sebuah persaudaraan dalam aneka wajah dan karakter. Dengan kekhasan masing-masing, mentor membagikan ilmu dan pengalamannya kepada kami, sehingga dapat menyimak tiap materi yang didiskusikan. Pak Priyambodo dengan khas humornya,  Pak Warief dengan ketenangannya, dan Pak Maskun dengan gaya celetuknya. Hehehe..,  kamus berjalan ini. Di antara kami peserta juga saling mengenal satu sama lain. Tentu dengan kekhasan masing-masing. Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat dari LPDS senantiasa membuahkan hasil, terutama menjadikan saya sebagai jurnalis yang selalu mengkampanyekan soal perubahan iklim dan memiliki perspektif gender.")

Kabut tebal menyelimuti  bandara Syamsoedin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), pertengahan Februari 2014. Disusul hujan lebat.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Pulau Tikus di Ambang Pupus, Rencana Manis nan Tragis PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 21 Mei 2014 17:11

Oleh Marga Rahayu, Reporter RRI Samarinda dengan penugasan ke Bengkulu

(Catatan redaksi: "Sweet Gift from LPDS. Sengaja judul itu saya pilih. Selama hampir 3 tahun 6 bulan menjadi wartawan yang kebetulan mengabdi di RRI Samarinda, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di daratan Sumatera. Berkat LPDS, saya akhirnya terbang ke wilayah Barat Indonesia. Kado termanis menjadi wartawan. Bertemu dengan kawan-kawan dari daerah berbeda. Bertandang ke Bumi Raflesia Bengkulu. Pukul 22.00 WIB berendam di Samudera Hindia ditemani paparan rembulan dan menikmati keheningan malam di Pulau Tikus Kota Bengkulu. Rasanya hanya mimpi bagi saya. Namun, LPDS mewujudkannya. Pelajaran dan pengalaman yang begitu berharga, yang bisa saja hanya sekali seumur hidup saya dapatkan. Belum lagi, ilmu mengenai bagaimana memberi shock terapi pada publik tentang bahaya perubahan iklim yang kian mengancam Bumi melalui sebuah karya jurnalistik. Kini, saya pribadi, menjadi lebih aware dengan kondisi di sekeliling saya. Mengenal Pak Warief, Pak Priyambodo, Pak Maskun, juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kado termanis LPDS untuk saya. Banyak ideologi, prinsip dan disiplin sikap dari ketiganya yang seolah merasuki diri saya, hingga ketika pulang kembali ke daerah asal. Kini saya menjadi wartawan yang lebih teliti dengan pemakaian tata bahasa, pengambilan sudut pandang berita yang lebih tajam, mengurangi pemborosan kata, termasuk jeli melihat dan mengemas tanda-tanda perubahan iklim sebagai komoditas berita yang layak dikonsumsi publik. Terima kasih banyak LPDS. Saya  berharap kegiatan semacam ini lebih sering digelar demi menorehkan pengalaman termanis bagi kawan-kawan wartawan lain di Tanah Air.")

Tragis. Satu kata yang tepat  untuk menggambarkan kondisi terkini dari sebuah pulau indah milik Bumi Raflesia. Dikatakan tragis karena pulau di wilayah terluar Bengkulu ini dalam  lima belas atau paling lama dua puluh tahun mendatang akan hilang akibat abrasi laut.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Hitam Arang Hijaukan Lahan Kritis PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 21 Mei 2014 17:08

Oleh Phesi Ester Julikawati
Koresponden Tempo di Kota Bengkulu dengan penugasan ke Kalimantan Barat

(Catatan penulis: "Lokakarya Meliput Daerah Ketiga (MDK 1) menjadi pengalaman jurnalistik tersendiri. Pada lokakarya ini kami mendapat pengetahuan jurnalistik terkait teknik penulisan, bahasa, dan strategi liputan.  Ini menjadi hal berharga dan mengayakan pengetahuan tersendiri bagi saya. Begitu juga pengetahuan seputar lingkungan dan perubahan iklim. Belum lagi penugasan ke daerah ketiga, berkat LPDS dan Kedubes Norwegia dalam program MDK saya dapat menginjakkan kaki pertama kali ke Pulau Borneo. Di sana saya mendapat sahabat baru. Saya juga mendapatkan pengetahuan baru tentang permasalahan perubahan iklim di wilayah Kalimantan Barat, beserta aktifitas mitigasi dan adaptasi yang dilakukan masyarakatnya. Untuk Kedubes Norwegia dan LPDS saya ucapkan terima kasih. Semoga dalam program MDK selanjutnya kegiatan ini dapat berjalan lebih baik lagi. Juga dapat ikut bersumbangsih menyelamatkan bumi.")

Jangan harap mendapatkan keteduhan di tanah tandus sisa pertambangan emas di Desa Mandor, Kalimantan Barat, karena sepanjang mata memandang yang ada hanya hamparan pasir putih gersang dan panas. Hanya saja itu pemandangan tujuh tahun lalu dan tidak akan kita temui lagi saat ini. Lahan kritis tandus   tersebut telah berganti teduh dengan pepohonan hijau di atasnya.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Mengait Derita Dampak Limbah Batam Ke Masyarakat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 21 Mei 2014 17:01

Fariana Ulfah
Reporter City Radio, Medan, dengan penugasan ke Batam

(Catatan penulis: "Testimoni saya selama di LPDS, saya mendapat banyak guru, ilmu, sahabat, teman, kerabat. Saya mendapat kesempatan ke Kepulauan Riau/Batam. Di sana saya dapat pelajaran berharga mengenai daerah baru, keadaan lingkungan dan adaptasi. Selain itu juga, saya mendapat hal baru bahwa saya harus lebih waspada. Namun, di LPDS saya mendapat pengalaman yang bagi saya tidak semua wartawan mendapat kesempatan yang sama dengan saya.")

Tujuh tahun lamanya tinggal di perumahan Putri Hijau Daun, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Misra,56, beserta keluarga dan tetangganya menderita penyakit yang sama gatal di sekujur tubuh. Paha, betis, leher, dan punggung tak henti-henti minta digaruk. Akibatnya, kulit lelaki itu mengelupas. Bisul pun tumbuh. Bila benjolan itu pecah, bekasnya menjadi koreng yang gatalnya membuat bulu tubuh merinding. Beratapkan tepas dan setengah batu sepanjang rumah, demikianlah tempat tinggal  Misra.

Selanjutnya...
 
Sungai Kahayan, di Antara Tantangan dan Langganan Banjir PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 21 Mei 2014 16:56

Desi Safnita Saifan
Koresponden Kompas.com di Aceh dengan penugasan ke Kalimantan Tengah

(Catatan penulis: "Assalamualaikum wr wb. Sepuluh hari. Waktu singkat sebenarnya bagi saya untuk akrab dengan meliput perubahan iklim. Apalagi dalam waktu tersebut termasuk empat hari Meliput Daerah Ketiga (MDK) di satu provinsi yang sama sekali belum pernah dikunjungi. Namun, adaptasi cepat dibantu teman-teman daerah Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, membantu kelancaran tugas-tugas saya. Bekal pengetahuan cukup juga saya simak dari dua instruktur berpengalaman yakni Mas Priyambodo dan Pak Warief. Alhasil, empat hari MDK tak menyisakan kendala berarti melainkan pengalaman bernilai tentang kearifan lokal masyarakat yang langka kita temui saat ini di belahan nusantara manapun. Harapan saya, tulisan-tulisan yang saya hasilkan selama MDK bisa menambah referensi pembaca khususnya tentang isu perubahan iklim di Palangkaraya, tanpa mengenyampingkan program REDD+ dengan proyek percontohnnya  di Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Terima kasih tak terhingga kepada Lembaga Pers Dr. Soetomo yang memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi salah seorang peserta MDK Angkatan I. Semoga suatu saat mendapat peluang untuk program-program berkualitas lainnya. Waalaikusalam wr wb.")

Brrrummm…brrrummm….brrrummm… Pekik menghentak-hentak perahu motor yang mondar-mandir melintasi arus Sungai Kahayan. Suara mesin itu dan gemeretak papan kayu rumah terapung bisingnya bukan main. Akan tetapi,  aneh, hal itu tak dihiraukan oleh warga pemukiman padat penduduk di sepanjang sungai yang meliuk membelah Kota Palangkaraya.

Selanjutnya...
 
”Manisnya” Sawit Ancam Kelatnya Teh Sumatra PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 20 Mei 2014 00:00

Oleh Nazat Fitriah
Wartawan TVRI Kalimantan Selatan dengan penugasan ke Sumatra Utara

(Catatan penulis: "Waktu dapat telepon dari Mbak  Indri yang mengabarkan saya jadi salah satu peserta travel fellowship LPDS, saya rasanya tak percaya. Saya yang sedang di tengah-tengah wawancara dengan seorang pejabat, mendadak jadi tak bisa konsentrasi lagi saking senangnya. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan kedua mengikuti program LPDS, setelah tahun 2012 mengikuti workshop Meliput Perubahan Iklim di Banjarmasin. Bersyukur bertemu mentor-mentor yang hebat, diberi materi-materi berbobot, memperoleh pengalaman meliput di daerah ketiga yang memberi pelajaran luar biasa, serta berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Semoga masih akan ada lagi kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya.")

Rasa kelatnya yang khas telah membawanya dari dataran tinggi Simalungun melanglang buana  ke sejumlah negara di Eropa. Kekuatan rasa ini bahkan menjadi legenda yang telah berusia sepuluh abad. Namun, kini ia telah kehilangan identitasnya, sehingga mulai ditinggalkan penikmatnya.

Selanjutnya...
 
Terjepit di Antara Lahan Sawit PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 20 Mei 2014 00:00

Oleh Zaki Setiawan
Koresponden Koran Sindo di Batam dengan penugasan ke Sumatra Selatan

(Catatan penulis: "Antusias dengan waktu terbatas. Tugas liputan daerah ketiga (LDK), sebagai program Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), adalah tantangan tersendiri. Daerah yang belum pernah saya jamah membuat saya kian semangat memetakan isu wilayah. Dengan waktu efektif tiga hari, akhirnya saya menyelesaikan tugas liputan, meski di hari terakhir baru kembali dari daerah transmigran. Saya bersyukur mendapat kesempatan, menjadi salah seorang peserta LDK. Terutama saat hasil liputan mendapat tanggapan. Di sinilah saya semakin memahami kualitas tulisan, perubahan iklim, dan saling belajar dengan wartawan-wartawan pilihan.")

Bulir-bulir padi tercecer di areal sawah tadah hujan. Di satu sudut petak sawah Desa Nusantara, Sumatra Selatan, Imam Sukilan menjumput segenggam padi belum tergiling di antara tumpukan jerami yang mulai mengering.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Derita Warga Tambang Batu Bara PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Selasa, 20 Mei 2014 00:00

Oleh Dinda Wulandari
Koresponden Bisnis Indonesia di Palembang dengan penugasan ke Kalimantan Timur

(Catatan penulis: "Lokakarya wartawan meliput perubahan ikim di daerah ketiga yang diselenggarakan LPDS dan Kedubes Norwegia ini memberi banyak manfaat bagi saya. Selain dapat wawasan baru tentang perubahan iklim, saya juga mendapat pengalaman berharga karena melalui lokakarya ini saya menginjakkan kaki pertama kali ke Pulau Kalimantan. Tak hanya itu saya juga mendapat teman baru dari berbagai daerah dan mendapat ilmu dari pemberi materi yang berkualitas. Harapan saya kegiatan seperti ini bisa rutin diadakan LPDS dengan tema yang bervariasi dan berguna untuk meningkaktkan keahlian wartawan.")

Kahar Al Bahrie menyodorkan setumpuk berkas di sekretariat Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur. Berkas itu merupakan 26 bukti yang dikumpulkan Kahar dan kawan-kawan untuk menggugat pemerintah.

Gugatan itu terkait kerusakan lingkungan hidup dan perubahan iklim akibat industri tambang batu bara di Samarinda.

Selanjutnya...
 
Jayapura Kota Indah, TerancamTenggelam PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Minggu, 20 April 2014 00:00

Oleh Ma’as
Wartawan Media Jambi, Kota Jambi, dengan penugasan ke Papua

(Catatan penulis: "Ucapan terima kasih kepada LPDS yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti Liputan Daerah Ketiga (LDK) di Provinsi Papua. Banyak pengalaman yang diperoleh dari hasil liputan tersebut. Mudah-mudahan dapat berlanjut untuk tahun-tahun ke depan. Pasalnya, persoalan kerusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim jarang sekali wartawan yang menulis. Dengan adanya lokakarya ini setidaknya peserta memahami peliputan perubahan iklim di daerah lain.")


Kalau malam Jayapura itu indah seperti Hong Kong, tetapi kalau siang kosong seperti kebun singkong. Itu kata pemeo. Memang demikian, ibu kota Provinsi Papua itu indah pada waktu malam. Lampu gemerlapan dari bangunan dan kapal yang bersandar di teluk. Ya, seperti di Hong Kong. Namun, siang tak lagi kosong. Kota yang cekung dikelilingi bukit itu kini telah jauh berubah.

Beberapa tahun lalu perbukitan itu berhutan lebat. Akibat bertambahnya jumlah penduduk, kawasan itu dijadikan perladangan dan pemukiman masyarakat.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
LPDS buka lokakarya Meliput Daerah Ketiga PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 24 Maret 2014 16:32

Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo Priyambodo RH membuka lokakarya wartawan 10 hari Selasa, 18 Maret, untuk memberitakan perubahan iklim di provinsi-provinsi yang tinggi emisi karbon akibat kerusakan hutan.  Sepuluh wartawan dari  Sumatra, Kalimantan dan Papua diundang ke Jakarta. Satu wartawan dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah,  batal datang karena sakit.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
LPDS dan Kerajaan Norwegia lanjutkan program peliputan perubahan iklim PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 15 November 2013 20:00

Priyambodo RH (kiri) dan Dubes Stig TraavikJakarta (15 Nov. 2013) - Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) dan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Jakarta melanjutkan kerja sama program peliputan perubahan iklim bagi wartawan Indonesia dalam kurun waktu setahun ini.

"Kerja sama ini menjadi komitmen kami untuk lebih meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim bagi masyarakat melalui pers Indonesia," kata Duta Besar Kerajaan Norwegia di Jakarta, Stig Traavik, usai menandatangani kerja sama dengan Direktur Eksekutif LPDS, Priyambodo RH, di Jakarta, Jumat.

Ia juga mengemukakan, informasi tersebut bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, namun juga masyarakat dunia bisa memperoleh informasi mengenai perubahan iklim dari negeri ini.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL