ClimateReporter
Dikepung Batu Bara, Nurbeti Bertahan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Dinda Wulandari   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:50

Oleh Dinda Wulandari, Koresponden Bisnis Indonesia di Palembang dengan penugasan ke Kalimantan Timur Maret 2014

NAMANYA Nurbeti, usianya 60 tahun. Bersama suaminya yang juga petani, mereka menggugat pemerintah ke pengadilan karena telah membiarkan tambang batu bara mengepung areal sawahnya di pinggir Samarinda, Kalimantan Timur.

Nurbeti membuka percakapan dengan keluhan betapa banyak gangguan yang muncul di sawahnya beberapa tahun terakhir.

"Kalau burung sudah biasa, tetapi yang lain seperti tikus juga sering menyerang. Gunung-gunung digusurin, hutan-hutan dihancurin, akhirnya tikus cari makan ke ladang," kata perempuan asli Jawa Tengah itu berseloroh.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Suwido H. Limin, Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah: “Kekuasaan MenyampingkanAdat, Berdampak Kehancuran Hutan” PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Desi Safnita Saifan   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:48

Oleh Desi Safnita Saifan, Koresponden Kompas.com di Aceh dengan penugasan ke Palangkaraya
Maret 2014

 

SEPOTONG demi sepotong pernyataan keras mengalir deras dari mulutnya seibarat luapan Sungai Kahayan yang diguyur hujan semalaman. “REDD+ menimbulkan konflik secara vertikal dan horizontal, padahal nilai ekonomisnya sama sekali tidak ada,” tukas Suwido H. Limin, Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah.

Ia berang. Bagaimana tidak, strategi daerah terkait REDD+ sudah digodok sebelumnya, hasil dari rangkaian pertemuan banyak pihak yang diinisiasi oleh pemerintah daerah setempat. Namun, pemerintah pusat tidak menggubris, malah menyambut rangkaian program Kedutaan Norwegia untuk menggelontorkan bantuan percepatan program REDD+ khususnya di Kalimantan Tengah. Alhasil, hingga detik ini, Suwido belum melihat aksi menggigit dari program dimaksud.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Hanggua Rudi Mebri, Pejuang Hak Ulayat Orang Papua: Banjir dan Longsor Membuatnya Kecewa PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ma'as   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:46

Oleh Ma'as, Wartawan Media Jambi, Kota Jambi, dengan penugasan ke Papua Maret 2014

SAMBIL mengunyah buah pinang dan buah sirih yang dicelupkan ke kapur sirih, lelaki Papua berambut ikal ini berbicara soal perubahan iklim. Ia sangat prihatin atas kerusakan lingkungan di wilayah Papua yang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor. Untuk menegakkan aturan, menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.  Masyarakat adat yakni Majelis Rakyat Papua (MRP) harus terlibat. Orang Papua tidak sama dengan daerah lain. Mereka patuh pada pimpinan adat. Apalagi tanah-tanah yang ada adalah hak ulayat.

“Pemerintah tunduk pada  pengusaha dan mengabaikan kepentingan rakyat Papua,  sehingga lambat laun hutan yang ada di Papua akan habis. Saya akan perjuangkan hak-hak rakyat Papua dan meminta kepada pemerintah untuk menegakkan aturan dan jangan tebang pilih,” ujar Hanggua Rudi Mebri, Direktur Yayasan Emrereuw di Sentani.

Ayah satu anak kelahiran Abenibi, Distrik Abepura, 3 Mei 1971  ini telah beberapa kali mengingatkan pemerintah dan melakukan aksi penanaman kembali hutan-hutan yang gundul. Bahkan meminta pemerintah merelokasi masyarakat yang mendirikan rumah di tebing yang curam.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Anuar Tambusai 26 Tahun, 15 Hektare, Jutaan Pohon PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nazat Fitriah   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:44

Oleh Nazat Fitriah, Wartawan TVRI Kalimantan Selatan dengan penugasan ke Sumatra Utara Maret 2014

IA menyeruak dari rerimbunan pohon dengan bertelanjang dada dan celana selutut pada siang terik itu. Kaki dan tangannya berlumur lumpur. "Saya sedang membuat bibit," ucap Anuar Tambusai.

Sembari Anuar, 58, membersihkan diri, tamu dipersilakan menunggu di warung kopi di depan rumahnya di Dusun III, Desa Rugemuk, Kecamatan Pantai Labu,  kira-kira 30 kilometer dari pusat Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara.

Rumah itu begitu sederhana. Setengah dinding berbahan bata, sisanya tersusun dari papan. Atap di sisi kiri depan tampak melengkung, dan beberapa bilah papan di bawahnya jebol, bekas tertimpa pohon baru-baru ini.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Agus Sutriyo, Bertahan di Lahan Pangan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Zaki Setiawan   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:43

Oleh Zaki Setiawan, Koresponden Koran Sindo di Batam dengan penugasan ke Sumatra Selatan Maret 2014

LAHAN gambut dan hutan belantara di Desa Nusantara, kini menjadi lahan pertanian yang hasil panennya mampu menyumbang pangan penduduk di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Jalur sungai menuju desa, jembatan kayu, dan jalan tanah dibuat warga secara swadaya.

Kesejahteraan yang mulai dirasakan warga di desa lumbung padi ini, dilalui penuh liku. Bertahan dengan kondisi alam, godaan untuk tidak menjual lahan ke orang lain atau perusahaan, dan keuletan mengubah lahan gambut menjadi lahan pertanian dilakukan warga transmigran, ujar Agus Sutriyo, salah satu pelaku transmigrasi tersebut.

Keinginan untuk menyukseskan program pemerintah dan berharap peningkatan kesejahteraan bagi keluarganya, mendorong pria 58 tahun ini untuk menerima tawaran transmigrasi pada 1981. Ia rela meninggalkan daerah yang membesarkannya, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, bersama istri, anak semata wayang, dan ratusan warga lainnya.

Selanjutnya...
 
Sampah Palembang Kini Dipasarkan Lewat Butik PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Zaki Setiawan   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:41

Oleh Zaki Setiawan, Koresponden Koran Sindo di Batam dengan penugasan ke Sumatra Selatan Maret 2014


MEMILAH sampah rumah tangga perumahan Bhayangkara di Palembang sudah menjadi pekerjaan sehari-hari bagi Lia. Sampah kering seperti bungkus minuman dan makanan ringan, bungkus deterjen, botol air mineral, dan kardus dikumpulkan terpisah oleh ibu berusia 31 tahun ini.

Tidak ada risi menjalani pekerjaan yang sudah digeluti oleh ibu satu anak ini sejak dua tahun silam di kompleks  Pakri, Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Dua. Sehari bisa terkumpul hingga 10 kilogram sampah kering hasil pilah yang masih bernilai guna. Sampah bernilai guna ini merupakan bahan kerajinan dan suvenir yang hasilnya dipasarkan melalui Butik Galeri Kemala di Gedung Abdullah Kadir kompleks  Pakri.

Selain memilah sampah dari sekira 80 rumah tangga di perumahan tersebut, Lia juga bertugas menjaga toko tempat penukaran sampah, Toko Tukar Sampah (Totusa). Di Totusa, warga dapat menukar sampah seperti kardus, koran, botol, kaleng hingga besi dengan barang dagangan atau uang.

Selanjutnya...
 
Kota Seribu Sungai di Hari Air PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Timoteus Marten   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:39

Oleh Timoteus Marten, Redaktur, Tabloid Jubi, Jayapura, dengan penugasan ke Kalimantan Selatan Maret 2014

SABTU bulan Maret langit Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, agak cerah. Tak seperti sehari sebelumnya, kota ini diguyur hujan sepanjang hari. Kini di sini hujan seharian berarti harus waspada.
Di kompleks Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Jalan Brigjen Hasan Basri, Paris mengorek-ngorek sampah, lumpur, dan mencabut rumput liar  sekitar parit sebagai bentuk kewaspadaan.

“Oh, ini hari Air Sedunia, 22 Maret,” kata Paris Maulana, Koordinator Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Fisipioner, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP Unlam) Banjarmasin.
Mereka melakukan kerja bakti di sekitar kampus Unlam untuk merefleksikan hari Air  dengan melibatkan Dinas Sumber Daya Air dan Drainase.

Puluhan anggota dari dinas itu dikerahkan untuk bekerja bersama sejumlah anggota Mapala Fisipioner yang membersihkan parit, daerah genangan air, lumpur, dan mengangkut sampah.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Batik Bakau Berkibar di Prancis PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Nazat Fitriah   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:34

Oleh Nazat Fitriah, Wartawan TVRI Kalimantan Selatan dengan penugasan ke Sumatra Utara Maret 2014

KARTIKA Hanum, 30, duduk tepekur di lantai. Hanya sebelah tangannya yang menjepit canting yang sibuk bergerak-gerak. Ia menggoreskan malam, lilin untuk membatik, mengikuti torehan tipis pensil di atas kain yang terbentang di tangannya yang sebelah lagi.

Sekilas tak ada yang terlihat istimewa dengan batik yang tengah dikerjakan warga Desa Sicanang, Kecamatan Medan Belawan itu.   Akan tetapi, kalau mengikuti proses pembuatan batik tersebut hingga selesai, maka kita akan tahu di mana letak keistimewaannya. Ya, batik yang sedang digambarnya tersebut adalah batik organik. Pewarna kainnya menggunakan bahan alami yang berasal dari tumbuhan pohon bakau.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Hutan Indonesia Seluas Dua Lapangan Tenis Lenyap dalam Setiap Detik PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ma'as   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:33

Oleh Ma'as, Wartawan Media Jambi, Kota Jambi, dengan penugasan ke Papua Maret 2014

INDONESIA akan menjadi padang pasir yang tandus dalam lima puluh sampai seratus tahun ke depan jika hutan tidak dilestarikan, kata Willian P. Sabandar. Bayangkan, hutan Indonesia seluas dua lapangan tenis lenyap dalam setiap detik, baik itu dibabat atau dialihfungsikan menjadi perkebunan, atau dijadikan areal penggunaan lainnya (APL).

William P. Sabandar, deputi operasional Badan Pengelola  Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation ( BP REDD+), menjelaskan luas tutupan hutan di Indonesia  terus berkurang akibat adanya pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI) dan APL.

“Jika tidak dilakukan penyelamatan, maka  hutan yang tersisa akan habis dan menjadi padang pasir yang tandus,” ujarnya pada Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim Kerja Sama Lembaga Pers Dr. Soetomo  dengan Kedutaan Besar Norwegia di Kampus LPDS, Gedung Dewan Pers, Jakarta, lantai 3, 18 Maret 2014.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Kaltim Hijau atau Hancur? PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Dinda Wulandari   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:31

Oleh Dinda Wulandari, Koresponden Bisnis Indonesia di Palembang dengan penugasan ke Kalimantan Timur Maret 2014.

"HARUS tercapai Kaltim Green itu kalau tidak ya Kaltim bisa hancur.”

Daddy Ruhiyat memasang muka serius untuk menunjukkan optimismenya terhadap pencapaian target penurunan emisi Kalimantan Timur yang dipatok sebesar 16% pada 2020.

Ketua Dewan Daerah Perubahan Ikim (DDPI) Kalimantan Timur itu berkeyakinan bisa mencapai target itu jika  melihat sejumlah rencana pengurangan emisi yang masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD).

"Untuk memulai langkah menurunkan emisi, perlu ada persamaan persepsi dahulu antara pemerintah dan SKPD di Kaltim," katanya.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Ibu Kota Dipindah, Pro Kontra Mengunggah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Desi Safnita Saifan   
Jumat, 15 Agustus 2014 11:29

Oleh Desi Safnita Saifan, Koresponden Kompas.com, Bireuen, Aceh, dengan penugasan ke Kalimantan Tengah Maret 2014

TAK salah bila ada wacana memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Selain memiliki letak yang  strategis—bisa   dijangkau dari mana pun—kondisi  tanahnya juga  datar—hampir  tanpa gunung. Idealnya pula, masih luas tanah yang tersedia karena baru 54 kilometer persegi atau baru 1/50 yang digunakan untuk pemukiman.

Luas provinsi Kalteng itu tercatat 153.800  km2 (7,95 persen luas daratan Indonesia) dengan jumlah penduduk saat ini diperkirakan 2,5 juta jiwa. Kota yang  digadang-gadang sebagai ibu kota negara tersebut  jauh lebih luas (2.678,5 km2 ) daripada Jakarta (661,52 km2 ). Ditambah,  secara geografis posisi Palangkaraya tepat berada di tengah Indonesia serta tidak berada pada daerah tektonik, sehingga kondisi ini relatif aman dari bencana gempa, banjir, dan tanah longsor.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Sumatra and Kalimantan reporters cover Riau after the wildfires PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Kamis, 12 Juni 2014 08:12

Photo caption: Workshop participants meet Tanjungleban Village Head Haji Atim (blue striped shirt second from right facing camera) on the front veranda of his house June 1 2014. (*)Jakarta (ClimateReporter) - Pineapples are the short term solution. Forest plants like jelutung and pelawan are the long term way out.

Wildfires raged through five regencies and one town in Riau province February – March 2014. As many as 1,234 hotspots were detected in early March. Some 21,900 hectares of dried out peatland were burnt.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL