Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "CSR Migas Dorong Percepatan Pembangunan Daerah"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

CSR Migas Dorong Percepatan Pembangunan Daerah

Sabtu, 25 November 2017 | http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/csr-migas-dorong-percepatan-pembangunan-daerah

Pembangunan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kian berkembang pesat. Kemajuan ini tak lepas dari adanya industri migas di wilayah setempat.
 
Keberadaan industri hulu migas di Bojonegoro menjadi berkah bagi pemerintah kabupaten dan masyarakatnya. Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mendapat dana bagi hasil (DBH) migas yang mampu menopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
 
Tahun 2017 ini, APBD Bojonegoro mencapai Rp3,3 triliun dan merupakan tertinggi ke dua di Jawa Timur, setelah Surabaya. Dengan pendapatan terbesar disokong dari DBH Migas.
 
Selain Pemkab mendapatkan dana bagi hasil (DBH) migas, masyarakat Bojonegoro juga memperoleh serangkaian program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) dari kontraktor kontrak kerja sama (K3S) yang beroperasi di wilayah setempat. Yakni ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, dan Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), operator Lapangan Gas Unitisasi Jambaran Tiung Biru (JTB).
 
Kemudian Joint Operating Body Pertamina – Petrochina East Java (JOBP-PEJ), operator Lapangan Sukowati, Blok Tuban, dan Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Aset 4 Field Cepu, pengelola Lapangan Tiung Biru (TBR), dan sumur minyak tua.
 
Beragam program yang dikucurkan para K3S ini telah mendapat persetujuan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SSK Migas). Yakni bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kegiatan pengembangan masyarakat lainnya. Program CSR yang diberikan K3S selama ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat.
 
Rangkaian program yang digulirkan K3S manjadikan masyarakat semakin berdaya dan mandiri. Warga mulai berani mendirikan usaha baru. Karena selain memperoleh serangkaian pelatihan untuk meningkatkan sumber daya, masyarakat juga mendapatkan permodalan hingga bantuan pemasaran untuk produk-produk usahanya.
 
Hasilnya perekonomian masyarakat Bojonegoro meningkat. Bojonegoro yang sebelumnya masuk daftar kabupaten termiskin, sekarang telah berhasil keluar dari daftar sepuluh kabupaten termiskin di Jatim.  
 
Sesuai perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Bojonegoro berada di urutan 11 kabupaten/kota untuk jumlah penduduk miskin di Jawa Timur. Pada 2015 jumlah penduduk miskin daerahnya sebanyak 193.990 jiwa (15,71 persen) dan turun menjadi 180.990 jiwa (14,60 persen), pada 2016.
 
“Capaian ini salah satunya dari program-program CSR yang diberikan operator. Sinergi antara pemkab dan perusahaan migas ini harus terus ditingkatkan untuk mengurangi jumlah kemiskinan di Bojonegoro,” kata Bupati Bojonegoro, Suyoto.
 
Bupati dua periode itu juga mengingatkan, generasi sekarang harus melihat kedepan. Karena sumber minyak lambat laun akan habis. Yang tersisa pengusaha-pengusaha yang harus ditimbulkan mulai dari sekarang.
 
“Memang tidak gampang, tapi bukan berarti tidak mungkin," tandasnya.
 
Tidak hanya dengan berwirausaha, bantuan K3S dalam peningkatan mutu pendidikan dan kesehatan selama ini di nilai Kang Yoto-sapaan akrab Bupati Suyoto, telah memberikan dampak signifikan di Bojonegoro.
 
"SDM banyak mengalami peningkatan, dan pastinya berperan serta dalam mengurangi angka kemiskinan di Bojonegoro,” tegas Kang Yoto kembali.
 
Program CSR yang digulirkan EMCL, misalnya. Operator telah menggulirkan program kemasyarakatan jauh hari sebelum Lapangan Banyuurip produksi. Tujuannya agar ketika proyek konstruksi berlangsung warga dapat menangkap peluang usaha dan kerja.
 
Bahkan anak perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu juga telah memikirkan ketika produksi sudah berlangsung yang diikuti dengan semakin kecilnya jumlah tenaga kerja. Yakni membekali pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Dengan harapan pengusaha-pengusaha muda nantinya dapat mandiri dan merekrut tenaga kerja sendiri dari lingkungannya sehingga dapat mengurangi pengangguran.
 
"Hal itu akan terus kami lakukan, seperti acara sekarang ini untuk menarik minat kewirausahaan dan membantu semuanya untuk bisa mandiri dan jadi pengusaha," kata Juru Bicara EMCL, Rexy Mawardijaya.
 
Lain lagi program CSR yang diberikan JOB P-PEJ. Untuk meningkatkan perekonomian warga, JOBP-PEJ telah mendorong berdirinya Kedai K-Noman. Program yang menjadi salah satu  inovasi JOB PPEJ itu adalah menciptakan Agro Kuliner khas pedesaan, untuk membantu kemandirian serta meningkatkan perekonomian warga desa setempat.
 
Bentuk dukungan yang diberikan JOB P-PEJ adalah memberikan pelatihan bagi pemilik dan pegawainya bagaimana mengelola rumah makan secara baik dan benar.
 
"Ada pembelajaran managemen keuangan, marketing, dan lain sebagainya," sambung Field Administration Superintendant JOB P-PEJ, Akbar Pradima.
 
Pembangunan Agro Kuliner tersebut dibentuk dengan konsep tradisional dengan menyediakan menu tradisional khas dari desa tersebut. Inovasi pembuatan Kedai K-Noman atau Agro Kuliner tersebut bukan untuk individu dari pihak desa, tapi demi mengangkat dan meningkatkan perekonomian bagi warga masyarakat sekitar dan akan muncul peluang tenaga kerja yang bisa dimanfaatkan warga desa ring I.
 
“Agro Kuliner ini dikelola oleh BUMDes dengan melibatkan warga setempat sehingga memberikan peluang tenaga kerja baru dan peluang usaha,” imbuhnya.
 
Sementara itu, program peningkatan ekonomi kemasyarakatan juga diberikan PEPC.  Masyarakat sekitar daerah operasi JTB mandiri dengan usaha batik yang dilakukan. Sebelumnya PEPC  telah memberikan bekal keterampilan terhadap mereka untuk mengembangkan bisnis industri batik.
 
Sebanyak 25 orang dari 5 desa di 3 kecamatan yang ada di sekitar lokasi kini sudah bisa memproduksi batik tradisional yang selama ini telah mereka geluti. Batik yang mereka produksi memiliki ciri khas. Batik yang dominan berwarna kalem itu diproduksi dengan menggunakan pewarnaan alam. Sehingga nuansa alamiahnya sangat kental.

Diharapkan kerajianan tersebut dapat berkembang dan bersaing di pasar global. Selain memberikan bekal keterampilan, PEPC juga berusaha menciptakan pasar dari hasil usaha batik warga ini.
 
“Kedepan engan adanya pelatihan ini diharpkan akan menciptakan local hero atau tokoh perempuan yang bisa bersaing di tingkat global,” timpal Public and Government Affair Pertamina EP Cepu, Edy Purnomo.
 
Operator sumur Tiung Biru dan Sumur Tua, PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu juga telah memberikan banyak sekali program CSR bagi warga Bojonegoro.  Salah satunya menggelar pelatihan manajemen ASI bekerja sama dengan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Jawa Timur dalam rangka CSR SEHATI (Sehat Anak Tercinta & Ibu) di Bonero Hotel Bojonegoro.
 
Pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari pada Senin-Rabu (28-30 Agustus 2017) ini diikuti oleh 25 kader posyandu dari enam desa di wilayah operasi Perusahaan yakni desa Kalisumber, Malingmati, Tambakrejo – Kecamatan Tambakrejo dan desa Purwosari, Gapluk, Kuniran – Kecamatan Purwosari.

Selain pelatihan tersebut, Asset 4 Field Cepu juga memberikan bantuan pemenuhan sarana prasarana posyandu dan kelas ibu hamil untuk wilayah Kecamatan Tambakrejo, Purwosari, dan Kedewan – Bojonegoro seperti timbangan bayi digital, konseling ASI kit, bola senam hamil, alat ukur panjang badan bayi, temometer digital, dan lain sebagainya.
 
“Kita ingin meningkatkan kualitas generasi masa depan melalui kader posyandu. Diharapkan dengan pelatihan ini seluruh kader bisa memberikan informasi kepada masyarakat dan mengedukasi secara maksimal jika ASI sangat penting bagi bayi. Dengan program ini setidaknya dapat meningkatkan kesehatan di sekitar operasi,” jelas Field Manager PEP Asset 4, Heru Irianto.
 
Bantuan CSR yang diberikan KKKS selama ini tidak diberikan dalam bentuk tunai. Namun harus melalui program sosial yang diatur dalam UU Migas. Dengan adanya program CSR diharapkan menciptakan program kepedulian terhadap masyarakat sesuai dengan fungsi sosial.
 
SKK Migas berharap agar  program sosial baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun peningkatan ekonomi masyarakat bisa dimanfaatkan oleh masyarakat saat KKKS telah meninggalkan daerah operasinya.

”Program CSR yang digulirkan operator untuk melengkapi daripada program-program pemerintah daerah, dan turut mempercepat pembangunan,” sambung Kepala Perwakilan Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Mashar dikonfirmasi terpisah.

Karena itu pihaknya berharap agar masyarakat dan stakeholder mendukung kegiatan migas di Bojonegoro. Ali mencontohkan, produksi puncak Lapangan Banyuurip sebesar 200 ribu barel per hari (Bph) yang tercapai sekarang ini tidak akan bisa dicapai K3S tanpa dukungan dari semua pihak.
 
"Ini adalah berkah yang harus disyukuri. Mari kita jaga bersama-sama agar berkah ini bisa membawa kemakmuran masyarakat,” pesan pria humanis dan ramah itu.(ririn wedia)

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "GWIM Gelar Festival Inspirasi Perempuan"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

GWIM Gelar Festival Inspirasi Perempuan

23 Agustus 2017 | http://www.suarabanyuurip.com/kabar/baca/gwim-gelar-festival-inspirasi-perempuan

Bojonegoro - Alumni Global Women in Management (GWIM) Indonesia bersama ExxonMobil Foundation menggelar Festival Inspirasi Perempuan di Pendapa Malowopati kompleks Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (23/8/2017). 

Acara ini merupakan akhir dari rangkaian kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Unggulan  yang diselenggarakan oleh para alumni. 

GWIM dibentuk pada tahun 2005 oleh ExxonMobil Foundation yang merupakan yayasan milik ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Lapangan Banyuurip, Blok Cepu. Ada 47 wanita sebagai anggota GWIM dari seluruh Indonesia dan rata-rata merupakan pengusaha sukses semua. 

Ketua Koordinator Alumni GWIM, Thima Komaling, mengatakan, sejak April hingga Agustus 2017 ini pihaknya telah melakukan serangkaian kegiatan mulai dari pelatihan, proses Focus Grup Discussion (FGD) Tahap I dan II serta kunjungan lapangan (field visit) di Malang. 

"Ada 18 wanita yang kita latih dari Kecamatan Gayam," imbuhnya.

Setelah para peserta mendapatkan pendalaman terhadap materi leadership (kepemimpinan), marketing (pemasaran), value chain (rantai nilai), dan managemen keuangan, serta proses belajar dan berbagi pengalaman dari praktisi secara langsung di Festival ini mereka akan diberikan ruang untuk berjejaring dan praktek mempresentasikan produk usaha dari masing-masing. 

"Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman dari beberapa pengusaha perempuan di industry tentang tips dan trik praktis dalam memperkuat diri sebagai perempuan pemimpin," tukasnya. 

Government and Media Relations Manager EMCL, Katri Krisnati, mengatakan, peran perempuan dalam kehidupan sosial sangat signifikan. Betapa tidak, penelitian menunjukkan bahwa sepuluh persen penghasilan masyarakat di dunia ini dihasilkan oleh perempuan. 

"Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa pembangunan di sebuah negara akan berkembang ketika perempuannya maju," tandasnya.

Sementara itu, istri Bupati Suyoto, Mahfudhoh, mengatakan, perempuan tidak hanya perlu materi. Namun kebahagiaan jauh lebih penting. Perempuan perlu diperhatikan, didengarkan, dan disayang. 

"Untuk bisa bahagia, kita harus punya modal self acceptance. selain itu, harus membiasakan berpikir positif. Sikap seperti ini akan membawa ketenangan dan kebahagiaan," tandasnya.

Staf ahli Bupati Helmi Elizabeth, menyampaikan rasa terimakasih dan mengapresiasi EMCL yang telah melaksanakan kegiatan pengembangan perempuan ini. 

"Ini adalah sebuah sinergitas yang baik," tandasnya.

Pemkab Bojonegoro tidak bisa sendirian dalam melakukan pembangunan. Oleh karena pihaknya sangat terbuka untuk kerjasama dengan semua pihak dalam membangun Bojonegoro. 

Tahun 2016 Bojonegoro keluar dari sepuluh besar kabupaten termiskin di Jawa Timur. Prestasi ini bisa diraih berkat kerjasama dan usaha bersama semua pihak, termasuk panjenengan semua. 

Mudah-mudah ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua, khususnya perempuan yang ada di sini. (rien)

 

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Ingin Ajak Warga Tak Hanya Mengincar Proyek di Perusahaan Migas"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Nur Alisa Pujiastuti, Pengusaha Muda Lulusan SMP

Ingin Ajak Warga Tak Hanya Mengincar Proyek di Perusahaan Migas

Hidup di dekat lapangan yang memproduksi migas, tak membuatnya terjebak dengan pola pikir umumnya masyarakat sekitar yang hanya mengandalkan proyek migas. Dia keluar dari pola piker praktis itu dan merintis usaha dari bawah. Pendidikannya yang hanya lulus SMP tak menghalanginya sukses. Itulah Nur Alisa Pujiastuti, pengusaha muda asal Desa/Kecamatan Gayam.

“Saya lahir di Desa/Kecamatan Gayam 20 tahun yang lalu. Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Saya hanya lulusan SMP. Alhamdulilah, saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Saya punya usaha yang juga bisa bermanfaat untuk orang sekitar,” ujar Alisa dengan suara agak terbata-bata ketika membagikan pengalamannya pada para peserta pelatihan perempuan di Pendapa Malowopati Bojonegoro, Rabu (23/8).

Dari segi usia, Alisa memang masih muda. Namun, perjalanan dan liku hidupnya bisa menjadi inspirasi perempuan lainnya. Sebab, dia yang hanya lulusan SMP tak punya kemampuan dan modal apa-apa untuk mengembangkan diri.

Kondisi lingkungannya di desa juga mempengaruhi pola pikirnya. Terlebih dia seorang perempuan yang hanya berijazah SMP. Sebab, untuk sekolah lagi, orang tuanya tak mampu membiayai. Maka, ketika lulus SMP pada 2004, dia menjadi buruh linting rokok. Pekerjaan itu dilakoni selama empat bulan. “Karena selanjutnya saya merantau ke Berau, Kalimantan, untuk mencari uang, “ tuturnya.

Di tanah seberang, tak membuat kehidupannya lantas membaik. Pada 2006, dia kembali ke kampung halamannya, namun tak mengubah apa-apa. Sehingga, setahun setelah kepulangannya, Alisa dinikahkan. Sang suami yang mempunyai usaha kecil-kecilan mengenalkan pada dunia usaha. “Saat itu hanya dagang kopi kecil-kecilan,” ungkapnya.

Usaha itu terus dikelola, hingga pada 2011 mulai berani mengontrak tempat usaha yang lebih baik. Hanya, belum punya pengalaman dan manajemen pengelolaannya masih sederhana, menjadikan usahanya tak berkembang. Bahkan, semakin lama modal menipis. Pada 2012, di desanya didatangi sebuah lembaga yang menawarkan pelatihan bagi warga desanya yang ingin berkembang. Dengan didukung suaminya, dia memutuskan ikut.

Pelatihan itu diakuinya membuka pikirannya. Pandangan dia tentang usaha yang selama ini diyakini dijungkirbalikkan. Dia mendapat ilmu-ilmu untuk pengembangan usahanya. “Bukan hanya diajari mengelola manajemen, namun bagaimana promosi, branding, memelihara pelanggan dan lainnya,” jelasnya.

Salah satu contoh adalah soal pembukuan. Jika sebelumnya dilakukan setahun sekali. “Dari sana kita tahu produk apa yang digemari konsumen dan berapa omzet kita. Sangat bermanfaat pelatihan itu,” katanya.

Saat ini, dia sudah punya beberapa usaha seperti toko busana, rumah makan, rental playstation (PS) dan lain sebagainya. “Saya ingin mengajak warga untuk tidak hanya menjadi pekerja proyek, namun menjadi pengusaha. Kalau saya bisa, semua pasti bisa,” katanya bersemangat. (*/haf)

 

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Diversifikasi Produk Pertanian Ditampilkan Petani Blora"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Diversifikasi Produk Pertanian Ditampilkan Petani Blora

Rabu, 27 September 2017 – Suara Merdeka, Fokus Jateng

HARI Tani Nasional (HTN) diperingati 24 September. Peringatan HTN menjadi momentum tepat untuk mengekspresikan jati diri para petani. Jerih payah yang mereka lakukan untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional patut mendapatkan apresiasi. Pemkab Blora pun tidak ketinggalan mengekspose hasil karya petani melalui pameran Gelar Potensi Pertanian 2017. Pameran tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani melalui jalinan kerjasama dengan semua pihak.

Pameran secara resmi dibuka Bupati Djoko Nugroho, Jumat (15/9), di kawasan Blok T Blora. Pameran berlangsung hingga Minggu (17/9). Menurut bupati, selama ini yang terjadi di lapangan justru petani banyak dirugikan oleh pasar. Harga yang dibeli para tengkulak dari petani sangat rendah, sedangkan di pasar harganya sangat mahal. Sehingga keuntungan yang besar justru ada di tangan tengkulak. Petaninya hanya bisa menikmati keuntungan yang sedikit. ‘’Paribasane petanine mung iso nutup biaya produksi wae, sedangkan tengkulak dengan bebasnya menentukan harga jual yang keuntungannya tinggi. Ini yang harus dicegah. Saya mengharapkan pameran ini bisa menjadi salah satu jalan tengahnya. Dari petani bisa menjual langsung di pameran dengan harga di atas harga beli tengkulak dan di bawah harga pasar. Sehingga petani bisa lebih untung,’’ ujar Bupati Djoko Nugroho dalam sambutan pembukaan pameran.

Pameran diikuti 33 stan yang berasal dari UPT Pertanian tingkat kecamatan, gabungan kelompok tani, dinas terkait, perbankan, produsen Alsintan, GMM, formulatur pupuk dan pestisida serta pelaku UMKM.

Saat mengujungi stan UPT Kecamatan Todanan, bupati pun menanyakan harga bawang merah yang dipamerkan. Ternyata bawang merah yang biasanya dibeli tengkulak Rp 15 ribu per kilogram dari petani dan dijual di pasar Rp 20 ribu per kg, di pameran ini dijual langsung oleh petani dengan harga Rp 18 ribu per kg. ‘’Nah kalau seperti ini petani bisa memperoleh keuntungan lebih banyak. Di sisi lain pembeli bisa memperoleh barang dengan harga yang lebih murah dari pasar,’’ kata bupati.

Kokok, sapaan akrab Djoko Nugroho pun mengapresiasi pameran Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 yang sudah kali kedua dilaksanakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sejak 2016 lalu. Bahkan tahun depan bupati meminta pameran seperti ini bisa dilaksanakan multi dinas. Sehingga dinas atau OPD mengetahui perannya masing masing dalam memajukan Kabupaten Blora. ‘’Momentum pameran seperti inilah yang saya anggap sebagai puncak hasil kegiatan pembinaan kepada petani dalam satu tahun terakhir. Ini menandakan bahwa Blora kini sudah berubah. Blora yang dulu dikenal kering dan hanya menghasilkan jagung. Sekarang buktinya mempunyai banyak komoditas pertanian dan hortikultura yang luar biasa,’’ tegas Djoko Nugroho.

Dalam pameran tersebut setiap stan menampilkan produk-produk unggulan sesuai ciri khas kewilayahan. UPT Pertanian Kecamatan Jiken menampilkan produk beras organik dan brambang krispy, UPT Pertanian Kecamatan Todanan dengan olahan jambu mente, UPT Pertanian Kecamatan Kradenan dengan produk unggulan bawang merah, UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan dengan aneka buah-buahan seperti durian dan benih tanaman lainnya. Kecamatan Jati menampilkan tanaman unggulan jagung dan holtikultura lainnya serta jeruk oleh Pertanian Randublatung. Adapun UPT Pertanian Kecamatan Jepon menyuguhkan cabai berkualitas dan UPT Pertanian Kecamatan Sambong dengan budidaya tanaman hidroponik.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti, mengemukakan, Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 bertemakan “Diversifikasi Produk Pertanian dan Pelestarian Kearifan Lokal Menuju Blora Berdaulat Pangan”. Menurutnya, tema tersebut sangat tepat bagi masyarakat Blora yang saat ini sedang bergeliat mengembangkan potensi pangan lokal di tengah berbagai keterbatasan yang ada. “Gelar Potensi Pertanian ini kami laksanakan juga dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia ke 37 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober nanti serta Hari Tani dan HUT KTNA ke 46 pada 24 September,’’ tandasnya.

Dalam kesempatan pameran itu diserahkan pula bantuan alat mesin pertanian (alsintan) secara simbolis kepada sejumlah kelompok tani. Turut hadir dalam pembukaan pameran, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, Nuswantoro Setyadi Pradono, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora Hj.Umi Kulsum Djoko Nugroho, Sekda Drs. Bondan Sukarno MM, jajaran Forkopimda dan seluruh Kepala OPD se Kabupaten Blora. Selama pameran berlangsung, dimeriahkan dengan lomba mewarnai tingkat PAUD/TK tentang tema pertanian, lomba gerak dan lagu Modernisasi Desa, lomba merangkai produk pertanian dan malam hiburan berupa cokekan dan musik band. (Abdul Muiz)

Petani Ditantang Hasilkan Produk Lokal

PELAKSANAAN pameran pertanian yang dikemas dalam kegiatan Gelar Potensi Pertanian Blora 2017 di Blok T Kota Blora menyedot ribuan pengunjung. Omset pameran pun  mencapai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan data yang diperoleh dari panitia, total omset penjualan produk pertanian selama tiga hari mencapai Rp 216.632.750,-. Omset terbesar diperoleh oleh stan UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan yang menjual paket hidroponik, aneka bibit tanaman buah, durian, jambu kristal dan lainnya. ‘’Yang paling besar omsetnya Kecamatan Tunjungan sebesar Rp 26.198.000,-. Oleh karena itu diberikan penghargaan sekaligus sebagai pemenang juara pertama stan terbaik,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti.

Bupati Djoko Nugroho dalam sambutan pembukaan pameran sebelumnya memang menekankan agar stan yang ramai dikunjungi warga ditetapkan menjadi stan terbaik. ‘’Bukan malah barang-barang yang dipamerkan tidak boleh dibeli karena khawatir mengurangi keindahan stan. Stan yang produknya laris dibeli pengunjung itulah yang seharusnya menjadi stan terbaik,’’ kata Bupati Djoko Nugroho.

Bupati mengharapkan, tahun depan bisa dilaksanakan kembali pameran serupa. Karena dengan pameran, bisa meningkatkan pendapatan petani dari segi harga yang lebih menguntungkan. Daripada melepas produk pertanian ke tengkulak. ‘’Harus ada yang berbeda dengan pameran sebelumnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Coba kebangkan produk pertanian yang berkualitas dan berbeda dengan yang lain,’’ kata bupati.

Selama pameran berlangsung juga dimeriahkan oleh berbagai perlombaan seperti lomba mewarnai tingkat PAUD/TK, lomba merangkai produk pertanian tingkat SMA/SMK, lomba gerak dan lagu Modernisasi Desa tingkat SMA/SMK, lomba kreasi oleh-oleh khas Blora dan lomba stan terbaik.

Lomba mewarnai tingkat TK/PAUD dengan tema pertanian, juara 1 Anzilina dari TK Pelangi Ceria Blora, juara 2 Azzahra dari TK Pertiwi 2 Purwosari dan juara 3 Kamania dari TK Islam Baitunnur Blora. Lomba merangkai produk pertanian tingkat SMA/SMK juara 1 SMA Negeri 1 Tunjungan, juara 2 SMA Katholik Wijaya Kusuma Blora dan juara 3 SMA Muhammadiyah 1 Blora.

Adapun lomba gerak dan lagu modernisasi desa tingkat SMA/SMK; juara 1 SMA Negeri 2 Blora, juara 2 SMA Negeri 1 Cepu, juara 3 SMA Negeri 1 Tunjungan. Lomba kreasi oleh-oleh Tingkat UPT Pertanian; juara 1 UPT Pertanian Kecamatan Todanan dengan karya sari buah jambu mete, juara 2 UPT Pertanian Kecamatan Jiken dengan karya jagung instan, juara 3 UPT Pertanian Kecamatan Banjarejo dengan karya permen tape.

Sedangkan lomba stan pameran terbaik; juara 1 UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan, juara 2 UPT Pertanian Kecamatan Banjarejo, juara 3 UPT Pertanian Kecamatan Kedungtuban, juara harapan 1 UPT Pertanian Kecamatan Jati, juara harapan 2 UPT Pertanian Kecamatan Jiken dan juara harapan 3 UPT Pertanian Kecamatan Bogorejo. “Alhamdulillah ini berkat kerja keras teman teman petani, kelompok tani dan para penyuluh. Semoga ini bisa menjadi penyemangat kami dalam memajukan pertanian, khususnya di Tunjungan dan umumnya di Kabupaten Blora,” ujar Kepala UPT Pertanian Kecamatan Tunjungan, Saefudin. (Abdul Muiz)

Dari Industri Migas, Indra Karyanto Geluti Pertanian Hidroponik

TIDAK Banyak pekerja yang memilih menggeluti bidang lain setelah keluar dari pekerjaannya. Apalagi bidang yang digelutinya itu berbeda jauh dengan latar belakang pendidikan. Namun tidak demikian dengan Indra Karyanto. Setelah tak lagi bekerja di industri minyak dan gas (migas), dia memilih bercocok tanam dengan sistem hidroponik.

Dua tahun lalu Indra Karyanto masih bekerja di salah satu KSO Pertamina. Setelah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) di tahun 2016, sarjana teknik geodesi UGM Yogyakarta itu menggunakan uang pesangon yang diperolehnya untuk modal merintis usaha baru budidaya tanaman hidroponik. Usaha tersebut dimulainya di Desa Gadu, Kecamatan Sambong, Blora. Sebuah greenhouse hidroponik dibangunnya. ‘’Sayur-sayur ini sudah siap panen, sudah siap dipasarkan,’’ ujarnya.

Di greenhouse berukuran seperti rumah besar itu setidaknya terdapat 7.000 titik tanam. Beraneka ragam sayuran dibudidayakan di tempat tersebut. Mulai dari sawi hijau, sawi sendok, selada dan kangkung. Sayuran hijau nan segar itu dibudidayakan dengan sistem deep flow technique (DFT) yakni mengunakan genangan air di dalam paralon sebagai tempat penanamannya. Paralonnya pun disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan tanaman. ‘’Untuk airnya sendiri itu selalu mengalir.  Daya tampung airnya di tandon 1800 liter dan pastinya itu juga sudah diberi nutrisi dan suhu air juga diperhatikan,’’ tandas pria kelahiran Sukoharjo, 12 Mei 1982.

Usaha Baru

Indra Karyanto mengaku banyak tawaran untuk bekerja di dunia migas lagi setelah dia berhenti bekerja di salah satu KSO Pertamina, awal 2016. Namun dia lebih memilih menggeluti budidaya tanaman hidroponik.

Awalnya dia budidaya tanaman hidroponik di 100 titik tanam. Kemudian sejak Maret 2016, pemuda ini mulai membangun greenhouse berukuran besar. Uang pesangon yang diperolehnya dari perusahaan migas itu dipakainya untuk membuat greenhouse di Desa Gadu.

Selain itu, dia juga merelakan menjual alat ukur Total Station yang merupakan alat ukur utama seorang geodesi untuk pekerjaan survei dan pemetaan. Uang hasil penjualan digunakan untuk pengembangan hidroponik. ‘’Saking niat yang kuat menjadi petani saya jual alat ukur Total Station,’’ tandasnya.

Indra Karyanto beralasan, untuk mencapai hasil maksimal diperlukan perjuangan. Yakni perjuangan menciptakan sayuran yang baik dan layak konsumsi dan perjuangan menciptakan pasar.  ‘’Secara keekonomian penghasilan belum mengimbangi dari hasil bekerja di dunia minyak, namun ada kepuasan dan berkah sendiri dari menjadi petani. Saya yakin kebun saya akan berkembang dan mampu melebihi pendapatan dari bekerja di dunia minyak,’’ kata Indra.

Meskipun budidaya hidroponik tidaklah semudah yang dia bayangkan tetapi dia mengaku sangat senang. Indra berkeinginan greenhouse tersebut kedepanya bisa menjadi destinasi wisata edukasi bagi siapapun yang ingin belajar hidroponik. ‘’Yang pasti saya ingin dengan adanya hidroponik ini bisa memberdayakan masyarakat sekitar,’’ ujarnya.

Tidak lupa dia juga meluangkan sebagian waktunya untuk memberikan pelatihan hidroponik kepada warga. Menurutnya, pelatihan itu dalam rangka mengenalkan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik dengan harapan bisa berbagi pengetahuan tentang penting dan manfaatnya konsumsi sayuran sehat. Selain itu, hasil dari tanam sendiri bisa untuk konsumsi keluarga.  (SM/Abdul Muiz)

Biodata

Nama                                  : Indra Karyanto, ST

Tempat Tanggal Lahir           : Sukoharjo, 12 Mei 1982

Pendidikan                          : Sarjana Teknik Geodesi UGM Yogyakarta

Alamat rumah sekarang        : Perumahan Cepu Asri,  Desa Pojok Watu,  Kecamatan Sambong, Blora.

 

 

Karya Peserta Lomba Jurnalistik Banyu Urip 2017 - "Belajar Metode "Engklek" Bisa di PBG Bojonegoro"

Ditulis oleh Super User. Posted in Inside Mining

Belajar Metode "Engklek" Bisa di PBG Bojonegoro

Rabu, 29 November 2017 0:57 WIB | https://jatim.antaranews.com/lihat/berita/244843/belajar-metode-engklek-bisa-di-pbg-bojonegoro

Para guru di ruangan ini bergantian memperagakan cara belajar mengajar dengan metode alat peraga hasil pengembangan para guru dalam mendidik siswa.

Bojonegoro (Antara Jatim)  - "Anak-anak saya akan memperagakan belajar mengenal kota dengan metode 'engklek' (berjingkat)," kata seorang guru SDN Wotangare, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Nunik, Selasa (28/11).

Nunik yang menjadi guru di ruangan pelatihan  ber-AC di Pusat Belajar Guru (PBG) di Kelurahan Karangpacar, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jawa Timur, tetap memangil anak-anak kepada puluhan guru yang menjadi peserta "Pelatihan Media Pembelajaran Bagi Guru PAUD/TK dan SD/MI".

Ia pun kemudian memanggil peserta pelatihan untuk memperagakan metode belajar "engklek" (berjingkat) di atas kertas yang diberi tanda nama-nama kota yang diletakkan di lantai. Sesekali para guru peserta pelatihan tertawa berderai  ketika lompatan peserta salah di posisi kota.

"Para guru di ruangan ini bergantian memperagakan cara belajar mengajar dengan metode alat peraga hasil pengembangan para guru dalam mendidik siswa," ucap seorang  guru SDN Katur, Kecamatan Gayam, Bojonegoro Wisnu Tri Prasetyo yang juga peserta pelatihan.

Menurut dia, sebanyak 25 guru yang mengikuti pelatihan itu antara lain, dari Ngraho, Kota,  termasuk Kecamatan Gayam, yang masuk kawasan minyak Blok Cepu.

"Kegiatan pelatihan yang sekarang berjalan merupakan program PBG," kata  Sekretaris PBG Bojonegoro Anam Syarifuddin, dalam perbicangan dengan Antara.

Sebagaimana dijelaskan Anam, di PBG memiliki sejumlah ruangan untuk kegiatan mulai ruangan pelatihan, perpustakaan, laboratorium komputer, juga berbagai fasilitas lainnya.

Ruangan yang dimanfaatkan latihan para guru itu di atas pintu masuk tertulis ruangan Banyuurip. Nama itu mengambil lapangan minyak Banyuurip Blok Cepu di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, dengan operator ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Di ruangan sebelah utaranya  mengambil nama ruangan Gagak Rimang, yaitu mengadopsi nama kapal tangker penampung produksi minyak Blok Cepu "Floating Storage and Offloading"/FSO Gagak Rimang yang berkapasitas 1,7 juta barel di tengah laut  23 kilometer lepas pantai Tuban.

"Ruangan Banyuurip dan Gagak Rimang bisa menyatu untuk kegiatan pelatihan kalau pesertanya banyak," ucap karyawan di PBG Vita Rachim menambahkan.

Mengenai keberadaan PBG itu, menurut "Vice President, Public and Government Affairs" EMCL Erwin Maryoto, merupakan kelanjutan dari program-program peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah yang sudah dirintis  bersama Yayasan Putera Sampoerna dan Dinas Pendidikan Bojonegoro sejak 2008.

"Adapun kegiatan dalam program ini meliputi perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana gedung PBG serta pelatihan-pelatihan bagi para guru mulai tingkat PAUD hingga SMA," kata dia menjelaskan.

Sebagaimana disampaikan Bupati Bojonegoro Suyoto, bahwa masalah pendidikan di Bojonegoro membutuhkan perhatian serius dalam tata kelola menyangkut visi, misi, "branding" dan juga implementasinya.

"Jujur harus diakui saat ini masalah pendidikan begitu dinamis dan kompleks," katanya.

Masalahnya, menurut dia,  kurangnya peran serta orang tua terhadap pendidikan sangat tercermin terhadap mutu pendidikan. Selain itu juga sarana dan prasana pendidikan di sekolah yang kurang memadai membuat proses belajar mengajar siswa menjadi terhambat.

Ia mengutip sebuah puisi, " Maka berjuta pengetahuan terus bertambah. Meski Bagai misteri baru semakin bermunculan. Dan murid-murid itu terus menyeruak menyibak kabutnya. Terus menyeruak menyibak kabutnya".

"Keberadaan lembaga pendidikan akan sangat bermakna manakala bisa memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat," ucapnya.

Dikelola Guru
Sebagaimana dijelaskan Anam, PBG yang dulunya merupakan gedung lembaga pendidikan SMPN 2 mulai dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan bagi guru yang dirintis EMCL bekerja sama dengan Putera Sampoerna "Foundation" sejak 14 Juli 2014.

Dalam perkembangannya, lanjut dia, pengelolaan PBG kemudian diserahkan kepada Pemkab Bojonegoro sejak 28 November 2016.

"Tujuannya agar dalam pelaksanaannya bisa mandiri dikelola langsung para guru," ucap Anam yang juga guru di SMA Negeri Terpadu itu.

Dengan demikian, lanjut dia, biaya operasional untuk keperluan sehari-hari, antara lain, listrik, air, juga yang lainnya masuk dalam anggaran dinas pendidikan.

Meski demikian, seperti dijelaskan Anam, PBG memiliki delapan program kegiatan pelatihan yang didukung EMCL terkait pendanaan dengan alokasi  anggaran sekitar Rp200 juta.

"Delapan program PBG itu selama setahun, tetapi berbagai program lainnya juga jalan dengan melibatkan berbagai pihak yang juga menyangkut pelatihan bagi para guru untuk meningkatkan kemampuannya," ucapnya menjelaskan.

Menurut dia,  PBG pernah menggelar pelatihan bagi guru di bidang mata pelajaran matematika metode "Gasing" (gampang, asyik dan menyenangkan) bekerja sama dengan Surya Institut.

Selain itu  juga berbagai lembaga lainnya terkait pelatihan bagi guru, bahkan PBG juga dimanfaatkan guru untuk meluncurkan karya bukunya.

Tidak hanya itu, katanya,  PBG juga didirikan  di Kecamatan Kedungadem, Sumberrejo, Ngraho, Malo dan Temayang, sejak 2016.

"Ya untuk memudahkan para guru di kecamatan lainnya tidak harus datang kesini, tapi bisa memanfaatkan PBG di kecamatan untuk kegiatan pelatihan. Tapi tenaga pengajar yang ada di PBG siap datang ke PBG di kecamatan," katanya menegaskan.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan Jr, yang pernah berkunjung di PBG, pada 15 September mengatakan, investasi Amerika Serikat di Indonesia sebagaimana ditunjukkan EMCL bisa mendukung dan membantu Indonesia.

"Kerja sama antara EMCL dengan Bojonegoro bisa menjadi model yang baik sekali. Yang menunjukkan investasi Amerika Serikat bisa mendukung dan membantu Indonesia," kata dia.

Menurut dia yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan Hanafi, keberadaan PBG bisa menjadi contoh yang nyata kemitraan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat yang sudah berlangsung.

"Saya senang berkesempatan bertemu dengan para guru-guru. Bagaimana mereka mencari cara untuk pembelajaran bagi siswa di Indonesia," kata dia seraya menambahkan bahwa kerja keras yang dilakukan para guru di daerah setempat bisa menjadi inspirasi di negaranya.

Selain meninjau sejumlah ruangan PBG, Donavan Jr berdialog dengan sejumlah guru termasuk pengelolanya, Wiwik Widowati, yang menjelaskan kegiatan di PBG.

Pada kesempatan itu Donavan Jr  menulis kesan dan pesan pada  sebuah kanvas putih  dalam bahasa Inggris yang kemudian dipajang di ruangan kantor kurang lebih terjemahannya yaitu,

"Ini menginspirasi pembelajaran tentang semua pekerjaan yang besar di sini di PBG. Anda sedang menciptakan masa depan yang cerah bagi Indonesia menjadi besar". (*)