Lembaga Pers Dr.Soetomo
Pantang Pulang Sebelum Padam PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:19

Oleh Yudhistira, Kontributor Beritasatu TV Medan,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Jari tangan kirinya menjepit rokok. Tangan kanannya menggenggam botol bekas air mineral berisi beberapa tetes bensin. “Tinggal inilah minyak yang tersisa,” ucap Andi lirih. Itulah tantangan bagi petugas kecil di daerah terpencil.

Andi adalah satu dari dua belas orang petugas honorer pemadam kebakaran yang sejak ratusan titik api kembali bermunculan sengaja disiagakan di posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis di Jalan Lintas Dumai—Pakning.

Bensin dalam botol itu memang hanya tersisa sedikit. Bensin itu untuk mengisi mobil pemadam kebakaran berukuran kecil berkapasitas lima liter. Bagaimana jika tiba-tiba terjadi kebakaran? “Saya berutang dulu ke warung bensin,” kata Andi. 

Selanjutnya...
 
M. Nur Pengabdi di Lahan Gambut PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:17

Oleh Ima Maya Isna, Wartawan RRI Palembang,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Suasana pagi yang cerah mengiringi langkah Muhammad Nur menuju tempat beraktivitasnya sehari–hari  sebagai pegawai negeri sipil yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak–anak di Desa Tanjungleban, Provinsi Riau.

Pengabdian yang diberikan guru di desa yang sebagian besar penduduknya petani karet dan penggarap kelapa sawit ini tidak hanya untuk murid–murid di SDN 24, tetapi juga untuk sekitarnya. Pak Nur  peduli  terhadap kelestarian lingkungan. Bahkan dirinya dapat disebut sebagai pionir. Ia ikhlas memberikan lahan miliknya untuk dijadikan percobaan.

Selanjutnya...
 
Perjuangan Sunyi, Seorang Doktor Selamatkan Gambut Riau PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:15

Oleh Firmansyah, Koresponden Kompas.com, Kota Bengkulu,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014

Pria ini jika dilihat dari perawakan cukup lemah dan seperti tak berdaya dan berwajah lemah lembut. Namun kesan itu akan berubah saat ia mulai berbicara soal lahan rawa gambut, terlebih rawa gambut yang rusak terbakar.

Ia akan berapi-api jika diberi kesempatan untuk berorasi soal gambut. Ia adalah Dr. Haris Gunawan, Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Solusi Tuntas Bencana Asap (STBA), Universitas Riau, ahli gambut yang mendedikasikan tidak kurang 11 tahun waktunya hanya untuk gambut.

“Selama ini saya mensunyikan diri berusaha berbuat bersama masyarakat untuk merehabilitasi kawasan gambut yang telah terbakar ditanami dengan pohon dan asri kembali,” katanya.

Selanjutnya...
 
Mengais Untung, Berujung Buntung PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:13

Oleh Zuli Laili Isnaini, Dosen Antropologi, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

Catatan penulis: Lokakarya ini menarik bagi saya, apalagi melihat korban kebijakan yang tidak populis bagi mereka. Masyarakat yang terpinggirkan dan dimiskinkan oleh kebijakan akibat kalahnya perebutan akses sumberdaya dari korporasi dan pemilik modal. Namun, sempitnya waktu di lapangan menyebabkan sedikitnya informasi yang mampu digali. Akan lebih baiknya bila waktu di lapangan jauh lebih lama dengan metode live in, observasi, observasi-partisipatoris, dan wawancara mendalam.


Tugiadi,  53,  hampir seluruh rambutnya  abu-abu. Ayah dua anak ini menceritakan  kebakaran rumah papannya  Jumat malam, 20 Februari 2014. Tanpa ragu ia menjelaskan awal mula terjadinya musibah tersebut.

Rumah Tugiadi terbakar di Dusun Bukitlengkung, DesaTanjungleban, Riau. Selain rumah, tiga lokal Madrasah Diniah Aliah juga terbakar di dusun tersebut di Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis. Berikut cerita Tugiadi:

“Pukul 4 sore aku, orang rumahku, dan Igun tetangga yang rumahnya habis terbakar, mengupayakan supaya rumah tidak sampai terbakar. Sebelum terbakar, sekeliling rumah sudah penuh asap dan rumah sudah disiram sampai basah. Tetapi karena asap dan api semakin besar, hanya tiga orang saja menyiram, maka tidak sanggup lagi berada di tempat itu, dan selanjutnya rumah kami tinggalkan.

Selanjutnya...
 
Mengusir Jerebu Demi Balita Batuk PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:10

Oleh Dian Emsaci, Wartawan Mingguan Kabar Aceh, Kota Bandaaceh,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Burhanuddin tenang-tenang saja, meski di sebelah kiri pos menara pantau kebakaran hutan dan lahan menyembul jerebu tipis. “Sebentar lagi hujan bakal turun. Lihat itu awan hitam sudah tebal. Kalau hujan, api pun akan padam dan asap menghilang,” kata pria berusia 41 tahun, ketua Regu 2, Masyarakat Peduli Api (MPA), Desa Sepahat dan Tanjungleban.

Tenang bukan berarti tidak khawatir. Hanya saja asap mengepul lebih besar sudah disaksikannya. Makanya anggota regunya tidak dikerahkan ke titik kebakaran. Seandainya tidak hujan—begitu  melihat jerebu atau asap kecil saja—pihaknya  langsung menuju lokasi untuk memadamkan api. Namun, hari ini tidak dilakukannya dengan alasan sebentar lagi api bakalan padam diguyur air dari langit.

Ayah empat anak ini mengungkapkan menjelang siang anggota regunya sudah memantau kebakaran dan asap dari menara pemantau yang tingginya 32 meter. Laporan anggota regu bahwa hanya terlihat satu titik asap dan sejauh mata memandang tidak tampak kebakaran gambut atau hutan. Ia dan anggota regu yang merupakan swadaya bentukan masyarakat enam tahun lalu bisa bernapas lega dan tenang.

Selanjutnya...
 
Bangkit dari Bencana di Titik 268 Km PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:07

Oleh Yudhistira, Kontributor Berita Satu TV Medan,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

(Catatan penulis: Jujur. Ini bukanlah kegiatan biasa karena di setiap kegiatan kita diajak mengolah nalar, naluri dan kejelian sebagai seorang jurnalis untuk “mengangkat batang terendam” yang  belum sempat atau tak pernah dikupas secara tuntas atau bahkan tidak pernah diangkat ke permukaan. Mungkin selama ini semua orang hanya fokus pada peristiwa bagaimana kebakaran lahan di Riau bisa terjadi, dampaknya seperti apa atau bahkan kerugian yang ditimbulkannya hingga membuat  Negara ini turut kalang kabut. Padahal semestinya, bencana ini harus disikapi sedemikian rupa sebelum bencana kembali melanda, karena ini sudah menjadi tradisi tahunan. Artinya, tentu lebih baik mencegah daripada mengobati.  Sebagai salah satu peserta, sebenarnya saya sangat berharap ke depan bisa diberi  kesempatan untuk mengikuti field trip kembali, tentunya di tempat lain yang mungkin perlu digali baik dari segi potensi atau segala hal di dalamnya yang selama ini tidak  pernah diketahui khalayak. Sukses terus buat LPDS yang mampu membuka wawasan jurnalis di negeri ini.)

 

Neraka! Api panas mengganas di lahan gambut yang luas. Hutan desa musnah.  Api yang berkobar hebat Feb-Maret 2014 seolah tak pernah berhenti. Berulang … terus berulang…  dan semakin sering.  Bagai api dalam sekam, si jago merah merayap di bawah gambut dan sewaktu-waktu siap menggeliat tanpa terduga. Akan tetapi, kini 2.436 jiwa penduduk Desa Tanjungleban, Provinsi Riau, bisa sedikit bernapas lega, walau neraka itu belum berakhir.

Selanjutnya...
 
Lahan Bekas Kebakaran Disulap Jadi Kebun Kayu PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:06

Oleh Dian Emsaci, Wartawan Mingguan Kabar Aceh, Bandaaceh,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


Siang itu tak begitu terik. Angin semilir menggoyang daun dan ranting tanaman keras. Hamparan pohon tanaman keras yang menghijau mulai berdiri kokoh di areal lahan perkebunan bekas kebakaran tahun 2010 dan 2013. Satu dua sawit, saksi bisu kebakaran gambut masih bertahan hingga kini. Keberadaan pohon-pohon komersial di lahan itu seolah menepis, bahwa pemilik kebun pernah kecewa.

Kekecewaan Muhammad Nur, 46 tahun, pemilik lahan, beralasan. Lahan kebun karetnya terbakar empat tahun silam. “Bagaimana tidak kecewa, terbakar... ditanami... terbakar dan ditanami lagi,” kata ayah empat anak ini. Alhasil lahan yang terbakar pun dibiarkan dan semak belukar tumbuh bebas.

Dr. Haris Gunawan, Sekretaris Satgas Solusi Tuntas Bencana Asap (STBA) Universitas Riau, menyarankan agar M. Nur mengganti tanaman dengan jenis yang lebih cocok untuk ditanam di lahan gambut. 

Selanjutnya...
 
“Puntung” Masih Menyisakan Bara PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 14:58

Aries Munandar, koresponden harian Media Indonesia, Pontianak.
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


Kebakaran lahan berangsur padam saat hujan mulai mengguyur pada akhir Maret 2014.
Namun, rentetan dampaknya masih membara.

(Catatan penulis: Lokakarya Meliput Perubahan Iklim dan kunjungan kawasan di Riau 30 Mei – 4 Juni 2014 merupakan pengalaman berharga. Banyak pengetahuan baru yang diperoleh. Dari segi teknis meliput dan menulis hingga pengayaan wawasan tentang perubahan iklim.  Kegiatan ini sekaligus menyegarkan kembali pengetahuan lama yang sering kali terlupa karena pekerjaan jurnalistik dianggap sudah menjadi rutinitas.Rasa kekeluargaan antarpeserta dan dengan para mentor serta panitia juga menjadi nilai plus dalam kegiatan ini.)


PUPUS sudah harapan Tugiadi. Keinginannya untuk segera menempati rumah baru kini tinggal cerita. Jilatan api dari lahan gambut yang terbakar membuyarkan mimpi lelaki berusia 53 tahun itu.

Rumah seukuran 6 x 5 meter tersebut telah kehilangan separuh wujudnya. Jilatan api hanya menyisakan atap dan beberapa potong dinding semen. Bagian lainnya hangus dan terjerembab ke tanah.

“Rumah sebenarnya sudah 75% (rampung). Biayanya habis sekira Rp12 juta,” ujar warga Dusun Bukitlengkung, Kabupaten Bengkalis, Riau itu.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL