Pers Terbelah Sikapi Pemilu

Posted in Berita LPDS


Misalnya, harian Suara Karya dan Jurnal Nasional sudah jelas kedekatan politiknya. Yang pertama ke Partai Golkar sedang yang kedua ke partai pemenang Pemilu Legislatif 2009 yaitu Demokrat. Kedekatan atau bahkan keberpihakan pers cetak ini tidak menjadi masalah sejauh dinyatakan secara terbuka oleh pers bersangkutan.

Redaksi pers yang memiliki kedekatan dengan partai biasanya menyatakan ruang redaksi mereka tetap terjaga independensinya. Namun, Atma menilai, media semacam itu sudah menyesuaikan kebijakan redaksinya dengan aspirasi partai yang mendukungnya.

"Media yang tidak mengkaitkan dirinya dengan partai saya anjurkan independen," kata Atma saat menjadi pembicara diskusi �Cerdas Meliput Pemilu Presiden Presiden� yang digelar LPDS di Jakarta, Kamis (18/05/2009).

Hati-hati
Atma mencermati, dalam pemilu tahun ini pers kurang memberi gambaran mendalam tentang calon presiden dan wakil presiden. Memang ada beberapa yang mencoba melakukannya namun tidak mampu memunculkan seluruh sisi.

"Ketika memberitakan soal track record calon terkait hak asasi manusia, media terlihat sangat berhati-hati," ungkapnya.

Karena itu, mantan Ketua Dewan Pers periode 2000-2003 ini menduga masih ada swasensor. Namun swasensor tersebut belum tentu berasal dari kemauan redaksi sendiri. Dalam pemilu, pers juga menghadapi tantangan untuk dapat menyajikan informasi yang akurat. Sebab, banyak sekali data atau fakta yang tersebar namun isinya saling berlawanan.

"Media harus bekerja lebih keras," tegasnya.

Dalam diskusi ini Atma mengemukakan temuannya mengenai sulitnya menemukan pers di lokal yang independen dari pejabat atau pemerintah daerah. Penyebabnya, pers lokal banyak bergantung pada iklan yang dipasang oleh pemerintah daerah.

"Kadang-kadang pemasang iklan itu tidak menargetkan ke pasar, tapi mendekatkan diri pada media tempat memasang iklan," ungkapnya. (red)

Foto: Atmakusumah (kanan) saat peluncuran dua bukunya di Jakarta, Februari 2009