Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Rendah

Posted in Berita LPDS


"Rendahnya minat baca disebabkan beberapa faktor, salah satunya, suratkabar masih menjadi barang yang mahal bagi masyarakat Indonesia." kata Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, saat memberikan materi bisnis media pada pelatihan jurnalistik tingkat lanjutan (yang diselenggarakan Dewan Pers bersama LPDS) bagi Redaktur di Hotel Lombok Raya Mataram, Kamis (28/5).

Leo menyebutkan, Singapore menempati urutan kedua, yakni 1 suratkabar untuk 2 orang, Malaysia 1 suratkabar 8 orang, Srilangka 1 suratkabar 34 orang, India 1 suratkabar 38 orang dan Indonesia 1 suratkabar 41 orang. Bisnis media baik cetak dan elektronik memiliki pertumbuhan belanja iklan setiap tahunnya. Dimana, belanja iklan tahun 2007 sebesar Rp 37,6 miliar naik 100 persen menjadi Rp 44,8 miliar pada tahun 2008.

Leo menambahkan, belanja iklan televisi tahun 2008 sebesar Rp 26,1 miliar, koran Rp 15,5 miliar, majalah Rp 1,1 miliar, tabloid Rp 606 juta, radio Rp 567 juta dan outdoor Rp 887 juta. Lebih jauh Leo merincikan, iklan terbesar diraih 5 stasiun televisi nasional, seperti Global TV Rp 11,8 miliar, RCTI Rp 3,4 miliar, disusul SCTV Rp 3,1 miliar, Trans Rp 2,8 miliar, TPI Rp 2,4 miliar dan TV 7 Rp 2,4 miliar. Selanjutnya, 5 koran yang meraih iklan terbesar, yakni Kompas Rp 1,7 miliar, Jawa Pos Rp 728 juta, Media Indonesia Rp 392 juta, Fajar Rp 330 juta dan Sriwijaya Post Rp 325 juta.

Pebisnis Pers tegas Leo, menyadari betul berbagai media pemasok informasi, seperti media cetak, radio, televisi, bioskop, media luar ruang dan internet yang bersaing ketat. Mereka harus dapat merebut pengguna infromasi, yakni pembaca, pendengar, pemirsa dan pengiklan. Tentu pemenangnya lanjut Leo, media yang paling memenuhi kebutuhan, kenyamanan, dan kepentingan pengguna informasi. Tapi biasanya media yang menjadi pemenang adalah media yang memiliki segmen pertama, karena jumlah media sangat banyak dan beragam. (ozi)

Sumber: www.globalfmlombok.com / 28 Mei 2009
Foto: Leo Batubara