Masyarakat Lebih Menyukai Program Berita

(Sumber: Harian Jurnal Nasional)

Jakarta – Pada 3 Desember 2008 lalu, Yayasan Sains, Estetika dan Teknologi (SET) bekerjasama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi meluncurkan hasil penelitian terhadap sejumlah program di televisi. Hasil riset yang melibatkan 220 kalangan terdidik di 11 kota ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih membutuhkan program yang berkualitas. Program berkualitas itu lebih banyak merupakan program berita (news) dan talk-show.

Penelitian ini menarik karena stasiun televisi masih menggunakan terminologi lama yang menilai bahwa program berita tidak menarik, bahkan dinilai merugi. Riset AGB-Nielsen misalnya, menempatkan sinetron berbau mistik – yang secara kualitas tidak bagus -pada rating yang tinggi. Apa saja temuan penting riset yayasan SET? Berikut, perbincangan Budi Kurniawan dari KBR 68H dengan Koordinator Pelaksana Yayasan SET Agus Sudibyo (A) dan Anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi (B):

Apa tujuan riset?

A: Pertama, memberikan referensi untuk menilai tayangan televisi baik untuk masyarakat maupun untuk komunitas televisi yang berbasis pada aspek kualitas. Karena selama ini kalau menilai acara TV hanya berdasarkan aspek kuantitas atau berapa banyak yang ditonton. Aspek kuantitas itu tetap dibutuhkan tetapi dia tidak bisa menjadi satu-satunya acuan untuk menilai program TV, apalagi menentukan kecenderungan produksi TV. Kuantitas ini harus diimbangi dengan penilaian yang berbasis pada masalah kualitas. Referensi untuk menilai program pada kualitas ini dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun industri yang menentukan program seperti apa yang ditayangkan. Kedua, saya kira kita membutuhkan riset yang memadai untuk mengkritik program televisi. Saya kira akan lebih efektif kalau kita mengkritik, evaluasi pada suatu riset yang bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Apa yang membedakan riset Anda dengan riset AGB Nielsen?

A: Saya kira yang menarik bahwa riset ini berbeda dengan asumsi yang ada selama ini yakni program informasi dalam hal ini news dan talk-show mendapatkan apresiasi yang lebih rendah dari hiburan. Itu asumsi yang selama ini berkembang. Riset kami menunjukkan sebaliknya, bahwa program informasi, dalam hal ini berita dan talk-show di televisi justru mendapat apresiasi yang lebih tinggi dibanding program hiburan. Kalau bicara soal apresiasi ini sebagai cara berpikir yang rasional-kritis, memang tidak bisa ditanyakan kepada masyarakat kebanyakan, tetapi harus kepada masyarakat yang kurang lebih terpelajar dan lebih rasional. Karena itu riset ini menggunakan metode peer review assessment, lebih menyerupai pengukuran indeks persepsi. Riset dilakukan di 11 kota dengan 20 orang setiap kota. Responden bukan hanya mengisi kuestinoner tapi juga menonton rekaman yang ditayangkan. Kita memang belum menjangkau responden yang lebih besar. Tapi mereka beragam, dengan latarbelakang pekerjaan beragam. Tapi yang seragam adalah mereka dari kelompok terpelajar, terdidik, dengan pendidikan minimal SMA. Dan 70 persen adalah lulusan perguruan tinggi, yakni D3 dan S1.

Apa temuan menarik riset tersebut?

A: Saya lebih tertarik untuk mengutip hasil yang lebih umum. Misalnya program informasi dan talk-show lebih diapresiasi karena: pertama, dia dianggap lebih pantas memberikan informasi yang relevan bagi masyarakat. Kedua, dia memberikan model perilaku yang baik dibandingkan program hiburan. Ketiga, meningkatkan daya kritis, fungsi pengawasan dan memberikan sesuatu yang relevan buat masyarakat. Sebaliknya program sinetron dari kategori itu, bersifat tidak mendidik, tidak memberikan informasi, tidak memberikan perilaku yang baik, mengandung muatan pornografi, kurang sensitif pada gender. Itu penilaian umum. Dalam penelitian ini juga disebutkan bahwa program bermuatan kriminalitas dan hiburan, kuantitasnya besar, tapi kualitasnya buruk. Beda dengan tayangan sosial politik, ekonomi, yang kuantitasnya banyak, tetapi juga kualitasnya cukup memadai.

Apa tanggapan Anda terhadap riset yang dilakukan?

B: Saya respek pada usaha teman-teman seperti Tifa, SET, IJTI. Saya kira ini akan membuat masyarakat sadar. Karena kenyataan sekarang ini rating itu ditentukan oleh satu perusahaan saja, AGB-Nielsen. Dan mereka tidak pernah diaudit. Jadi, dengan public rating ini saya harap bisa membuka mata masyarakat bahwa Nielsen tidak menjadi satu-satunya pegangan.

Program yang ideal itu seperti apa?

A: Sebenarnya kalau kita bicara acara ideal adalah yang pertama, acara yang rating tinggi, share-nya tinggi, sekaligus, kedua, secara kualitas memadai. Artinya sebenarnya program kami ini bukan satu program yang menegasikan rating kuantitatif, tapi untuk membuka satu acuan baru bahwa idealnya suatu acara itu rating-nya tinggi tapi sekaligus bagus secara kualitas.

Apa problem televisi sehingga belum menayangkan program berkualitas?

A: Pertama, saya kira, industri TV ini mau hanya berkonsentrasi pada rating. Dia hanya mengejar satu acara yang rating-nya tinggi, tapi tidak memerhatikan kualitas. Kedua, pada konteks yang sama, stasiun televisi tidak peduli apakah ini program hiburan atau informasi, tapi semuanya dihadapi dengan tolok ukur yang sama. Ini jelas bermasalah. Karena kalau yang diukur jumlah penonton, maka jarang sekali program informasi yang banyak ditonton seperti program hiburan. Tapi kalau seimbang, maka program berita, dan talk-show pun bisa bersaing dengan hiburan karena yang dinilai bukan hanya jumlah penonton tapi kualitas acara.

Mengapa selama ini masyarkat lebih memilih acara yang tidak berkualitas?

B: Saya kira, pertama, karena masyarakat tidak ada pilihan. Kalau ada satu tayangan menarik maka TV berlomba-lomba membuat program yang mirip, sehingga mereka berusaha mendapatkan rating dengan TV lain. Riset ini menunjukkan bahwa masyarakat makin cerdas. Karena itu masyarakat harus menggunakan hak mereka untuk mengontrol pers, televisi. Ketika melihat program yang tidak mencerdaskan sebaiknya mereka protes. Itu hak setiap orang untuk mengontrol media.*

Sumber: Harian JURNAL NASIONAL, 11 Desember 2008.

Published in Berita LPDS