ClimateReporter
Masyarakat Dunia Amati Kabut Asap Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 12 Oktober 2015 18:15

Jakarta (ANTARA News) – Duta Besar Kerajaan Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik, mengemukakan, masyarakat dunia selama ini mengamati dan ikut prihatin atas kebakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap dari Indonesia, karena dampaknya menurunkan kualitas kehidupan.

"Masyarakat dunia juga khawatir atas kebakaran di Indonesia. Dampak kabut asap menurunkan kualitas kehidupan, di antaranya gangguan kesehatan, anak-anak tidak bisa sekolah dan kegiatan ekonomi terhenti," katanya, di hadapan mahasiswa peserta Klinik Menulis Perubahan Iklim Bagi Orang Muda, di Jakarta, Senin (26/10).

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta dan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) itu, dia menyatakan, kebakaran hutan yang mengakibatkan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan memerlukan perhatian semua pihak, termasuk masyarakat internasional.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Gelora Asa Warga Timbulsloko dalam Kepungan Rob PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hartatik   
Senin, 12 Oktober 2015 11:13

Oleh Hartatik, Harian Suara Merdeka, Semarang

Terkepung rob. Deretan tanaman mangrove mengitari permukiman warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak yang telah terkepung rob, Jumat (31/7/15). (Suaramerdeka.com/Hartatik)

 

NADHIRI (53) bisa tersenyum bangga melihat kerja keras dan penantian warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, mulai menampakkan hasil. Tinggi air pasang atau rob yang masuk ke permukiman sudah jauh berangsur turun dibandingkan dengan  setahun silam.

Itu bisa dilihat teras rumahnya yang kini tak terjamah rob, sekalipun permukaan sungai kecil di depan rumahnya sudah sejajar dengan badan jalan. Kondisi ini jauh berbeda ketika tahun lalu banjir rob masuk ke dalam rumah hingga setinggi dada orang dewasa.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Bakau Ditebang, Luas Daratan Terancam Berkurang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Zaki Setiawan   
Senin, 12 Oktober 2015 11:07

Oleh Zaki Setiawan, IsuKepri.Com, Batam,

peserta lokakarya MPI di Kota Batam, 22-23 Januari 2013

 

PENEBANGAN tanaman bakau di sepanjang bibir pantai di Kepri menjadi pemicu terjadinya abrasi. Jika tidak ada penanaman kembali bakau pengganti, diprediksi dalam lima tahun ke depan, 10% —15%  luas daratan Kepri akan hilang akibat tanah dikikis arus air laut.

Kegelisahan seolah terpendam dari raut muka Masrani (47). Nelayan Kampung Agas, Kelurahan Tanjunguma, Kecamatan Lubukbaja ini mengaku mulai kesulitan mendapatkan hasil dari menangkap ikan di laut sekitar.

Selanjutnya...
 
Taman yang Ditukar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Zaki Setiawan   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:58

Oleh Zaki Setiawan, Koresponden Koran Sindo di Batam,

(29 Juli 2015)

KIOS yang dibangun di Jalan Bukit Kemuning, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Seibeduk, Batam

Waktu menunjukkan pukul 00.30. Jalanan kian lengang. Hanya satu dua kendaraan yang masih melintas menembus kegelapan malam.
Namun, tidak demikian dengan aktivitas di depan sebuah kios di pinggir Jalan S. Parman, Tanjungpiayu, Batam. Puluhan orang terlihat asyik mengundi untung melalui dadu.

“Wah, meleset lagi,” kata seorang di antara mereka yang gagal menebak angka.

Sekira 20  meter dari arena itu Bardah berjualan bandrek. Ia mengaku sudah terbiasa dengan keramaian aktivitas judi dadu yang berlangsung tiap malam itu, bahkan saat malam Ramadan pun mereka tetap beraktivitas.

Selanjutnya...
 
Sulap Limbah Kertas Jadi Lukisan, Amir Untung Jutaan Rupiah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Demon Fajri   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:54

OLeh Demon Fajri, Okezone.com, Kota Bengkulu
(Juli 2015)


Amir Hendi pemilik usaha limbah kertas (Foto: Okezone)

SIAPA sangka limbah kertas bekas bisa disulap menjadi lukisan tiga dimensi yang memiliki nilai jual tinggi. Demikianlah pegiat kerajinan Limbah Kertas Sekundang Kencana Rafflesia, Amir Hendi (68).

Usaha kerajinan tangan lukisan tiga dimensi dan miniatur itu sudah digeluti bapak empat anak ini sejak tahun 1986 di Desa Imigrasi Permu Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Mulanya ia terinspirasi dari membuat kerajinan tangan berbentuk peta di tempatnya mengajar.

Selain itu, kata dia, juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang banyak tumpukan sampah kertas yang berserakan. Dari sana kerajinan limbah tersebut mulai berangsur digelutinya.

Selanjutnya...
 
Perubahan Iklim: Kota yang Segera Kehausan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Kris Razianto Mada   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:48

Oleh Kris Razianto Mada, Kompas.com, Batam
(Juli 2015)

Kompas/Kris Razianto Mada Permukaan Waduk Nongsa di Batam, Kepulauan Riau, menyusut lebih dari 4 meter. El Nino membuat curah hujan berkurang dan waduk tadah hujan itu sulit memulihkan cadangannya. Waduk menjadi andalan tunggal Batam untuk memenuhi kebutuhan airnya. Penyusutan cadangan waduk membuat Batam tidak punya air.

DALAM diam dan jauh dari perhatian banyak orang, perubahan iklim terus menambah korban. Dalam hitungan bulan Kota Batam di Kepulauan Riau akan masuk daftar korban sementara dari perubahan. Jika tanpa langkah serius, Batam akan menjadi korban permanen dalam beberapa tahun ke depan.

Kota di perbatasan Indonesia dengan Singapura-Malaysia itu tak punya sungai atau aquifer sebagai sumber air. Batam hanya mengandalkan hujan sebagai sumber airnya. Sebagian dari hujan ditampung dalam waduk-waduk di berbagai penjuru Batam. Waduk yang hanya mengandalkan hujan sebagai pengisi ulang airnya. Saat hujan berkurang, semakin sedikit pengisi air waduk.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Mengapa Desa Namo Memilih Mengajukan Hutan Desa? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Syarifah Latowa   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:44

Oleh Syarifah Latowa, Mongabay.co.id, Palu,
Juli 2015

AKHIRNYA setelah tiga jam perjalanan darat dari ibu kota Sulteng, Palu, tibalah kami di Namo, sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh perbukitan. Namo merupakan pemekaran dari Desa Bolapapu yang berpisah sebelas tahun yang lalu dari desa induknya ini. Desa ini secara administratif merupakan bagian dari Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

“Silakan masuk! Jangan sungkan, para tokoh sudah menunggu,” sembari menyalami kami, Basri Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LTHD) mempersilakan kami masuk ke lobo (nama setempat untuk rumah adat, tempat masyarakat membicarakan seluruh permasalahan adat dan desa).  Lobo di Namo memiliki ukuran 4 x 6 meter, beratap rumbia, berlantai papan, dengan setengah bagian dindingnya tertutup papan yang berfungsi sebagai sandaran.

Selanjutnya...
 
Lumbung Kami Lenyap Dimakan Rayap: Zaman Berubah. Iklim Berubah. Langit Berubah. Pemerintah Pun Berubah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Harry Siswoyo   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:39

Oleh Harry Siswoyo, Viva.co.id, Bengkulu
Mei 2015

PELUH masih mengucur di antara pelipis dan dagu Wak Thamrin. Pagi menjelang siang, tiga petak sawah miliknya baru usai ditanami bibit padi baru.
Bersama istrinya, Rubiah, ia bergantian mencucukkan batang padi setinggi 10 sentimeter ke petak sawah berlumpur di Desa Lubukresam, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Bagi Wak Thamrin sawah adalah segalanya. Berpuluh tahun ia hidup bersama empat anaknya yang kini sudah dewasa dari sepuluh bidang sawah miliknya.

Sepuluh tahun silam sawah-sawah itu memang menggiurkan. Hasil panen melimpah ruah, bahkan dari setiap kali panen, mereka bisa “menabung” beras untuk dua tahun.

Selanjutnya...
 
Green Building, Solusi Atasi Suhu Kota Kendari PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Agus Sana'a   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:34

Oleh Agus Sana'a, Koresponden harian Sinar Harapan, Kendari
(Juli 2015)


ZAINUDDIN (65), warga Kelurahan Talia, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), tampak bertelanjang dada duduk-duduk santai di kursi teras rumahnya. Dengan posisi kaki kanan di atas paha kiri, ia mengibas-ngibaskan koran di badannya.

Sesekali ayah dari lima anak itu berdiri dan melangkah membuang ludah ke tanah. Lelaki itu tampak gerah karena suhu di sekitar rumahnya siang itu, sekitar pukul 11.30 Wita, dirasakan agak panas.     

“Maaf, _Pak, saya buka baju!” kata Zainuddin saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Talia, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Kamis (2/7).

Dulu, tahun 1990-an, lanjut Zainuddin suhu udara di kota ini terasa segar dan nyaman. Pagi hari seluruh wilayah kota tampak diselimuti kabut dan titik-titik embun yang menyebabkan jarak pandang tidak terlalu jauh.

Selanjutnya...
 
Dampak Kemarau Panjang bagi Petani Sawit dan Karet di Riau: Melayukan Dedaunan, Mengeringkan Celengan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Dina Febriastuti   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:24

Oleh Dina Febriastuti, PiramidNews.com, Pekanbaru
(Juli 2015)

MISNGADI mengendarai sepeda motor menerobos kabut asap dengan mengenakan masker hijau tipis menuju kebun kelapa sawitnya di Desa Kepau Jaya, Riau. Ia hendak mengontrol pekerjaan perawatan kebun yang sudah dilakukan beberapa orang serta beberapa urusan lain menyangkut kelompok tani tempatnya bergabung.

Melintasi jalan tanah yang lebih banyak dihiasi semak belukar dan sebagiannya hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, ia juga hendak memastikan akan ada yang membantu memanen hasil kebun yang sudah tujuh tahun ini menghidupi tujuh orang anggota keluarganya. Jadwal itu sekira sepuluh  hari lagi.

Meski hasil panen itu semakin hari semakin menyusut, tanpa mengeluh ia tetap mengelola kebunnya semaksimal mungkin. Semangatnya, gairah, dan optimismenya sama dengan sepuluh tahun lalu, ketika kebun itu baru ditanaminya. "Panen enggak kayak dulu, Mbak. Beberapa tahun ini payah. Harga pun jatuh. Sekarang ini terendah dalam lima tahun terakhir," demikian Misngadi  bercerita jelang keberangkatannya ke kebun seluas total empat hektare di lahan bergambut itu  di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi, pada minggu terakhir Juli 2015.

Selanjutnya...
 
Ada Sawit Ramah Lingkungan di Sintang PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Reinardo Sinaga   
Kamis, 08 Oktober 2015 14:21

Oleh Reinardo Sinaga, RRI, Pontianak,
(Juli 2015)

INDUSTRI ekstraktif kelapa sawit selama ini dipandang menjadi bom waktu yang akan memonokulturkan hutan Kalimantan Barat. Namun, hal ini ditepis oleh Koperasi Produksi Rimba Harapan di Desa Merarai Satu, Kecamatan Sungaitebelian, Kabupaten Sintang. Yang istimewa, koperasi ini mengeluarkan aturan melarang anggotanya membakar lahan untuk membuka perkebunan kelapa sawit swadaya masyarakat. Hal lainnya, pohon kelapa sawit yang monokultur itu—istimewanya—bisa  ditumpangsarikan dengan semangka, terong, bahkan sayuran. Bagaiman ceritanya? Berikut penelusuran yang saya lakukan selama dua hari.  

Kendati masih pagi, sekira pukul 09.00, terik matahari menyengat hingga ke kulit epidermis. Saat itu saya tiba di Desa Merarai Satu menemui pimpinan Koperasi Produksi Rimba Harapan, Suratno Warsito.

Koperasi produksi dampingan World Wildlife Fund (WWF) dan  Indonesia Program Kalimantan Barat ini memiliki keunikan. Salah satunya pola tidak membakar dalam membersihkan lahan.

Selanjutnya...
 
Lembar Nilai Lomba Meliput Perubahan Iklim Tahun 2015 PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 03 September 2015 15:43

Lomba Meliput Perubahan Iklim, LPDS, 2015

Lembar Nilai

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL