Lembaga Pers Dr.Soetomo
SOS Samarinda: Batubara Bahayakan Warga PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Januari 2015 17:01

Oleh Sinta Apriani, Wartawan SKH Mediator di Jambi, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan ke Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, 21-23 Agustus 2014


RASA khawatir tiba-tiba mendera saat memasuki taksi yang mangkal di depan Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.  Selama perjalanan dari Balikpapan menuju Samarinda, ibukota provinsi, berjarak tempuh 3 jam, terlihat perbukitan yang gundul disana-sini karena aktifitas penebangan hutan dan pertambangan batubara.

“Ya. Kini sudah 71,1% wilayah Kota Samarinda berada dalam penguasaan industri tambang batubara,” ungkap penggiat jaringan advokasi tambang (Jatam), Abdullah Naim.

Dikatakannya, pemerintah baik daerah maupun nasional telah memberikan 58 Ijin Usaha Pertambangan/Kuasa Pertambangan (IUP/KP ) dan lima Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), sehingga hanya tersisa kurang dari 25% untuk kepentingan publik.

Selanjutnya...
 
Terkikisnya Permadani Gambut Kerajaan Siak PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Januari 2015 16:57

Oleh Hardaningtyas, Wartawan Rajaampatpos.com, Sorong, Papua Barat, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan ke Riau Agustus 2014

 

RASA penasaran tentang lahan gambut membuat langkah tak bisa terhenti begitu saja di Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau. Permadani gambut di Kabupaten Siak yang terkenal tingkat kedalaman dan terluas di dunia ini, seolah melambai meminta hendak dikunjungi untuk diketahui keberadaannya.
Siak, sebuah kabupaten kecil di sebelah timur Pekanbaru, dulunya merupakan sebuah kerajaan besar yang akhirnya tenggelam oleh masa dan peradaban modern.

Pemandangan ibu kota kabupaten terlihat asri dan bersih. Di sinilah permadani gambut tersimpan dan jadi rebutan. Beberapa pihak menyayangkan permadani Siak perlahan mulai terkikis habis hingga 70 persen dari seluruh kawasan hutan gambut, demikian ahli konsrvasi gambut di  Universitas Riau, Dr. Haris Gunawan.

Di atas tanah gambut  sebagian besar kini telah dipenuhi rimbunnya sawit  dan Hutan Tanam Industri (HTI).

Selanjutnya...
 
Mencari Jati Diri Masyarakat Adat Papua PDF Cetak E-mail
Senin, 12 Januari 2015 16:53

Oleh Rachmat Hidayat, LKBN ANTARA, Palangkaraya, peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga) dengan penugasan ke Papua Agustus 2014

“MASYARAKAT asli Papua hanya bisa protes dan kemudian diam,” kata Ketua Pemerintahan Dewan Adat Papua Sayid Fadhal Alhamid membuka pembicaraan terkait kondisi hutan yang mulai rusak akibat maraknya kegiatan perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Keterbukaan investasi sangat penting untuk meningkatkan pembangunan dan perekonomian masyartakat khususnya daerah yang kaya akan sumber daya alam.

Selanjutnya...
 
Jual Danau Toba Jangan Sekadar Nama PDF Cetak E-mail
Senin, 15 Desember 2014 16:51

Oleh Hartatik, Wartawan harian Suara Merdeka ,Semarang,
peserta MDK II (Meliput Daerah Ketiga), dengan penugasan di Sumatera Utara Agustus 2014

DERU suara truk yang mengangkut kayu pinus meraung-raung kencang, ketika keluar masuk dari Hutan Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Berpuluh-puluh batang pinus yang ditebang dari hutan alam itu, hanya dalam hitungan jam sudah berpindah tempat.

Dalam sehari tidak kurang dari 10 truk pengangkut kayu-kayu pinus, melintas di jalur lintas timur Sumatera menuju Dairi dan Medan. Kebanyakan truk yang membawa kayu-kayu dari Hutan Tele itu melintas sehabis magrib.

Demikian disampaikan Wilmar Eliaser Simandjorang usai memutarkan rekaman video berdurasi sekira setengah jam yang pernah didokumentasikan saat berada di Hutan Tele.

Secara mengejutkan, pegiat lingkungan dari Lembaga Penyelamatan Kawasan Danau Toba itu mengaku, pernah diancam dibunuh ketika melakukan dokumentasi. Bersama anaknya, Rikardo Simandjorang, mantan Bupati Samosir ini merekam aktivitas truk pengangkut kayu yang tengah keluar dari hutan Tele.

Selanjutnya...
 
Menyeret Ember, Menghapus Luka PDF Cetak E-mail
Kamis, 04 Desember 2014 15:41

Oleh Yashinta, Batam Pos, Kepulauan Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


SETIAP tahun bencana api menjadi sumber ketakutan tersendiri bagi masyarakat Riau. Puluhan ribu hektar lahan rakyat terbakar percuma. Kerugian materi menyentuh angka triliunan rupiah, bahkan kesehatan puluhan ribu jiwa terancam

Masyarakat Desa Tanjungleban, Riau, sudah bisa tersenyum. Mereka bisa memecah tawa, meski sisa-sisa duka itu masih tersimpan elok di ingatan. Februari hingga Maret 2014 si jago merah mengamuk lagi di puluhan ribu hektare lahan warga di Kabupaten Bengkalis. Kebun sawit dan karet dilahap tanpa ampun.  Tamu yang tak diundang itu juga menghadiahi warga dengan karbondioksida (CO2). Dan, menyebarlah CO2 dalam bentuk asap hitam, hingga daerah tetangga.

Menurut  Dr. Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi Bencana, Universitas Riau,  Tanjungleban merupakan salah satu daerah yang mengalami kebakaran terbesar di  Riau. Daerah ini berada di atas tanah gambut berkedalaman hingga 12 meter. Musim kemarau, tanah gambut mudah kering dan  terbakar. Puntung rokok yang dibuang secara tak sengaja bisa menimbulkan kemarahan si jago merah. Meski sudah dipadamkan,  bara api sering petak umpet di bongkahan gambut  dan kembali membara ketika mata masyarakat lengah. 

Selanjutnya...
 
Bom Waktu di Bukitlengkung PDF Cetak E-mail
Kamis, 04 Desember 2014 15:38

Oleh Fajar Fahrudin, infokaltim.com, Samarinda,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau

(Catatan penulis: Lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS ini bermanfaat dalam menambah pengetahuan khususnya meliput perubahan iklim di daerah lahan gambut Riau; menambah persaudaraan, mengeratkan ikatan emosional di antara sesame jurnali. Lokakarya ini tidak sekedar  berbicara tentang situasi tentang lahan gambut, tapi juga degradasi pantai. (Peserta) punya pengalaman menarik  terkait meliput perubahan iklim di daerah lahan gambut Riau. Para mentor dapat mentransfer ilmu pengetahuan dengan baik, sehingga dapat diterima  peserta.)

 

KEBAKARAN lahan gambut di Dusun Bukitlengkung, Riau, Februari-Maret 2014 mengubah nasib warga dalam sekejap. Seorang di antaranya, Tugiadi, kehilangan harta yang dikumpulkannya dengan jerih payah selama tiga tahun. Dia menderita stres, sampai-sampai lupa nama istrinya.

Organisasi kampanye lingkungan hidup global Greenpeace sejak 2007 mengingatkan dan meminta pemerintah Indonesia mengantisipasi dampak El Nino. Badai ini  biasanya ditandai dengan kekeringan panjang yang bisa mengganggu produksi pangan dan meningkatkan risiko kebakaran lahan. Apakah ini ada hubungannya dengan kebakaran lahan gambut yang kaya karbon di Dusun Bukitlengkung, Riau?

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Bernapas dalam Kepungan Asap PDF Cetak E-mail
Kamis, 04 Desember 2014 15:36

Oleh Arneliwati, spesialis keperawatan, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau


TIDAK ada lagi udara segar dan angin bertiup sepoi–sepoi yang menyegarkan di desa ini. Hari–hari kelabu. Langit menghitam. Awan berarak. Oh, bukan! Bukan awan. Itu jerebu, kata  masyarakat di negara tetangga. Ya, asap yang muncul dari dampak buruk kebakaran lahan gambut di beberapa wilayah di Provinsi Riau.

Salah satu wilayah di Provinsi Riau yang mengalami musibah kebakaran terparah dan terluas  Februari-Maret 2014 adalah Desa Tanjungleban dan Desa Sepahat, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis.

Pada kunjungan kelompok Wartawan Meliput Perubahan Iklim di desa ini Juni lalu, terungkap bahwa di sini minim fasilitas kesehatan. Mereka hanya mengenal  bidan desa. Belum ada tenaga dokter yang bertugas di sini, sehingga saat kabut asap berlangsung tidak ada petugas kesehatan yang mengedukasi masyarakat menggunakan masker pada saat ke luar rumah.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Merajut Harapan di Bawah Keteduhan Tangkai Nanas PDF Cetak E-mail
Senin, 17 November 2014 15:24

Oleh Musdalifah Rachim, Wartawan Harian Radar Tanjab, Jambi,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

 

DUA ‘’hantu’’ditakuti warga Desa Tanjungleban.  Bukan kuntilanak atau genderuwo,melainkan  ketakutan warga atas  kebakaran hutan dan lahan serta abrasi pantai. H Atim bersama warganya bertekad memberantasnya dengan bersenjatakan tangkai-tangkai nanas.

Penduduk Desa Tanjungleban hidup awalnya dalam keteduhan hamparan sawit  sepanjang mata memandang. Namun peristiwa  pahit membuyarkan semua asa,  Pada 20 Februari  2014  musibah mengoyak-ngoyak semua hamparan hijau permai itu menjadi lautan api yang tidak terbendung. Entah dia harus pasrah, menangis atau meraung , lelaki ini terjebak dalam kekalutan hati, dia dan warga desanya merintih dalam kepiluan,  harta benda berupa hamparan hijau itu, telah lenyap dalam sekejap.

Dia Kepala Desa Tanjungleban H. Atim, nama pemberian sang bunda. Atim tumbuh dan membesar sebagai putra asli Tanjungleban, Kabupaten Bengkalis. Ia diserahi amanah luhur dan tanggungjawab yang tidak ringan sejak menjabat selaku kepala desa 23 Mei 2012.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL