ClimateReporter
Menabur Asa Usai Gambut Membara PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Lorni Nurintan Antonia S   
Kamis, 18 Mei 2017 17:21

Laporan Lorni Nurintan Antonia S, RRI Bengkulu
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


“Krrrriiiikkkk...kriiikkk....krrriiikkkk...”
Suara tonggeret (Tibicen linnei), sejenis serangga khas hutan tropis yang menyerupai lalat besar, langsung nyaring menyambut. Saat itu pengunjung memasuki kawasan hutan gambut hak milik di jalan lintas Palangka Raya – Pulangpisau, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kawasan hutan di Desa Tumbangnusa, Kabupaten Pulangpisau, seluas kurang lebih 10 hektare itu terlihat berbeda karena lebih hijau dan asri ditumbuhi berbagai jenis pepohonan.

Sementara sisi kiri dan kanannya menunjukkan hamparan vegetasi lahan gambut yang ditumbuhi sejenis pakis, diselingi pohon mati yang masih tegak. Jejak kebakaran hutan dan lahan gambut yang menghanguskan 402.774 hektare di Kalteng pada Juli – Oktober 2015. 

Hutan gambut hak milik yang awalnya merupakan lahan milik perseorangan yang dikembangkan menjadi hutan itu disebut Jumpun Pambelom (Hutan Sumber Kehidupan) oleh masyarakat adat suku Dayak.

Hutan dikelola Januminro Bunsal, berlatar belakang sebagai abdi negara yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Palangka Raya.

“Dulu saya punya keinginan membuat hutan kota terluas se-Indonesia yang ada di Palangka Raya. Lalu saya membuat persemaian tanaman hutan di sini,” ungkap Januminro.

Selanjutnya...
 
Separuh Hidupnya Teliti Fauna Kalteng PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yani Basaroni   
Kamis, 18 Mei 2017 17:19

Laporan Yani Basaroni, Koran Babel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

LAHG, Palangka Raya, Koran Babel/ClimateReporter — Ekosistem alam terus terjaga di Bumi Tambun Bungai antara lain berkat Ari Purwanto. Pria 44 tahun ini   peneliti fauna di Pusat Kerja Sama Internasional dalam Tata Kelola Berkelanjutan Lahan Gambut Tropis, CIMTROP, Universitas Palangka Raya.

Warga Kalteng khususnya Kota Palangka Raya bisa berbangga hati karena Ari warga pribumi dengan ikhlas memberikan separuh hidupnya untuk meneliti satwa di Kalteng.

Di lahan hutan gambut seluas 50.000 hektare tersebut. Pria berkulit sawo matang ini mengaku telah berja di CIMTROP sejak 1997. Namun, saat itu ia belum terikat kontrak kerja, karena lebih memilih sebagai pekerja harian yang tidak terikat kontrak.

“Baru empat tahun belakangan ini, saya melakukan kontrak kerja sama menjadi peneliti fauna di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), CIMTROP,” kata Ari kepada peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang bertandang ke LAHG di tepi barat daya Palangka Raya.

Ia mengungkapkan profesi peneliti fauna ini dipilih, lantaran setiap tahunnya habitat fauna di Kalteng terus berkurang. Tidak lain penyebabnya karena kebakaran hutan dan lahan gambut setiap musim kemarau.

Selanjutnya...
 
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (3): Mencegah Kebakaran Hutan itu Lebih Baik PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Veby Rikiyanto   
Kamis, 18 Mei 2017 17:11

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimanatan Februari 2016

Dimuat Valoranews| Kamis, 14-04-2016 | 10:52 WIB

Sumur bor adalah perangkat mengatasi kebakaran hutan secara efektif di musim kemarau. Menurut pengelola LAHG Krisyoyo, sumur bor ini mampu menghindari areal LAHG dari dampak kebakaran pada 2015 lalu. Foto Veby Rikiyanto/valoranews

VALORAnews
- Pemerintah bukannya tutup mata masalah kebakaran hutan ini. Berbagai aturan telah dibuat seperti Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2007 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan, UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan hingga ancaman pidana penjara yang tinggi. Namun, itu tidak membuat pelakunya jera.

Hutan gambut adalah hutan yang pepohonannya tumbuh di atas lahan gambut. Lahan gambut berasal dari pembusukan atau pelapukan dari akar-akar atau batang pohon yang telah mati sehingga pada saat musim kemarau sangat mudah terbakar.

Ketika terjadi kebakaran hutan pemerintah terkesan lambat melakukan tindakan. Menurut Dharma, dosen Universitas Palangka Raya,  ada  aturan mengenai tanggap darurat.

Selanjutnya...
 
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (2): Hutan itu Penyangga Kehidupan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Veby Rikiyanto   
Kamis, 18 Mei 2017 17:03

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimanatan Februari 2016

Dimuat di Valoranews Kamis, 14-04-2016 | 10:46 WIB

Krisyoyo, pemandu lahan gambut, mendayung kelotok (perahu kecil bermesin) dalam mengantar peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim menuju Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Kereng Bangkirai-Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 21 Feb 2016. Foto Veby Rikiyanto/valoranews

VALORAnews - Kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah dan sebagian Sumatera akhir 2015 lalu tidak saja merusak ekosistem hutan tapi juga telah menimbulkan penderitaan dahsyat bagi warga  akibat kabut asap emisi karbon hasil kebakaran.

Tidak sedikit warga terutama anak-anak yang terserang penyakit seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).  kabut asap sedikitnya  menelan 19 orang meninggal dunia, lima di  di Kalimantan Tengah.

Kebakaran lahan gambut dan hutan akhir 2015 jadi bencana nasional. Kota-kota yang terpapar kabut asap seperti kota mati. Sebagian penduduknya mengungsi ke daerah bebas kabut. Yang masih tinggal, enggan keluar rumah. Sekolah diliburkan tanpa batas waktu. Bandar udara ditutup, Masyarakat keluar rumah menggunakan masker.

Selanjutnya...
 
BOS harapan orangutan Kalimantan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 18 Mei 2017 17:01

Laporan Sumarlin, Zonasultra, Kendari, Sulawesi Tenggara
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

“Anok pulang nok, Anok turun nok”, teriak Misna berulang-ulang. Sesekali pengasuh orang utan ini menjulurkan susu yang disimpan dalam wadah air mineral berkuran besar sebagai imbalan jika anak didiknya kembali. Namun upaya itu tak tak mendapat tanggapan. Dengan sabar Misna kembali merayu Anok, orangutan muda, kali ini menjulurkan pisang.

Meski dengan beberapa iming-iming hadiah, Anok tetap saja mengacuhkan baby sitternya dan terus bergelayutan pindah dari dahan pohon yang satu kedahan pohon yang lain. Tak kenal menyerah Misna kembali memanggil Anok.  Teriakan Misna kini mendapat respon dari Anok, namun bukannya turun, Anok malah berpindah ke dahan pohon sambil meraih dahan lapuk kemudian melempari Misna yang terus memanggilnya.

Untung saja Misna sigap sehingga bisa menghindar dahan lapuk yang dilempar Anok. Sikap cuek Anok tidak menyurutkan niat Misna mengajak Anok kembali ke kandangnya bersama teman-temannya yang sudah kembali lebih awal.

Selanjutnya...
 
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (1): Agar Gambut Tak Lagi Cemberut PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Veby Rikiyanto   
Kamis, 18 Mei 2017 16:55

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya wartawan Merliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Februari 2016. Lokakarya  diadakan Lembaga Pers Dr Soetomo dengan kerjasama Kedutaan Norwegia di Palangka Raya 20-24 Feb 2016


Dimuat Valoranews  Kamis, 14-04-2016 | 10:38 WIB


Manager proyek lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS  Warief Djajanto Basorie menyerahkan ransel atas partisipasi dalam lokakarya pada Carolyn Thompson asal Inggris, seorang peneliti di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah 21 Feb 2016. Foto Veby Rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Wanita-wanita cantik berhidung mancung khas bule itu, tampak gelisah .Tiap sebentar mereka mondar-mandir sembari melihat keluar pondok. Hujan yang turun dengan derasnya sejak pagi telah menghambat aktivitas mereka.

Wanita-wanita tersebut adalah peneliti dari Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Kereng Bangkirai-Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Tidak seperti laboratorium pada umumnya. Namanya juga laboratorium alam, tidak ada gelas-gelas maupun botol yang berisi cairan kimia, pun tidak ada para petugas berseragam putih-putih. Yang ada adalah pondok-pondok kayu dikelilingi pepohonan lebat dan ratusan bahkan ribuan bibit pohon berbagai jenis. Petugasnya pun berpakaian seperti penduduk pada umumnya.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Puluhan ton limbah B3 terdampar di pantai Pasir Panjang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yashinta   
Kamis, 18 Mei 2017 16:49

Laporan Yashinta, Harian Batam Pos, Batam
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Batam Jan 2013. Karya ini dimuat Batampos.co.id 11 Agustus 2016


BATAM (BP) - Masyarakat Pasir Panjang Kelurahan Rempang Cate, Galang mulai khawatir. Sebab, puluhan ton limbah B3 (bahan bahaya dan beracun) mengendap di sepanjang bibir pantai daerah tersebut. Mirisnya, hal itu telah berlangsung sejak bertahun tahun lalu.

Ketua RW 03 Pasir Panjang Sarwik mengatakan setiap tahunnya bibir pantai Pasir Panjang selalu mendapat kiriman limbah B3. Kiriman limbah dari bagian utara Batam itu terus berlangsung mulai bulan November hingga Januari dan terjadi setiap tahunnya.

"Bulan dua, limbah itu mengendap di pasir. Kemudian masuk ke dalam pasir dan mengendap disana sampai air pasang. Bahkan limbah itu dibuang ke dalam karung" kata Sarwik kepada wartawan,  Rabu (10/8)

Menurut dia, masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan mulai merasakan dampak dari limbah B3. Karena jaring dan kelong mereka kerap terkena limbah tersebut. Bahkan banyak ikan di daerah sana yang mati.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Kumpulan karya nonfiksi & esai terbaik: El Nino Sampai Titik Nol PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jogi Sirait   
Kamis, 18 Mei 2017 16:30

Karya Jogi Sirait, koresponden majalah berita mingguan Gatra di Jambi

Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kota Jambi Oktober 2012. Kumpulan karya ini dimuat dalam newsletter Bacaan Malam Maret 2016

 


 

Foto: Wikipedia

Oleh Jogi Sirait
Seorang jurnalis yang bertahan dari kepungan kabut asap di Jambi, mencari tahu kenapa pemerintah langsam menangani bencana ini.

Pada awalnya,
kuping saya masa bodoh terhadap kabar berita dari istri saya, Riana (33) pada sebuah sore, Juli 2015. Dia cerita bahwa badai El Nino, mulai akhir Juli sampai Desember 2015, siap mengancam Sumatra, terutama Jambi dan Bengkulu. Bahasa sederhananya, kemarau panjang.

Nada suara Riana datar. Dia ngomong sambil berselonjor kaki di pojok ruang tengah rumah kami di pinggiran Kota Jambi. Perutnya mulai bertian dua bulan, mengandung calon anak kami yang ketiga. Dokter kandungan langganan kami selalu mengingatkan agar Riana menaikkan bobot badan.

Saya kira kemarau paling banter hanya sebulan.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Dewi Berjempol Hijau Asrikan Medan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Amir Hamzah   
Kamis, 18 Mei 2017 16:19

Laporan Amir Hamzah, koresponden SCTV Indosiar Samarinda
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Ketiga (MDK III) LPDS. Amir mendapat tugas ke Sumatra Utara 20 – 24 Agustus 2015. Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo dan Kedutaan Norwegia 19 – 27 Agustus 2015


Medan, SCTV/ClimateReporter - Hajjah Dewi Budiati,53, contoh dari sedikit isteri orang mampu.  Wanita berumur 53 tahun dan beranak lima ini isteri seorang pemilik perusahaan media cetak terbesar di Medan.   Pasalnya, meski memiliki berbagai fasilitas dan hidup berkecukupan,  wanita ini  relawan lingkungan demi kelangsungan hidup manusia di masa mendatang.

Dewi  biasa disapa Kak Ros. Ia ditemui di kediamannya di Jalan Teruna Jasa Said, Medan. Bagian dalam rumah ditata rapi dengan ornamen bahan bekas kertas koran.
Sayang keindahan rumah tersebut tidak terlalu lama bisa dinikmati.Kak Ros buru-buru mengajak pergi ke kantor camat Amplas, salah satu tempat yang sudah dihijaukannya. Sepanjang perjalanan itulah, wawancara bersama Kak Ros mulai mengalir.

"Bumi ini harus diselamatkan dan orang yang paling tepat itu adalah kita para penghuninya," kata Kak Ros.

Awal mula "kegilaannya" pada alam ini dari ajakan teman-teman yang tergabung di sebuah organisasi lingkungan untuk kemudian ditinggalkan karena tidak cocok pandangan. Kak Ros menilai, organisasi lingkungan adalah lembaga independen yang tidak bisa disetir oleh siapapun.
Karenanya, saat mendapati organisasi semacam itu Kak Ross langsung pergi menjauh.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Profil: Petani Inovatif di Lahan Gambut PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jeane Rondonuwu   
Senin, 21 November 2016 10:13

Laporan Jeane Rondonuwu, Sulutdaily.com, Manado

Penulis adalah peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV). Jeane mendapat tugas ke  Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah, 24-28 Agustus 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Norwegia 23 – 31 Agustus 2016

 

‘’ Kebun kami berhasil lolos dari kebakaran, ’’ kata Berson S.Pd  sembari memantau hasil penyadapan karet di kebun Kelompok Tani Panega,  sekitar 1 kilometer dari jalan raya Desa Jabiren, Kabupaten Pulangpisau. Suami Sukarti ini bersyukur, meski harga karet kini anjlok hingga 5.500 rupiah per kilogram,  tapi kebun seluas 1.500 hektare berhasil  lolos dari jilatan lidah api 2015 lalu.

 

Berson SPd bersama Anggota Kelompok Tani Panenga yang sedang menyadap karet. Foto Jeane Rondonuwu

Desa Jabiren, Kalimantan Tengah, Sulutdaily.com/ClimateReporter -  Anggota kelompok tersisa  45 kepala keluarga. Tetapi mereka terlihat tetap ulet  menjaga  lahan perkebunan di Kalimantan Tengah yang digarap sejak 2002.

“Saat Kelompok Tani Panenga dibentuk jumlah anggotanya 162 kepala keluarga, tapi mereka satu persatu mengundurkan diri,’’ kata Berson SPd .

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Akar Konflik di Bumi Sriwijaya PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hairil Hiar   
Jumat, 21 Oktober 2016 17:45

 

Laporan Hairil Hiar, liputan6.com, Ternate

Penulis adalah peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV). Hairil mendapat tugas ke  Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 24-28 Agustus 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Norwegia 23-31 Agustus 2016.

Desa Menang Raya, Sumatera Selatan, Liputan6.com/ClimateReporter - Seperti fenomena gunung es. Semakin ditelusuri semakin banyak ditemui. Demikian kata Aidil Fitri, Direktur Eksekutif Hutan Kita Institute (HaKI) Sumatera Selatan.

Aidil mengatakan, konflik alih fungsi lahan pertanian masyarakat menjadi perkebunan sawit semakin mumpuni. Sebab musababnya menjadi konsumsi publik. Melalui siapa dan untuk apa pengalihan fungsi lahan terjadi di Bumi Sriwijaya.

 

Dia mengatakan, warga kota Palembang mengetahui adanya dugaan keterlibatan pejabat tinggi. Melalui media di sana, dalangnya diduga pejabat tinggi.

Jembatan Ampera, ikon ibukota provinsi Sumsel. (Foto Hairil Hiar)

Palembang sebagai pusat ibukota provinsi Sumsel dan pusat kerajaan Sriwijaya kala itu, secara geografis berbatasan dengan provinsi Jambi di bagian utara, provinsi Kepulauan Bangka Belitung di bagian Timur, provinsi Lampung di bagian selatan, dan di bagian Barat berbatasan dengan provinsi Bengkulu.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Berguru di Ladang Padi yang Terbakar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hairil Hiar   
Selasa, 11 Oktober 2016 07:02

 

Laporan Hairil Hiar, liputan6.com, Ternate

Penulis adalah peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV). Hairil mendapat tugas ke  Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 24-28 Agustus 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Norwegia 23-31 Agustus 2016

Didi, Kadus IV saat menunjukkan titik kebakaran bermulanya api memasuki areal ladang padi seluas 30 hektare di Kecamatan Pedamaran, OKI. (Foto Hairil Hiar)

Dusun IV, Sumatera Selatan, Liputan6.com/ClimateReporter - Ladang sawah Didi 4 hektare di Sumatera Selatan tinggal kenangan. Sekarang tumbuh ilalang. Keinginannya menanam kembali padi hangus terbakar pada September 2015.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL