Segarnya nanas tak sesegar harganya

Ditulis oleh Mismaya Alkhaerat. Posted in ClimateReporter

 

Laporan Mismaya Alkhaerat, Ve Channel TV, Makassar

Penulis adalah peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV). Mismaya mendapat tugas ke  Kabupaten Kampar, Riau, 24-28 Agustus 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Norwegia 23 – 31 Agustus 2016

Desa Rimbopanjang, Riau, Ve Channel/ClimateReporter - Mungkin tidak semua orang suka nanas. Tapi bagi yang suka buah ini sangat lezat. Jika pernah merasakan nanas Rimbo panjang akan berpendapat sama. Nanas Rimbo panjang asl Riau inimanis dan segar. Hanya Rp3000 per buah. Mau petik sendiri dari tanaman juga bisa.

Nanas selain bisa dikonsumsi langsung, dibuat juice, kripik, dodol kue, manisan  dibuat tambahan acar dan yang paling top dibuat selai.

Hampir di seluruh Indonesia tanaman ini ada. Namun kondisi tempat tumbuhnya ternyata juga sangat berpengaruh pada rasa dan bentuknya .

Nanas di Desa Rimbopanjang, Kabupaten Kampar, meski warna kulitnya belum menguning namun rasanya akan sangat manis. Bahkan tanpa harus dilumuri garam untuk menghilangkan rasa gatal di lidah atau mulut.

Dengan nama latin Ananas comonus nanas merupakan tanaman buah asal Amerika Selatan sejak abad ke16.

Memasuki Desa Rimbopanjang selain tanaman sawit dan albasius, kita akan melihat tanaman nanas yang tertata rapi di sekitar rumah penduduk dan di kebun kebun tanah gambut.

Kebun Nanas di Desa Rimbopanjang. (foto Mismaya Alkhaerat)

 

Menanam nanas jika ditata dengan apik akan memberikan pemandangan yang indah, berjejer rapi  dengan  pohon yang setinggi pinggang orang dewasa. Daun selebar lidah terjulur dan tersusun rapi. Warna daun yang hijau, sedikit kemerahan  dipinggir daunnya dilindungi duri-duri tajam.

 

 

Dengan masa tanam sekitar satu tahun dua bulan, masa ini digunakan petani untuk sesekali menyiangi. Namun tidak bisa juga terlalu bersih, tanaman nanas memerlukan semak  untuk  melindungi dari terik matahari dan melembabkan tempat tumbuh  tanaman nanas,” kata Pak Heri .

s

Manis dan segarnya Nanas Rimbopanjang bisa langsung dinikmati (Foto Mismaya Alkhaeat)

Kalau terlalu bersih, nanas akan kepanasan dan kadang mempengaruhi ukuran buahnya,” tutur Heri

Bermodalkan warisan dari orang tuanya, Heri menggarap  lahan sekitar delapan hektare. Heri menanam nanas jenis lokal secara turunm temurun. Sampai saat ini rasa manis nanas Rimbopanjang yang kesohor di Riau membuat nanas ini langsung didatangi konsumen.

Meski digemari namun nasibnya tidak semanis rasanya. Masih banyak kendala yang dihadapi petani nanas.

Salah satu kendala petani sekarang adalah pembakaran lahan sebelum melakukan penanaman. Pada hal pembakaran ini dilakukan untuk membakar beberapa unsur hara dan memanfaatkan karbon untuk menetralkan  keasaman gambut.

Upaya yang lain dengan melakukan perlakuan di lahan gambut. Perlakuan itu dengan cara menabur atau mencampur dengan dolomit semacam batu kapur gunung, papar Pak Heri, Tapi ini memerlukan banyak tenaga manusia.

Secara gambling (taruhan), Heri memaparkan kebutuhan petani di Rimbopanjang. Jika luas lahan sekitar 1 hektare maka diperlukan  Rp20 jutaan untuk membeli bibit dan upah tanam.

Dia mengakui dengan sistem membakar lahan adalah cara termudah untuk membakar unsur hara dan pengurangan keasaman gambut. Namun, menurutnya, ada cara lain dengan membeli alat yang namanya Jender  semacam traktor tangan.

“Harganya sekitar Rp60 juta. Dengan alat ini maka gambut akan digiling dan terbuka, sehingga tidak perlu lagi dibakar ,sebelum ditanami.

‘Mungkin perlu bantuan kredit lunak untuk kepemilikan alat ini sehingga petani bisa mengolah lahan tanpa merusak, apalagi mengancam kerusakan lingkungan,” harap Heri.

Saat ini petani di Rimbopanjang makin berkurang. Seiring makin menyempitnya lahan. Perubahan itu terlihat sejak 2014 lalu. Lahan kini banyak berubah menjadi kebun sawit. Banyak warganya yang merantau atau mencari kerja di kota. Posisi Rimbopanjang hanya 45 menit dari  Pekanbaru, ibukota Riau. Apalagi mereka yang telah bersekolah mereka tidak lagi pulang menjadi petani nanas.

Kini lahan menanam di Rimbopanjang makin menyempit, beberapa lahan sudah dikapling atau dipetak-petakkan, menjadi kompleks perumahan.

Beberapa pengembang juga sudah membangun beberpa rumah. Ini milik orang-orang kota,kata pak Heri.

Posisi di pinggiran kota dan dekat bandar udara serta jalan poros  provinsi  menuju Sumatera Barat telah menjadikan Rimbopanjang berkembang pesat.

Editor Warief Djajanto Basorie