Lembaga Pers Dr.Soetomo
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (2): Hutan itu Penyangga Kehidupan PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:03

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimanatan Februari 2016

Dimuat di Valoranews Kamis, 14-04-2016 | 10:46 WIB

Krisyoyo, pemandu lahan gambut, mendayung kelotok (perahu kecil bermesin) dalam mengantar peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim menuju Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Kereng Bangkirai-Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, 21 Feb 2016. Foto Veby Rikiyanto/valoranews

VALORAnews - Kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah dan sebagian Sumatera akhir 2015 lalu tidak saja merusak ekosistem hutan tapi juga telah menimbulkan penderitaan dahsyat bagi warga  akibat kabut asap emisi karbon hasil kebakaran.

Tidak sedikit warga terutama anak-anak yang terserang penyakit seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).  kabut asap sedikitnya  menelan 19 orang meninggal dunia, lima di  di Kalimantan Tengah.

Kebakaran lahan gambut dan hutan akhir 2015 jadi bencana nasional. Kota-kota yang terpapar kabut asap seperti kota mati. Sebagian penduduknya mengungsi ke daerah bebas kabut. Yang masih tinggal, enggan keluar rumah. Sekolah diliburkan tanpa batas waktu. Bandar udara ditutup, Masyarakat keluar rumah menggunakan masker.

Selanjutnya...
 
BOS harapan orangutan Kalimantan PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 17:01

Laporan Sumarlin, Zonasultra, Kendari, Sulawesi Tenggara
Penulis adalah peserta lokakarya LPDS Meliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan ke Kalimantan Tengah Feb 2016

“Anok pulang nok, Anok turun nok”, teriak Misna berulang-ulang. Sesekali pengasuh orang utan ini menjulurkan susu yang disimpan dalam wadah air mineral berkuran besar sebagai imbalan jika anak didiknya kembali. Namun upaya itu tak tak mendapat tanggapan. Dengan sabar Misna kembali merayu Anok, orangutan muda, kali ini menjulurkan pisang.

Meski dengan beberapa iming-iming hadiah, Anok tetap saja mengacuhkan baby sitternya dan terus bergelayutan pindah dari dahan pohon yang satu kedahan pohon yang lain. Tak kenal menyerah Misna kembali memanggil Anok.  Teriakan Misna kini mendapat respon dari Anok, namun bukannya turun, Anok malah berpindah ke dahan pohon sambil meraih dahan lapuk kemudian melempari Misna yang terus memanggilnya.

Untung saja Misna sigap sehingga bisa menghindar dahan lapuk yang dilempar Anok. Sikap cuek Anok tidak menyurutkan niat Misna mengajak Anok kembali ke kandangnya bersama teman-temannya yang sudah kembali lebih awal.

Selanjutnya...
 
Dari Lokakarya Meliput Perubahan Iklim (1): Agar Gambut Tak Lagi Cemberut PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 16:55

Laporan Veby Rikiyanto, Valoranews, Padang
Penulis adalah peserta lokakarya wartawan Merliput Perubahan Iklim dengan tugas kunjungan kawasan di Kalimantan Tengah Februari 2016. Lokakarya  diadakan Lembaga Pers Dr Soetomo dengan kerjasama Kedutaan Norwegia di Palangka Raya 20-24 Feb 2016


Dimuat Valoranews  Kamis, 14-04-2016 | 10:38 WIB


Manager proyek lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS  Warief Djajanto Basorie menyerahkan ransel atas partisipasi dalam lokakarya pada Carolyn Thompson asal Inggris, seorang peneliti di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Sebangau, Kalimantan Tengah 21 Feb 2016. Foto Veby Rikiyanto/valoranews)

VALORAnews - Wanita-wanita cantik berhidung mancung khas bule itu, tampak gelisah .Tiap sebentar mereka mondar-mandir sembari melihat keluar pondok. Hujan yang turun dengan derasnya sejak pagi telah menghambat aktivitas mereka.

Wanita-wanita tersebut adalah peneliti dari Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) Kereng Bangkirai-Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Tidak seperti laboratorium pada umumnya. Namanya juga laboratorium alam, tidak ada gelas-gelas maupun botol yang berisi cairan kimia, pun tidak ada para petugas berseragam putih-putih. Yang ada adalah pondok-pondok kayu dikelilingi pepohonan lebat dan ratusan bahkan ribuan bibit pohon berbagai jenis. Petugasnya pun berpakaian seperti penduduk pada umumnya.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Puluhan ton limbah B3 terdampar di pantai Pasir Panjang PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 16:49

Laporan Yashinta, Harian Batam Pos, Batam
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Batam Jan 2013. Karya ini dimuat Batampos.co.id 11 Agustus 2016


BATAM (BP) - Masyarakat Pasir Panjang Kelurahan Rempang Cate, Galang mulai khawatir. Sebab, puluhan ton limbah B3 (bahan bahaya dan beracun) mengendap di sepanjang bibir pantai daerah tersebut. Mirisnya, hal itu telah berlangsung sejak bertahun tahun lalu.

Ketua RW 03 Pasir Panjang Sarwik mengatakan setiap tahunnya bibir pantai Pasir Panjang selalu mendapat kiriman limbah B3. Kiriman limbah dari bagian utara Batam itu terus berlangsung mulai bulan November hingga Januari dan terjadi setiap tahunnya.

"Bulan dua, limbah itu mengendap di pasir. Kemudian masuk ke dalam pasir dan mengendap disana sampai air pasang. Bahkan limbah itu dibuang ke dalam karung" kata Sarwik kepada wartawan,  Rabu (10/8)

Menurut dia, masyarakat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan mulai merasakan dampak dari limbah B3. Karena jaring dan kelong mereka kerap terkena limbah tersebut. Bahkan banyak ikan di daerah sana yang mati.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Kumpulan karya nonfiksi & esai terbaik: El Nino Sampai Titik Nol PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 16:30

Karya Jogi Sirait, koresponden majalah berita mingguan Gatra di Jambi

Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS di Kota Jambi Oktober 2012. Kumpulan karya ini dimuat dalam newsletter Bacaan Malam Maret 2016

 


 

Foto: Wikipedia

Oleh Jogi Sirait
Seorang jurnalis yang bertahan dari kepungan kabut asap di Jambi, mencari tahu kenapa pemerintah langsam menangani bencana ini.

Pada awalnya,
kuping saya masa bodoh terhadap kabar berita dari istri saya, Riana (33) pada sebuah sore, Juli 2015. Dia cerita bahwa badai El Nino, mulai akhir Juli sampai Desember 2015, siap mengancam Sumatra, terutama Jambi dan Bengkulu. Bahasa sederhananya, kemarau panjang.

Nada suara Riana datar. Dia ngomong sambil berselonjor kaki di pojok ruang tengah rumah kami di pinggiran Kota Jambi. Perutnya mulai bertian dua bulan, mengandung calon anak kami yang ketiga. Dokter kandungan langganan kami selalu mengingatkan agar Riana menaikkan bobot badan.

Saya kira kemarau paling banter hanya sebulan.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Dewi Berjempol Hijau Asrikan Medan PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Mei 2017 16:19

Laporan Amir Hamzah, koresponden SCTV Indosiar Samarinda
Penulis adalah peserta lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Ketiga (MDK III) LPDS. Amir mendapat tugas ke Sumatra Utara 20 – 24 Agustus 2015. Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo dan Kedutaan Norwegia 19 – 27 Agustus 2015


Medan, SCTV/ClimateReporter - Hajjah Dewi Budiati,53, contoh dari sedikit isteri orang mampu.  Wanita berumur 53 tahun dan beranak lima ini isteri seorang pemilik perusahaan media cetak terbesar di Medan.   Pasalnya, meski memiliki berbagai fasilitas dan hidup berkecukupan,  wanita ini  relawan lingkungan demi kelangsungan hidup manusia di masa mendatang.

Dewi  biasa disapa Kak Ros. Ia ditemui di kediamannya di Jalan Teruna Jasa Said, Medan. Bagian dalam rumah ditata rapi dengan ornamen bahan bekas kertas koran.
Sayang keindahan rumah tersebut tidak terlalu lama bisa dinikmati.Kak Ros buru-buru mengajak pergi ke kantor camat Amplas, salah satu tempat yang sudah dihijaukannya. Sepanjang perjalanan itulah, wawancara bersama Kak Ros mulai mengalir.

"Bumi ini harus diselamatkan dan orang yang paling tepat itu adalah kita para penghuninya," kata Kak Ros.

Awal mula "kegilaannya" pada alam ini dari ajakan teman-teman yang tergabung di sebuah organisasi lingkungan untuk kemudian ditinggalkan karena tidak cocok pandangan. Kak Ros menilai, organisasi lingkungan adalah lembaga independen yang tidak bisa disetir oleh siapapun.
Karenanya, saat mendapati organisasi semacam itu Kak Ross langsung pergi menjauh.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
ICCTF Umumkan Pemenang Media Fellowship 2016: Bersama Jaga Suhu Bumi melalui Karya Jurnalistik Terbaik PDF Cetak E-mail
Jumat, 07 Oktober 2016 00:00

 

JakartaIndonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) mengumumkan pemenang kompetisi jurnalistik ICCTF Media Fellowship 2016 di Jakarta, hari ini, 5 Oktober 2016. Pemenang yang telah dipilih para juri telah menghasilkan karya jurnalistik terbaik dari proposalnya, mengungguli empat tim pengusul proposal lainnya yang menerima pelatihan Media Fellowship 2016.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
In Memoriam -- Herawati Diah, wartawati penerjemah teks Proklamasi Kemerdekaan RI PDF Cetak E-mail
Jumat, 30 September 2016 10:47
In Memoriam -- Herawati Diah, wartawati penerjemah teks Proklamasi Kemerdekaan RI
Siti Latifah Herawati Diah (1917--2016). (Repro buku: 99 Tahun Herawati Diah, Pejuang Pers Indonesia)

"Pers selalu berada di depan untuk menyuarakan hak asasi manusia, termasuk kesetaraan gender, sehingga secara secara internal di perusahaan pers juga harus bisa menerapkannya."

Jakarta (ANTARA News) - "Setiap peringatan 17 Agustus ada perasaan malu bagi saya. Banyak sahabat, kerabat dan orang Indonesia saat itu berjuang bertaruh nyawa, sedangkan saya hanya menerjemahkan teks proklamasi ke bahasa Inggris dan Belanda untuk disiarkan teman-teman pers asing."

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Filosofi "wine" diplomasi pers Sabam Siagian PDF Cetak E-mail
Sabtu, 04 Juni 2016 16:32
Filosofi
Sabam Pandapotan Siagian (1932-2016). (Repro buku "Perenungan dan Pemikiran Sabam P. Siagian)
Profesi tanpa filiosofi akan hampa, hanya sekadar jadi pekerja."

Jakarta (ANTARA News) - "Wartawan harus terdidik secara baik. Well educated." Kalimat dwi bahasa ini bakal tak terucap lagi dari sang empunya. Sabam Pandapotan Siagian wafat di Rumah Sakit Siloam Semanggi Jakarta, Jumat (3/6), setelah sekian lama mengalami gagal ginjal.

Pak Sabam atau Excellency Siagian, demikian sapaan akrabnya di kalangan pers dan diplomat, tidak pernah bosan menyampaikan nasehat itu dalam berbagai kesempatan berbincang dengan sejawat jurnalisme, terutama wartawan lebih muda. Baginya bukan sekadar pendapat biasa, namun cermin perjalanan hidup yang dilalui.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
"Empap pap pap", Segeralah Menjauh PDF Cetak E-mail
Sabtu, 04 Juni 2016 16:15

Oleh Yani Basaroni, Koran Babel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, peserta kunjungan kawasan LPDS ke Kalimantan Tengah, Februari 2016

"Empap pap pap," kata wanita bule berparas cantik bernama Jenn Brousseau asal Amerika.

“Jangan coba mendekat, jika mendengar suara seperti itu di dalam hutan Borneo sebutan lain dari pulau Kalimantan. Sebaiknya masyarakat menghindar dari lokasi sekitar munculnya suara itu, atau mencari tempat berlindung,” kata sarjana biologi Universitas Boston dan S2 Universitas Kent dalam konservasi monyet. Jenn di Kalimantan Tengah untuk meneliti primata.

Temuan ini diketahui setelah Jenn beradaptasi di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), Kereng Bangkirai-Sebangau, Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

 

“Empap pap pap, merupakan suara orangutan yang merasa terusik atas keberadaan manusia di sekitarnya,”ujar Jenn.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Nol Kebakaran Hutan 2017, Munginkah? PDF Cetak E-mail
Kamis, 03 Maret 2016 14:57

Palangka Raya, ClimateReporter - Gagasan “nol kebakaran hutan” kembali mencuat pada lokakarya internasional tentang pencegahan kebakaran lahan gambut dan rehabilitasi hutan yang berlangsung di gedung Bappeda Kalteng 25—26 Februari 2016.

 

Keinginan tersebut dilontarkan oleh Presiden Jokowi agar keadaan nol kebakaran hutan sudah direalisasikan 2017.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Tantangan BRG: Hidrologi, Regulasi, Pemberdayaan Masyarakat PDF Cetak E-mail
Selasa, 23 Februari 2016 14:38

 

Palangka Raya, ClimateReporter, 20 Feb - “Proyek Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar yang merupakan megaproyek Presiden Soeharto, pada kenyataannya menjadi lahan sejuta masalah,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Sipeth Hermanto, mengutip mantan Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Perubahan Iklim, Sang Pemusnah Massal PDF Cetak E-mail
Sabtu, 04 Juni 2016 16:21

Laporan Jeane Rondonuwu, Sulutdaily.com, 31 Mei 2016

Penulis adalah peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim, Hotel Novotel, Manado,

26-27 April 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo dan Kedutaan Norwegia.

KOTA Tomohon tak lagi sejuk. Penambangan liar dan penebangan hutan telah merusak kelestarian hutan serta keindahan kota yang dihuni oleh 87.719 jiwa ini. Kota dataran tinggi Tomohon, 30 km ke arah selatan dari Manado, dikenal sebagai ladang sayur mayur  dan tanaman bunga, bak Lembang di Jawa Barat.


ClimateReporter, Manado - ''Dulu Kota Tomohon dikenal karena sejuknya tapi sekarang tidak lagi dan semuanya itu tinggal kenangan,'' kata Martina Langi, dosen  kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi di Manado.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Gorontalo: Danau Limboto dan Mitigasi 9 Persen PDF Cetak E-mail
Jumat, 15 April 2016 07:30

Kota Gorontalo - Indonesia berusaha menurunkan emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, sampai 26 persen pada 2020 dan mencapai 29 persen pada 2030. Mekanisme MRV berfungsi untuk mengukur penurunan karbon itu.

Tim ahli dengan diketuai Direktur Inventarisasi GRK dan MRV mengukur penurunan dalam empat sektor: energi dan transportasi, kehutanan dan pertanian, limbah, dan industri.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Bor Sumur, Sekat Kanal PDF Cetak E-mail
Kamis, 03 Maret 2016 14:17

· B   Baca tulisan terkait: Nol Kebakaran Hutan 2017, Munginkah?

Catatan: Warief Djajanto Basorie berada di KalimantanTengah 14—18 Januari 2016 dan kembali di provinsi ini 19—25 Februari 2016 untuk Lokakarya LPDS dan Kunjungan Kawasan Wartawan Meliput Perubahan Iklim dengan perhatian ke restorasi gambut. Ia juga menjadi peserta Lokakarya Internasional tentang Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut dan Rehabilitasi Hutan 25 Februari 2016. Lokakarya kedua ini diselenggarakan antara lain oleh Universitas Palangka Raya dengan bantuan Dana Pengembangan Teknologi dan Penelitian Lingkungan Hidup, Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.

 

Palangka Raya, ClimateReporter - Heri Paskah harus mengungsikan istri dan anak lelaki usia 2 tahun ke Banjarmasin. Saat itu Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, dicekik kabut asap.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Adinegoro, jujur pada diri dan profesi PDF Cetak E-mail
Selasa, 09 Februari 2016 12:58

Adinegoro, jujur pada diri dan profesi
Simbol Anugerah Jurnalistik Adinegoro yang menjadi penghargaan tertinggi lomba karya jurnalistik pers nasional untuk menghargai sosok wartawan multitalenta Djamaluddin Adinegoro Gelar Datuk Madjo Sutan. (pwi.or.id/adinegoro)
Buku 'Falsafah Ratu Dunia' dari Adinegoro itu babonnya buku jurnalisme di Indonesia."

Jakarta (ANTARA News) - "Hanya ada satu mata uang yang berlaku di mana-mana. Bukan Gulden Negeri Belanda, bukan Deutche Mark Jerman, bukan Poundsterling Inggris, dan bukan pula Dolar Amerika. Mata uang itu bernama kejujuran."

Untaian kalimat di atas merupakan rangkuman catatan perjalanan jurnalistik Adinegoro (1904—1967) saat menjelajahi Benua Eropa mulai medio 1926 di usia 22 tahun. Pria bernama lahir Djamaluddin Gelar Datuk Madjo Sutan itu rajin mengirimkan artikelnya ke sejumlah media di Indonesia, terutama ke Pandji Poestaka dan Pewarta Deli.

Kejujuran. Tabiat ini menjadi hal penting bagi Adinegoro, secara pribadi maupun profesinya. Meminjam pemikiran filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer (1788 – 1860) yang banyak menelaah estetika-moralitas dan psikologi, maka catatan Adinegoro mengenai kejujuran bukanlah tabiat sesaat. Melainkan, tabiat yang lahir, terdidik dan terbentuk lingkungan, serta terwujud dalam perilaku sekaligus karya.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL