“Ini Diplomasi Kebudayaan yang Tidak Ada Bandingnya”

Posted in Berita LPDS



Taufik Ismail menceritakan tiga contoh pementasan kebudayaan Indonesia yang sangat berhasil di luar negeri. Pertama, teater anak-anak Tanah Air yang dipimpin Yos Rizal Manua. Teater ini sering melakukan pementasan di luar negeri dan mendapat banyak penghargaan. Kedua, kelompok seni budaya gamelan Kyai Kanjeng yang dikelola oleh MH Ainun Nadjib. Kyai Kanjeng juga berkali-kali mendapat penghargaan saat pentas di luar negeri.

Contoh terakhir, lanjut Taufik, pembacaan puisi oleh WS Rendra di festival Rotterdam yang mendapat apresiasi luar biasa. “Si Buruk Merak” saat itu menerima tepuk tangan panjang dari penonton melebihi yang selama itu pernah terjadi di festival Rotterdam.

“Ini diplomasi kebudayaan yang tidak ada bandingnya,” cerita Taufik saat berbicara dalam Diskusi Serial Bulanan (Diserbu) tentang Semangat Indonesia yang digelar Lembag Pers Dr. Soetomo (LPDS), bersama PT Djarum dan Metro TV di Cafe d'consulate, Jakarta, Jumat, 30 Juli 2010. Diskusi ini juga mengundang pembicara Sabam Siagian, Marusya Nainggolan, Kusuma Nursiawati, dan Ninik L Karim.

Mengenai diplomasi kebudayaan Indonesia yang menjadi tema diskusi, Taufik menganjurkan ada balai penerjemahan sastra Indonesia ke dalam bahasa lain. “Minimal tiga bahasa yaitu Inggris, Arab, dan China,” katanya.

Aktor berpengalaman dan juga pegiat seni, Ninik L Karim, melihat anak-anak Indonesia justru saat ini menjadi garda terdepan dalam diplomasi kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia yang mereka pentaskan di luar negeri dapat membuktikan bahwa Indonesia tidak seburuk yang banyak orang luar negeri bayangkan selama ini.

“Kita mungkin harus berharap kepada yang muda-muda. Mereka tidak banyak bicara tetapi banyak berbuat. Mari kita menyerahkan kepada anak-anak muda. Kadang-kadang kita terlalu khawatir sehingga kita dijebak, kita tidak melihat oportunity-nya,” katanya.

Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kusuma Nursiawati, menyatakan upaya-upaya diplomasi kebudayaan tidak hanya dilakukan oleh Kemlu tetapi juga semua unsur terkait, termasuk pemerintah daerah. Unsur-unsur tersebut menurutnya memerlukan sinergi yang rapi. “Saya akui itu saat ini belum optimal,“ katanya.

Menanggapi masukan dari Sabam Siagian agar Kemlu banyak berkomunikasi dengan indonesianis di luar negeri untuk diplomasi kebudayaan, Kusuma memastikan hal itu telah dilakukan pemerintah.

Menurutnya, indonesianis adalah aset Indonesia di luar negeri. Karena itu, indonesianis diundang ke Indonesia setiap tahun. Mereka juga berkumpul untuk membahas perkembangan Indonesia.

Sementara itu, Marusya Nainggolan mengusulkan agar kedutaan besar Indonesia di luar negeri sekaligus menjadi pusat kebudayaan Indonesia di setiap negara. Langkah tersebut akan sangat membantu untuk pengekspresian kebudayaan Indonesia di luar negeri.*