Hitam Arang Hijaukan Lahan Kritis

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Oleh Phesi Ester Julikawati
Koresponden Tempo di Kota Bengkulu dengan penugasan ke Kalimantan Barat

(Catatan penulis: "Lokakarya Meliput Daerah Ketiga (MDK 1) menjadi pengalaman jurnalistik tersendiri. Pada lokakarya ini kami mendapat pengetahuan jurnalistik terkait teknik penulisan, bahasa, dan strategi liputan.  Ini menjadi hal berharga dan mengayakan pengetahuan tersendiri bagi saya. Begitu juga pengetahuan seputar lingkungan dan perubahan iklim. Belum lagi penugasan ke daerah ketiga, berkat LPDS dan Kedubes Norwegia dalam program MDK saya dapat menginjakkan kaki pertama kali ke Pulau Borneo. Di sana saya mendapat sahabat baru. Saya juga mendapatkan pengetahuan baru tentang permasalahan perubahan iklim di wilayah Kalimantan Barat, beserta aktifitas mitigasi dan adaptasi yang dilakukan masyarakatnya. Untuk Kedubes Norwegia dan LPDS saya ucapkan terima kasih. Semoga dalam program MDK selanjutnya kegiatan ini dapat berjalan lebih baik lagi. Juga dapat ikut bersumbangsih menyelamatkan bumi.")

Jangan harap mendapatkan keteduhan di tanah tandus sisa pertambangan emas di Desa Mandor, Kalimantan Barat, karena sepanjang mata memandang yang ada hanya hamparan pasir putih gersang dan panas. Hanya saja itu pemandangan tujuh tahun lalu dan tidak akan kita temui lagi saat ini. Lahan kritis tandus   tersebut telah berganti teduh dengan pepohonan hijau di atasnya.

Mengait Derita Dampak Limbah Batam Ke Masyarakat

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Fariana Ulfah
Reporter City Radio, Medan, dengan penugasan ke Batam

(Catatan penulis: "Testimoni saya selama di LPDS, saya mendapat banyak guru, ilmu, sahabat, teman, kerabat. Saya mendapat kesempatan ke Kepulauan Riau/Batam. Di sana saya dapat pelajaran berharga mengenai daerah baru, keadaan lingkungan dan adaptasi. Selain itu juga, saya mendapat hal baru bahwa saya harus lebih waspada. Namun, di LPDS saya mendapat pengalaman yang bagi saya tidak semua wartawan mendapat kesempatan yang sama dengan saya.")

Tujuh tahun lamanya tinggal di perumahan Putri Hijau Daun, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Misra,56, beserta keluarga dan tetangganya menderita penyakit yang sama gatal di sekujur tubuh. Paha, betis, leher, dan punggung tak henti-henti minta digaruk. Akibatnya, kulit lelaki itu mengelupas. Bisul pun tumbuh. Bila benjolan itu pecah, bekasnya menjadi koreng yang gatalnya membuat bulu tubuh merinding. Beratapkan tepas dan setengah batu sepanjang rumah, demikianlah tempat tinggal  Misra.

Sungai Kahayan, di Antara Tantangan dan Langganan Banjir

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Desi Safnita Saifan
Koresponden Kompas.com di Aceh dengan penugasan ke Kalimantan Tengah

(Catatan penulis: "Assalamualaikum wr wb. Sepuluh hari. Waktu singkat sebenarnya bagi saya untuk akrab dengan meliput perubahan iklim. Apalagi dalam waktu tersebut termasuk empat hari Meliput Daerah Ketiga (MDK) di satu provinsi yang sama sekali belum pernah dikunjungi. Namun, adaptasi cepat dibantu teman-teman daerah Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, membantu kelancaran tugas-tugas saya. Bekal pengetahuan cukup juga saya simak dari dua instruktur berpengalaman yakni Mas Priyambodo dan Pak Warief. Alhasil, empat hari MDK tak menyisakan kendala berarti melainkan pengalaman bernilai tentang kearifan lokal masyarakat yang langka kita temui saat ini di belahan nusantara manapun. Harapan saya, tulisan-tulisan yang saya hasilkan selama MDK bisa menambah referensi pembaca khususnya tentang isu perubahan iklim di Palangkaraya, tanpa mengenyampingkan program REDD+ dengan proyek percontohnnya  di Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng. Terima kasih tak terhingga kepada Lembaga Pers Dr. Soetomo yang memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi salah seorang peserta MDK Angkatan I. Semoga suatu saat mendapat peluang untuk program-program berkualitas lainnya. Waalaikusalam wr wb.")

Brrrummm…brrrummm….brrrummm… Pekik menghentak-hentak perahu motor yang mondar-mandir melintasi arus Sungai Kahayan. Suara mesin itu dan gemeretak papan kayu rumah terapung bisingnya bukan main. Akan tetapi,  aneh, hal itu tak dihiraukan oleh warga pemukiman padat penduduk di sepanjang sungai yang meliuk membelah Kota Palangkaraya.

Jayapura Kota Indah, TerancamTenggelam

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Oleh Ma’as
Wartawan Media Jambi, Kota Jambi, dengan penugasan ke Papua

(Catatan penulis: "Ucapan terima kasih kepada LPDS yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti Liputan Daerah Ketiga (LDK) di Provinsi Papua. Banyak pengalaman yang diperoleh dari hasil liputan tersebut. Mudah-mudahan dapat berlanjut untuk tahun-tahun ke depan. Pasalnya, persoalan kerusakan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim jarang sekali wartawan yang menulis. Dengan adanya lokakarya ini setidaknya peserta memahami peliputan perubahan iklim di daerah lain.")


Kalau malam Jayapura itu indah seperti Hong Kong, tetapi kalau siang kosong seperti kebun singkong. Itu kata pemeo. Memang demikian, ibu kota Provinsi Papua itu indah pada waktu malam. Lampu gemerlapan dari bangunan dan kapal yang bersandar di teluk. Ya, seperti di Hong Kong. Namun, siang tak lagi kosong. Kota yang cekung dikelilingi bukit itu kini telah jauh berubah.

Beberapa tahun lalu perbukitan itu berhutan lebat. Akibat bertambahnya jumlah penduduk, kawasan itu dijadikan perladangan dan pemukiman masyarakat.

”Manisnya” Sawit Ancam Kelatnya Teh Sumatra

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Oleh Nazat Fitriah
Wartawan TVRI Kalimantan Selatan dengan penugasan ke Sumatra Utara

(Catatan penulis: "Waktu dapat telepon dari Mbak  Indri yang mengabarkan saya jadi salah satu peserta travel fellowship LPDS, saya rasanya tak percaya. Saya yang sedang di tengah-tengah wawancara dengan seorang pejabat, mendadak jadi tak bisa konsentrasi lagi saking senangnya. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan kedua mengikuti program LPDS, setelah tahun 2012 mengikuti workshop Meliput Perubahan Iklim di Banjarmasin. Bersyukur bertemu mentor-mentor yang hebat, diberi materi-materi berbobot, memperoleh pengalaman meliput di daerah ketiga yang memberi pelajaran luar biasa, serta berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Semoga masih akan ada lagi kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya.")

Rasa kelatnya yang khas telah membawanya dari dataran tinggi Simalungun melanglang buana  ke sejumlah negara di Eropa. Kekuatan rasa ini bahkan menjadi legenda yang telah berusia sepuluh abad. Namun, kini ia telah kehilangan identitasnya, sehingga mulai ditinggalkan penikmatnya.