Terkikisnya Permadani Gambut Kerajaan Siak

Ditulis oleh Hardaningtyas. Posted in ClimateReporter

Oleh Hardaningtyas, Wartawan Rajaampatpos.com, Sorong, Papua Barat, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan ke Riau Agustus 2014

 

RASA penasaran tentang lahan gambut membuat langkah tak bisa terhenti begitu saja di Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau. Permadani gambut di Kabupaten Siak yang terkenal tingkat kedalaman dan terluas di dunia ini, seolah melambai meminta hendak dikunjungi untuk diketahui keberadaannya.
Siak, sebuah kabupaten kecil di sebelah timur Pekanbaru, dulunya merupakan sebuah kerajaan besar yang akhirnya tenggelam oleh masa dan peradaban modern.

Pemandangan ibu kota kabupaten terlihat asri dan bersih. Di sinilah permadani gambut tersimpan dan jadi rebutan. Beberapa pihak menyayangkan permadani Siak perlahan mulai terkikis habis hingga 70 persen dari seluruh kawasan hutan gambut, demikian ahli konsrvasi gambut di  Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan.

Di atas tanah gambut  sebagian besar kini telah dipenuhi rimbunnya sawit  dan Hutan Tanam Industri (HTI).

Mencari Jati Diri Masyarakat Adat Papua

Ditulis oleh Rachmat Hidayat. Posted in ClimateReporter

Oleh Rachmat Hidayat, LKBN ANTARA, Palangkaraya, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga) dengan penugasan ke Papua Agustus 2014

“MASYARAKAT asli Papua hanya bisa protes dan kemudian diam,” kata Ketua Pemerintahan Dewan Adat Papua Sayid Fadhal Alhamid membuka pembicaraan terkait kondisi hutan yang mulai rusak akibat maraknya kegiatan perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Keterbukaan investasi sangat penting untuk meningkatkan pembangunan dan perekonomian masyartakat khususnya daerah yang kaya akan sumber daya alam.

Jual Danau Toba Jangan Sekadar Nama

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Oleh Hartatik, Wartawan harian Suara Merdeka ,Semarang,
peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan di Sumatera Utara Agustus 2014

DERU suara truk yang mengangkut kayu pinus meraung-raung kencang, ketika keluar masuk dari Hutan Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Berpuluh-puluh batang pinus yang ditebang dari hutan alam itu, hanya dalam hitungan jam sudah berpindah tempat.

Dalam sehari tidak kurang dari 10 truk pengangkut kayu-kayu pinus, melintas di jalur lintas timur Sumatera menuju Dairi dan Medan. Kebanyakan truk yang membawa kayu-kayu dari Hutan Tele itu melintas sehabis magrib.

Demikian disampaikan Wilmar Eliaser Simandjorang usai memutarkan rekaman video berdurasi sekira setengah jam yang pernah didokumentasikan saat berada di Hutan Tele.

Secara mengejutkan, pegiat lingkungan dari Lembaga Penyelamatan Kawasan Danau Toba itu mengaku, pernah diancam dibunuh ketika melakukan dokumentasi. Bersama anaknya, Rikardo Simandjorang, mantan Bupati Samosir ini merekam aktivitas truk pengangkut kayu yang tengah keluar dari hutan Tele.

Menyeret Ember, Menghapus Luka

Ditulis oleh Yashinta. Posted in ClimateReporter

Oleh Yashinta, Batam Pos, Kepulauan Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


SETIAP tahun bencana api menjadi sumber ketakutan tersendiri bagi masyarakat Riau. Puluhan ribu hektar lahan rakyat terbakar percuma. Kerugian materi menyentuh angka triliunan rupiah, bahkan kesehatan puluhan ribu jiwa terancam

Masyarakat Desa Tanjungleban, Riau, sudah bisa tersenyum. Mereka bisa memecah tawa, meski sisa-sisa duka itu masih tersimpan elok di ingatan. Februari hingga Maret 2014 si jago merah mengamuk lagi di puluhan ribu hektare lahan warga di Kabupaten Bengkalis. Kebun sawit dan karet dilahap tanpa ampun.  Tamu yang tak diundang itu juga menghadiahi warga dengan karbondioksida (CO2). Dan, menyebarlah CO2 dalam bentuk asap hitam, hingga daerah tetangga.

Menurut  Dr. Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi Bencana, Universitas Riau,  Tanjungleban merupakan salah satu daerah yang mengalami kebakaran terbesar di  Riau. Daerah ini berada di atas tanah gambut berkedalaman hingga 12 meter. Musim kemarau, tanah gambut mudah kering dan  terbakar. Puntung rokok yang dibuang secara tak sengaja bisa menimbulkan kemarahan si jago merah. Meski sudah dipadamkan,  bara api sering petak umpet di bongkahan gambut  dan kembali membara ketika mata masyarakat lengah. 

Bukitlengkung Nasibmu Kini

Ditulis oleh Musdalifah Rachim. Posted in ClimateReporter

Oleh Musdalifah Rachim, Harian Pagi Radar, Kota Jambi,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


NUN di ujung utara  Negeri Lancang Kuning  keberadaan Dusun Bukitlengkung dan  Desa Tanjungleban,   Riau, menjadi “mendunia” karena kebakaran pada 20 Februari 2014.  Musibah itu sempat menjadi perhatian luas setelah ratusan hektar kebun sawit  ludes dimakan api. Warga pemilik kebun “gigit jari”. Harapan masa depan hilang.  Perekonomian di dusun ini hancur, padahal saat itu mereka sedang menunggu panen kelapa sawit.

Gerimis ringan baru saja turun. Udara lembab. Di bawah matahari yang tidak terik Ahad, 1 Juni,  sembilan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi Dusun Bukitlengkung dan Desa Tanjungleban. Mereka tergabung dalam  kelompok Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang diprakarsai oleh Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Jakarta dan Kerajaan Norwegia.

Kelompok ini menemukan suatu dinamika masyarakat agraris yang berbenturan dengan ancaman alam yang keras. Kondisi riil yang harus dihadapi  masyarakat di sini pascakebakaran hebat adalah bagaimana membangun kembali perekomian yang telah “patah tulang”. Mereka tidak boleh putus asa,  hidup dan kehidupannya harus terus berjalan. Para petani sawit ini  umumnya warga “eksodus” dari Sumatera Utara.