23 Tahun LPDS untuk Pers Indonesia

Posted in Berita LPDS

Perayaan juga diisi diskusi tentang etika pers dalam meliput terorisme, konflik, dan korupsi. Hadir sebagai narasumber yaitu Bambang Harymurti, Bachtiar Aly (Pengajar LPDS), Selly Martini (Aktivis Indonesian Corruption Watch/ICW), serta Kristanto Hartadi (alumnus LPDS) sebagai moderator.

Sebelum diskusi dimulai, diputar film dokumenter penyerangan pasukan Israel ke Kapal Mavi Marmara akhir Mei 2010. Surya Fachrizal Ginting, wartawan Suara Hidayatullah yang juga alumnus LPDS, menceritakan pengalamannya saat berada di atas kapal tersebut. Ia menjadi salah satu korban luka dalam penyerangan itu.

 

Peran Masyarakat

Bambang Harymurti menyatakan, pengelolaan pers saat ini dipengaruhi oleh sistem demokrasi dan perkembangan teknologi yang menjadikan masyarakat atau publik paling menentukan. Situs Wikipedia memberi contoh yang baik tentang peran publik atas informasi yang sudah atau akan disampaikan pers. Wikipedia memberi kesempatan luas dan langsung kepada publik untuk menyumbangkan informasi atau memperbaiki informasi yang tidak tepat di situs tersebut.

“Sekarang kita (pers) harus mengumpulkan sebanyak mungkin pendapat masyarakat dan mengembalikan kepada masyarakat.” Ia menambahkan, “Jurnalisme akan berkembang seperti model wikipedia, diperbaiki oleh konsumennya.”

Menurutnya, saat ini perusahaan besar, seperti perusahaan elektronik, yang akan mengeluarkan produk baru memilih melakukan riset langsung kepada konsumen daripada membayar konsultan. Pendapat konsumen menentukan seperti apa produk baru yang akan sukses di pasaran. Pengalaman semacam itu menjadi contoh bagi perusahaan pers yang ingin maju.

Melalui perkembangan teknologi komunikasi, semakin banyak informasi yang datang kepada wartawan. Tugas wartawan, kata Bambang, melakukan verifikasi dan mengedit informasi itu agar sesuai.

Sementara itu, menurut Bachtiar Aly, wartawan yang meliput persoalan terorisme atau konflik seharusnya yang siap secara mental dan punya keahlian.

Pers Indonesia, Ia menambahkan, punya cukup pengalaman dalam meliput terorisme. Namun, porsi liputan untuk korban terorisme harus lebih diperbanyak.

“Peliputan media kembali ke hati nuraninya (wartawan). Kalau tidak punya panggilan hati nurani, keluar saja dari pers,” tegas mantan Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan pengajar di LPDS ini. (red)