Lembaga Pers Dr.Soetomo
Lumbung Kami Lenyap Dimakan Rayap: Zaman Berubah. Iklim Berubah. Langit Berubah. Pemerintah Pun Berubah PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 Oktober 2015 14:39

Oleh Harry Siswoyo, Viva.co.id, Bengkulu
Mei 2015

PELUH masih mengucur di antara pelipis dan dagu Wak Thamrin. Pagi menjelang siang, tiga petak sawah miliknya baru usai ditanami bibit padi baru.
Bersama istrinya, Rubiah, ia bergantian mencucukkan batang padi setinggi 10 sentimeter ke petak sawah berlumpur di Desa Lubukresam, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu.

Bagi Wak Thamrin sawah adalah segalanya. Berpuluh tahun ia hidup bersama empat anaknya yang kini sudah dewasa dari sepuluh bidang sawah miliknya.

Sepuluh tahun silam sawah-sawah itu memang menggiurkan. Hasil panen melimpah ruah, bahkan dari setiap kali panen, mereka bisa “menabung” beras untuk dua tahun.

Selanjutnya...
 
Green Building, Solusi Atasi Suhu Kota Kendari PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 Oktober 2015 14:34

Oleh Agus Sana'a, Koresponden harian Sinar Harapan, Kendari
(Juli 2015)


ZAINUDDIN (65), warga Kelurahan Talia, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), tampak bertelanjang dada duduk-duduk santai di kursi teras rumahnya. Dengan posisi kaki kanan di atas paha kiri, ia mengibas-ngibaskan koran di badannya.

Sesekali ayah dari lima anak itu berdiri dan melangkah membuang ludah ke tanah. Lelaki itu tampak gerah karena suhu di sekitar rumahnya siang itu, sekitar pukul 11.30 Wita, dirasakan agak panas.     

“Maaf, _Pak, saya buka baju!” kata Zainuddin saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Talia, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Kamis (2/7).

Dulu, tahun 1990-an, lanjut Zainuddin suhu udara di kota ini terasa segar dan nyaman. Pagi hari seluruh wilayah kota tampak diselimuti kabut dan titik-titik embun yang menyebabkan jarak pandang tidak terlalu jauh.

Selanjutnya...
 
Dampak Kemarau Panjang bagi Petani Sawit dan Karet di Riau: Melayukan Dedaunan, Mengeringkan Celengan PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 Oktober 2015 14:24

Oleh Dina Febriastuti, PiramidNews.com, Pekanbaru
(Juli 2015)

MISNGADI mengendarai sepeda motor menerobos kabut asap dengan mengenakan masker hijau tipis menuju kebun kelapa sawitnya di Desa Kepau Jaya, Riau. Ia hendak mengontrol pekerjaan perawatan kebun yang sudah dilakukan beberapa orang serta beberapa urusan lain menyangkut kelompok tani tempatnya bergabung.

Melintasi jalan tanah yang lebih banyak dihiasi semak belukar dan sebagiannya hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, ia juga hendak memastikan akan ada yang membantu memanen hasil kebun yang sudah tujuh tahun ini menghidupi tujuh orang anggota keluarganya. Jadwal itu sekira sepuluh  hari lagi.

Meski hasil panen itu semakin hari semakin menyusut, tanpa mengeluh ia tetap mengelola kebunnya semaksimal mungkin. Semangatnya, gairah, dan optimismenya sama dengan sepuluh tahun lalu, ketika kebun itu baru ditanaminya. "Panen enggak kayak dulu, Mbak. Beberapa tahun ini payah. Harga pun jatuh. Sekarang ini terendah dalam lima tahun terakhir," demikian Misngadi  bercerita jelang keberangkatannya ke kebun seluas total empat hektare di lahan bergambut itu  di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi, pada minggu terakhir Juli 2015.

Selanjutnya...
 
Ada Sawit Ramah Lingkungan di Sintang PDF Cetak E-mail
Kamis, 08 Oktober 2015 14:21

Oleh Reinardo Sinaga, RRI, Pontianak,
(Juli 2015)

INDUSTRI ekstraktif kelapa sawit selama ini dipandang menjadi bom waktu yang akan memonokulturkan hutan Kalimantan Barat. Namun, hal ini ditepis oleh Koperasi Produksi Rimba Harapan di Desa Merarai Satu, Kecamatan Sungaitebelian, Kabupaten Sintang. Yang istimewa, koperasi ini mengeluarkan aturan melarang anggotanya membakar lahan untuk membuka perkebunan kelapa sawit swadaya masyarakat. Hal lainnya, pohon kelapa sawit yang monokultur itu—istimewanya—bisa  ditumpangsarikan dengan semangka, terong, bahkan sayuran. Bagaiman ceritanya? Berikut penelusuran yang saya lakukan selama dua hari.  

Kendati masih pagi, sekira pukul 09.00, terik matahari menyengat hingga ke kulit epidermis. Saat itu saya tiba di Desa Merarai Satu menemui pimpinan Koperasi Produksi Rimba Harapan, Suratno Warsito.

Koperasi produksi dampingan World Wildlife Fund (WWF) dan  Indonesia Program Kalimantan Barat ini memiliki keunikan. Salah satunya pola tidak membakar dalam membersihkan lahan.

Selanjutnya...
 
Pemenang II Lomba MPI: Kampung Penuh Kotoran Sapi yang Kini Jadi Sentra Biogas PDF Cetak E-mail
Senin, 24 Agustus 2015 15:36

Oleh Firmansyah, kontributor Kompas.com di Bengkulu

Firmansyah pemenang II Lomba Meliput Perubahan Iklim LPDS/Kedutaan Besar Norwegia dengan perolehan nilai 252 dari jumlah nilai 300 yang mungkin diperoleh.  Tulisan ini dimuat kompas.com 1 Juli 2015 di http://regional.kompas.com/read/2015/07/01/12084681/Kampung.Penuh.Kotoran.Sapi.yang.Kini.Jadi.Sentra.Biogas?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

-----------------

BENGKULU, KOMPAS.com - "Kampung ini dahulunya penuh kotoran sapi bertebaran di tiap sudut, sekarang kotoran itu menjadi berkah untuk kami," kata Subario, warga RT 08, RW 3, Jalan Jenggalu, Kelurahan Lingkar Barat, Kota Bengkulu. Subario adalah peternak sapi yang dipercaya sebagai Ketua Kelompok Peternak "Muara Dwipa". 

Selanjutnya...
 
Pemenang I Lomba MPI: Memanen Kebaikan Mangrove PDF Cetak E-mail
Senin, 24 Agustus 2015 15:20

Oleh Helti Marini Sipayung, pewarta kantor berita ANTARA di Bengkulu

Helti Marini Sipayung pemenang I Lomba Meliput Perubahan Iklim LPDS/Kedutaan Besar Norwegia dengan perolehan nilai 262 dari jumlah nilai 300 yang mungkin diperoleh. Tulisan ini sudah disiarkan di http://www.antarabengkulu.com/berita/32472/memanen-kebaikan-mangrove  Sabtu 25 Juli 2015.

------------------

MATAHARI sudah condong ke Barat saat Safri turun ke muara Sungai Air Manjunto. Saat air surut, ayah tujuh anak itu memasang jaring atau alat tangkap kepiting di dalam hutan mangrove atau bakau di tepi muara sungai.

"Besok pagi akan diperiksa. Biasanya selalu ada kepiting yang nyangkut," ucap nelayan penangkap kepiting bakau itu saat ditemui di muara Sungai Manjunto, pekan lalu.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Berita Acara: Hasil Lomba Meliput Perubahan Iklim 2015 PDF Cetak E-mail
Senin, 24 Agustus 2015 12:32

Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) pada hari ini, Senin,10 Agustus 2015, di kampus LPDS di Jakarta mengadakan penjurian lomba karya jurnalistik meliput perubahan iklim (MPI) bagi wartawan alumni lokakarya MPI yang telah diselenggarakan sejak 2012.

Lebih dari 300 wartawan dari 16 provinsi berhak mengikuti lomba bermasalaku dari 18 Juni hingga 31 Juli 2015. Lomba mensyaratkan penulisan feature interpretatif isu lokal perubahan iklim hasil liputan asli wartawan.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
Siaran Pers: Dua wartawan Bengkulu menangkan tiket ke Paris PDF Cetak E-mail
Rabu, 19 Agustus 2015 12:52

Jakarta (Berita LPDS) - Helti Marini Sipayung, wartawan ANTARA di biro Bengkulu, dan Firmansyah, wartawan Kompas.com di Bengkulu, memenangkan lomba menulis isu lokal tentang perubahan iklim.

Pengumuman hasil lomba dibacakan dalam pembukaan lokakarya LPDS “Meliput Daerah Ketiga” di kedutaan besar Norwegia di Jakarta Rabu 19 Agustus. Kedua wartawan pemenang memperoleh hadiah tiket dan akomodasi  meliput konferensi Perserikataan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim (UNFCCC COP 21) di Paris 30 November- 11 Desember 2015.

LAST_UPDATED2
Selanjutnya...
 
LPDS adakan lomba tulis perubahan iklim. Hadiah Dua Tiket ke Paris PDF Cetak E-mail
Kamis, 25 Juni 2015 14:55

Jakarta - Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) di Jakarta dengan gembira mengumumkan lomba tulis perubahan iklim bagi para wartawan alumni lokakarya Meliput Perubahan Iklim (MPI). Lomba ini merupakan kerjasama  LPDS dan Kedutaan Kerajaan Norwegia.

Hadiah lomba ialah tiket untuk dua wartawan meliput Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Paris (COP 21) 30 November – 10 Desember 2015.
Karya tulis yang telah diunggah ke dalam laman ClimateReporter di situs LPDS (www.lpds.or.id) otomatis masuk lomba. Selain itu, peserta dapat mengirim karya yang telah dimuat di media cetak atau dalam jaringan (daring/online) sejak 1 Januari 2015. Karya yang baru dapat juga dikirim dengan batas waktu 31 Juli.  Karya yang telah dimuat di media dipandang memenuhi syarat lomba bila layak muat di ClimateReporter.

Selanjutnya...
 
M. Nur Pengabdi di Lahan Gambut PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:17

Oleh Ima Maya Isna, Wartawan RRI Palembang,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Suasana pagi yang cerah mengiringi langkah Muhammad Nur menuju tempat beraktivitasnya sehari–hari  sebagai pegawai negeri sipil yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak–anak di Desa Tanjungleban, Provinsi Riau.

Pengabdian yang diberikan guru di desa yang sebagian besar penduduknya petani karet dan penggarap kelapa sawit ini tidak hanya untuk murid–murid di SDN 24, tetapi juga untuk sekitarnya. Pak Nur  peduli  terhadap kelestarian lingkungan. Bahkan dirinya dapat disebut sebagai pionir. Ia ikhlas memberikan lahan miliknya untuk dijadikan percobaan.

Selanjutnya...
 
Mengais Untung, Berujung Buntung PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:13

Oleh Zuli Laili Isnaini, Dosen Antropologi, Universitas Riau,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

Catatan penulis: Lokakarya ini menarik bagi saya, apalagi melihat korban kebijakan yang tidak populis bagi mereka. Masyarakat yang terpinggirkan dan dimiskinkan oleh kebijakan akibat kalahnya perebutan akses sumberdaya dari korporasi dan pemilik modal. Namun, sempitnya waktu di lapangan menyebabkan sedikitnya informasi yang mampu digali. Akan lebih baiknya bila waktu di lapangan jauh lebih lama dengan metode live in, observasi, observasi-partisipatoris, dan wawancara mendalam.


Tugiadi,  53,  hampir seluruh rambutnya  abu-abu. Ayah dua anak ini menceritakan  kebakaran rumah papannya  Jumat malam, 20 Februari 2014. Tanpa ragu ia menjelaskan awal mula terjadinya musibah tersebut.

Rumah Tugiadi terbakar di Dusun Bukitlengkung, DesaTanjungleban, Riau. Selain rumah, tiga lokal Madrasah Diniah Aliah juga terbakar di dusun tersebut di Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis. Berikut cerita Tugiadi:

“Pukul 4 sore aku, orang rumahku, dan Igun tetangga yang rumahnya habis terbakar, mengupayakan supaya rumah tidak sampai terbakar. Sebelum terbakar, sekeliling rumah sudah penuh asap dan rumah sudah disiram sampai basah. Tetapi karena asap dan api semakin besar, hanya tiga orang saja menyiram, maka tidak sanggup lagi berada di tempat itu, dan selanjutnya rumah kami tinggalkan.

Selanjutnya...
 
Bangkit dari Bencana di Titik 268 Km PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:07

Oleh Yudhistira, Kontributor Berita Satu TV Medan,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014

(Catatan penulis: Jujur. Ini bukanlah kegiatan biasa karena di setiap kegiatan kita diajak mengolah nalar, naluri dan kejelian sebagai seorang jurnalis untuk “mengangkat batang terendam” yang  belum sempat atau tak pernah dikupas secara tuntas atau bahkan tidak pernah diangkat ke permukaan. Mungkin selama ini semua orang hanya fokus pada peristiwa bagaimana kebakaran lahan di Riau bisa terjadi, dampaknya seperti apa atau bahkan kerugian yang ditimbulkannya hingga membuat  Negara ini turut kalang kabut. Padahal semestinya, bencana ini harus disikapi sedemikian rupa sebelum bencana kembali melanda, karena ini sudah menjadi tradisi tahunan. Artinya, tentu lebih baik mencegah daripada mengobati.  Sebagai salah satu peserta, sebenarnya saya sangat berharap ke depan bisa diberi  kesempatan untuk mengikuti field trip kembali, tentunya di tempat lain yang mungkin perlu digali baik dari segi potensi atau segala hal di dalamnya yang selama ini tidak  pernah diketahui khalayak. Sukses terus buat LPDS yang mampu membuka wawasan jurnalis di negeri ini.)

 

Neraka! Api panas mengganas di lahan gambut yang luas. Hutan desa musnah.  Api yang berkobar hebat Feb-Maret 2014 seolah tak pernah berhenti. Berulang … terus berulang…  dan semakin sering.  Bagai api dalam sekam, si jago merah merayap di bawah gambut dan sewaktu-waktu siap menggeliat tanpa terduga. Akan tetapi, kini 2.436 jiwa penduduk Desa Tanjungleban, Provinsi Riau, bisa sedikit bernapas lega, walau neraka itu belum berakhir.

Selanjutnya...
 
Pantang Pulang Sebelum Padam PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:19

Oleh Yudhistira, Kontributor Beritasatu TV Medan,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Jari tangan kirinya menjepit rokok. Tangan kanannya menggenggam botol bekas air mineral berisi beberapa tetes bensin. “Tinggal inilah minyak yang tersisa,” ucap Andi lirih. Itulah tantangan bagi petugas kecil di daerah terpencil.

Andi adalah satu dari dua belas orang petugas honorer pemadam kebakaran yang sejak ratusan titik api kembali bermunculan sengaja disiagakan di posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis di Jalan Lintas Dumai—Pakning.

Bensin dalam botol itu memang hanya tersisa sedikit. Bensin itu untuk mengisi mobil pemadam kebakaran berukuran kecil berkapasitas lima liter. Bagaimana jika tiba-tiba terjadi kebakaran? “Saya berutang dulu ke warung bensin,” kata Andi. 

Selanjutnya...
 
Perjuangan Sunyi, Seorang Doktor Selamatkan Gambut Riau PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:15

Oleh Firmansyah, Koresponden Kompas.com, Kota Bengkulu,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014

Pria ini jika dilihat dari perawakan cukup lemah dan seperti tak berdaya dan berwajah lemah lembut. Namun kesan itu akan berubah saat ia mulai berbicara soal lahan rawa gambut, terlebih rawa gambut yang rusak terbakar.

Ia akan berapi-api jika diberi kesempatan untuk berorasi soal gambut. Ia adalah Dr. Haris Gunawan, Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Solusi Tuntas Bencana Asap (STBA), Universitas Riau, ahli gambut yang mendedikasikan tidak kurang 11 tahun waktunya hanya untuk gambut.

“Selama ini saya mensunyikan diri berusaha berbuat bersama masyarakat untuk merehabilitasi kawasan gambut yang telah terbakar ditanami dengan pohon dan asri kembali,” katanya.

Selanjutnya...
 
Mengusir Jerebu Demi Balita Batuk PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:10

Oleh Dian Emsaci, Wartawan Mingguan Kabar Aceh, Kota Bandaaceh,
peserta kunjungan kawasan ke Riau, Juni 2014


Burhanuddin tenang-tenang saja, meski di sebelah kiri pos menara pantau kebakaran hutan dan lahan menyembul jerebu tipis. “Sebentar lagi hujan bakal turun. Lihat itu awan hitam sudah tebal. Kalau hujan, api pun akan padam dan asap menghilang,” kata pria berusia 41 tahun, ketua Regu 2, Masyarakat Peduli Api (MPA), Desa Sepahat dan Tanjungleban.

Tenang bukan berarti tidak khawatir. Hanya saja asap mengepul lebih besar sudah disaksikannya. Makanya anggota regunya tidak dikerahkan ke titik kebakaran. Seandainya tidak hujan—begitu  melihat jerebu atau asap kecil saja—pihaknya  langsung menuju lokasi untuk memadamkan api. Namun, hari ini tidak dilakukannya dengan alasan sebentar lagi api bakalan padam diguyur air dari langit.

Ayah empat anak ini mengungkapkan menjelang siang anggota regunya sudah memantau kebakaran dan asap dari menara pemantau yang tingginya 32 meter. Laporan anggota regu bahwa hanya terlihat satu titik asap dan sejauh mata memandang tidak tampak kebakaran gambut atau hutan. Ia dan anggota regu yang merupakan swadaya bentukan masyarakat enam tahun lalu bisa bernapas lega dan tenang.

Selanjutnya...
 
Lahan Bekas Kebakaran Disulap Jadi Kebun Kayu PDF Cetak E-mail
Rabu, 24 Juni 2015 15:06

Oleh Dian Emsaci, Wartawan Mingguan Kabar Aceh, Bandaaceh,
peserta kunjungan kawasan ke Desa Tanjungleban, Riau, Juni 2014


Siang itu tak begitu terik. Angin semilir menggoyang daun dan ranting tanaman keras. Hamparan pohon tanaman keras yang menghijau mulai berdiri kokoh di areal lahan perkebunan bekas kebakaran tahun 2010 dan 2013. Satu dua sawit, saksi bisu kebakaran gambut masih bertahan hingga kini. Keberadaan pohon-pohon komersial di lahan itu seolah menepis, bahwa pemilik kebun pernah kecewa.

Kekecewaan Muhammad Nur, 46 tahun, pemilik lahan, beralasan. Lahan kebun karetnya terbakar empat tahun silam. “Bagaimana tidak kecewa, terbakar... ditanami... terbakar dan ditanami lagi,” kata ayah empat anak ini. Alhasil lahan yang terbakar pun dibiarkan dan semak belukar tumbuh bebas.

Dr. Haris Gunawan, Sekretaris Satgas Solusi Tuntas Bencana Asap (STBA) Universitas Riau, menyarankan agar M. Nur mengganti tanaman dengan jenis yang lebih cocok untuk ditanam di lahan gambut. 

Selanjutnya...
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL