Garda depan dituntut ketrampilan

Ditulis oleh Super User. Posted in ClimateReporter

Jakarta, ClimateReporter - Wartawan adalah pasukan garda depan dalam menyelamatkan gambut di Indonesia. Bambang Harymurti, Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pendidikan MultimediaAdinegoro, induk Lembaga Pers Dr Soetomo, mengatakan ini pada pembukaan lokakarya wartawan meliput perubahan iklim di kantor Badan Restorasi Gambut 23 Agustus 2016.

 

Kanada, Amerika, Rusia dan Indonesia adalah empat negara dengan kebakaran hutan paling luas di dunia, kata Bambang yang juga direktur utama kelompok media Tempo.

Di Kanada 3 juta hektare hutan terbakar setiap tahun. Kalau membaca sejarah, kebakaran itu terkait gambut, kata Bambang.

Karena Kanada jumlah penduduknya kecil, maka kebakaran tidak banyak diberitakan, tambahnya.

“Kita harap kita dapat mencegah itu dan melakukan sesuatu di Indonesia agar apa yang terjadi di Kanada tak kita alami, kata Bambnag.

“Inilah garda depan kita untuk meyakinkan orang bahwa kita harus menyelamatkan gambut kita supaya perubahan iklim global tidak memburuk,” ujar Bambang dengan menunjuk kepada 10 wartawan perserta lokakarya.

Bambang mengucapkan terima kasih kepada Wakil Duta Besar Norwegia Hilde Solbakken atas persediaan sarana pemerintah Norwegia untuk pelaksanaan rangkaian lokakarya meliput perubahan iklim LPDS.

Kegiatan dari Jakarta tak cukup, katanya.

“Kita perlu orang di lapangan sebagai mata dan telinga kita, dan bertindak sebagai whistle blower (pengawas, penyingkap aib) pertama kita,” kata Bambang.

Bambang berharap wartawan dapat membantu BRG untuk menyelamatkan gambut Indonesia untuk generasi berikut. Lebih dari 2 juta hektare hutan dam gambut di Indonesia terbakar tahun 2015.

Ketrampilan dituntut

Sementara itu, Wakil Duta Besar Norwegia Hilde Solbakken menyatakan Norwegia telah mendukung LPDS sejak 2009. Solbakken, yang berpangkat minister counsellor, menyebut dua alasan kedutaan Norwegia mendukung proyek meliput perubahan iklim LPDS ini.

Pertama ialah dampak perubahan iklim begitu besar terhadap manusia dan lingkungan alam. Kedua ialah Indonesia dan Norwegia bermitra dalam mendukung upaya Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan dan gambut.

Norwegia mendukung usaha Indonesia dengan USD 1 milyar berdasarkan hasil yang dapat ditunjuk Indonesia dalam memenuhi sasaran yang telah ditentukan Indonesia sendiri.

“Karena isu perubahan iklim itu vital bagi kita semua, kita percaya masyarakat layak mendapat informasi terbaik yang dimungkinkan tentang isu ini. Dan wartwann adalah yang berada di tempat paling baik untuk menyebarkan informasi itu,” kata Solbakken.

“Anda memainkan peran kritis sebagai watchdog dalam mempersoalkan pihak berwajib. Anda menjadi pelindung dan pengawas terhadap kekuasaan yang disalahgunakan serta inefisiensi. Dan Anda mengkomunikasikan isu-isu kritis kepada publik,” kata Solbakken kepada para wartawan.

Sudah sekian banyak kali sebuah isu akan ditangani pemerintah karena media telah mengungkapkannya kepada publik, kata Solbakken.

Terkait dengan lokakarya, Solbakken mengatakan adalah hal penting agar wartawan muda mengembangkan ketrampilan tulis dan analitis mereka, juga ketrampilan spesifik untuk memahami dan melaporkan dengan tepat ihwal perubahan iklim. Solbakken mengatakan Norwegia bekerjasama dekat dengan BRG dan gembira melihat media mendukung kerja BRG.

“Saya mau menggarisbawahi peran media dalam menjelaskan kepada masyarakat pentingnya lahan gambut dalam mencegah kebakaran hutan melalui peliputan investigatif, analitis, dan akurat tentang isu ini,” ujar Solbakken yang didampingi Lisetta Trebbi, counsellor bidang kehutanan dan perubahan iklim.

Solbakken mengatakan ia mengetahui empat wartawan akan meliput restorasi gambut di daerah tujuan penugasan mereka. Karena itu, ia ingin mengetahui hasil liputannya.

Para peserta datang dari 10 provinsi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Mereka meliput isu perubahan iklim di daerah yang mereka belum kenal dalam lokakarya yang belangsung 23 hingga 31 Agustus 2016.

Mereka bertugas menghasilkan tiga karya tulis: feature intepretatif, feature profil, dan feature bebas. Sekembali dari lapangan, karya mereka dikomentari peserta sebaya dan tiga mentor LPDS dalam hal isi dan penyajian.