Media Harus Ikut Mencerdaskan Bangsa melalui Bahasa

Posted in Berita LPDS


Untuk itu, melalui bahasa, media massa harus ikut serta dalam mencerdaskan bangsa ini. Hal itu dikemukakan para pemerhati bahasa Indonesia dalam sebuah diskusi bahasa bertajuk Kajian Media Massa: Mencari Kata Baku. Acara ini diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) dan Forum Bahasa Media Massa, bertempat di Gedung Dewan Pers di Jl Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (16/12).

Para pembicara yang hadir yakni Redaktur Senior Majalah Tempo A Amarzan Lubis, pakar bahasa Indonesia Prof Dr Anton Moeliono, serta Ketua FBMM TD Asmadi.

FBMM adalah suatu organisasi yang terdiri atas orang-orang yang peduli terhadap bahasa Indonesia. Para anggotanya sebagian besar adalah editor bahasa dari beberapa media massa di Tanah Air, seperti Tempo, Kompas, Antara, Swa, dan RCTI.

Melalui diskusi akhir tahun ini, para pakar bahasa itu bertujuan mencari kesepakatan mengenai kata-kata baku yang sering diperdebatkan di milis sepanjang 2009. "Dalam jurnalistik yang penting adalah sikap kebahasaan, " kata Amarzan Lubis.

Saat menanggapi tujuan diskusi ini, Amarzan mengatakan, "Pembakuan itu perlu selama tidak berhenti menjadi pembekuan." Ia pun menyampaikan keprihatinannya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang semakin jauh dari bahasa Indonesia yang baik.

"Jika membicarakan bahasa Indonesia, jangan berharap masyarakat Indonesia akan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam waktu yang cepat," katanya.

Hal itu, menurutnya, disebabkan masyarakat Indonesia sudah terlalu lama dibiarkan tidak terdidik sehingga terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dengan bermain-main, bukan dengan merasionalkan bahasa itu.

Hal tersebut mengacu pada masih kurangnya orang terdidik di Indonesia. Dari data yang ada sekitar 70% masyarakat Indonesia mengantongi hanya ijazah SD. Karena itulah, menurut Anton Moeliono, ini merupakan panggilan bagi media di Indonesia untuk bisa mencerdaskan bangsa ini agar bisa bersaing di dunia.

Ia menambahkan, jika media taat menggunakan bahasa Indonesia yang baik, keluarga Indonesia pun akan terpengaruh. "Sangat disayangkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak digunakan dalam proses belajar-mengajar siswa di sekolah. Padahal dalam kamus, tercantum sejarah bangsa Indonesia dari abad 17-18 yang merupakan zaman keemasan sastra Melayu," urainya.

Setelah itu, acara ini pun dilanjutkan dengan diskusi untuk menyepakati berbagai bentuk kata baku yang sesuai untuk ditulis atau dihadirkan di media kepada masyarakat. (*/OL-03)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com / Kamis, 17 Desember 2009 02:57 WIB