Profil: Willie Smits Ilmuwan Aren dari Tomohon

Ditulis oleh Ferry Susanto Arsyad. Posted in ClimateReporter

Laporan Ferry Susanto Arsyad, Inilampung.com, Bandarlampung

Penulis adalah peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga Angkatan Keempat (MDK IV). Ferry mendapat tugas ke  Kota Tomohon, Sulawesi Utara, 24-28 Agustus 2016. Lokakarya diselenggarakan Lembaga Pers Dr. Soetomo dan Kedutaan Norwegia 23 – 31 Agustus 2016

Willie Smits di pabrik gula Masarang, Tomohon, Agustus  2016. Foto Ferry Arsyad

Tomohon, Inilampung.com/ClimateReporter - Matahari  nyaris memasuki peraduannya. Itu saat Willie Smits tiba di kediamannya di Kelurahan Kaskasen, Tomohon Utara, Kota Tomohon. Tiga jam lebih saya menunggu kedatangan Ketua Yayasan Masarang itu. Yayasan Masarang ini didirikan 2001 dengan kegiatan melestarikan hutan dengan peran aktif masyarakat setempat.

 

 

Namun penantian saya tidak sia-sia. Menaiki sebuah mobil yang dikemudikan sopirnya, ahli kehutanan dan mikrobiologi bertubuh tinggi besar itu tiba dari Bandara Sam Ratulangi setelah perjalanan dari Jakarta via Bandara Soekarno-Hatta.

Dengan ramahnya, ilmuwan sekaligus peneliti pohon aren itu langsung menyapa dan menyalami penulis yang kala itu ditemani salah satu stafnya bernama Yopi Watulangko. Yopi merupakan orang kepercayaan Smits yang menjabat pengawas internal dan penanggungjawab pembibitan aren di Yayasan Masarang.

“Maaf saya baru tiba. Tadi saat Anda telepon saya masih di Bandara Soekarno-Hatta dan baru akan terbang ke Manado. Semoga tadi tidak bosan menunggu ya,” ujarnya berbasa basi dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Usai bersalaman, saya yang sempat terkesima dengan kehadiran narasumber utama yang harus diwawancarai tersebut  spontan meminta foto bersama. Permintaan itu dengan senang hati dilayaninya.

Pria keturunan Belanda yang kala itu mengenakan kemeja coklat, celana hitam dan sepatu kulit yang juga berwarna coklat, nampak tersenyum saat cahaya blitz dari kamera saya menyala.

“Oh ya, Anda jauh ya dari Lampung datang kemari. Apa yang bisa saya bantu buat Anda,” ujarnya ramah.

Percakapanpun mulai mencair. Saya kemudian mengungkapkan maksud kedatangan menemui dirinya, yakni dalam mengikuti lokakarya Meliput Daerah Ketiga (MDK) angkatan IV, Lembaga Pers Dr.Soetomo. LPDS ini  dibentuk Dewan Pers 1988 sebagai wadah peningkatan kompetensi wartawan. MDK adalah kegiatan media travel fellowship dalam mana wartawan meliput isu perubahan iklim di provinsi yang ia belum kenal. Daerah pertama ialah provinsi asal peserta. Daerah kedua ialah Jakarta tempat peserta mendapat penjelasan acara. Daerah ketiga ialah provinsi tujuan penugasan.

Kami kemudian duduk di teras rumah miliknya yang nampak sederhana dengan arsitektur Eropa. Di depan rumah bercat putih tersebut dari kejauhan nampak Gunung Api Lokon menjulang mengeluarkan asap vulkanik tipis.

Sementara, di belakang rumahnya, berdiri gagah Gunung Mahawu. Sore itu, Gunung Mahawu berkilat-kilat terkena cahaya matahari kemerahan. Ya, saat itu waktu sudah hampir pukul 17.00 WITA.

Sementara, gemericik air terdengar lirih dari kolam samping rumah. Di kolam itu berbagai ikan berwarna warni tampak saling berkejaran untuk mencari makan.

Tak ingin berlama-lama sayapun langsung mengajukan pertanyaan pertama. “Apa motivasi Pak Willie kok tertarik mengembangkan pohon aren?,” tanyaku padanya.

Tanpa banyak komentar, pria berambut ikal itu langsung menuturkan. Menurutnya, awal mula ketertarikannya terhadap pohon aren sejak tahun 1980. Saat itu dirinya untuk pertama kalinya menetap di Tomohon. Hingga pada tahun 1985 dia memutuskan berganti kewarganegaraan  dari Belanda menjadi warga negara Indonesia.

“Saya cinta Indonesia, sebab itu saya memutuskan jadi warga negara Indonesia,” terangnya.

Pertama kali dirinya mengenal pohon aren, saat hendak mempersunting istrinya kala itu  yang merupakan gadis asli Tomohon. Keluarga sang gadis, secara setengah bergurau, memintanya menyediakan mahar berupa sebanyak enam pohon aren produktif.

Dirinya sempat bingung dan mengira permintaan tersebut hanyalah guyonan dan candaan saja. Namun ternyata permintaan seperti itu masih ada di beberapa desa di sekitar Tomohon. Sejak itulah dirinya mengenal pohon yang memiliki buah berwarna putih yang biasa disebut kolang-kaling itu.

Karena penasaran, mengapa aren yang diminta sebagai mahar, dia lalu mencoba mencari tahu dan melakukan penelitian. Jawabannya, ternyata bahwa enam batang pohon aren produktif tersebut, lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga yang baru menikah.

“Nah dari situlah saya mulai mempelajari dan makin mendalaminya. Tapi saya kemudian berpikir kenapa kok pohon yang memiliki produktivitas paling tinggi jika dibandingkan tanaman lain ini tidak dikembangkan secara besar-besaran. Jika dikembangkan bukankah dapat menjadi mata pencaharian,” ujarnya.

Bertahun-tahun meneliti, pria kelahiran Weurt, Gelderland, Belanda 22 Februari 1957  ternyata menemukan 20 faktor mengapa masyarakat kurang tertarik melakukan penanaman dan pemanfaatan pohon aren. Salah satunya karena untuk mendapatkan nira aren yang dijadikan minuman tradisional yang dinamakan Saguer di hutan tidaklah mudah.

Para penyadap harus membawa turun nira yang didapat dengan cara dipanggul berjalan kaki menggunakan jirigen (galon). Sementara kemampuan mereka untuk membawa nira turun dari gunung  tidak cukup banyak, sehingga nilai penghasilan yang diperoleh sangat kecil.

“Begitupun saat petani mencoba mengolah nira menjadi gula aren, karena banyak dijual di pasar lokal, maka harga di pasaran pun rendah. Belum lagi kualitas gula yang dihasilkan rendah, “ ungkap pria yang dijuluki ‘Guru Orang Utan’ karena aktivitasnya dalam menyelamatkan orang utan di Kalimantan.

Rendahnya kualitas gula yang dihasilkan, ujarnya, karena banyak memakai campuran guna membuat gula menjadi keras, salah satunya minyak kelapa. Bahkan di beberapa tempat gula tersebut diawetkan menggunakan sabun jenis tertentu. Hal tersebut tentu saja membahayakan kesehatan dan tidak akan pernah lolos perizinan dari BPPOM.

“Jadi karena kualitas rendah, gula tersebut juga tidak bisa disimpan dalam jangka waktu lama,” ujarnya.

Setelah Pabrik Gula Aren Masarang berdiri, mulai banyak orang berdatangan untuk menjual nira karena dijemput di kebun. Tetapi di sisi lain karena banyak nira yang dibeli pabrik, harga gula di pasar tradisional terpengaruh menjadi naik.

“Hal tersebut tentu saja sangat menggembirakan petani nira. Semua orang akhirnya bisa menikmati peningkatan ekonomi dari kenaikan harga aren ini sebagai dampak berkurangnya kompetitor gula aren,” terangnya.

Kemudian, dia melanjutkan, jika masyarakat hendak mengembangkan produksi gula aren secara besar-besaran, maka akan terkendala dengan kebutuhan kayu bakar untuk memasak gula.

Pekerjaan petani aren akan sangat berat karena mereka harus mencari kayu setiap hari untuk bisa tetap beroperasi. Setidaknya dibutuhkan waktu dua jam setiap hari untuk mencari dan mengumpulkan kayu bakar.

“Nah, karena kayu di kebunnya habis, maka mereka harus naik ke atas hutan untuk mengambil dan menebang kayu. Hal itu tentu akan menyebabkan kerusakan hutan, erosi, banjir dan sebagainya,” bebernya.

Masalah lain, memasak dengan kayu beresiko dan membahayakan kesehatan. Pasalnya, asap kayu yang dihasilkan tersebut beracun. Itu artinya, produktivitas masyarakat yang bekerja juga akan menurun karena penyakit paru-paru seperti asma dan kanker.

Dari data badan kesehatan dunia, ilmuwan dalam studi lingkungan tersebut menyebutkan setiap tahun ada 2 juta orang meninggal karena terpapar asap kayu. Menurutnya, agar dapat membantu masyarakat lepas dari masalah tersebut, maka harus dicarikan alternatif baru.

Di sinilah peran Yayasan Masarang. Yayasan mengembangkan sistim logistik melalui pipanisasi. Air nira dari para petani  diturunkan dari gunung melalui pipa sehingga tidak perlu diangkut secara manual.

“Mereka sekarang hanya perlu memanasi niranya sampai steril di kebun masing-masing, agar tidak berfermentasi lagi. Lalu dialirkan melalui pipa, hingga ke bawah. Kita tinggal membuka keran untuk dimasukkan ke mobil tangki dan segera membawanya ke pabrik. Selanjutnya, hanya dalam durasi tidak lebih dari dua jam, nira tersebut langsung diolah menggunakan panas bumi yang didapat dari Pertamina,” urainya.

Kembangkan Alat Baru

Willie Smits juga terus mengembangkan berbagai inovasi untuk meminimalisasi penggunaan kayu bakar di petani. Salah satunya dengan menciptakan alat memasak yang dinamainya rocket stove dan pelechef.

Rocket Stove dan pelechef adalah sejenis alat untuk memasak menggunakan kayu bakar yang sangat sedikit, namun tidak menghasilkan asap sama sekali. Selain sehat karena tanpa asap, panas yang dihasilkan dapat diserap sempurna ke dalam pancinya.

“Memang belum banyak di Indonesia yang mengenal alat ini. Nah, alat ini sekarang sedang kami kembangkan. Sekarang kayu yang diperlukan untuk memasak nira hanya sedikit. Selain itu petani tidak perlu memasak sampai menguap seluruh airnya. Cukup memanasi sedikit niranya untuk menaikkan kandungan gulanya. Baru diangkut menggunakan sistim yang kami gunakan,” bebernya lagi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, sambungnya, memang dibutuhkan banyak investasi. Namun cara itulah yang paling efektif, menurutnya, untuk mengurangi dan mencegah kerusakan hutan serta kesehatan para petani sendiri akibat menghirup asap kayu.

“Dengan begitu jam kerja petani aren lebih singkat, namun dengan hasil yang maksimal. Tidak seperti dulu yang harus kerja berjam-jam duduk menunggui api dan harus terpapar asap. Mereka bisa bekerja lain, tidak perlu lagi berjam-jam mencari kayu dan naik ke atas gunung untuk menebang pohon, sehingga menyebabkan bencana lingkungan”.

Artinya, dengan membantu petani tersebut sambungnya,  maka biomasa hutan akan mulai naik. Dan hutan  mulai menyerap karbon ke udara yang disimpan dalam akar yang berada di dalam  tanah. Maka dengan membantu masyarakat, itu juga akan membantu iklim dunia.

“Hal ini nanti bisa kita perhitungkan sebagai salah satu pemenuhan kewajiban Indonesia di PBB pada COP 21 Prancis yang lalu, dan COP 22 di Maroko tanggal 7-18 November 2016 mendatang”.

COP21 adalah konferensi para pihak ke-21 tentang perubahan iklim di Paris 30 November hingga 12 Desember 2015 lalu. Temu tahunan PBB ini menghasilkan Paris Agreement. Keputusan inti mufakat 195 negara ini ialah usaha bersama agar suhu rata-rata bumi tidak naik dua derajat Celsius di atas suhu zaman pra-industri. Pembatasan kenaikan suhu ini untuk mengendalikan pemanasan global.

Dirinya berharap pengembangan aren dan reboasasi dengan sistim tumpangsari di Kalimantan Timur yang saat ini dilakukannya bersama PT ITCI dapat melebihi kewajiban Indonesia untuk dunia dalam menurunkan pemanasan global (global warming). Willie Smits adalah Diretur Pengembangan Hutan di perusahaan restorasi hutan milik Hasyim Djojohadikusumo ini.

Dengan tidak ada lagi penebangan pohon di hutan, maka dengan sendirinya risiko kebakaran otomatis menurun. Inilah salah satu efek positif yang dihasilkan dari penanaman pohon aren.

Aren Pohon Energi

Willie Smits mengatakan dirinya juga sudah berhasil mengembangkan nira aren menjadi zat bioetanol yang bisa dipakai sebagai bahan bakar mesin bermotor pengganti bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah minyak, gas dan batu bara ya ng melepaskan banyak gas karbon.

“Bioetanol yang dihasilkan sudah kami coba dapat menghidupkan mesin motor. Ini menunjukkan jika bahan bakar ini ke depan dapat menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti solar maupun premium,” ujarnya.

Dijelaskannya, jumlah bahan bakar bioetanol yang dihasilkan dari pengolahan aren ini setara dengan 82 barel minyak per tahun per hektar. Sebagai pengganti BBM yang mencapai 1,4 juta perbarel, maka dibutuhkan 6,2 juta ha lahan hutan aren campuran.

“Jika digunakan mesin motor yang sekarang, maka kinerja dari bahan bakar bioetanol ini sekitar 80 persen dari bahan bakar premium yang selama ini digunakan,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, jika kompresi mesinnya ditingkatkan, maka diyakini kinerja mesin akan setara dengan menggunakan premium/bensin.

“Dengan begitu kita tidak akan ketergantungan lagi dengan bahan bakar fosil. Karena bahan bakar terbarukan sudah kita temukan,” tutupnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, saat saya selesai mewawancarai  Willie Smits. Saya bersama Matok, pengojek yang saya sewa Rp150 ribu perhari kemudian berpamitan pulang.

Penulis bersama Willie Smits (paling kanan), pengemudi  ojek Matok (plg kiri) dan staf Masarang Yopi Watulangko  (kedua dr kiri) di depan rumah Willie. Foto koleksi Ferry


Namun sebelum pulang Willie sudah berjanji keesokan harinya akan memfasilitasi saya bertemu dengan para petani nira yang berada di bawah kemitraan Yayasan Masarang.

Selain itu, dirinya berjanji akan mendampingi dan menjelaskan secara langsung proses pembuatan gula semut untuk ekspor di Pabrik Gula Masarang yang dipimpinnya.

 

Editor Warief Djajanto Basorie