ClimateReporter

Sanksi Sosial Mampu Melestarikan Hutan Adat Ghimbo Potai

Ditulis oleh Agus Sanaa. Posted in ClimateReporter

Oleh Agus Sana'a
Koresponden Harian Umum Sinar Harapan di Kendari, peserta MDK III Agustus 2015 dengan penugasan ke Pekanbaru



Ya Allah, limpahkan rezeki dan rahmat-Mu kepada pengunjung yang menjaga
kebersihan dan kerapian tempat ini, Amin.

Bocah perempuan memakai penutup kepala tampak mengangkat kedua tangan,
menengadah seolah mengucapkan deretan untaian kalimat  tersebut.

Itulah papan reklame yang terpampang di pinggir kawasan hutan larangan adat Ghimbo Potai, di Desa Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, sekira 48 kilometer arah barat Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau.

Dinamakan Ghimbo Potai karena dahulu di lokasi tersebut terdapat banyak tumbuhan potai, sedangkan ghimbo dalam bahasa masyarakat setempat berarti hutan.

Sepintas gambar dan tulisan papan reklame di pinggir hutan tersebut tidak berbeda dengan papan reklame kebanyakan. Namun. bila ditelisik lebih jauh, pesan moral dalam papan reklame tersebut bermakna mendalam dan mengandung kekuatan magis.

Hutan Adat Jurus Jitu Pelestarian Hutan

Ditulis oleh Arfi Dardiansyah. Posted in ClimateReporter

Oleh Arfi Dardiansyah
Atjehlink.com, Bandaaceh, peserta MDK III Agustus 2015 dengan penugasan ke Palangka Raya

PALANGKA Raya sesak. Kabut asap menyelimuti kota yang tepat di tengah Pulau Kalimantan karena sejak pertengahan Juni bagian tengah Borneo tak diguyur hujan.

Kondisi tersebut mengakibatkan provinsi yang memiliki luas lahan gambut mencapai 3,1 juta hektare (kurang lebih 15% dari luas gambut Indonesia) menjadi kawasan bertingkat polusi tertinggi di dunia. Padahal, tanpa kehadiran kabut asap, Palangka Raya tampil sebagai kota nan asri. Pepohonan hijau terang  menyedapkan mata memandang, bahkan di pusat kota sekalipun.

Akhiri Kabut Asap, Batu Ujian Jokowi

Ditulis oleh Warief Djajanto Basorie. Posted in ClimateReporter

Oleh Warief Djajanto Basorie

Pada 27 Oktober penerbangan  Garuda Indonesia  GA 160 dari Jakarta tidak mendarat di   Padang sesuai jadwal pukul 8.05. Sebenarnya pesawat itu tidak meninggalkan landas dari Bandara  Soekarno-Hatta. Pilot memutuskan untuk tidak terbang pukul 6.15 karena Bandara Internasional   Minangkabau, BIM,  punya jarak pandang hanya  700 meters karena kabut asap. Prosedur operasi baku Garuda ialah jarak pandang minimum harus 1200 meter untuk pesawat mendarat.

Dr Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, tak jadi terbang saat itu. Kehendaknya ialah untuk terbang pagi itu dan kembali ke Jakarta lewat tengah hari. Ia diundang berbicara hari itu pada lokakarya Meliput Perubahan Iklim bagi wartawan setempat di ibukota provinsi  Sumatra Barat. Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) penyelenggara lokakarya tersebut dengan dukungan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia.

Sebelum Hutan Gambut "Pensiun"

Ditulis oleh Helti Marini Sipayung. Posted in ClimateReporter

Oleh Helti Marini Sipayung
Koresponden LKBN ANTARA, biro Bengkulu, peserta MDK III Agustus 2015 dengan penugasan ke Pontianak


Agus menggali tanah pada suatu sore yang cerah  bulan Mei. Di sebelahnya ada polibag atau kantong plastik hitam berisi bibit pohon ulin. Setelah membuat lubang tanam, bibit pohon  diletakkan di dalamnya lalu ia bergabung dengan belasan orang yang mengelilingi ulin itu.

Pastor Ari yang memakai jubah putih ikut dalam lingkaran itu. Kedua tangannya memegang Alkitab. Didampingi para tetua adat, pria berkaca mata itu memimpin doa penanaman pohon ulin. Penanaman pohon di Bukit Trap tersebut merupakan bagian dari acara adat “Nyukat Bumi”.