ClimateReporter
Suara Warga Dusun Setelah Kebakaran PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 24 Juni 2015 14:54

Oleh Zuli Laili Isnaini, dosen Antropologi, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

Catatan penulis: Lokakarya ini menarik bagi saya, apalagi melihat korban kebijakan yang tidak populis bagi mereka. Masyarakat yang terpinggirkan dan dimiskinkan oleh kebijakan akibat kalahnya perebutan akses sumberdaya dari korporasi dan pemilik modal. Namun, sempitnya waktu di lapangan menyebabkan sedikitnya informasi yang mampu digali. Akan lebih baiknya bila waktu di lapangan jauh lebih lama dengan metode live-in, observasi, observasi-partisipatoris, dan wawancara mendalam.

“Kebakaran bukan karma, 99 % karena ulah manusia,” demikian pakar gambut yang juga Sekretaris Satuan Tugas Solusi Tuntas Bencana Asap, (STBA), Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan di setiap kesempatan memberikan seminar maupun sebagai narasumber mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau.

Presiden (waktu itu) Soesilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kebakaran di Riau Feb-Maret 2014 menelan kerugian 15 miliar rupiah. Ongkos penanganan bencana mencapai Rp150 miliar dalam waktu tiga minggu. Haris menambahkan jumlah tersebut pada kisaran matematika semata. Selebihnya yang tidak mampu dideteksi melalui mata telanjang tak dapat terkira, seperti berapa banyak organisme, baik flora maupun fauna mati karena kabut asap yang secara ekonomi merupakan kerugian yang besar.

Selanjutnya...
 
Sekolah Rimba Orang Utan Nyaru Menteng PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Saniah LS   
Senin, 12 Januari 2015 17:05

Oleh Saniah LS, Wartawan Majalah Aceh Tourism, Bandaaceh, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga) dengan penugasan ke Kalimantan Tengah Agustus 2014


TATAPAN matanya yang jinak tak menunjukkan mereka orang utan Kalimantan yang terkenal liar. Sekian tahun dididik di sekolah hutan Yayasan BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Wardah dan kawan-kawannya mulai disiapkan untuk dilepasliarkan di hutan sekitaran Kalteng, saat mereka berusia 12 tahun.

Hujan deras  mengguyur Nyaru Menteng,  arboretum (hutan pendidikan) seluas 62 ribu hetare.  Borneo Orangutan Survival Nyaru Menteng Kalteng letaknya sekira 30 kilometer arah timur dari Palangkaraya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah.

Central reintroduction orang utan Kalteng ini didirikan pada 1999. Di tempat yang memiliki luas areal 15 ribu hektare, dihuni sekira 508 individu orang utan (data 18 Agustus 2014). Dari jumlah itu 504 individu orang utan  sedang menjalani rehabilitasi dan empat individu orang utan liar.

Selanjutnya...
 
SOS Samarinda: Batubara Bahayakan Warga PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Sinta Apriani   
Senin, 12 Januari 2015 17:01

Oleh Sinta Apriani, Wartawan SKH Mediator di Jambi, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan ke Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, 21-23 Agustus 2014


RASA khawatir tiba-tiba mendera saat memasuki taksi yang mangkal di depan Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.  Selama perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda, ibukota provinsi, berjarak tempuh 3 jam, terlihat perbukitan yang gundul disana-sini karena aktifitas penebangan hutan dan pertambangan batubara.

“Ya. Kini sudah 71,1% wilayah Kota Samarinda berada dalam penguasaan industri tambang batubara,” ungkap penggiat jaringan advokasi tambang (Jatam), Abdullah Naim.

Dikatakannya, pemerintah baik daerah maupun nasional telah memberikan 58 Ijin Usaha Pertambangan/Kuasa Pertambangan (IUP/KP ) dan lima Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), sehingga hanya tersisa kurang dari 25% untuk kepentingan publik.

Selanjutnya...
 
Terkikisnya Permadani Gambut Kerajaan Siak PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hardaningtyas   
Senin, 12 Januari 2015 16:57

Oleh Hardaningtyas, Wartawan Rajaampatpos.com, Sorong, Papua Barat, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan ke Riau Agustus 2014

 

RASA penasaran tentang lahan gambut membuat langkah tak bisa terhenti begitu saja di Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau. Permadani gambut di Kabupaten Siak yang terkenal tingkat kedalaman dan terluas di dunia ini, seolah melambai meminta hendak dikunjungi untuk diketahui keberadaannya.
Siak, sebuah kabupaten kecil di sebelah timur Pekanbaru, dulunya merupakan sebuah kerajaan besar yang akhirnya tenggelam oleh masa dan peradaban modern.

Pemandangan ibu kota kabupaten terlihat asri dan bersih. Di sinilah permadani gambut tersimpan dan jadi rebutan. Beberapa pihak menyayangkan permadani Siak perlahan mulai terkikis habis hingga 70 persen dari seluruh kawasan hutan gambut, demikian ahli konsrvasi gambut di  Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan.

Di atas tanah gambut  sebagian besar kini telah dipenuhi rimbunnya sawit  dan Hutan Tanam Industri (HTI).

Selanjutnya...
 
Mencari Jati Diri Masyarakat Adat Papua PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Rachmat Hidayat   
Senin, 12 Januari 2015 16:53

Oleh Rachmat Hidayat, LKBN ANTARA, Palangkaraya, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga) dengan penugasan ke Papua Agustus 2014

“MASYARAKAT asli Papua hanya bisa protes dan kemudian diam,” kata Ketua Pemerintahan Dewan Adat Papua Sayid Fadhal Alhamid membuka pembicaraan terkait kondisi hutan yang mulai rusak akibat maraknya kegiatan perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Keterbukaan investasi sangat penting untuk meningkatkan pembangunan dan perekonomian masyartakat khususnya daerah yang kaya akan sumber daya alam.

Selanjutnya...
 
Jual Danau Toba Jangan Sekadar Nama PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 15 Desember 2014 16:51

Oleh Hartatik, Wartawan harian Suara Merdeka ,Semarang,
peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan di Sumatera Utara Agustus 2014

DERU suara truk yang mengangkut kayu pinus meraung-raung kencang, ketika keluar masuk dari Hutan Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Berpuluh-puluh batang pinus yang ditebang dari hutan alam itu, hanya dalam hitungan jam sudah berpindah tempat.

Dalam sehari tidak kurang dari 10 truk pengangkut kayu-kayu pinus, melintas di jalur lintas timur Sumatera menuju Dairi dan Medan. Kebanyakan truk yang membawa kayu-kayu dari Hutan Tele itu melintas sehabis magrib.

Demikian disampaikan Wilmar Eliaser Simandjorang usai memutarkan rekaman video berdurasi sekira setengah jam yang pernah didokumentasikan saat berada di Hutan Tele.

Secara mengejutkan, pegiat lingkungan dari Lembaga Penyelamatan Kawasan Danau Toba itu mengaku, pernah diancam dibunuh ketika melakukan dokumentasi. Bersama anaknya, Rikardo Simandjorang, mantan Bupati Samosir ini merekam aktivitas truk pengangkut kayu yang tengah keluar dari hutan Tele.

Selanjutnya...
 
Menyeret Ember, Menghapus Luka PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Yashinta   
Kamis, 04 Desember 2014 15:41

Oleh Yashinta, Batam Pos, Kepulauan Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


SETIAP tahun bencana api menjadi sumber ketakutan tersendiri bagi masyarakat Riau. Puluhan ribu hektar lahan rakyat terbakar percuma. Kerugian materi menyentuh angka triliunan rupiah, bahkan kesehatan puluhan ribu jiwa terancam

Masyarakat Desa Tanjungleban, Riau, sudah bisa tersenyum. Mereka bisa memecah tawa, meski sisa-sisa duka itu masih tersimpan elok di ingatan. Februari hingga Maret 2014 si jago merah mengamuk lagi di puluhan ribu hektare lahan warga di Kabupaten Bengkalis. Kebun sawit dan karet dilahap tanpa ampun.  Tamu yang tak diundang itu juga menghadiahi warga dengan karbondioksida (CO2). Dan, menyebarlah CO2 dalam bentuk asap hitam, hingga daerah tetangga.

Menurut  Dr. Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi Bencana, Universitas Riau,  Tanjungleban merupakan salah satu daerah yang mengalami kebakaran terbesar di  Riau. Daerah ini berada di atas tanah gambut berkedalaman hingga 12 meter. Musim kemarau, tanah gambut mudah kering dan  terbakar. Puntung rokok yang dibuang secara tak sengaja bisa menimbulkan kemarahan si jago merah. Meski sudah dipadamkan,  bara api sering petak umpet di bongkahan gambut  dan kembali membara ketika mata masyarakat lengah. 

Selanjutnya...
 
Bukitlengkung Nasibmu Kini PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Musdalifah Rachim   
Kamis, 04 Desember 2014 15:40

Oleh Musdalifah Rachim, Harian Pagi Radar, Kota Jambi,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


NUN di ujung utara  Negeri Lancang Kuning  keberadaan Dusun Bukitlengkung dan  Desa Tanjungleban,   Riau, menjadi “mendunia” karena kebakaran pada 20 Februari 2014.  Musibah itu sempat menjadi perhatian luas setelah ratusan hektar kebun sawit  ludes dimakan api. Warga pemilik kebun “gigit jari”. Harapan masa depan hilang.  Perekonomian di dusun ini hancur, padahal saat itu mereka sedang menunggu panen kelapa sawit.

Gerimis ringan baru saja turun. Udara lembab. Di bawah matahari yang tidak terik Ahad, 1 Juni,  sembilan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi Dusun Bukitlengkung dan Desa Tanjungleban. Mereka tergabung dalam  kelompok Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang diprakarsai oleh Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Jakarta dan Kerajaan Norwegia.

Kelompok ini menemukan suatu dinamika masyarakat agraris yang berbenturan dengan ancaman alam yang keras. Kondisi riil yang harus dihadapi  masyarakat di sini pascakebakaran hebat adalah bagaimana membangun kembali perekomian yang telah “patah tulang”. Mereka tidak boleh putus asa,  hidup dan kehidupannya harus terus berjalan. Para petani sawit ini  umumnya warga “eksodus” dari Sumatera Utara.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Bom Waktu di Bukitlengkung PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Fajar Fahrudin   
Kamis, 04 Desember 2014 15:38

Oleh Fajar Fahrudin, infokaltim.com, Samarinda,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau

(Catatan penulis: Lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan khususnya meliput perubahan iklim di daerah lahan gambut Riau; menambah persaudaraan, mengeratkan ikatan emosional di antara sesame jurnali. Lokakarya ini tidak sekedar  berbicara tentang situasi tentang lahan gambut, tapi juga degradasi pantai. (Peserta) punya pengalaman menarik  terkait meliput perubahan iklim di daerah lahan gambut Riau. Para mentor dapat mentransfer ilmu pengetahuan dengan baik, sehingga dapat diterima  peserta.)

 

KEBAKARAN lahan gambut di Dusun Bukitlengkung, Riau, Februari-Maret 2014 mengubah nasib warga dalam sekejap. Seorang di antaranya, Tugiadi, kehilangan harta yang dikumpulkannya dengan jerih payah selama tiga tahun. Dia menderita stres, sampai-sampai lupa nama istrinya.

Organisasi kampanye lingkungan hidup global Greenpeace sejak 2007 mengingatkan dan meminta pemerintah Indonesia mengantisipasi dampak El Nino. Badai ini  biasanya ditandai dengan kekeringan panjang yang bisa mengganggu produksi pangan dan meningkatkan risiko kebakaran lahan. Apakah ini ada hubungannya dengan kebakaran lahan gambut yang kaya karbon di Dusun Bukitlengkung, Riau?

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Bernapas dalam Kepungan Asap PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Arneliwati   
Kamis, 04 Desember 2014 15:36

Oleh Arneliwati, spesialis keperawatan, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau


TIDAK ada lagi udara segar dan angin bertiup sepoi–sepoi yang menyegarkan di desa ini. Hari–hari kelabu. Langit menghitam. Awan berarak. Oh, bukan! Bukan awan. Itu jerebu, kata  masyarakat di negara tetangga. Ya, asap yang muncul dari dampak buruk kebakaran lahan gambut di beberapa wilayah di Provinsi Riau.

Salah satu wilayah di Provinsi Riau yang mengalami musibah kebakaran terparah dan terluas  Februari-Maret 2014 adalah Desa Tanjungleban dan Desa Sepahat, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis.

Pada kunjungan kelompok Wartawan Meliput Perubahan Iklim di desa ini Juni lalu, terungkap bahwa di sini minim fasilitas kesehatan. Mereka hanya mengenal  bidan desa. Belum ada tenaga dokter yang bertugas di sini, sehingga saat kabut asap berlangsung tidak ada petugas kesehatan yang mengedukasi masyarakat menggunakan masker pada saat ke luar rumah.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Merajut Harapan di Bawah Keteduhan Tangkai Nanas PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Musdalifah Rachim   
Senin, 17 November 2014 15:24

Oleh Musdalifah Rachim, Wartawan Harian Radar Tanjab, Jambi,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

 

DUA ‘’hantu’’ditakuti warga Desa Tanjungleban.  Bukan kuntilanak atau genderuwo,melainkan  ketakutan warga atas  kebakaran hutan dan lahan serta abrasi pantai. H Atim bersama warganya bertekad memberantasnya dengan bersenjatakan tangkai-tangkai nanas.

Penduduk Desa Tanjungleban hidup awalnya dalam keteduhan hamparan sawit  sepanjang mata memandang. Namun peristiwa  pahit membuyarkan semua asa,  Pada 20 Februari  2014  musibah mengoyak-ngoyak semua hamparan hijau permai itu menjadi lautan api yang tidak terbendung. Entah dia harus pasrah, menangis atau meraung , lelaki ini terjebak dalam kekalutan hati, dia dan warga desanya merintih dalam kepiluan,  harta benda berupa hamparan hijau itu, telah lenyap dalam sekejap.

Dia Kepala Desa Tanjungleban H. Atim, nama pemberian sang bunda. Atim tumbuh dan membesar sebagai putra asli Tanjungleban, Kabupaten Bengkalis. Ia diserahi amanah luhur dan tanggungjawab yang tidak ringan sejak menjabat selaku kepala desa 23 Mei 2012.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Balada Penghalau Api PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 17 November 2014 15:21

Oleh Aries Munandar, Koresponden Harian Media Indonesia, Pontianak,
Peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau

Pengorbanan terus dilakoni walaupun hanya diganjar dua lembar pecahan Rp100 ribu setiap bulan.

Bencana pasti mendatangkan penderitaan. Korban dan kerugian pun kerap tak terbilang. Namun bencana juga tak jarang melahirkan sebuah cerita kepahlawanan. Mereka yang menyelamatkan para korban, juga yang meredam amukan petaka.

Begitu pula yang terjadi di Riau saat bencana asap Februari-Maret 2014. Adalah sekelompok warga yang mengabdikan diri sebagai anggota masyarakat peduli api (MPA). MPA merupakan kelompok relawan yang membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Anggota mereka direkrut dari warga desa setempat.

Saat ini tak kurang ada 1.164 MPA di Riau. Mereka tersebar di sejumlah desa rawan kebakaran lahan. Satu di antaranya berada di Desa Sepahat, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL