Kiat-Kiat Inovasi Media Massa dan Aplikasinya

Posted in Kajian Media

Oleh Tribuana Said

Makalah ini membahas beberapa isu utama dan kiat-kiat konkret seputar manajemen media untuk memberi perspektif tambahan bagi peserta kegiatan pelatihan jurnalistik. Dalam hubungan ini kita simak judul artikel dalam satu surat kabar besar Jakarta. Judul artikel tersebut dibuat dengan huruf ukuran besar dan bunyinya cukup sensasional:

“Selamat Tinggal Majalah dan Koran.”

Surat kabar dan majalah ditinggal pergi masyarakat, begitulah pikiran penulis artikel tersebut setelah mengulas keunggulan media baru seperti internet, telepon selular atau handphone, iPod, dan sebagainya. Di mata sang penulis, media baru lebih disenangi oleh masyarakat ketimbang koran dan majalah. Sementara selama ini media massa audiovisual seperti TV dan radio disebut-sebut sudah berhasil merebut minat dan menjangkau audiens atau khalayak yang jauh lebih besar dibanding media cetak.

Benarkah media pers cetak semakin ditinggalkan oleh khalayak pembaca di seluruh dunia? Statistik jumlah terbitan dan tiras surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa dasawarsa terakhir memang menunjukkan penurunan. Di Indonesia, dalam beberapa tahun belakangan sebagian penerbit telah pula berkali-kali mengeluh karena tiras koran secara nasional dan regional, bahkan lokal, tidak berkembang alias stagnan.


Perbandingan Jumlah Harian
dan Tiras Beberapa Negara


Barangkali mengetahui kemerosotan sirkulasi media pers cetak, ditambah meluasnya digitalisasi di bidang komunikasi dan informasi, pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan “surat kabar akan mati” dalam waktu 10 tahun setelah dia menyatakan ramalannya itu. Ternyata ramalan pendiri Microsoft itu meleset. Dalam pernyataan susulan bulan April tahun ini, Gates menyampaikan prediksi baru, mungkin sampai lebih 50 tahun ke depan masih ada orang yang mencetak koran, namun dia berkeras suatu saat di masa depan tidak akan ada lagi buku, majalah, dan surat kabar. Semua itu akan tampil secara digital melalui sebuah alat berbentuk tablet (“that very, very thin, very inexpensive, high-bandwidth, wireless device where a lot of the print and video consumption will take place��). Sebutlah: electronic paper.

Para jurnalis kawakan akan menegaskan bahwa jurnalisme surat kabar bukan jurnalisme internet. Gates berpikir dan berbicara sebagai ahli teknologi, bukan sebagai jurnalis. Di samping itu, teori lama (yang digulirkan Wolfgang Riepl, pemimpin redaksi Neurenberger Zeitung, pada tahun 1913) bahwa media baru bukan pengganti atau substitusi media lama, melainkan tambahan atau kumulatif, belum terpatahkan.

Meski ramalan Gates belum menjadi kenyataan, alias surat kabar tidak atau belum mati, terjadinya penurunan jumlah koran dan tiras, seperti di AS dan beberapa negara lain, memang tidak dapat disangkal. Apa penyebab penurunan tersebut? Salah satunya adalah terus berkurangnya jumlah generasi tua yang membaca koran, ditambah merosotnya minat baca generasi bar,u sehingga berakibat menurunnya jumlah pembaca muda. Faktor lain adalah semakin banyak pembaca surat kabar, terutama generasi muda, yang mencari informasi dan berita melalui situs-situs web atau internet, termasuk yang diselenggarakan oleh perusahaan surat kabar sendiri, kantor-kantor berita dan perusahaan-perusahaan TV.

Bagi para penerbit media, satu perkembangan “revolusioner” dalam industri media di Indonesia sejak awal era Reformasi tahun 1998 ialah bahwa pasar media penerbitan adalah arena pertarungan cari uang. Pernah membeli dan membaca Kosmopolitan, Harper’s Bazaar, Reader’s Digest, National Geographic Society, Autobild, dan lain-lain—yang masing-masing nama ditambah kata “Indonesia”? Inilah beberapa media Indonesia yang terbit di Indonesia sebagai buah perjanjian bisnis lintas batas, antara pengusaha asal dua negara. Franchising, licensing, outsourcing, atau apa pun sebutan model kontrak bisnis itu dalam wujud seluruh atau sebagian majalah-majalah tersebut di atas, merupakan realitas kehidupan media massa di Indonesia dalam tahun-tahun terakhir yang menambah bukti sebagian pengusaha media kita dan masyarakat

Kita yang menjadi konsumen produk-produk mereka sudah terbawa arus globalisasi, bahkan menjadi bagian dari globalisasi itu. Pada umumnya produk-produk hasil kontrak bisnis seperti majalah-majalah itu di sini berbasis di Jakarta. Sejak awal kemerdekaan sampai saat ini, penerbit media cetak yang berharap produknya mempunyai sirkulasi nasional mau tidak mau harus bermarkas di Jakarta. Ini merupakan hukum bisnis media di negeri ini. Selain merupakan kota besar yang memiliki jumlah penduduk terbesar (melebihi 10 juta jiwa) dan berada di titik letak sentral Nusantara, Ibu Kota adalah juga basis dan sekaligus pusat bagi hampir semua jaringan penerbangan ke kota-kota lain. Ini penting dalam strategi distribusi. Membangun jaringan “cetak jarak jauh” mungkin merupakan faktor penunjang, tetapi apakah masih ekonomis dalam jangka panjang perlu dikaji terus.

Bagaimana data dan analisis terakhir mengenai situasi media massa dunia di mata para chief executive officer (CEO), direktur perusahaan, dan pemimpin redaksi? Khususnya, bagaimana perkembangan surat-surat kabar harian sebagai induk atau andalan dunia media pers cetak? Sejumlah informasi dan data terbaru tentang semua itu terungkap di World Newspaper Congress ke-59 dan World Editors Forum ke-13 yang digelar World Association of Newspapers (WAN) di Moskow, Rusia, selama empat hari, 4—7 Juni 2006.

WAN, dulu namanya Federation Internationale des Editeurs de Journaux, disingkat FIEJ, beranggotakan sedikitnya 73 organisasi dan asosiasi penerbit surat kabar nasional, para eksekutif pers di 102 negara, sembilan kantor berita nasional, dan 10 organisasi pers regional. WAN melaksanakan kongres tiap tahun. Tempat kongres tahun 2007 dipilih Cape Town, Afrika Selatan. Tahun 2008 di Goteborg di Swedia. Tahun 2005 kongres ke-58 dilangsungkan di Seoul, Korea, dihadiri hampir 1.400 orang dari 80 negara. Di Moskow peserta kongres mencapai 1.700 orang dari 110 negara, suatu rekor baru menurut pernyataan Presiden WAN Gavin O’Reilly, penerbit dari Irlandia.

Kongres dan forum editor di Moskow membahas sebanyak 50 topik yang menyingkap sejumlah masalah bisnis dan redaksional media massa secara global. Masalah-masalah itu menarik untuk disimak karena mengedepankan banyak isu atau masalah manajemen pers yang jarang menjadi sorotan publik, terutama di Indonesia, dan boleh jadi tidak tersentuh di perguruan tinggi jurnalisme kita.

Guna memahami topik-topik itu lebih jauh, dan sesuai dengan maksud makalah ini, kita ambil beberapa dan susun dalam empat kelompok utama, atau sebut saja empat masalah besar media secara global, baik di mancanegara maupun di Indonesia:
1. Perkembangan pembaca muda atau generasi baru pembaca.
2. Tuntutan mendesain-baru media (redesigning).
3. Pengembangan produk-produk media (product development).
(Masalah product development ini dapat disatukan dengan masalah desain baru karena saling mengait erat).
4. Citizen journalism vis-a-vis professional journalism.

Pembaca Muda

Masalah pembaca muda selalu menjadi topik penting dalam kongres-kongres dan forum redaktur WAN yang dihadiri oleh para eksekutif tingkat atas perusahaan media dari seluruh dunia. Mengapa? Karena, para penerbit menyimpulkan bahwa memenangkan minat pembaca muda adalah kunci masa depan bagi bisnis media. Dan, mereka sudah mempunyai kiat jitu.

Untuk menangani masalah pembaca generasi baru dan muda, WAN telah meluncurkan satu program khusus, disebut Newspapers in Education (NIE). Di Indonesia program ini sudah berjalan lebih dari dua tahun dan dinamakan Koran Masuk Sekolah (disingkat KMS) dengan didukung oleh lembaga bernama Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Program NIE atau KMS dimaksudkan sebagai konsep dasar bagaimana menggalang pembaca baru dan muda sebagai suatu strategi jangka panjang.

Redesigning

Desain baru suratkabar (atau redesigning) di mancanegara sudah berlangsung lama. Perkembangan 30 tahun terakhir banyak didorong oleh 1960-an dan dengan cepat melanda dunia media cetak. Di Indonesia, desain baru surat kabar awalnya berwujud pengurangan jumlah kolom dari sembilan (broadsheet) menjadi 6 atau 8 kolom. Perubahan ini hanya bersifat pergantian format.

Koran-koran Grup Jawa Pos memulai dengan format 6 kolom, seiring dengan kebijakan pembelian mesin-mesin cetak untuk memroduksi koran ukuran tersebut. Sejak akhir 2002, harian Kompas tampil dengan format barunya. Mungkin karena menggunakan konsultan asing, perubahan format Kompas tidak dapat disebut kosmetik semata karena dibarengi desain baru isi (editorial) dan penataan baru halaman.

Namun, dibandingkan dengan strategi desain baru yang dikembangkan di mancanegara, Kompas bisa dibilang agak timid, entah kurang berani atau entah “takut-takut”. Walhasil, bisa dianggap setara Koran Tempo yang ganti format ke tabloid atau compact, namun dari segi produk tidak tampak terobosan istimewa.

Product Development

Masalah product development ditinjau semata-mata dalam konteks bagaimana suatu perusahaan pers dapat meningkatkan kinerjanya sebagai bisnis atau industri. Strategi yang ditempuh adalah menciptakan produk atau media baru untuk pasar sasaran tertentu dengan tujuan menambah pendapatan bagi perusahaan.

Kecuali produk-produk media cetak, strategi ini juga memanfaatkan penyebaran berita ke media elektronik atau media digital, seperti web, web TV, mobile (telepon selular), video online, podcasting, dan sebagainya, selain media tradisional seperti radio (audio) dan televisi (audiovisual).

Citizen Journalism

Citizen journalism dapat dikatakan perluasan atau ekstensi dari strategi spesialisasi (isi) media, suatu produk media yang fokus khusus liputannya ditujukan pada segmen pasar tertentu. Strategi ini dikembangkan dengan mengajak khalayak pembaca untuk berpartisipasi aktif dengan mengirim informasi, opini, dan foto dari daerah pemukiman atau tempat kerja mereka untuk disiarkan oleh media setempat. Dalam pengertian ini citizen journalism sebenarnya adalah community-generated news and information. Hubungan interaktif yang sangat lokal (hyperlocal) ini hanya dapat dilakukan oleh koran lokal untuk pasar lokal itu sendiri.

Begitu pun, apabila digarap dan dikembangkan secara multimedia dan meluas ke jalur-jalur lain sebagai peluang menambah pendapatan, perusahaan media tersebut bisa menjadi satu bisnis atau industri media yang lumayan besar. Siaran berita dunia BBC dan CNN sudah menerapkan praktik citizen journalism dengan meminta dan menyiarkan laporan dan foto dari penonton (BBC pernah menayangkan foto gempa Yogyakarta dari pemirsa setempat).

Pertanyaan besarnya adalah apakah model citizen journalism ini pada gilirannya akan mematikan professional journalism? Karena surat kabar membutuhkan jurnalisme, pertanyaan ini dapat dijawab singkat: jurnalisme profesional tidak akan tersingkir Sebaliknya, bila para profesional mau jujur, jurnalis-jurnalis amatiran itu malah akan mendukung mereka untuk berkarya lebih baik, dalam arti lebih mampu menjawab aspirasi warga.

Bagaimana gambaran umum situasi media dunia, khususnya surat kabar, saat ini dan perkiraan ke depan? Hasil survei tahunan Innovation International Consulting Group, Innovations In Newspaper: 2006 World Report, mencatat beberapa perkembangan positif, tetapi juga ada hal-hal negatif.*