Media Kurang Manfaatkan Pembacanya

Posted in Berita LPDS


"Pada kondisi ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini, penerbit kehilangan fokus pada faktor penting yakni bagaimana memanfaatkan pelanggan setianya, baik pembaca online ataupun cetak," kata Allen Weiner, Research Vice President Gartner, pada siaran pers yang VIVAnews kutip, 30 Maret 2009. "Pelanggan yang setia terhadap sebuah merek seharusnya bisa dijadikan duta. Mereka dapat digerakkan untuk menggunakan pengaruh yang mereka miliki di lingkungan sosial mereka untuk keuntungan merek yang bersangkutan," ucapnya.

Pada November dan Desember 2008, Gartner melakukan survey terhadap pengguna internet di Amerika Serikat, Inggris, dan Italia untuk mengetahui bagaimana konsumen mencari dan berbagi berbagai macam konten. Survey tersebut dikhususkan untuk mengetahui faktor utama pengguna tersebut mengonsumsi media, dan faktor utama yang memicu pengguna untuk mencari konten tertentu. Perangkat utama yang digunakan untuk melakukan pencarian, apa yang mereka lakukan saat menemukan konten menarik dan apakah mereka akan membagikan konten tersebut juga diperhatikan.

Hasilnya, survey Gartner menemukan bahwa surat kabar tidak menyediakan para duta medianya dengan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan peran mereka sebagai pemberi pengaruh. Contohnya adalah tidak mampunya memberikan pengalaman pencarian yang baik di situs berita mereka dan kurangnya integrasi antara konten dan fungsi media sosial mereka. Beberapa fakta yang terungkap dalam survey tersebut antara lain adalah:

Sekitar 49 persen responden menggunakan mesin pencari umum seperti Google dan Yahoo minimal sekali per minggu atau lebih untuk mencari konten tertentu. Tetapi hanya 20 persen yang melakukan pencarian menggunakan mesin pencari yang terintegrasi di situs online surat kabar ataupun majalah.

Hanya 24 persen responden yang disurvey membagikan konten yang mereka temukan pada rekannya lewat media komunikasi pribadi seperti email dan instant messaging. Sekitar 7 persen saja yang menyatakan bahwa mereka biasanya atau sering membagikan konten tersebut lewat situs jejaring sosial.

Meskipun banyak surat kabar yang menyebutkan daftar staf mereka yang aktif di Twitter, situs jaringan mikro blogging yang berpengaruh, tetapi hanya sedikit yang memberikan pengguna Tweeter peluang untuk men-tweet informasi dari situs beritanya.

Ketika ditanya apa yang dilakukan pengguna ketika menemukan konten yang menarik di Internet, lebih dari separuh responden (52 persen) menyatakan bahwa mereka umumnya langsung membacanya. Hanya 9 persen yang menyatakan bahwa mereka membookmark untuk dibaca belakangan.

"Meski mudah mengkritik perusahaan surat kabar karena tertinggal di era digital dan tidak berpikir secara inovatif untuk masa depannya, beberapa kesalahan industri ini terletak pada kategori mendasar," kata Weiner. "Salah satu dasarnya adalah mengubah penggemar produk atau layanan menjadi agen marketing terbaik dan termurah mereka. Bahkan sebuah perangkat media sosial sederhana tidak hanya memungkinkan untuk saling rekomendasi dan berbagi, tetapi juga menyediakan tingkatan manajemen identitas dan reputasi untuk memberi petunjuk pada pengunjung yang lainnya bagaimana kredibilitas sang agen."

Weiner juga menyatakan bahwa meskipun surat kabar telah memiliki konten media sosial di situsnya, tetapi mereka belum mengambil langkah mengintegrasikan perangkat media sosial mereka ke dalam ekosistem manajemen konten mereka untuk menyediakan implementasi dari pentingnya fitur sosial. Menurut Weiner, tugas yang perlu dilakukan saat ini adalah memprioritaskan integrasi media sosial ke dalam content management system yang ada atau yang akan datang.*

Sumber: www.vivanews.com / Senin, 30 Maret 2009)Ilustrasi: www.globaljaya.net