Kehancuran Ekonomi Amerika Antarkan Anthony Suau Raih World Press Photo

Posted in Berita LPDS


Fotografer Amerika ini, telah meliput berbagai konflik di dunia dari Ethiopia, Cek, perang Irak, pecahnya Soviet, jatuhnya tembok Berlin. Namun di Cleveland, di jantung kota negaranya sendiri, Suau menemukan kesejatiannya: pemandangan keputusasaan yang melanda warganya saat itu.

Suau, pria berusia 52 tahun itu, telah mengeliingi kota-kota di Amerika untuk dokumen dari kegagalan ekonomi negaranya. 'Setelah sampai di Cleveland saya melihat hal terpentng apa yang di luar sana sedang dibicarakan,' ujarnya dalam wawancara di situs cleveland.com. 'Suasananya memberikan kesan bahwa krisis benar-benar terlihat seperti dari dalam.'

Dalam rekaman fotonya --yang Kamis lalu diumumkan sebagai pemenang Photo of The Year 2008--, Suau mengikuti perjalanan seorang polisi Robert Kole, di Cuyahoga, akhir Maret lalu. Foto Suau tergambar jelas, seorang polisi dengan pistol siaga sedang memeriksa sebuah rumah kosong berantakan --diharapkan menemukan penjarah.

Itulah yang membuka mata juri, bahwa ada imbas yang dalam dari suatu krisis di negara adidaya itu. 'Perang dalam hal ini adalah cita rasa klasik dengan memperlihatkan sebuah rumah yang tidak terbayar karena digadaikan,' ujar salah satu juri Mary Anne Golon.

Mau tahu apa komentar sang polisi yang diikuti fotografer ini? 'Kamu tidak akan pernah tahu apa atau siapa yang ada dalam rumah itu. Kondisi ini juga penggambaran dari sebuah tragedi mengenai orang yang kehilangan rumahnya.'

Dalam lingkup semiotika, Roland Barthes menandai sebuah foto dengan studium dan punctum. Sebuah penunjuk jalan untuk menilai foto mempunyai kemampuan menghunjam relung hati (punctum) atau sebatas kemampuan kornea mata menatap sebuah gambar yang kemudian direkam oleh otak kita (studium). Kekuatan foto-foto yang mendapat penghargaan dalam World Press Photo ini pun menghasilkan gambar dan citra yang kuat, khususnya dalam sisi kemanusiaan.

Sekitar satu setengah dekade, pentas foto dunia selalu dipenuhi dengan perang, kekerasan, keputusasaan dan ketidakberdayaan manusia. Di sisi lain, pencapaian prestasi dan kejayaan, dikalahkan oleh ambisi, hasrat dan kekalahan.

Foto milik Suau menjadi akhir dari kesimpulan tahun 2008, dimana hancurnya ekonomi Amerika yang dipicu Supreme Mortgage berimbas ke seluruh dunia. Seperti diungkapkan juri lainnya, Akinbode Akinbiyi, bahwa semua orang berpikir krisis ekonomi. 'Inilah yang terjadi pada kita semua,' ujarnya.

Dari sudut punctum, kekelaman resesi mendominasi foto Suau, yang muram, kacau dan tidak berdaya. Seolah resesi telah menenggelamkan pemilik rumah, yang tak berdaya lagi akibat himpitan ekonomi. Atmosfer ini, menjadi representasi dari kondisi dunia yang mengalami imbas ekonomi Amerika.

Dari sisi studium, kita diperlihatkan kondisi rumah kosong, berserakan dan tak ada penghuninya. Terlihat polisi yang siaga siap menyergap setiap penjahat yang tiba-tiba muncul. Foto dengan nada monokromatik, lebih menguatkan suasana dramatis rumah itu.

Dalam World Press Photo ini, prestasi yang mencengangkan didapat dari fotografer-fotografer Cina yang berhasil merebut tujuh penghargaan. Mengingat, sampai kini masih jarang fotogafer Asia yang bisa unjuk gigi dalam ajang prestisius ini. Olimpiade Beijing pada Bulan Agutus 2008 dan Gempa Sichuan Bulan Mei 2008, banyak yang menjadi tema sentral, yang mewakili kemenangan dari bidikan kamera fotografer Cina.

Sementara konflik-konflik perbatasan, perang antar suku, kekerasan jalanan seperti yang terjadi di Georgia, Kenya, Brazil, atau El-Salfador masih menarik perhatian juri untuk ditampilkan. Untuk Olahraga, Olimpade Beijing menjadi obyek yang menarik para juri. Selain even dunia, juga banyak foto-foto menarik dengan sudut-sudut yang kaya, seperti karya Xiaoling Wu dari kantor berita Xinhua, dengan tetesan darah dari luka seorang Judoka.

Para dewan Juri hanya mempunyai waktu dua minggu untuk menyeleksi 96 ribu foto yang masuk dari berbagai penjuru dunia. Anthony Suau mendapat hadiah uang senilai 10 ribu Euro atau sekitar Rp 151 juta. Tentu saja hadiah uang tidak sebanding dengan penghargaan prestisius yang kemudian semakin mengukuhkan para pemenang ini sebagai fotografer juRnalistik yang handal. (BERBAGAI SUMBER| NUR HARYANTO)

(www.tempointeraktif.com, Senin, 16 Februari 2009)