Pulau Tikus di Ambang Pupus, Rencana Manis nan Tragis

Oleh Marga Rahayu, Reporter RRI Samarinda dengan penugasan ke Bengkulu

(Catatan redaksi: “Sweet Gift from LPDS. Sengaja judul itu saya pilih. Selama hampir 3 tahun 6 bulan menjadi wartawan yang kebetulan mengabdi di RRI Samarinda, saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di daratan Sumatera. Berkat LPDS, saya akhirnya terbang ke wilayah Barat Indonesia. Kado termanis menjadi wartawan. Bertemu dengan kawan-kawan dari daerah berbeda. Bertandang ke Bumi Raflesia Bengkulu. Pukul 22.00 WIB berendam di Samudera Hindia ditemani paparan rembulan dan menikmati keheningan malam di Pulau Tikus Kota Bengkulu. Rasanya hanya mimpi bagi saya. Namun, LPDS mewujudkannya. Pelajaran dan pengalaman yang begitu berharga, yang bisa saja hanya sekali seumur hidup saya dapatkan. Belum lagi, ilmu mengenai bagaimana memberi shock terapi pada publik tentang bahaya perubahan iklim yang kian mengancam Bumi melalui sebuah karya jurnalistik. Kini, saya pribadi, menjadi lebih aware dengan kondisi di sekeliling saya. Mengenal Pak Warief, Pak Priyambodo, Pak Maskun, juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kado termanis LPDS untuk saya. Banyak ideologi, prinsip dan disiplin sikap dari ketiganya yang seolah merasuki diri saya, hingga ketika pulang kembali ke daerah asal. Kini saya menjadi wartawan yang lebih teliti dengan pemakaian tata bahasa, pengambilan sudut pandang berita yang lebih tajam, mengurangi pemborosan kata, termasuk jeli melihat dan mengemas tanda-tanda perubahan iklim sebagai komoditas berita yang layak dikonsumsi publik. Terima kasih banyak LPDS. Saya  berharap kegiatan semacam ini lebih sering digelar demi menorehkan pengalaman termanis bagi kawan-kawan wartawan lain di Tanah Air.”)

Tragis. Satu kata yang tepat  untuk menggambarkan kondisi terkini dari sebuah pulau indah milik Bumi Raflesia. Dikatakan tragis karena pulau di wilayah terluar Bengkulu ini dalam  lima belas atau paling lama dua puluh tahun mendatang akan hilang akibat abrasi laut.

Semilir angin Samudra Hindia mengantarkan matahari ke peraduannya. Suasana senja di Pulau Tikus cukup mengesankan, terutama saat warna langit yang berubah jingga keunguan berpadu dengan birunya laut di perairan Bengkulu. Sangat wajar bila eksotika Pulau Tikus membuat siapa pun takjub melihatnya. Namun, keindahan Pulau Tikus mungkin tidak bertahan lama.

“Sungguh sayang, pulau ini terancam tenggelam dalam dua puluh tahun mendatang,” kata Ketua Tim Percepatan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Badan Lingkungan Hidup BLH Bengkulu, Dr. Gunggung Senoaji,  saat berkunjung ke Pulau Tikus bersama wartawan Maret 2014.

Prediksi dosen Fakultas Kehutanan Universitas Bengkulu (Unib) tersebut bukan isapan jempol. Fenomena abrasi mengikis sedikit demi sedikit pulau yang berjarak lima mil laut dari Kota Bengkulu.

“Dari penjelasan nelayan setempat, tahun 1990-an luas pulau  2 hektare (ha) lebih.   Luas Pulau Tikus sekarang tinggal 0,77 ha. Dalam lima belas tahun Pulau Tikus kehilangan separuh daratannya, ” papar Gunggung.

Tanda keganasan abrasi laut di Pulau Tikus tampak jelas dari puing-puing batu yang kini terendam air laut yang ternyata merupakan sisa bangunan gudang mesin mercu suar.

“Pulau Tikus ini ‘kan Distrik Navigasi. Pancang-pancang itu adalah tembok gudang mesin suar yang patah diterjang gelombang pasang,” kata Penjaga Mercu Suar Tikus, Kusnadi, 52,  menerangkan sembari menunjuk ke arah pantai.

Kusnadi yang sudah sepuluh tahun menetap di Pulau Tikus itu menyebutkan laju abrasi yang tinggi menyebabkan mercu suar dipindah hingga lima kali terhitung sejak pertama kali diresmikan pada 5 November 1976. Pemindahan ini terpaksa dilakukan sebab lokasi yang lama sudah menjadi lautan.

Tanda lain ialah adanya sejumlah tanaman hutan pantai seperti pohon kelapa, cemara, dan ketapang yang tumbang. Fenomena ini, menurut pengamat perubahan iklim Unib, Gunggung Senoaji, mengindikasikan bahwa air laut sudah naik ke daratan. Dampak pemanasan global yang berakibat pada mencairnya es di Kutub Utara sudah dirasakan Provinsi Bengkulu, lanjut Gunggung.

“Kami, masyarakat Bengkulu, enggak boleh diam saja. Sudah ada buktinya, Pulau Satu di Enggano hilang, Pulau Kucing di perairan Kota Bengkulu tenggelam, di sekitar daerah Muko-muko juga banyak. Ini lagi, Pulau Tikus. Apakah mau Bengkulu habis ditelan abrasi?”

Navigasi Internasional dan Rumah Kedua Nelayan

Sejak pertama kali ditetapkan sebagai Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, pada 1976 Pulau Tikus memainkan peran strategis, terutama dalam hal navigasi internasional.

Pegawai Distrik Navigasi Mercu Suar Tikus pada Kementerian Perhubungan, Kusnadi, menerangkan perairan Bengkulu cukup sering menjadi perlintasan kapal dari luar Bengkulu.

“Penting sekalilah! Ini jalur kapal! Udah navigasi internasional levelnya. Makanya kami jaga terus supaya enggak mati lampunya. Kalau mati bisa gawat,” beber Kusnadi.

Selain itu, keberadaan Pulau Tikus juga penting bagi nelayan. Diakui Asmaun, 64, Pulau Tikus sudah menjadi rumah kedua bagi mereka. Ketua Kelompok Nelayan Pulau Tikus itu mengatakan ada sepuluh nelayan termasuk dirinya yang menetap di Pulau Tikus. Mereka hanya pulang ke Bengkulu ketika hendak menjual hasil tangkapan ikan.

“Seminggu sekali bahkan sepuluh hari sekali kami pulang untuk jual ikan. Selebihnya   kami tinggal di sini. Lumayan, hasil tangkapan kami cukup untuk hidup,” kata Asmaun.

Asmaun mengaku sejak pertama kali menetap tahun 1984, Pulau Tikus juga menjadi tempat berlindung para nelayan Bengkulu dari serangan badai laut tiba-tiba yang sering terjadi di perairan Samudra Hindia.

“Apalagi sekarang, sering sekali badai. Dalam seminggu bisa tiga sampai empat orang nelayan  nginap di pulau kalau badai datang mengejutkan,” akunya.

Mendengar kabar Pulau Tikus akan hilang dalam lima belas sampai  dua puluh tahun lagi, Asmaun yang kini sudah memiliki empat belas cucu itu terlihat berpikir.

“Sulit jugo. Kami juga pasti sulit. Kasian nelayan Bengkulu. Sudah jelaslah ini tempat mata pencaharian kami. Kami idak mau rumah kami hilang,” harap Asmaun dengan air muka sedih.

Sementara itu, pengamat perubahan iklim Unib, Gunggung Senoaji, bahkan melihat persoalan ini lebih luas. Hilangnya Pulau Tikus pada masa depan akan sangat mengancam Provinsi Bengkulu.

“Pulau Tikus ini bempernya Bengkulu. Selama ini bencana tsunami belum Bengkulu rasakan. Salah satunya karena Pulau Tikus”.

Keberadaan 200 hektar karang yang mengelilingi Pulau Tikus, kata Gunggung, cukup membantu meredam gelombang laut saat gempa terjadi di daratan Bengkulu. Belum lagi, keberadaan pulau terluar ini juga menjadi sasaran pertama pergerakan angin dari arah Samudra Hindia yang harusnya menuju Bengkulu.

“lha kalo Pulau Tikus ilang? Gimana nasib Bengkulu? Nasib 2,1 juta jiwa penduduk Bengkulu? Pemerintah tidak pernah berpikir sampai sejauh itu ‘kan?”

 

Rencana manis nan tragis

Ekspresi kaget ditunjukkan Kepala Dinas Perhubungan dan Kominfo Provinsi Bengkulu, Drs Eko Agusrianto, saat mendapat kabar Pulau Tikus akan hilang.

“Kami merasa diingatkan. Terima kasih,” katanya.

Eko menilai kondisi Pulau Tikus sudah sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian. Namun, pemerintah memiliki pandangan berbeda dalam melihat keberadaan Pulau Tikus. Pemprov Bengkulu, menurut Eko Agusrianto, justru menilai ada hal yang lebih penting dari sekadar mercu suar. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bengkulu 2011, menurut Eko, memasukkan Pulau Tikus sebagai kawasan wisata strategis yang diharap mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

“Kalau mercu suar itu ‘kan hanya isyarat. Yang lebih penting, travel-travel sudah banyak yang memasukkan Pulau Tikus dalam paket perjalanan. Terus kalau pulaunya hilang?” kata Eko.

Eko melihat belum terlambat bagi Bengkulu menyelamatkan Pulau Tikus dari ancaman abrasi. Dinas Perhubungan dan Kominfo secara berani melemparkan wacana untuk mengembalikan luasan Pulau Tikus dengan membuat dam di sekeliling pulau. Untuk tahap awal pemerintah akan menyusun detailed engineering design (DED) untuk pengembalian kondisi Pulau Tikus seperti semula yang diupayakan masuk dalam mata anggaran di APBD Perubahan Provinsi Bengkulu 2014.

“Nanti akan kami  letakkan batu-batu gajah, lalu diisi dengan pasir sampai menjadi daratan baru. Memang perlu dana yang besar. Mungkin puluhan miliar, tapi nanti kita coba sharing dana dengan pemerintah pusat, Kementerian Kelautan, misalnya,” papar Eko.

Namun, rencana ini dianggap akademisi hanya pepesan kosong bila tidak ada aksi nyata dari pemerintah.

“Mau dam? Sulit,  APBD kami berapa, sih, Mbak? Itu hanya wacana kalau Pemprov enggak serius komunikasi ke pusat,” Gunggung pesimis.

Nada pesimisme yang sama diperlihatkan Petugas Penjaga Suar Tikus, Kusnadi. Menurutnya, Pemprov tidak bisa begitu saja “mendadani” Pulau Tikus sebab hak kepemilikan Pulau Tikus sesuai dengan sertifikat berada di tangan Kementerian Perhubungan. Fakta ini tidak diketahui Pemprov Bengkulu.

“Dulu Pemda mau proyek rumah dinas saja enggak dibolehin sama pusat. Pusat bilang, Woi jangan! Biar itu urusan kami!’ Nah, apalagi ini mau bikin dam,” kata Kusnadi menjelaskan.

Kusnadi menyarankan Pemda untuk lebih dulu berkomunikasi dengan pusat sebelum melakukan pembenahan terhadap Pulau Tikus.

“Pernah ada contoh, pengelolaan di Pulau Seribu, waktu itu juga dipermasalahkan pusat karena setengah pulau itu udah diambil untuk wisata daerah. Daripada nanti masalah, baiknya bicara dulu sama pusat. Saya juga merasa aneh, kok, Pemda enggak tau,” saran Kusnadi.

Rencana penyelamatan Pulau Tikus yang awalnya terlihat manis kini justru menjadi tragis. Sudah umum di Indonesia, birokrasi yang berbelit menjadi hambatan utama dalam pembangunan.  “Apalagi dalam kasus Pulau Tikus,kami  bersinggungan dengan pusat. Sudah bisa ditebaklah, bagaimana hasilnya,” Gunggung Senoaji berkomentar.

Saat sekarang yang bisa dilakukan, menurut Ketua Tim Percepatan Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca, BLH Provinsi Bengkulu, itu ialah menghimpun gerakan mandiri di kalangan masyarakat.

“Masyarakat harus punya sense of belonging terhadap Pulau Tikus. Lakukan upaya sederhana, menghemat energi, tidak ikut merambah hutan Bengkulu, tidak buang sampah sembarang, dan swadaya menanam mangrove di daerah pantai. Sempat hilang Pulau Tikus, kalau Bengkulu terus-terusan menunggu pusat,” Gunggung mengingatkan.

Lantas, sampai kapan rakyat Bengkulu akan menunggu? (*)

Published in ClimateReporter