Jakarta – Menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan berlangsung di Serang, LPDS bersama Universitas Serang Raya (Unsera) menggelar webinar dengan topik “Masyarakat Kampus dan Jurnalis dalam Era Artificial Intelligence.” Acara yang berlangsung secara daring ini diselenggarakan Selasa, 3 Februari 2025.

Acara yang diadakan dari pukul 09.00 hingga 12.00 tersebut menghadirkan empat pembicara, yakni Dekan Fakultas Ilmu Sosial, Politik, dan Hukum Unsera, Dr. A.P Delly Maulana, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Agus Sudibyo, praktisi AI yang juga mantan Pemimpim Redaksi TVOne AI, Apni Jaya Putra, dan pengajar LPDS Priyambodo RH. Tercatat sekitar 180 peserta, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, juga anggota Dewan Pers Timor Leste, Isabela, hadir dalam acara yang juga disiarkan melalui platform Youtube ini. Bertindak selaku moderator, pengajar LPDS Lestantya R. Baskoro.

Dalam paparannya Delly Maulana menyatakan teknologi AI sudah biasa digunakan di dunia akademik. Kendati demikian ada aturan dan etika, serta sanksi keras jika AI disalahgunakan untuk karya-karya akademik. Delly menunjuk sejumlah teknologi AI yang bisa melacak dan menemukan, misalnya, apakah karya tulis seseorang itu asli atau tidak.
Apni Jaya Putra, yang kini menjadi staf khusus Menteri Pariwisata membeberkan perkembangan AI, keunggulan, dan manfaatnya bagi jurnalisme. Apni adalah “otak” di balik pemanfaatan AI di TVOne yang memunculkan “penyiar-penyiar” hasil dari AI. Menurut Apni, yang baru saja meluncurkan bukunya, “Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma,” AI merupakan alat yang seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para jurnalis dengan tetap memegang prinsip etika jurnalistik. Apni menyatakan, perkembangan AI akan terus melesat dan tidak bisa dicegah. Priyambodo menyatakan hal sama. Menurut mantan Kepala Biro Antara wiayah Eropa ini, sehari-hari sesungguhnya setiap orang sudah memanfaatkan AI. “Sekarang pun saat Anda sedang dalam acara ini, AI sudah mencatat apa yang kita lakukan,” ujar Bob.
Agus Sudibyo, yang juga menulis sejumlah buku tentang AI, antara lain “Jagat Digital dan Tarung Digital” menyebut kehadiran AI sangat membantu para wartawan untuk dengan cepat membuat berita. Tapi, Agus menunjuk sisi lain akibatnya. “Kita kehilangan kemewahan pernah salah,” ujarnya. Menurut dia, kesalahan dalam proses menulis, mengedit berita adalah sebuah tahapan yang penting untuk jurnalis. Dengan menggunakan AI yang langsung menciptakan tulisan yang langsung bagus, wartawan kehilangan proses belajar yang sangat penting. Agus menekankan, wartawan yang hanya membuat berita langsung mengandalkan AI, tidak akan bisa berkembang. “Proses pernah salah itu penting, karena dari situ seseorang belajar,” ujar Agus yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas TVRI ini. [sab]
Published in
