Lembaga Pers Dr.Soetomo
Pertanian Organik dan Mitigasi Perubahan Iklim PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 18:41

Laporan Rindra Devita, Harian Bali Post, Denpasar
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kuta Desember 2016. Karya ini dimuat di BaliPost.com 12 Jan 2017


Ilustrasi petani sedang menanam padi di sawah. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kipas angin berputar kencang, menebar udara segar di Sekretariat Walhi Bali, Rabu (11/1). Di dalam ruangan berukuran 3,5 x 3 meter, sudah ada Direktur Eksekutif Walhi Bali, Suriadi Darmoko dan Divisi Program Walhi Bali, Gilang Pratama. Walhi adalah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, sebuah organisasi advokasi besar lingkungan hidup.

Dua pemuda ini biasanya kerap terlihat dalam berbagai aksi tolak reklamasi Teluk Benoa. Mungkin tak ada yang menduga kalau mereka juga turun langsung menggugah kesadaran petani untuk kembali menekuni pertanian organik.

Selanjutnya...
 
Yaki di Tangkoko, Primata Endemik yang Terancam Punah PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 18:20

Laporan Jeane Rondonuwu, Sulutdaily.com, Manado
Penulis adalah alumna lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dan kontributor ClimateReporter

Dimuat Sulutdaily.com November 29, 2016

Monyet Hitam, Primata Endemik yang Nyaris Punah
Populasi Monyet Hitam (Micaca nigra) atau sering disebut Yaki di Taman Nasional Tangkoko kini terancam punah. Ancaman terhadap kelangsungan hidup monyet dengan kepala berjambul ini terus berlangsung dan frekuensinya semakin meningkat. Untuk itu menggagas Perda tentang konservasi species langka menjadi terobosan regulasi lokal yang perlu dikakukan.


Yaki kecil in sendirian bermain tidak jauh dari kelompoknya

Seekor Yaki kecil terlihat sendirian bermain dekat pohon rindang tidak jauh dari kelompoknya. Matanya mulai terbelakak ketika memandang rombongan kami yang mulai mendekati lokasi tempatnya bermain. Rupanya si kecil Macaca nigra ini sudah familiar dengan manusia. Tak peduli dipotret dari jarak dekat, Yaki yang sering juga disebut monyet hitam tersebut tetap bermain  dan sadar bahwa ada yang sedang memperhatikannya.

Selanjutnya...
 
Zola Kampanyekan Pelestarian Flora dan Fauna Pada Anak Usia Dini PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 18:16

Laporan Ma’as, mediajambi.com, Kota Jambi
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kota Jambi Oktober 2012. Karya ini dimuat di mediajambi.com 15 Agustus 2016

Mediajambi.com - Gubernur Jambi, H.Zumi Zola, S.TP,MA mengemukakan bahwa kampanye untuk melestarikan alam, melestarikan flora dan fauna harus dimulai kepada anak sejak usia dini, dengan harapan agar anak-anak memiliki pemahaman tentang pentingnya keseimbangan alam termasuk flora dan fauna di dalamnya, dan selanjutnya mau berbuat untuk kelestarian alam, untuk kelestarian flora dan fauna. Hal tersebut dinyatakan oleh Zola dalam Peringatan Tiger Day (Hari Harimau), bertempat di Bundaran Kantor Gubernur Jambi, Telanaipura, Minggu (14/8) siang.

Tiger Day diselenggarakan oleh komunitas pemerhati dan pelindung satwa langka, khususnya harimau. Untuk diketahui, Harimau Sumatera merupakan salah satu satwa langka khas Sumatera, termasuk Provinsi Jambi, yang kian hari jumlahnya kian berkurang.

Selanjutnya...
 
Orang Utan Jadi Anggota Keluarga Bagi Sri PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 18:03

Laporan Ahmad Sidik, Tribun Kaltim
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke pusat rehab orang utan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Feb 2016



Koordinator Baby Sitter BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Sri Rahayu.

Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (Tribun Kaltim/ClimateReporter) - Semua ibu pasti pernah merasa kesal kepada anaknya saat anak melakukan kenakalannya. Begitu pula dengan Sri Rahayu.

Koordinator baby sitter Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng Kalimantan Tengah, Sri Rahayu, 40, pernah mencubit anak orang utan asuhannya. Karena kesal is mencubit anak orang utan dan memarahinya.

“Orang utan biasa suka usil dan membuat saya kesal. Dia tahu kalau kita marah. Saya juga pernah marah saat merawat,  mencubit orang utan dan memarahinya. Orang utan mengerti saat orang yang berada di dekatnya sedang emosi,” ungkap Sri.

Wanita asal Barito Selatan ini  sudah enam tahun menekuni pekerjaan sebagai baby sitter. Baginya merawat dan menjaga orang utan merupakan hal yang menyenangkan.

Selanjutnya...
 
Menyambut Tembakan dengan Senyuman PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 18:00

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Sabangau, Kalimantan Tengah, Feb 2016


LAHG, Sabangau, Kalteng (Republika/ClimateReporter) -  “Ktookkk.. ktookkkk.. ktokkk.. ktokkkk....,” suara mesin klotok (perahu) bergema di Dermaga Kereng Bangkirai, Sabangau, Kalimantan Tengah.  Krisyoyo menimba air di dalam perahu yang tampak penuh. Panas terik dan atau hujan deras pun tak melunturkan keinginannya patroli ke pelosok hutan gambut memantau titik api.

Lelaki berusia 36 tahun tersebut saat bekerja mengandalkan klotok setiap hari. Perahu sepanjang lima meter berdiameter selebar orang dewasa, menjadi sahabatnya hilir mudik ke posko Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) di kawasan Hutan Taman Nasional Sabangau.  Letak taman nasional di pinggir baratdaya

Menuju posko tersebut membutuhkan waktu tiga perempat jam di musim hujan. Ini karena rawa lahan gambut tergenang air memudahkan klotok masuk areal hutan. Bila kemarau, klotok tidak bisa menuju hutan lebih dalam. Pengunjung terpaksa berjalan kaki masuk ke dalam hutan gambut.

Selanjutnya...
 
Belajar padam api dari Jumpun Pambelom PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:58

Laporan Sumarlin, Zonasultra, Kendari, Sulawesi Tenggara
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016



Tak kala kebanyakan remaja seusianya masih terlelap tidur di keheningan malam, pemuda 16 tahun itu justru bertaruh nyawa di hutan.

“Saya merasakan sedikit was-was,” ujarnya.

Sejak jam tiga dini hari, Daniel bersama 4 rekannya telah siaga di salah satu lokasi dalam hutan, karena sudah mendapat informasi awal. Itulah sepenggal pengalaman Daniel, tamatan SMA, saat api mulai menjilat pepohonan di Jumpun Pambelom akhir 2015. Jini kawasan hutan gambut milik perorangan di Km 30,5 arah ke selatan dari Palangka Raya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Letaknya di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulangpisau.

Berbekal sebuah mesin pompa air lengkap dengan selang yang sudah siap di pinggir sumur, Daniel bersama empat rekannya bersiaga menyambut kedatangan kobaran api yang semakin besar karena melahap pepohonan kering yang dilewatinya dan semakin mendekat kawasan hutan milik pribadi Jumpun Pambelom. Kawasan seluas 10 hektare ini milik  Januminro Bunsal dan dikelola bersama 15 warga sekitar.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Rehab Gambut, Rehab Orangutan PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:51

Laporan Ahmad Sidik, Tribun Kaltim
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016

Anok berada di pohon di kawasan BOS Nyaru Menteng. Orangutan berusia 8 tahun ini membolos dari kelas 22 Feb 2016.  Fotografer: Nico Pattipawae.

“Nok... Nok... turun yuk... Ini minum dulu”, kata Misna merayu Anok untuk turun.

Misna tampak lelah. Ia duduk dan menunjukkan sesisir pisang. Wajahnya menunduk kemudian menghadap ke atas berharap Anok, orang utan usia muda, kembali pulang. Misna, pengasuh orang utan di pusat rehab orangutan Nyaru Menteng,  tak menyerah. Ia kembali berdiri dan mengejar Anok yang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Anok nampaknya tidak mau turun dari pohon.

Anok sore itu tampak marah. Rambut di seluruh tubuh berdiri dan memandang tajam ke bawah sesekali. Misna tampak menggendong tas anyaman rotan sambil meneriaki untuk yang kesekian kali. Sesekali botol mineral berisi cairan warna orange digoyang goyangkan sambil berteriak, pandangan menghadap ke atas.

Namun orang utan usia delapan tahun ini malah mematahkan ranting, menggenggamnya.

Selanjutnya...
 
Asal-Usul Nama Tambun Bungai PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:50

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Kalimantan Tengah disebut sebagai bumi Tambun Bungai. Apa artinya?
Tambun Bungai adalah nama dwitunggal pahlawan yang sangat terkenal dalam sejarah suku Dayak Kalimantan, yaitu, si Tambun dan Bungai. Sejarah di tanah Dayak yang bernama Tetek Tatum (ratap tangis sejati) selalu menuturkan cerita kepahlawanan Tambun dan Bungai.

Pada jaman dahulu kala, ada tiga pahlawan Kalimantan. Mereka  bernama Lambung  atau Maharaja Bunu, Lanting atau Maharaja  Sangen, dan Karangkang Amban  Penyang atau Maharaja Sangiang.

Mereka bertiga tinggal dan mendiami lembah sungai Kahayan di tengah-tengah pulau Kalimantan. Hidup mereka dari memungut hasil hutan dan bertani. Adapun si Lambung alias Maharaja Bunu mempunyai 5 anak. Dua diantaranya bernama Tumenggung Sampung dan Tumenggung Saropoi.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL