Lembaga Pers Dr.Soetomo
Asal-Usul Nama Tambun Bungai PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:50

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Kalimantan Tengah disebut sebagai bumi Tambun Bungai. Apa artinya?
Tambun Bungai adalah nama dwitunggal pahlawan yang sangat terkenal dalam sejarah suku Dayak Kalimantan, yaitu, si Tambun dan Bungai. Sejarah di tanah Dayak yang bernama Tetek Tatum (ratap tangis sejati) selalu menuturkan cerita kepahlawanan Tambun dan Bungai.

Pada jaman dahulu kala, ada tiga pahlawan Kalimantan. Mereka  bernama Lambung  atau Maharaja Bunu, Lanting atau Maharaja  Sangen, dan Karangkang Amban  Penyang atau Maharaja Sangiang.

Mereka bertiga tinggal dan mendiami lembah sungai Kahayan di tengah-tengah pulau Kalimantan. Hidup mereka dari memungut hasil hutan dan bertani. Adapun si Lambung alias Maharaja Bunu mempunyai 5 anak. Dua diantaranya bernama Tumenggung Sampung dan Tumenggung Saropoi.

Selanjutnya...
 
Menghalau Api di Bumi Tambun Bungai PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:46

Laporan Nico Pattipawae, SCTV, Manokwari
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan ke Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah, Feb 2016

Desa Tumbangnusa, Kalimantan Tengah (SCTV/ClimateReporter) - “Saya hadir ketika banyak orang tidak tertarik. Di situlah saya berpikir,kalau mau membangun  dan berbuat sesuatu yang baik kita harus mulai dari tempat yang paling sulit,dan saya bertekad untuk memulihkan kembali ekonomi masyarakat yang telah hancur pasca kebakaran hutan,” kata Pak Janu.

Kalimat ini dilontarkan Januminro Bunsal ketika kami duduk dan berbincang-bincang di sebuah tenda kecil di hutan gambut di Desa Tumbangnusa, Kabupaten Pulang Pisau. Desa di Kecamatan Jabiren Raya ini 30 km selatan Palangka Raya, ibukota provinsi Kalimantan Tengah. Percakapan mencakup kebakaran hutan gambut dan kabut asap yang menyelimuti Pulang Pisau  Agustus – Nov  2015.

Obrolan berlangsung di hutan gambut 10 hektare Jumpun Pambelom (Hutan Sumber Kehidupan) milik Pak Janu. Jumpun Pambelom dengan mudah dicapai  dalam  40 menit berada di pinggir jalan utama trans Kalimantan ke arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kehadiran kami di Jumpun Pambelom untuk meliput perubahan iklim pascakebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah berakibat  sebagian masyarakat harus mengungsi.

Selanjutnya...
 
Lahan Sejuta Masalah PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:45

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


Palangka Raya, Republika/ClimateReporter -  Bumi Tambun Bungai, julukan Provinsi Kalteng, kian merana. Dua bocah menjadi korban kabut asap yang menyelimuti Kota Palangka Raya, tahun 2015. Ironisnya saat itu, menurut ketua Dewan Redaksi Harian Kalteng Post, Heronika, Dinas Kesehatan setempat malah membantahnya. Kematian dua bocah tersebut bukan karena kabut asap.

Heronika mengatakan kejadian terparah kebakaran hutan di Kalteng pernah ada tahun 2007. Kemudian berturut-turut kebakaran hutan terus terjadi pada 2008, 2010, dan terakhir 2015.

“Tahun 2007, kejadian serupa lebih parah. Saya tidak bisa jalan (saking tebalnya kabut asap),” kata Heron yang tahun 2015 berakhir menjabat Pemimpin Redaksi Kalteng Post.

“Kalteng terkepung api dan asap,” kata Kepala Dinas Kehutanan  Kalteng, Sipet Hermanto.

Selanjutnya...
 
Berkunjung ke LAHG Sebangau Kalimantan Tengah: Tiga Bidadari Hutan Gambut Berjuang Selamatkan Primata Langka PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:33

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Februari 2016


Dimuat Valoranews Kamis, 31-03-2016 | 11:56 WIB | Berita Ranah

Manager proyek MPI  Lembaga Pers Dr Soetomo Warief Djajanto Basorie menerangkan maksud  kedatangan rombongan kunjungan kawasan  meliput perubahan iklim pada tiga peneliti internasional di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah 21 Feb 2016. Duduk dari kiri ke kanan: Cara Wilcox, Jenn Brousseau, dan Carolyn Thompson. Foto Veby Rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Perempuan bule berambut merah itu tampak kesal. Tiap sebentar dia melirik jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 WIT. Menghilangkan gelisah, dia melongok keluar jendela camp. Sejenak dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depan pintu, sembari tangannya menampung air hujan.

Hujan yang turun sejak pagi, tampak membuat jadwalnya hari itu terganggu. Karena, disaat jam seperti sekarang ini, dia biasanya sudah mengumpulkan banyak data untuk penelitiannya. Namanya Carolyn Thompson. Dia seorang peneliti di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah. Objek penelitiannya adalah gibbons (hylobates albibarbis sp) atau bagi masyarakat setempat disebut owa-owa.

Awalnya dia sedikit keberatan ketika rombongan wartawan peserta lokakarya LPDS ingin berbincang-bincang. "Saya harus kerja," jawabnya pendek.

Lokakarya tentang perubahan iklim ini, diselenggarakan oleh Lembaga Pers Dr Soetomo bekerjasama dengan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia pada 20-24 Februari 2016. Pesertanya, utusan dari 10 media terpilih dari seluruh Indonesia. 

Selanjutnya...
 
Bertarung dalam Kepungan Api dan Asap PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:31

Laporan Mursalin, Hr Republika, biro Lampung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


LAHG, Sabangau, Republika/ClimateReporter - Langit sudah menguning. Masker tak mampu lagi membendung asap masuk hidung. Jarak pandang hanya tiga sampai lima meter. Sejumlah penduduk Kota Palangka Raya terpaksa mengungsi. Nyaris semua hutan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah berada dalam kepungan titik api akhir 2015.

“ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) sudah 400, tapi herannya pemerintah belum tanggap darurat (di Kalteng),” kata Darmae Nasir, ahli lingkungan Universitas Palangka Raya di lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim di ibu kota Kalteng Feb 2016.
Alat pengukur ISPU milik Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Kalteng tak berdaya. Pegiat lingkungan mendatangkan alat pengukur dari Jepang. “Ternyata ISPU sudah mencapai 2.000,” tutur Darmae mengisahkan kejadian kebakaran hebat hutan gambut di Kalteng periode Juni – Oktober 2015.

Esoknya, hujan deras pagi itu tak menyurutkan lima wartawan berbagai media di Tanah Air, termasuk Republika, menempuh perjalanan menuju posko Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), Ahad 21 Feb 2016. Lab dikelola Universitas Palangka Raya. Lahan seluar 50 ribu hektare   kawasan LAHG yang bagian dari Hutan Taman Nasional Sabangau, pun terkena imbas kebakaran hutan gambut 2015.

Selanjutnya...
 
Menabur Asa Usai Gambut Membara PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:21

Laporan Lorni Nurintan Antonia S, RRI Bengkulu
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Feb 2016


“Krrrriiiikkkk...kriiikkk....krrriiikkkk...”
Suara tonggeret (Tibicen linnei), sejenis serangga khas hutan tropis yang menyerupai lalat besar, langsung nyaring menyambut. Saat itu pengunjung memasuki kawasan hutan gambut hak milik di jalan lintas Palangka Raya – Pulangpisau, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kawasan hutan di Desa Tumbangnusa, Kabupaten Pulangpisau, seluas kurang lebih 10 hektare itu terlihat berbeda karena lebih hijau dan asri ditumbuhi berbagai jenis pepohonan.

Sementara sisi kiri dan kanannya menunjukkan hamparan vegetasi lahan gambut yang ditumbuhi sejenis pakis, diselingi pohon mati yang masih tegak. Jejak kebakaran hutan dan lahan gambut yang menghanguskan 402.774 hektare di Kalteng pada Juli – Oktober 2015. 

Hutan gambut hak milik yang awalnya merupakan lahan milik perseorangan yang dikembangkan menjadi hutan itu disebut Jumpun Pambelom (Hutan Sumber Kehidupan) oleh masyarakat adat suku Dayak.

Hutan dikelola Januminro Bunsal, berlatar belakang sebagai abdi negara yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Palangka Raya.

“Dulu saya punya keinginan membuat hutan kota terluas se-Indonesia yang ada di Palangka Raya. Lalu saya membuat persemaian tanaman hutan di sini,” ungkap Januminro.

Selanjutnya...
 
Separuh Hidupnya Teliti Fauna Kalteng PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:19

Laporan Yani Basaroni, Koran Babel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

LAHG, Palangka Raya, Koran Babel/ClimateReporter — Ekosistem alam terus terjaga di Bumi Tambun Bungai antara lain berkat Ari Purwanto. Pria 44 tahun ini   peneliti fauna di Pusat Kerja Sama Internasional dalam Tata Kelola Berkelanjutan Lahan Gambut Tropis, CIMTROP, Universitas Palangka Raya.

Warga Kalteng khususnya Kota Palangka Raya bisa berbangga hati karena Ari warga pribumi dengan ikhlas memberikan separuh hidupnya untuk meneliti satwa di Kalteng.

Di lahan hutan gambut seluas 50.000 hektare tersebut. Pria berkulit sawo matang ini mengaku telah berja di CIMTROP sejak 1997. Namun, saat itu ia belum terikat kontrak kerja, karena lebih memilih sebagai pekerja harian yang tidak terikat kontrak.

“Baru empat tahun belakangan ini, saya melakukan kontrak kerja sama menjadi peneliti fauna di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), CIMTROP,” kata Ari kepada peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim yang bertandang ke LAHG di tepi barat daya Palangka Raya.

Ia mengungkapkan profesi peneliti fauna ini dipilih, lantaran setiap tahunnya habitat fauna di Kalteng terus berkurang. Tidak lain penyebabnya karena kebakaran hutan dan lahan gambut setiap musim kemarau.

Selanjutnya...
 
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (3): Mencegah Kebakaran Hutan itu Lebih Baik PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:11

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimanatan Februari 2016

Dimuat Valoranews| Kamis, 14-04-2016 | 10:52 WIB

Sumur bor adalah perangkat mengatasi kebakaran hutan secara efektif di musim kemarau. Menurut pengelola LAHG Krisyoyo, sumur bor ini mampu menghindari areal LAHG dari dampak kebakaran pada 2015 lalu. Foto Veby Rikiyanto/valoranews

VALORAnews
- Pemerintah bukannya tutup mata masalah kebakaran hutan ini. Berbagai aturan telah dibuat seperti Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2007 tentang Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan, UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan hingga ancaman pidana penjara yang tinggi. Namun, itu tidak membuat pelakunya jera.

Hutan gambut adalah hutan yang pepohonannya tumbuh di atas lahan gambut. Lahan gambut berasal dari pembusukan atau pelapukan dari akar-akar atau batang pohon yang telah mati sehingga pada saat musim kemarau sangat mudah terbakar.

Ketika terjadi kebakaran hutan pemerintah terkesan lambat melakukan tindakan. Menurut Dharma, dosen Universitas Palangka Raya,  ada  aturan mengenai tanggap darurat.

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL