Taman yang Ditukar

Ditulis oleh Zaki Setiawan. Posted in ClimateReporter

Oleh Zaki Setiawan, Koresponden Koran Sindo di Batam,

(29 Juli 2015)

KIOS yang dibangun di Jalan Bukit Kemuning, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Seibeduk, Batam

Waktu menunjukkan pukul 00.30. Jalanan kian lengang. Hanya satu dua kendaraan yang masih melintas menembus kegelapan malam.
Namun, tidak demikian dengan aktivitas di depan sebuah kios di pinggir Jalan S. Parman, Tanjungpiayu, Batam. Puluhan orang terlihat asyik mengundi untung melalui dadu.

“Wah, meleset lagi,” kata seorang di antara mereka yang gagal menebak angka.

Sekira 20  meter dari arena itu Bardah berjualan bandrek. Ia mengaku sudah terbiasa dengan keramaian aktivitas judi dadu yang berlangsung tiap malam itu, bahkan saat malam Ramadan pun mereka tetap beraktivitas.

Sulap Limbah Kertas Jadi Lukisan, Amir Untung Jutaan Rupiah

Ditulis oleh Demon Fajri. Posted in ClimateReporter

OLeh Demon Fajri, Okezone.com, Kota Bengkulu
(Juli 2015)


Amir Hendi pemilik usaha limbah kertas (Foto: Okezone)

SIAPA sangka limbah kertas bekas bisa disulap menjadi lukisan tiga dimensi yang memiliki nilai jual tinggi. Demikianlah pegiat kerajinan Limbah Kertas Sekundang Kencana Rafflesia, Amir Hendi (68).

Usaha kerajinan tangan lukisan tiga dimensi dan miniatur itu sudah digeluti bapak empat anak ini sejak tahun 1986 di Desa Imigrasi Permu Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Mulanya ia terinspirasi dari membuat kerajinan tangan berbentuk peta di tempatnya mengajar.

Selain itu, kata dia, juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang banyak tumpukan sampah kertas yang berserakan. Dari sana kerajinan limbah tersebut mulai berangsur digelutinya.

Perubahan Iklim: Kota yang Segera Kehausan

Ditulis oleh Kris Razianto Mada. Posted in ClimateReporter

Oleh Kris Razianto Mada, Kompas.com, Batam
(Juli 2015)

Kompas/Kris Razianto Mada Permukaan Waduk Nongsa di Batam, Kepulauan Riau, menyusut lebih dari 4 meter. El Nino membuat curah hujan berkurang dan waduk tadah hujan itu sulit memulihkan cadangannya. Waduk menjadi andalan tunggal Batam untuk memenuhi kebutuhan airnya. Penyusutan cadangan waduk membuat Batam tidak punya air.

DALAM diam dan jauh dari perhatian banyak orang, perubahan iklim terus menambah korban. Dalam hitungan bulan Kota Batam di Kepulauan Riau akan masuk daftar korban sementara dari perubahan. Jika tanpa langkah serius, Batam akan menjadi korban permanen dalam beberapa tahun ke depan.

Kota di perbatasan Indonesia dengan Singapura-Malaysia itu tak punya sungai atau aquifer sebagai sumber air. Batam hanya mengandalkan hujan sebagai sumber airnya. Sebagian dari hujan ditampung dalam waduk-waduk di berbagai penjuru Batam. Waduk yang hanya mengandalkan hujan sebagai pengisi ulang airnya. Saat hujan berkurang, semakin sedikit pengisi air waduk.

Mengapa Desa Namo Memilih Mengajukan Hutan Desa?

Ditulis oleh Syarifah Latowa. Posted in ClimateReporter

Oleh Syarifah Latowa, Mongabay.co.id, Palu,
Juli 2015

AKHIRNYA setelah tiga jam perjalanan darat dari ibu kota Sulteng, Palu, tibalah kami di Namo, sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh perbukitan. Namo merupakan pemekaran dari Desa Bolapapu yang berpisah sebelas tahun yang lalu dari desa induknya ini. Desa ini secara administratif merupakan bagian dari Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

“Silakan masuk! Jangan sungkan, para tokoh sudah menunggu,” sembari menyalami kami, Basri Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LTHD) mempersilakan kami masuk ke lobo (nama setempat untuk rumah adat, tempat masyarakat membicarakan seluruh permasalahan adat dan desa).  Lobo di Namo memiliki ukuran 4 x 6 meter, beratap rumbia, berlantai papan, dengan setengah bagian dindingnya tertutup papan yang berfungsi sebagai sandaran.

Lumbung Kami Lenyap Dimakan Rayap: Zaman Berubah. Iklim Berubah. Langit Berubah. Pemerintah Pun Berubah

Ditulis oleh Harry Siswoyo. Posted in ClimateReporter

Oleh Harry Siswoyo, Viva.co.id, Bengkulu
Mei 2015

PELUH masih mengucur di antara pelipis dan dagu Wak Thamrin. Pagi menjelang siang, tiga petak sawah miliknya baru usai ditanami bibit padi baru.
Bersama istrinya, Rubiah, ia bergantian mencucukkan batang padi setinggi 10 sentimeter ke petak sawah berlumpur di Desa Lubukresam, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Bagi Wak Thamrin sawah adalah segalanya. Berpuluh tahun ia hidup bersama empat anaknya yang kini sudah dewasa dari sepuluh bidang sawah miliknya.

Sepuluh tahun silam sawah-sawah itu memang menggiurkan. Hasil panen melimpah ruah, bahkan dari setiap kali panen, mereka bisa “menabung” beras untuk dua tahun.