Lembaga Pers Dr.Soetomo
“Puntung” Masih Menyisakan Bara PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 14:58

Aries Munandar, koresponden harian Media Indonesia, Pontianak.
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


Kebakaran lahan berangsur padam saat hujan mulai mengguyur pada akhir Maret 2014.
Namun, rentetan dampaknya masih membara.

(Catatan penulis: Lokakarya Meliput Perubahan Iklim dan kunjungan kawasan di Riau 30 Mei – 4 Juni 2014 merupakan pengalaman berharga. Banyak pengetahuan baru yang diperoleh. Dari segi teknis meliput dan menulis hingga pengayaan wawasan tentang perubahan iklim.  Kegiatan ini sekaligus menyegarkan kembali pengetahuan lama yang sering kali terlupa karena pekerjaan jurnalistik dianggap sudah menjadi rutinitas.Rasa kekeluargaan antarpeserta dan dengan para mentor serta panitia juga menjadi nilai plus dalam kegiatan ini.)


PUPUS sudah harapan Tugiadi. Keinginannya untuk segera menempati rumah baru kini tinggal cerita. Jilatan api dari lahan gambut yang terbakar membuyarkan mimpi lelaki berusia 53 tahun itu.

Rumah seukuran 6 x 5 meter tersebut telah kehilangan separuh wujudnya. Jilatan api hanya menyisakan atap dan beberapa potong dinding semen. Bagian lainnya hangus dan terjerembab ke tanah.

“Rumah sebenarnya sudah 75% (rampung). Biayanya habis sekira Rp12 juta,” ujar warga Dusun Bukitlengkung, Kabupaten Bengkalis, Riau itu.

Selanjutnya...
 
Suara Warga Dusun Setelah Kebakaran PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 14:54

Oleh Zuli Laili Isnaini, dosen Antropologi, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

Catatan penulis: Lokakarya ini menarik bagi saya, apalagi melihat korban kebijakan yang tidak populis bagi mereka. Masyarakat yang terpinggirkan dan dimiskinkan oleh kebijakan akibat kalahnya perebutan akses sumberdaya dari korporasi dan pemilik modal. Namun, sempitnya waktu di lapangan menyebabkan sedikitnya informasi yang mampu digali. Akan lebih baiknya bila waktu di lapangan jauh lebih lama dengan metode live-in, observasi, observasi-partisipatoris, dan wawancara mendalam.

“Kebakaran bukan karma, 99 % karena ulah manusia,” demikian pakar gambut yang juga Sekretaris Satuan Tugas Solusi Tuntas Bencana Asap, (STBA), Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan di setiap kesempatan memberikan seminar maupun sebagai narasumber mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau.

Presiden (waktu itu) Soesilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan kebakaran di Riau Feb-Maret 2014 menelan kerugian 15 miliar rupiah. Ongkos penanganan bencana mencapai Rp150 miliar dalam waktu tiga minggu. Haris menambahkan jumlah tersebut pada kisaran matematika semata. Selebihnya yang tidak mampu dideteksi melalui mata telanjang tak dapat terkira, seperti berapa banyak organisme, baik flora maupun fauna mati karena kabut asap yang secara ekonomi merupakan kerugian yang besar.

Selanjutnya...
 
LPDS adakan lomba tulis perubahan iklim. Hadiah Dua Tiket ke Paris PDF Cetak E-mail
Kamis, 25 Juni 2015 00:00

Jakarta - Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Jakarta dengan gembira mengumumkan lomba tulis perubahan iklim bagi para wartawan alumni lokakarya Meliput Perubahan Iklim (MPI). Lomba ini merupakan kerjasama  LPDS dan Kedutaan Kerajaan Norwegia.

Hadiah lomba ialah tiket untuk dua wartawan meliput Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Paris (COP 21) 30 November – 10 Desember 2015.
Karya tulis yang telah diunggah ke dalam laman ClimateReporter di situs LPDS (www.lpds.or.id) otomatis masuk lomba. Selain itu, peserta dapat mengirim karya yang telah dimuat di media cetak atau dalam jaringan (daring/online) sejak 1 Januari 2015. Karya yang baru dapat juga dikirim dengan batas waktu 31 Juli.  Karya yang telah dimuat di media dipandang memenuhi syarat lomba bila layak muat di ClimateReporter.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Atmakusumah: Pers Harus Lebih Teratur Menulis Papua PDF Cetak E-mail
Senin, 23 Maret 2015 13:29

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Wartawan senior pemenang anugerah Ramon Magsaysay tahun 2000 dan salah satu tokoh di balik lahirnya UU Pers tahun 1999, Atmakusumah Astraatmadja, melancarkan kritik halus namun tajam terhadap pers Indonesia yang ia nilai masih langka dalam “pemberitaan masalah-masalah kritis” di wilayah-wilayah sensitif seperti Papua.

Menurut mantan wartawan Indonesia Raya, harian yang dibredel di era Soekarno dan Soeharto ini, pers Indonesia sekarang cenderung lebih reaktif daripada kreatif. Lebih banyak menunggu untuk meliput masalah atau peristiwa yang sudah terjadi, bukan membangun program yang pre-emptive --melacak dan mengungkapkan persoalan-persoalan yang masih tersembunyi di balik layar.

Lebih tajam lagi, mantan ketua Dewan Pers ini mengeritik media massa dalam negeri yang ia sinyalir sedang mengalami kecenderungan (tren) menggemari talk show bersama elite politik dan elite LSM—yang mau bolak-balik menjadi pembicara. Dalam kegiatan ini, para wartawan hanya berperan sebagai penanya—bahkan sekadar penonton.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Perkembangan Tata Kelola dan Tantangan serta Strategi Eksplorasi di Indonesia PDF Cetak E-mail
Kamis, 26 Februari 2015 21:08

Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur , 3 Desember 2011

 

Perkembangan Tata Kelola dan
Tantangan serta Strategi Eksplorasi di Indonesia

Oleh : Rovicky Dwi Putrohari
Ketua Umum/Presiden

IAGI — Ikatan Ahli Geologi Indonesia (2011-2014)

 

Sejarah Eksplorasi Migas di Indonesia

Perminyakan Sebelum Kemerdekaan.

 

Uraian dibawah ini dikumpulkan dari berbagai sumber terutama di internet yang sumber asalnya tidak diketahui serta beberapa buku bacaan dan diskusi di mailist IAGI-net. Untuk perkembangan yuridis telah disusun oleh BPK terlampir sebagai addendum tulisan ini.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Perkembangan Tata Kelola dan Tantangan serta Strategi Eksplorasi di Indonesia PDF Cetak E-mail
Kamis, 26 Februari 2015 20:21

 

Oleh Rovicky Dwi Putrohari, Ketua Umum/Presiden IAGI – Ikatan Ahli Geologi Indonesia (2011-2014)

Sejarah Eksplorasi Migas di Indonesia Perminyakan Sebelum Kemerdekaan.Uraian dibawah ini dikumpulkan dari berbagai sumber terutama di internet yang sumber asalnya tidak diketahui serta beberapa buku bacaan dan diskusi di mailist IAGI-net. Untuk perkembangan yuridis telah disusun oleh BPK terlampir sebagai addendum tulisan ini.

Pemanfaatan dan penggunaan minyak bumi dimulai oleh bangsa Indonesia sejak abad pertengahan. Menurut sejarah, orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola api saat memerangi armada Portugis.

Selama ini yang lebih dikenal sebagai awal eksplorasi atau pencarian migas dilakukan adalah pengeboran sumur Telaga tunggal oleh Zijker, namun penelitian yang dilakukan oleh salah satu anggota IAGI (Awang HS) menemukan bahwa usaha pengeboran pertama kali dilakukan oleh Jan Reerink. Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di Indonesia pada paruh kedua abad ke-19.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Sekolah Rimba Orang Utan Nyaru Menteng PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Januari 2015 17:05

Oleh Saniah LS, Wartawan Majalah Aceh Tourism, Bandaaceh, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga) dengan penugasan ke Kalimantan Tengah Agustus 2014


TATAPAN matanya yang jinak tak menunjukkan mereka orang utan Kalimantan yang terkenal liar. Sekian tahun dididik di sekolah hutan Yayasan BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, Wardah dan kawan-kawannya mulai disiapkan untuk dilepasliarkan di hutan sekitaran Kalteng, saat mereka berusia 12 tahun.

Hujan deras  mengguyur Nyaru Menteng,  arboretum (hutan pendidikan) seluas 62 ribu hetare.  Borneo Orangutan Survival Nyaru Menteng Kalteng letaknya sekira 30 kilometer arah timur dari Palangkaraya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah.

Central reintroduction orang utan Kalteng ini didirikan pada 1999. Di tempat yang memiliki luas areal 15 ribu hektare, dihuni sekira 508 individu orang utan (data 18 Agustus 2014). Dari jumlah itu 504 individu orang utan  sedang menjalani rehabilitasi dan empat individu orang utan liar.

Selanjutnya...
 
Bukitlengkung Nasibmu Kini PDF Cetak E-mail
Kamis, 04 Desember 2014 15:40

Oleh Musdalifah Rachim, Harian Pagi Radar, Kota Jambi,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


NUN di ujung utara  Negeri Lancang Kuning  keberadaan Dusun Bukitlengkung dan  Desa Tanjungleban,   Riau, menjadi “mendunia” karena kebakaran pada 20 Februari 2014.  Musibah itu sempat menjadi perhatian luas setelah ratusan hektar kebun sawit  ludes dimakan api. Warga pemilik kebun “gigit jari”. Harapan masa depan hilang.  Perekonomian di dusun ini hancur, padahal saat itu mereka sedang menunggu panen kelapa sawit.

Gerimis ringan baru saja turun. Udara lembab. Di bawah matahari yang tidak terik Ahad, 1 Juni,  sembilan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi Dusun Bukitlengkung dan Desa Tanjungleban. Mereka tergabung dalam  kelompok Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang diprakarsai oleh Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Jakarta dan Kerajaan Norwegia.

Kelompok ini menemukan suatu dinamika masyarakat agraris yang berbenturan dengan ancaman alam yang keras. Kondisi riil yang harus dihadapi  masyarakat di sini pascakebakaran hebat adalah bagaimana membangun kembali perekomian yang telah “patah tulang”. Mereka tidak boleh putus asa,  hidup dan kehidupannya harus terus berjalan. Para petani sawit ini  umumnya warga “eksodus” dari Sumatera Utara.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL